MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 12 Mei 2018 20:46
Rupiah Memang Anjlok, Tapi Ada yang Lebih Parah

PROKAL.CO, JAKARTA- Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyebut, meskipun saat ini mata uang Rupiah terpukul dalam Dolar Amerika Serikat (AS), namun penurunannya masih lebih baik jika dibandingkan negara-negara tetangga lainnya.

Seperti diketahui, hingga 9 Mei 2018, selama Mei 2018 (month to date) Rupiah melemah 1,2 persen, Thai Bath 1,76 persem, dan Turkish Lira 5,27 persen. Sementara itu, sepanjang 2018 (year to date), Rupiah melemah 3,67 persen, Pilipina Peso 4,04 persen, India Rupee 5,6 persen, Brazil Real 7,9 persen, Russian Rubel 8,84 persen, dan Turkish Lira 11,42 persen.

"Turki itu kondisinya memang masih lebih berat dari Indonesia," kata Agus di Gedung Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, seperti diberitakan Sabtu (12/5) seperti dilansir JawaPos.com.

Gubernur BI Agus Martowardojo

Gubernur BI Agus Martowardojo (Miftahul Hayat/JawaPos.com)

Jika dibandingkan penurunannya sejak awal tahun pun, Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan negara lainnya. Secara year to date (ytd) Rupiah melemah 3,67 persen. Lebih rendah dibanding negara lain yakni Filipina 4,04 persen, India 5,6 persen, Brazil 7,9 persen dan Turki 11,4 persen.

Agus memastikan, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan para stakeholder terkait dengan pemerintah maupun industri dan asosiasi guna melakukan stabilitas nilai tukar Rupiah. “Hal ini agar kondisi Rupiah dan valuta asing di pasar terjaga, sehingga membuat Indonesia bisa mengelola ekonominya dengan baik dan berkesinambungan,” imbuhnya.

Agus mengakui, pelemahannya uang Garuda terhadap Dolar AS pada saat ini sudah tak sejalan dengan fundamentalnya. Namun hal ini disebabkan lantaran kondisi global yang lebih besar berdampak dibandingkan kondisi fundamental perekonomian dalam negeri.

“Terkait hal tersebut, kita melihat kondisi global yang dapat berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Agus menjelaskan, gejolak global tersebut akibat dari siklus peningkatan suku bunga acuan AS atau Fed Fund Rate yang meningkat, tren harga minyak dunia yang naik, meningkatnya risiko politik akibat sengketa dagang AS-Tiongkok, serta kondisi geopolitik yang meningkat karena kesepakatan nukliar antara AS-Iran yang dibatalkan.

Agus menyebut, secara umum kondisi Indonesia saat ini masih dalam keadaan yang baik, hal ini ditunjukkan dengan kinerja pertumbuhan ekonomi kuartal I-2018 sebesar 5,06 persen yoy. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2017 yang sebesar 5,01 persen yoy.

“Ketika kita ambil bauran kebijakan itu, kita yakin akan sinergis dengan otoritas yang lain dan pemerintah, sehingga ke depan BI yakin Indonesia akan memiliki bauran kebijakan untuk sikapi perkembangan dunia atau kondisi normal yang baru akan direspons kita, agar kita tetap menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan kita,” tandasnya.

(mys/JPC


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 06:54

Standar Euro 4 Dongkrak Harga Mobil

JAKARTA – Mulai 7 Oktober 2018, semua mobil yang dipasarkan di Indonesia wajib berstandar emisi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:49

Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Melebar

JAKARTA – Kinerja neraca dagang pada September mulai menunjukkan tren positif. Setelah berkali-kali…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:47

Dorong Industri Mamin Agresif di Pasar Ekspor

SURABAYA – Industri makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:46

REI Usulkan Harga Rumah Subsidi Naik

BALIKPAPAN - Realestat Indonesia (REI) mengusulkan adanya kenaikan harga rumah bersubsidi. Ketua Komisariat…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:37

Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha Properti

JAKARTA – Selisih kebutuhan rumah dengan kapasitas pengembang masih cukup lebar. Berdasar data…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:36

Uang Elektronik Gaet Generasi Milenial

SURABAYA – Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap metode transaksi pembayaran yang cepat mendorong…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:36

Sejak 2017, Nilai Aset Negara Naik Rp 4.190 Triliun

JAKARTA - Sebanyak 945.460 aset negara yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga serta instansi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:35

Ekonomi Domestik dan Sentimen Brexit Dorong Rupiah Menguat

JAKARTA - Perdagangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diharapkan dapat kembali…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:34

Kesejahteraan Pangan Jadi Perhatian

JAKARTA – Kesejahteraan pangan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar memperoleh kecukupan…

Senin, 22 Oktober 2018 06:56

Daya Beli Masyarakat Patut Diwaspadai

BALIKPAPAN – Meski kondisi ekonomi Kaltim tumbuh 3,12 persen dan ekspor di Bumi Etam turut membaik,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .