MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 12 Mei 2018 07:23
“Awalnya Getaran, lalu Suara Menggelegar, Kami Pun Langsung Lari”

Kisah para Pendaki yang Berada Tak Jauh dari Puncak saat Merapi “Batuk”

SELAMAT: Para pendaki Gunung Merapi yang berhasil dievakuasi kemarin.

PROKAL.CO, Ketika Gunung Merapi mengalami letusan freatik kemarin (11/5), ratusan pendaki tengah memasak, mengopi, atau tiduran di batas terakhir pendakian. Banyak yang nekat ke puncak meski jelas dilarang.

 

TRI WIDODO, Boyolali

 

SUARA bergemuruh itu benar-benar mengagetkan Fajar Sidiq. Apalagi disusul kepulan asap tebal. Jelas sudah, Merapi tengah “batuk”. Padahal, saat itu Fajar dan banyak pendaki lain tengah berada di kamp Pasar Bubrah. Itu batas terakhir pendakian. Di atas mereka sudah puncak.

Bayangkan, berada sedekat itu dengan pusat letusan gunung paling aktif di dunia. “Saya dan kawan-kawan langsung lari mencari perlindungan. Di mana saja yang kami rasa aman,” kata Fajar yang ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan Base Camp Selo, Boyolali, Jawa Tengah, kemarin.

Letusan kemarin memang tipe freatik. Hanya sekali dan yang dimuntahkan Merapi adalah abu vulkanis, pasir, dan material piroklatik. Bukan wedhus gembel alias awan panas yang menewaskan begitu banyak orang di letusan besar terakhir Merapi pada 2010.

Tapi, nun di atas sana, siapa yang tahu itu jenis letusan apa. Meski batuknya sekali, tetap saja sangat menggetarkan. Apalagi, ada 160 pendaki di kawasan Merapi saat letusan itu terjadi.

Sopan Pangestu, pendaki lain, seperti halnya Fajar, mengaku sangat panik saat gemuruh terdengar dari puncak. Padahal, ketika itu dia baru saja memasak sayur untuk sarapan pagi sebelum turun. “Saya lihat awannya mengarah ke mana. Lalu, kami arahkan berlindung ke arah utara di balik-balik batu,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo tersebut.

Zainal Arifin dan sejumlah kawan malah dalam posisi turun dari puncak saat letusan itu terjadi. Sebelumnya, mereka menghabiskan sekitar satu jam di kawasan puncak gunung setinggi 2.930 meter tersebut.

Otoritas pengelola Merapi sebenarnya sudah melarang para pendaki ke puncak. Tapi, Zainal dan kawan-kawan tetap nekat. “Awalnya terasa getaran, lalu disusul suara menggelegar. Kami langsung saja lari,” katanya.

Di Pasar Bubrah, ketika letusan itu terjadi pada pukul 07.40 WIB, banyak pendaki yang tengah bersantai. Ada yang tengah memasak, sedang ngopi, dan ada pula yang masih tidur. Zainal mengaku sampai beberapa kali terjatuh hingga lecet di beberapa bagian tubuh. Berlari dalam posisi turun memang tak mudah. “Ada belasan pendaki yang di puncak sebelum terjadi letupan. Ada juga pendaki yang pingsan, mungkin karena shocked,” ceritanya.

Dari Jakarta, Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), memastikan bahwa seluruh pendaki berhasil dievakuasi. Mereka sampai di Base Camp Selo sekitar pukul 15.15 WIB. “Sebanyak 160 pendaki sudah dievakuasi dan selamat. Ada beberapa yang pingsan,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Zainal, dirinya dan rombongan sebenarnya memang sudah diperingatkan guide agar tidak mendaki ke puncak. Sebab, beberapa waktu terakhir, bau belerang di puncak sangat menyengat. Gemuruh kawah Merapi juga terdengar lebih keras daripada biasanya. ”Untung masih diberi selamat. Ini jadi pembelajaran untuk kita agar mematuhi peraturan,” tuturnya sambil menghela napas panjang.

Sama bersyukurnya dengan Zainal, Abi Rivaldi, pendaki lain, mengaku tak akan melupakan peristiwa yang dia alami di Pasar Bubrah bersama ketiga rekannya. “Jelas panik. Setelah situasi cukup tenang, kami langsung packing dan turun,” katanya.

Sutopo juga mengimbau semua pendaki mematuhi rekomendasi dan tidak memaksakan diri mendekati kawah. Apalagi, sejumlah relawan Merapi yang ditemui Jawa Pos Radar Solo mengeluhkan ulah beberapa pendaki yang merobohkan papan larangan mendaki ke puncak Merapi. (*/lyn/c9/ttg/jpnn/rom/k11)

 

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 12 Januari 2019 07:19

Kuasai Semua Alat Musik di Pendopo

Kondisi Djoko Sudiro memang terbatas. Namun, Djoko tidak berhenti belajar,…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:02
Melihat Pelatihan Make-up di Rutan Klas IIB Balikpapan

Tepis Bosan, Modal agar Tak Kembali Terjerumus

Bayangan terhadap kelam dan buruknya kehidupan di balik dinding penjara…

Minggu, 06 Januari 2019 08:52

Mingalabar from Myanmar

Oleh: Firman Wahyudi   PERJALANAN dari Balikpapan ke Myanmar memakan…

Sabtu, 05 Januari 2019 06:57

Raih Harmony Award, Warga Punya Peran Besar

Kalimantan Utara (Kaltara) dinobatkan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai provinsi dengan…

Sabtu, 29 Desember 2018 06:59

Evaluasi APBD Sudah Rampung, Menunggu Pengesahan DPRD

Draf APBD Kalimantan Utara (Kaltara) 2019 sudah dievaluasi Kementerian Dalam…

Rabu, 26 Desember 2018 11:54
Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami

Selembar Penutup Boks Ikan Jadi Penyelamat

Kuatnya terjangan tsunami membuat kapal-kapal pencari ikan itu pecah. Nelayan…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:59
Menengok MRI Anyar Milik RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo

Bantu Dokter Mampu Visualisasikan Jaringan Tubuh Terkecil Pasien

Setahun lalu diusulkan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) baru milik RSUD…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:45
AKP MD Djauhari, Kapolsek Loa Janan Peraih Medali Perak Porprov

Tetap Percaya Diri Meski Bersaing dengan Atlet Muda

Nama AKP MD Djauhari tak asing lagi di lingkungan atlet…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:38

Ikuti Adik Jajal Samarinda, Sudah Bidik Pasar Luar Negeri

Memiliki jiwa bisnis, putra sulung Presiden RI ke-7, Joko Widodo,…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:12

Penularan “Santun”, Pasien Tak Perlu Dijauhi

Stigma HIV/AIDS di kalangan masyarakat masih buruk. Penderitanya kerap dikucilkan:…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*