MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 12 Mei 2018 07:23
“Awalnya Getaran, lalu Suara Menggelegar, Kami Pun Langsung Lari”

Kisah para Pendaki yang Berada Tak Jauh dari Puncak saat Merapi “Batuk”

SELAMAT: Para pendaki Gunung Merapi yang berhasil dievakuasi kemarin.

PROKAL.CO, Ketika Gunung Merapi mengalami letusan freatik kemarin (11/5), ratusan pendaki tengah memasak, mengopi, atau tiduran di batas terakhir pendakian. Banyak yang nekat ke puncak meski jelas dilarang.

 

TRI WIDODO, Boyolali

 

SUARA bergemuruh itu benar-benar mengagetkan Fajar Sidiq. Apalagi disusul kepulan asap tebal. Jelas sudah, Merapi tengah “batuk”. Padahal, saat itu Fajar dan banyak pendaki lain tengah berada di kamp Pasar Bubrah. Itu batas terakhir pendakian. Di atas mereka sudah puncak.

Bayangkan, berada sedekat itu dengan pusat letusan gunung paling aktif di dunia. “Saya dan kawan-kawan langsung lari mencari perlindungan. Di mana saja yang kami rasa aman,” kata Fajar yang ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan Base Camp Selo, Boyolali, Jawa Tengah, kemarin.

Letusan kemarin memang tipe freatik. Hanya sekali dan yang dimuntahkan Merapi adalah abu vulkanis, pasir, dan material piroklatik. Bukan wedhus gembel alias awan panas yang menewaskan begitu banyak orang di letusan besar terakhir Merapi pada 2010.

Tapi, nun di atas sana, siapa yang tahu itu jenis letusan apa. Meski batuknya sekali, tetap saja sangat menggetarkan. Apalagi, ada 160 pendaki di kawasan Merapi saat letusan itu terjadi.

Sopan Pangestu, pendaki lain, seperti halnya Fajar, mengaku sangat panik saat gemuruh terdengar dari puncak. Padahal, ketika itu dia baru saja memasak sayur untuk sarapan pagi sebelum turun. “Saya lihat awannya mengarah ke mana. Lalu, kami arahkan berlindung ke arah utara di balik-balik batu,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo tersebut.

Zainal Arifin dan sejumlah kawan malah dalam posisi turun dari puncak saat letusan itu terjadi. Sebelumnya, mereka menghabiskan sekitar satu jam di kawasan puncak gunung setinggi 2.930 meter tersebut.

Otoritas pengelola Merapi sebenarnya sudah melarang para pendaki ke puncak. Tapi, Zainal dan kawan-kawan tetap nekat. “Awalnya terasa getaran, lalu disusul suara menggelegar. Kami langsung saja lari,” katanya.

Di Pasar Bubrah, ketika letusan itu terjadi pada pukul 07.40 WIB, banyak pendaki yang tengah bersantai. Ada yang tengah memasak, sedang ngopi, dan ada pula yang masih tidur. Zainal mengaku sampai beberapa kali terjatuh hingga lecet di beberapa bagian tubuh. Berlari dalam posisi turun memang tak mudah. “Ada belasan pendaki yang di puncak sebelum terjadi letupan. Ada juga pendaki yang pingsan, mungkin karena shocked,” ceritanya.

Dari Jakarta, Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), memastikan bahwa seluruh pendaki berhasil dievakuasi. Mereka sampai di Base Camp Selo sekitar pukul 15.15 WIB. “Sebanyak 160 pendaki sudah dievakuasi dan selamat. Ada beberapa yang pingsan,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Zainal, dirinya dan rombongan sebenarnya memang sudah diperingatkan guide agar tidak mendaki ke puncak. Sebab, beberapa waktu terakhir, bau belerang di puncak sangat menyengat. Gemuruh kawah Merapi juga terdengar lebih keras daripada biasanya. ”Untung masih diberi selamat. Ini jadi pembelajaran untuk kita agar mematuhi peraturan,” tuturnya sambil menghela napas panjang.

Sama bersyukurnya dengan Zainal, Abi Rivaldi, pendaki lain, mengaku tak akan melupakan peristiwa yang dia alami di Pasar Bubrah bersama ketiga rekannya. “Jelas panik. Setelah situasi cukup tenang, kami langsung packing dan turun,” katanya.

Sutopo juga mengimbau semua pendaki mematuhi rekomendasi dan tidak memaksakan diri mendekati kawah. Apalagi, sejumlah relawan Merapi yang ditemui Jawa Pos Radar Solo mengeluhkan ulah beberapa pendaki yang merobohkan papan larangan mendaki ke puncak Merapi. (*/lyn/c9/ttg/jpnn/rom/k11)

 

loading...

BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 10:53

Pramugari Nyerah, Punya Suami yang Brutal di Ranjang

Mungkin Donwori, 31, berpikir jika Karin, 29, ini Dakota Johnson dalam film 50 Shades of Grey yang…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:46

Syaratnya, Jangan Berisik, Jangan Menatap, Jangan Mendongak

Bisa bertemu orangutan dari jarak dekat adalah “kemewahan” yang ditawarkan Taman Nasional…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:30

Setiap Hari, Ajak Anak Membaca selama 15 Menit

Denah pengelolaan kelas yang masih monoton seperti pekerja kantoran. Guru menyampaikan ceramah di depan…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:05

Berangkat dari Kampung Baru, Berkeinginan Sejahterakan Nelayan

Tumbuh di daerah pesisir membuat Utari Octavianty tak lagi asing melihat aktivitas nelayan. Sedari kecil,…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:25

Bini Ngga Suka Blow Job, Jadi Alasan Suami Cari Janda

Donwori membuat Karin dalam posisi dilema. Istrinya dibuat kini berada di persimpangan jalan yang sungguh…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:20

Tak Kuat Godaan Harta, Tahta dan Janda Muda

Katanya, godaan laki-laki adalah harta, tahta, dan wanita. Rasanya, Donwori, 48, tak tahan dengan godaan…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:18

Dicerai Karena Bini Nyaman Jadi Simpanan Om Genit

Tak semua perempuan gila harta, tapi banyakan ya iya. Seperti Karin, 34, ini. Ditinggal suami merantau,…

Sabtu, 13 Oktober 2018 01:27

Tiap Hari Habiskan 10 Karung Beras dan 125 Ekor Ayam

Sudah tujuh hari, dapur umum Detasemen Pemeliharaan dan Jasa Intendans Kodam VI/Mulawarman tampak sibuk.…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:15
Mengunjungi Lokalisasi Tondo Pascagempa dan Tsunami

Tarif Variatif, Sebagian Germo asal Sulsel

Mereka hanya menjedakan diri sesaat. Menunggu kafe, tempat karaoke, dan kamar direnovasi. RIDWAN MARZUKI-NURHADI…

Selasa, 09 Oktober 2018 10:14
Mengunjungi Lokalisasi Tondo Pascagempa dan Tsunami

Para WTS Tetap Beroperasi, Tetapi di Indekos

Para germo menyebut mereka telah pulang kampung. Namun, sebagian masih berada di indekos.   RIDWAN…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .