MANAGED BY:
MINGGU
19 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 12 Mei 2018 07:23
“Awalnya Getaran, lalu Suara Menggelegar, Kami Pun Langsung Lari”

Kisah para Pendaki yang Berada Tak Jauh dari Puncak saat Merapi “Batuk”

SELAMAT: Para pendaki Gunung Merapi yang berhasil dievakuasi kemarin.

PROKAL.CO, Ketika Gunung Merapi mengalami letusan freatik kemarin (11/5), ratusan pendaki tengah memasak, mengopi, atau tiduran di batas terakhir pendakian. Banyak yang nekat ke puncak meski jelas dilarang.

 

TRI WIDODO, Boyolali

 

SUARA bergemuruh itu benar-benar mengagetkan Fajar Sidiq. Apalagi disusul kepulan asap tebal. Jelas sudah, Merapi tengah “batuk”. Padahal, saat itu Fajar dan banyak pendaki lain tengah berada di kamp Pasar Bubrah. Itu batas terakhir pendakian. Di atas mereka sudah puncak.

Bayangkan, berada sedekat itu dengan pusat letusan gunung paling aktif di dunia. “Saya dan kawan-kawan langsung lari mencari perlindungan. Di mana saja yang kami rasa aman,” kata Fajar yang ditemui Jawa Pos Radar Solo di kawasan Base Camp Selo, Boyolali, Jawa Tengah, kemarin.

Letusan kemarin memang tipe freatik. Hanya sekali dan yang dimuntahkan Merapi adalah abu vulkanis, pasir, dan material piroklatik. Bukan wedhus gembel alias awan panas yang menewaskan begitu banyak orang di letusan besar terakhir Merapi pada 2010.

Tapi, nun di atas sana, siapa yang tahu itu jenis letusan apa. Meski batuknya sekali, tetap saja sangat menggetarkan. Apalagi, ada 160 pendaki di kawasan Merapi saat letusan itu terjadi.

Sopan Pangestu, pendaki lain, seperti halnya Fajar, mengaku sangat panik saat gemuruh terdengar dari puncak. Padahal, ketika itu dia baru saja memasak sayur untuk sarapan pagi sebelum turun. “Saya lihat awannya mengarah ke mana. Lalu, kami arahkan berlindung ke arah utara di balik-balik batu,” ujar mahasiswa Universitas Muhammadiyah Solo tersebut.

Zainal Arifin dan sejumlah kawan malah dalam posisi turun dari puncak saat letusan itu terjadi. Sebelumnya, mereka menghabiskan sekitar satu jam di kawasan puncak gunung setinggi 2.930 meter tersebut.

Otoritas pengelola Merapi sebenarnya sudah melarang para pendaki ke puncak. Tapi, Zainal dan kawan-kawan tetap nekat. “Awalnya terasa getaran, lalu disusul suara menggelegar. Kami langsung saja lari,” katanya.

Di Pasar Bubrah, ketika letusan itu terjadi pada pukul 07.40 WIB, banyak pendaki yang tengah bersantai. Ada yang tengah memasak, sedang ngopi, dan ada pula yang masih tidur. Zainal mengaku sampai beberapa kali terjatuh hingga lecet di beberapa bagian tubuh. Berlari dalam posisi turun memang tak mudah. “Ada belasan pendaki yang di puncak sebelum terjadi letupan. Ada juga pendaki yang pingsan, mungkin karena shocked,” ceritanya.

Dari Jakarta, Sutopo Purwo Nugroho, kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), memastikan bahwa seluruh pendaki berhasil dievakuasi. Mereka sampai di Base Camp Selo sekitar pukul 15.15 WIB. “Sebanyak 160 pendaki sudah dievakuasi dan selamat. Ada beberapa yang pingsan,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Menurut Zainal, dirinya dan rombongan sebenarnya memang sudah diperingatkan guide agar tidak mendaki ke puncak. Sebab, beberapa waktu terakhir, bau belerang di puncak sangat menyengat. Gemuruh kawah Merapi juga terdengar lebih keras daripada biasanya. ”Untung masih diberi selamat. Ini jadi pembelajaran untuk kita agar mematuhi peraturan,” tuturnya sambil menghela napas panjang.

Sama bersyukurnya dengan Zainal, Abi Rivaldi, pendaki lain, mengaku tak akan melupakan peristiwa yang dia alami di Pasar Bubrah bersama ketiga rekannya. “Jelas panik. Setelah situasi cukup tenang, kami langsung packing dan turun,” katanya.

Sutopo juga mengimbau semua pendaki mematuhi rekomendasi dan tidak memaksakan diri mendekati kawah. Apalagi, sejumlah relawan Merapi yang ditemui Jawa Pos Radar Solo mengeluhkan ulah beberapa pendaki yang merobohkan papan larangan mendaki ke puncak Merapi. (*/lyn/c9/ttg/jpnn/rom/k11)

 

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 Agustus 2018 07:11

Sempat Sakit Perut sebelum Upacara, Biasa Panjat Pohon Kelapa

Upacara pengibaran bendera Merah Putih saat HUT Ke-73 Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Pantai Motaain,…

Selasa, 14 Agustus 2018 09:03

Anggrek, si Eksotis yang Terus Terkikis

Anggrek menjadi salah satu tumbuhan favorit pencinta tanaman hias. Namun, tingginya minat itu berisiko…

Sabtu, 11 Agustus 2018 02:02

Persaingan Ketat, Timnas Bakal Jadi Kuda Hitam

Kejuaraan Daerah (Kejurda) 2015 di Stadion Utama Palaran, Samarinda menjadi momen debutnya di bola tangan.…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:04

Berkontribusi untuk Ibu-Ibu Puskesmas hingga Astronaut

Bagi para awam, mungkin sulit membayangkan miliaran bakteri bisa terkandung dalam botol minuman bervolume…

Sabtu, 28 Juli 2018 06:54

Sepuluh Tahun Memimpin dengan Segudang Prestasi

Kota Tepian berduka. Abdul Waris Husain berpulang. Wali kota Samarinda ke-6 itu meninggalkan kenangan…

Sabtu, 28 Juli 2018 06:09

Manjakan Konsumen, Tangkap Peluang Pasar dari Hunian Premium

Peluang pasar yang besar dimanfaatkan Informa dengan mengembangkan unit bisnis lain di Kota Minyak.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .