MANAGED BY:
SENIN
21 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 11 Mei 2018 09:41
Nasib Beruang Madu di Kaltim
Lirik Jerman, Siap Go International

PROKAL.CO, SEJAK UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah berlaku, Dinas Kehutanan Kaltim memegang kendali atas Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Balikpapan. Tugas ini diberikan kepada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bongan. Sebagai pengelola sementara dan koordinator unit 30. Meliputi Sungai Wain dan Sungai Manggar.

“Kami mendapat tugas ini terhitung 18 Januari 2017. Termasuk di dalamnya adalah KWPLH yang merupakan bagian dari KPHL Balikpapan di Sungai Manggar,” terang Kepala KPHP Bongan Eddy Riswanto.

Dia membela. Pemerintah bukan membiarkan atau lepas tangan. Untuk mengelola KWPLH perlu anggaran. Tetapi, mengingat sejak 2016 hingga 2017 lalu kondisi keuangan Kaltim terpuruk, pengurusannya diserahkan kepada Yayasan Pro Natura, yang sejak awal sudah menjadi bagian dari KWPLH. Perjanjian kerja sama Dinas Kehutanan Kaltim dengan Yayasan Pro Natura dibuat. Diikat dengan surat Nomor: 522/2908/DK-II/2016 dan Nomor: 05/YPN/PK/XII/2016.

“Kepedulian provinsi di mana? Tahun ini kami sudah ajukan anggaran perbaikan sapras (sarana dan prasarana),” ungkapnya.

Namun, masih ada masalah. Secara administrasi, belum ada serah terima aset dari Pemkot Balikpapan kepada Pemprov Kaltim. Dinas Kehutanan masih menunggu. Secara legal, pemprov masih pinjam pakai. Akan jadi masalah ketika ada anggaran dari provinsi. Sayangnya, secara hitam di atas putih, aset yang ada di KWPLH belum terdaftar di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kaltim.

“Kami sudah dapat perintah untuk jemput bola. Agar proses serah terima ini berjalan lebih cepat. Sebab, kami memang sudah siapkan program dan anggaran,” sebutnya.

Meski begitu, ada proses birokrasi yang harus dilalui. Usai jemput bola, Pemkot Balikpapan diharap bisa segera membuat laporan ke gubernur terkait aset yang akan diserahkan. Lantas gubernur akan menyerahkannya ke Dinas Kehutanan. Kemudian, diteruskan ke UPTD. Saat ini sudah ada inisiatif. Ketika sudah ada surat dari gubernur ke dinas. Agar proses ini segera ditindaklanjuti. Pihaknya juga menurunkan tim untuk menginventarisasi aset. Namun, sekali lagi, aset masih digenggam Pemkot Balikpapan.

“Anggaran kan disusun berdasarkan bagaimana kondisi aset. Seberapa parah kerusakannya. Perlu perbaikan berapa. Nah, ini kan baru kami ketahui kalau sudah ada datanya,” sebutnya.

Pihaknya berterima kasih kepada Yayasan Pro Natura yang selama ini membantu mengurus KWPLH selama proses serah terima belum selesai. Tak hanya soal pemeliharaan sapras, namun juga mengurus binatang termasuk beruang madu. Karena pihaknya sadar, anggaran pemerintah tak mungkin bisa membiayai di tengah proses ini. Perlu diluruskan, jelasnya, Yayasan Pro Natura hanya bersifat mengelola.

“Kami tetap membantu. Sebab, apapun yang terjadi di KWPLH adalah tanggung jawab Dinas Kehutanan Kaltim,” ucapnya.

Kendala juga terdapat di sumber daya manusia. UPTD KPHP Bongan yang selama ini fokus di KPHP Bongan dengan luasan 335 ribu hektare kekurangan orang. Dengan bergabungnya KPHL Balikpapan, otomatis memecah kekuatan UPTD. Meski begitu, kata Eddy, ini bukan hal yang harus dikeluhkan. Sambil memberikan fokus ke KPHP Bongan, pihaknya telah melakukan pendekatan dan upaya untuk KPHL Balikpapan.

“Kami sedang upayakan KPHL Balikpapan. Termasuk KWPLH di dalamnya untuk go international. Kami berencana mengajak Jerman untuk join. Sudah kami lakukan sejak KPHL Balikpapan kami ambil alih,” ucapnya.

Pihaknya juga sedang melakukan penjajakan dengan PT Angkasa Pura I. Selaku pengelola Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, AP I mampu membuka jalan bagi KPHL Balikpapan untuk mendapatkan suntikan wisatawan. Konsepnya sedang disusun. “Sekali lagi. Tak ada niat pemprov untuk menelantarkan KWPLH,” tegasnya.

Lalu, bagaimana nasib KWPLH jika kerja sama dengan Yayasan Pro Natura berakhir? Eddy memastikan, Pemprov Kaltim siap untuk mandiri. Keyakinannya itu berdasarkan adanya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SK.6940/MENLHK-KPHL/PKPHL/DAS.3/12/2017. Tentang pengesahan Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Panjang (RPHJP) KPHL Unit XXX Sungai Wain-Manggar periode 2018-2027.

“Kami enggak khawatir jika kerja sama dengan Yayasan Pro Natura berakhir. Kami sudah memiliki RPHJP ini,” katanya.

Pemprov pun membuka pintu kepada Pemkot Balikpapan jika ingin membantu. Karena memang, secara wilayah berada di Balikpapan. Beruang madu pun menjadi maskot Kota Beriman. Ada Naskah Kesepakatan Kerja Sama (NKK). Yang bisa diajukan dari Pemkot ke gubernur. Jadi, anggaran dari APBD Balikpapan bisa masuk ke KWPLH.

“Tentu dengan NKK ini, Pemkot tak perlu lagi khawatir soal keinginan mereka agar bisa berperan dalam melestarikan beruang madu,” ungkapnya.

Soal jalan KWPLH yang rusak, Eddy mengakui jika hal tersebut diakibatkan aktivitas truk besar. Sebagai akses pembangunan jalan tol Balikpapan–Samarinda. Hal ini disebutnya sudah dikoordinasikan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kaltim. Respons sudah didapat dari kontraktor yang menggunakan jalan tersebut.

“Kontraktor bersedia langsung memperbaiki begitu proyek mereka selesai. Ini sudah diketahui oleh Dinas PU dan Dinas Kehutanan,” tuturnya.

Begitu pula soal adanya aktivitas perkebunan di dalam KPHL Balikpapan termasuk di KWPLH, pihaknya tak bisa serta-merta mengusir. Sebab, secara sejarah, masyarakat yang ada lebih dulu dibanding KPHL Balikpapan yang baru dibentuk pascabubarnya BPHLSW. Mereka dipersilakan untuk bercocok tanam dan menjaga hutan yang ada. Ada hak kelola dengan asas konservasi. Namun, memperhatikan zona yang sudah ditetapkan. Termasuk tidak direkomendasikan untuk menanam sawit.

“Kalau yang sudah telanjur ditanam di atas empat tahun, kami beri peluang satu daun. Atau satu kali panen. Di bawah usia tersebut, akan kami cabut. Dengan catatan, setiap hektare ditanam 100 pohon endemik,” tegasnya. (Tim KP)


BACA JUGA

Jumat, 18 Mei 2018 08:51

Reduksi lewat Bank Sampah

KALTIM, di luar Mahakam Ulu, memiliki total 10 tempat pembuangan akhir (TPA). Samarinda sebagai ibu…

Rabu, 16 Mei 2018 09:13
Kejamnya Pembunuhan Ibu dan Anaknya di Muara Badak

Diungkap dalam Tiga Jam

HANYA perlu waktu tiga jam bagi tim gabungan Polsek Muara Badak dan Polres Bontang untuk mengungkap…

Rabu, 16 Mei 2018 09:08

Membunuh Akibat Uang Jajan Kurang

OLEH: RADEN RORO MIRA BUDIASIH PRIA di hadapan penulis sesekali melirik ke depan, kemudian mengarahkan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:10

Eksklusif namun Dilupakan

DOSEN Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda Rustam menyebut, sejak awal pendiriannya pada 2005,…

Jumat, 11 Mei 2018 09:06

Tunggu Serah-Terima Aset

KONDISI Kawasan Wisata Pendidikan Lingkungan Hidup (KWPLH) Balikpapan terombang-ambing. Terutama pengelolaan…

Jumat, 11 Mei 2018 09:03

Perlu Kolaborasi Dinas Kehutanan dan Pro Natura

OLEH: AGUSDIN(Perintis dan Pemerhati KWPLH) SEBELUM merintis KWPLH, saya bergabung dalam penyelamatan…

Jumat, 27 April 2018 13:43

Belum Ada Pasien Kanker Akibat Kopi

KOPI jadi simalakama. Mulanya tanaman tersebut mengandung antioksidan, zat yang melindungi tubuh dari…

Jumat, 27 April 2018 13:40

Bisnis Kopi, Antara Rasa dan Citra

EMPAT bulan menjelang akhir 2015, Semenjana hadir memenuhi dahaga penikmat kopi. Adalah Rifki Ramadhan…

Jumat, 27 April 2018 13:30

Kopi Itu Seksi

TIDAK hanya sekolah barista atau pembuat kopi, tempat belajar bagi mereka yang menyukai proses sangrai…

Jumat, 27 April 2018 09:25

MENGGUGAT KENIKMATAN SECANGKIR KOPI

Secangkir kopi bukan sekadar bubuk hitam dan air gula. Ini soal sensasi kegembiraan, magnet penyatu,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .