MANAGED BY:
SENIN
22 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Sabtu, 28 April 2018 06:58
Menyoal Layanan Taksi Bandara

CATATAN Endro S Efendi

Endro S Efendi

PROKAL.CO, BANDARA, objek vital yang sangat diperlukan publik. Bahkan layanan bandara juga menjadi etalase sebuah daerah. Jika layanannya baik, citra daerah itu juga baik. Megahnya Bandara Internasional Sepinggan Balikpapan, jelas membuat siapa saja kagum. Nama Balikpapan dan Kaltim pun ikut terkerek atas kemegahan bandara itu. Tapi, bagaimana layanannya? Inilah yang coba kita urai dari sisi transportasi pendukung, yakni taksi.

Tadi malam (27/4), saya berkesempatan pulang ke Samarinda setelah hampir sebulan berada di Jakarta mengikuti pendidikan di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Lebih tepatnya baru sebulan, karena pendidikan itu memakan waktu hampir 8 bulan.

Tiba di Bandara Sepinggan, karena tak membawa bagasi, saya langsung menuju layanan minibus. Masih tersedia kursi, tapi menunggu dua jam lagi. Menghemat waktu, saya langsung beralih ke layanan taksi. Lebih mahal, sudah pasti, demi menghemat waktu. Saat memesan taksi untuk luar kota, saya sudah mulai menangkap ada gelagat aneh.

“Tunggu sebentar Pak,” kata perempuan yang berjaga di konter layanan taksi. Aneh memang. Tidak seperti dulu, sangat cekatan. Kali ini ada wajah yang tampak ada sesuatu disembunyikan.

Tak lama kemudian, dia melayani dan memberikan karcis. Namun, mobilnya belum juga tersedia. “Tunggu saja Pak, mobil mau masuk,” kata petugas pria yang membawa handy talkie. Karena katanya mau masuk, saya memilih menunggu berdiri di tepi tempat parkir taksi. Tunggu-tunggu punya tunggu, mobil yang katanya mau masuk, tak kunjung masuk.

Saya segera ke konter menanyakan kembali. Jawaban masih sama, diminta menunggu. Perempuan penjaga konter ini pun sibuk menghubungi orang di seberang sana. Entah siapa. “Sebentar ya Pak,” katanya lagi. Saya memilih taksi karena ingin cepat, tapi sudah 30 menit tak kunjung tersedia, jelas ada yang aneh.

Tak lama kemudian, mobil benar-benar ada. Mobil taksi biru dengan nomor pintu 087. Ketika saya tanyakan, kenapa lama, dia mengaku justru baru dari luar dan mengantar penumpang. Dia pun merasa kaget karena nyatanya banyak mobil taksi tersedia.

Benar saja, saat mau keluar bandara, ada banyak taksi sejenis di tempat parkir. “Mereka jarang mau ke luar kota. Maunya dalam kota saja. Seharusnya tidak boleh begitu,” kata sopir yang membawa saya.

Apa yang saya tuliskan ini tidak mengada-ada. Saya bertanggung jawab penuh atas tulisan saya. Sebagai penumpang, jelas saya merasa dirugikan dan tidak mendapat pelayanan maksimal dari bandara yang tarifnya paling mahal di Indonesia itu.

Saya tahu, angkutan ilegal alias taksi pelat hitam tidak boleh masuk bandara. Saya juga tahu, taksi selain Primkopau dan Aerocab juga tidak boleh mengambil penumpang di bandara, hanya boleh mengantar saja. Sebagai gantinya, mestinya ada alternatif yang tidak menyulitkan penumpang.

Jika armada taksi yang boleh melayani di bandara tidak mau mengantar penumpang ke luar kota, lalu kenapa taksi lain yang selama ini sering ke luar kota dilarang masuk? Padahal, mereka juga punya izin. Silakan saja taksi online dilarang masuk, lah ini taksi resmi pun dilarang. Lantas, sampai kapan layanan seperti ini diterapkan?

Wahai Bapak-Bapak yang mengelola bandara, saya yakin sudah melihat sendiri layanan bandara lain. Berikan izin layanan transportasi masuk bandara, berikutnya biarlah semua bersaing secara fair.

Biarkan penumpang memilih layanan terbaik. Bandara Sepinggan bukan hanya milik warga Balikpapan, jadi aneh kalau akses transportasi ke luar kota tidak tersedia maksimal. Haruskah saya warga Samarinda selalu jadi korban? Sudah korban lelah karena waktu tempuh lama, korban biaya, masih lagi ditambah korban perasaan karena layanan transportasi yang ala kadarnya.

Sekali lagi, saya yakin di dalam hati nurani Bapak-Bapak pengelola bandara, masih ada sifat bijak dan baik serta mau melayani publik dengan baik. Saya yakin, tidak ada niat dari Bapak-Bapak pengelola bandara untuk mencari keuntungan pribadi atau merugikan penumpang. Saya sangat percaya itu. Maka, semoga saja ada perbaikan pada masa mendatang. Perbaikan segera, tanpa waktu lama, karena penumpang terus berdatangan tanpa mau menunggu layanan yang perlu waktu. Semoga. (rom/k16)


BACA JUGA

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:05

Abstrak

TIGA tahun lalu, saya mengikuti pelatihan jurnalistik bagi pemimpin redaksi (pemred) se-Jawa Pos Group…

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:03

Inkubator untuk Korban Gempa

SELIMUT mural di badan bangunan kecil itu menyita perhatian. Didominasi warna kuning. Gambar tokoh-tokoh…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .