MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 27 April 2018 08:58
Pro-Kontra Kopi, Sudah Biasa
PUNYA CITA RASA: Kris Nugraha (kiri) di Kedai Republik Coffee. (FACHRIZAL/KP)

PROKAL.CO, Oleh: Kris Nugraha
(Penikmat kopi dan pemilik kedai Republik Coffee)

BILA bicara soal pro-kontra, kopi bisa dibilang banyak sekali mazhabnya. Coba lihat beberapa artikel yang memuat penelitian tentang kopi. Penelitian satu menyebutkan, kopi tak baik buat kesehatan. Sementara di artikel yang berbeda berisi penelitian yang menyatakan kopi baik untuk kesehatan. Padahal, dua artikel tadi diterbitkan oleh media yang sama. 

Termasuk mengenai penelitian yang menyebut kopi salah satu pemicu kanker yang cukup banyak dibicarakan beberapa waktu belakangan. Kalau saya lihat, mungkin ada baiknya menunggu penelitian selanjutnya untuk hal ini. 

Bicara tentang kopi pemicu kanker, kopi jadi penyumbang akrilamida. Kandungan akrilamida terbentuk selama penyangraian kopi. Mengutip buku Kopi: Sejarah, Botani, Proses Produksi, Pengolahan, Produk Hilir, dan Sistem Kemitraan, kandungan akrilamida dalam kopi tak serta-merta menghubungkan kopi dengan kanker.

Dalam buku yang dikeluarkan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia itu memuat penelitian bahwa peminum kopi justru memiliki risiko kanker lebih rendah. Konsumsi satu cangkir kopi per hari dapat diasosiasikan dengan penurunan kanker sebanyak 3 persen.

Penelitian lain mengatakan, kopi penghambat kanker karena kandungan asam klorogenat, bukan kafein. Sementara itu, dalam www.diabetes.co.uk menyebut, kopi salah satu minuman yang baik untuk menurunkan risiko diabetes tipe-2.

Saya pernah mempraktikkannya. Beberapa waktu lalu, seorang kawan mendapat hasil tes kesehatan yang menyebut gula darah berada di atas batas normal. Catatan pentingnya adalah meminum kopi tak boleh berlebihan. Kualitas biji kopinya pun mesti diperhatikan. Saya sarankan kepada teman saya untuk minum kopi tanpa gula pada pagi dan sore. Sementara siang hari meminum teh tawar. Untuk makanan tak ada pantangan berarti.

Yang jelas asupan harian dalam kadar normal, jangan berlebihan. Selama sebulan mengamalkan saran saya, kadar gula darah dan kolesterol kawan saya itu turun.

Bahkan dokter menyarankan kadarnya sedikit dinaikkan karena terlalu rendah. Namun, catatan yang harus diperhatikan adalah kopi tidak mengobati, hanya menurunkan risiko. Bila sudah terkena diabetes, lain lagi ceritanya. 

Dari pengalaman tersebut, diambil kesimpulan bahwa mengonsumsi kopi jangan berlebihan. Soal pro-kontra kopi, tentu sudah jadi hal biasa. Bahkan, untuk kopi luwak yang notabene menjadi kopi termahal di dunia saja sempat menuai pro-kontra. Entah penelitian yang menyebut kopi itu berbahaya lantaran dari pup luwak.

Nah, untuk hal ini, sepertinya harus diceritakan cukup detail. Sebagai informasi, luwak bila dilihat dari susunan giginya juga memakan daging dan tumbuhan. Karena sebagai omnivora, luwak perlu memakan buah-buahan untuk keperluan pencernaannya. Luwak akan memakan buah kopi yang sudah benar-benar matang. Bila termakan buah kopi yang kurang matang, akan dilepeh oleh si luwak. Dalam proses pencernaan, perut luwak akan memisahkan biji dan daging buah. Untuk masalah ini, sudah jadi buatan Yang Mahakuasa. 

Dua jam setelah memakan buah kopi tadi, biji yang sudah terproses di perut luwak akan keluar melalui anus. Perlu diketahu