MANAGED BY:
SABTU
15 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 24 April 2018 10:51
Istana Galau?
Jokowi dan Prabowo

PROKAL.CO, Oleh  :Tony Rosyid

Pendaftaran pilpres sekitar 3 bulan lagi. Tim Jokowi intens melobi partai-partai non-koalisi. Minta mereka bergabung. Tujuannya? Calon tunggal. Kenapa? Karena posisi Jokowi tak aman. Survei Rico Marbun, 46,4% rakyat ingin ganti presiden. Hanya 45,2% yang ingin Jokowi presiden lagi. Sangat rawan.

Salah seorang pengurus PDIP bilang: Pak Jokowi tak ingin calon tunggal. Agar demokrasi bisa berjalan. Ah, bisa-bisa aja. Sulit dipercaya. Berarti bohong dong? Tidakkah dalam dunia politik, bohong itu hal biasa? Kayak gak tahu aja.

Ada juga yang bilang: jangan pikirin pilpres. Yang penting kerja...kerja...kerja... Sementara Pak Jokowi 4-5 kali ke Jawa Barat dalam sebulan. Road show dengan motor chopper. Didandani layaknya anak milenial dengan menaiki motor gede. Gak mikirin pilpres? Jelas kurang nyambung...

Supaya Jokowi aman, calon tunggal jadi pilihan utama. Caranya? Pertama, ambil Prabowo sebagai cawapres. Kalau Gerindra mendukung Jokowi, PKS akan kehilangan arah koalisi. Oposisi lumpuh. Apakah Prabowo mau? Sedang dalam proses lobi yang intens. Pertemuan Luhut Binsar Panjaitan (LBP) dengan Prabowo ditengarai publik dalam rangka untuk melumpuhkan koalisi oposisi. Dilanjutkan pertemuan tertutup di Cijantung antara Prabowo dengan sejumlah jenderal dan tokoh pendukung istana.

Dalam situasi tak memiliki logistik yang cukup dan elektabilitas yang makin turun, tawaran istana untuk men-cawapreskan Prabowo cukup menggoda. Tak pusing mikir logistik, dan kabarnya akan dapat jatah delapan menteri. Wow. Prabowo mau? Kita tunggu jawabannya.

Kedua, tutup peluang poros ketiga yang dimotori Demokrat, PAN dan PKB. Demokrat bersedia? Infonya Demokrat siap. Tapi, ada syarat. Putra Mahkota, AHY, jadi cawapres Jokowi. Jokowi ambil? Jika syarat itu diterima Jokowi, koalisi istana rentan pecah. Sejumlah tokoh dari partai koalisi yang selama ini menunggu dipinang jadi cawapres Jokowi akan merasa ditelikung. Terutama PDIP yang paling sensi untuk bisa terima AHY. Luka lama bisa kambuh kembali.

PDIP sudah sodorkan Puan Maharani, PPP punya Romi, di PKB ada Muhaimin Iskandar, dan Golkar siap dengan Airlangga Hartarto. Kecil kemungkinan para tokoh dari partai koalisi istana ini legowo disalip AHY. Jika dipaksakan, koalisi istana terancam bubar.

Gak deal dengan syarat Demokrat, istana mesti menggunakan strategi lain. Wiranto diutus ketemu SBY. Untuk apa? Besar dugaan untuk nego ulang. Itu tugas negara, katanya. Ah, bisa-bisa aja. Rakyat gak lugu-lugu amat untuk sekedar memahami manuver seperti ini.

Di saat lobi sedang berjalan, kasus Century muncul lagi. Budiono, mantan wakil presiden SBY jadi tersangka. Dari PN Jakarta Selatan dilimpahkan ke KPK. Terkesan mendadak dan cepat. Rakyat kaget. Lalu, apa hubungannya dengan SBY? Ah, kayak gak ngerti aja. Nama SBY sering disebut-sebut terkait kasus Century. Benarkah? Hanya pengadilan yang bisa membuktikan. Tapi, pengadilan tak selalu steril. Tak independen maksudnya? Banyak yang bilang begitu. Loh kok? Gak usah kaget. Seringkali tangan-tangan jahil kekuasaan hadir, ikut terlibat dan intervensi. Politik menjajah hukum itu terjadi di banyak kasus.

Apakah kasus Century adalah sandera istana kepada SBY? Sulit dijawab. Meski opini terus tumbuh. Isu politik tak mudah diverifikasi. Kecuali hanya beredar di kalangan komunitas super elit. Jika istana gagal meredam dua poros untuk melenggangnya calon tunggal, maka, langkah berikutnya akan mendorong calon yang lemah. Prabowo dianggap calon itu. Benarkah?

Euforia PDIP sebagai pimpinan koalisi istana tak bisa disembunyikan. Raut wajah gembira nampak ketika Prabowo deklarasi. Terbukti, elektabilitas Jokowi naik drastis. 58 persen. Prabowo jatuh di angka 21 persen. Hampir semua survei merilis hasil elektabilitas Prabowo di bawah 30 persen dan Jokowi di atas 50 persen, jika head to head itu terjadi. Tak salah jika sejumlah lembaga survei merekomendasikan calon lain, bukan Prabowo.

Ibarat pertandingan, tak menarik ditonton lagi. Gak seru. Masa Prabowo sudah lewat. Perlu “New Comer” sebagai penantang Jokowi. Tokoh muda dan potensi menjadi “antitesa” Jokowi. Jika istana sukses mendorong dan merawat pencapresan Prabowo, maka dua tugas lagi yang harus diselesaikan Jokowi: pertama, pastikan tidak ada poros ketiga muncul. Kedua, memastikan cawapres yang tidak berisiko membuat koalisi pecah. Akan aman kalau diambil dari luar partai. Mahfudz MD atau Sri Mulyani misalnya.

Apakah kerja keras istana untuk membuat sekenario “calon tunggal” atau “merawat Prabowo” sebagai calon yang mudah dikalahkan akan berhasil? Belum tentu. Justru, saat ini, istana sedang galau-galaunya. Galau jika ikhtiarnya untuk meredam kedua poros yang potensial jadi lawannya gagal. Tahu-tahu Gerindra-PKS mengalihkan capresnya ke Anies Baswedan. Demokrat, PKB dan PAN capreskan Gatot Nurmantyo. Atau Anies-Gatot dipasangkan dan dicalonkan oleh lima partai. Ini sangat mungkin. Kalau terjadi, Jokowi akan kesulitan mempertahankan kekuasaannya untuk dua periode. (Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, Jakarta, 23 April 2018.)


BACA JUGA

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…

Rabu, 12 Desember 2018 06:53

Financial Technology Berbasis Syariah

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Dosen Fakultas Ekonomi dan…

Selasa, 11 Desember 2018 06:51

Persatuan di Tahun Politik

Oleh: Mukhammad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) TAHUN politik di Indonesia…

Selasa, 11 Desember 2018 06:50

Hubungan Tiongkok-AS: Menuju Perang Dunia Ke-3?

Oleh: Rendy Wirawan (Master of International Relations, University of Melbourne)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .