MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 21 April 2018 06:17
Pajak Rp 230 Miliar Berpotensi Menguap

Industri Mamin Hadapi Tantangan Ganda

SULIT KOMPETITIF: Sebagian pelaku industri makanan dan minuman masih mengandalkan bahan baku kemasan dari luar negeri.

PROKAL.CO, JAKARTA   -   Hasil risetCenter of Reform on Economics (CORE) menyebutkan, industri makanan dan minuman (mamin) menghadapi dua tantangan berat.Pertama, daya beli masyarakat yang turun, serta tak pastinya bahan baku untuk industri.

Direktur Riset CORE Piter Abdullah menjelaskan, industri mamin bahkan berpotensi mengalami penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) hingga Rp 230 miliar. Menurutnya, hal itu akan terjadi jika pemerintah menjalankan usulan Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) terkait pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) terhadap impor polyethylene therephalate (PET) atau kemasan plastik.

Piter menjelaskan, ada dua dampak terkait BMAD untuk kemasan plastik. Salah satunya adalah biaya industri mamin meningkat sehingga harga jual naik. Hal itu akan menurunkan permintaan pasar yang berakibat pada turunnya PPN dan pajak penghasilan (PPh).

“Penurunan permintaan akibat pengenaan BMAD sekitar sebesar 11-12 persen dengan penerimaan PPN, berpotensi menurun sekitar Rp 230 miliar,” jelas Piter, Kamis (19/4).

Dia menambahkan, penerapan BMAD menjadikan industri mamin yang mayoritas merupakan perusahaan kecil dan mikro, akan dirugikan dalam hal penurunan permintaan serta penyerapan tenaga kerja. “Penyerapan tenaga kerja merupakan persoalan potensial yang menjadi isu besar di tahun politik,” kata Piter.

Sementara itu, juru bicara Forum Lintas Asosiasi lndustri Makanan dan Minuman (FLAIMM) Rachmat Hidayat mengatakan, saat ini para pelaku industri juga menggunakan PET produksi dalam negeri. Namun, stok dalam negeri tidak mencukupi.

“Kebutuhan PET 200 ribu ton per tahun. Sebanyak 55 hingga 60 persen masih harus diimpor. Harga impor itu ikuti harga dunia kisaran USD 1.600 per ton,” kata Rachmat.

Menurutnya, kebutuhan akan PET harus dipenuhi karena kontribusinya cukup besar untuk industri mamin. “Masalahnya, kami harus menggunakan itu (PET). Enggak ada alternatif lain selain PET,” ujar dia.

Para pelaku industri dalam negeri terpaksa harus melakukan impor. Sebab, PET produksi dalam negeri sebagian besar justru malah diekspor dengan harga jauh lebih murah dengan harga beli PET impor.

“Logikanya, kami tidak akan impor kalau ada di dalam negeri, jika kualitas dan harganya relatif sama. Namun, pertimbangan membeli enggak hanya harga, tetapi juga kualitas lalu juga kepastian keandalan,” kata Rachmat. (jos/jpnn/man/k18)


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 06:54

Standar Euro 4 Dongkrak Harga Mobil

JAKARTA – Mulai 7 Oktober 2018, semua mobil yang dipasarkan di Indonesia wajib berstandar emisi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:49

Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Melebar

JAKARTA – Kinerja neraca dagang pada September mulai menunjukkan tren positif. Setelah berkali-kali…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:47

Dorong Industri Mamin Agresif di Pasar Ekspor

SURABAYA – Industri makanan dan minuman (mamin) menjadi salah satu sektor yang memiliki prospek…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:46

REI Usulkan Harga Rumah Subsidi Naik

BALIKPAPAN - Realestat Indonesia (REI) mengusulkan adanya kenaikan harga rumah bersubsidi. Ketua Komisariat…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:37

Dorong Anak Muda Jadi Pengusaha Properti

JAKARTA – Selisih kebutuhan rumah dengan kapasitas pengembang masih cukup lebar. Berdasar data…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:36

Uang Elektronik Gaet Generasi Milenial

SURABAYA – Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap metode transaksi pembayaran yang cepat mendorong…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:36

Sejak 2017, Nilai Aset Negara Naik Rp 4.190 Triliun

JAKARTA - Sebanyak 945.460 aset negara yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga serta instansi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:35

Ekonomi Domestik dan Sentimen Brexit Dorong Rupiah Menguat

JAKARTA - Perdagangan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diharapkan dapat kembali…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:34

Kesejahteraan Pangan Jadi Perhatian

JAKARTA – Kesejahteraan pangan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah agar memperoleh kecukupan…

Senin, 22 Oktober 2018 06:56

Daya Beli Masyarakat Patut Diwaspadai

BALIKPAPAN – Meski kondisi ekonomi Kaltim tumbuh 3,12 persen dan ekspor di Bumi Etam turut membaik,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .