MANAGED BY:
MINGGU
20 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 17 April 2018 06:45
Dibayangi Penurunan Harga Komoditas

Masih Positif, Laju Sektor Unggulan Diproyeksi Melambat

EFEK EKSTERNAL: Penurunan harga komoditas utama Kaltim, seperti batu bara, tak lepas dari pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor yang diproyeksi lebih lambat. (FUAD MUHAMMAD/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Fluktuasi harga komoditas masih membayangi pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini. Kondisi itu tak lepas dari gejolak di pasar global. Terutama negara-negara tujuan ekspor dari hasil alam utama Benua Etam, seperti batu bara serta minyak dan gas bumi (migas).

Melansir proyeksi Bank Indonesia (BI), indeks harga komoditas ekspor (IHEx) Kaltim akan mengalami kontraksi atau tumbuh minus di kisaran 11,3 persen tahun ini. “Itu sudah lebih baik dibandingkan proyeksi sebelumnya,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Muhamad Nur, dalam analisisnya, belum lama ini.

Dia menyebut, proyeksi itu mengacu pada Commodity Markets Outlook Worldbank periode April dan Oktober tahun lalu. Meski masih di level penurunan, Nur menyebut, prediksi pertumbuhan minus IHEx Kaltim itu sudah lebih baik dari proyeksi sebelumnya.

Nur menjelaskan, perbaikan proyeksi untuk harga komoditas Kaltim mengacu pada revisi outlook ekonomi dunia dari International Monetary Fund (IMF). Sebelum akhirnya memasang proyeksi pertumbuhan 3,9 persen, lembaga tersebut sempat mematok ekonomi global tahun ini bakal tumbuh 3,7 persen, dalam rilisnya Oktober lalu.

Perbaikan revisi pertumbuhan ekonomi juga disematkan untuk negara di kawasan Eropa, dari 1,9 persen menjadi 2,2 persen (yoy). Begitu pula dengan Jepang dan Tiongkok, yang merupakan negara mitra dagang utama Kaltim.

“Koreksi angka pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama menjadi upside risk bagi perekonomian Kaltim tahun ini. Itu juga dikonfirmasi oleh Consensus Forecast dalam proyeksinya pada periode Januari lalu,” katanya.

Consensus Forecast memang mengoreksi proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi India, yang berujung pada penurunan indeks harga komoditas ekspor Kaltim ke negara tersebut. Walaupun, di sisi lain, IMF tidak mengubah angka proyeksinya untuk negara tersebut.

Beragam gejolak dan proyeksi di tingkat global itu, disebut Nur bakal memengaruhi posisi tawar komoditas Kaltim, yang memang didominasi produk ekspor. Deselerasi kinerja lapangan usaha utama, yakni pertambangan dan industri pengolahan, pun sulit dihindari.

“Tahun lalu, ekonomi Kaltim tumbuh 3,13 persen. Tahun ini, dengan proyeksi penurunan IHEx, kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kaltim antara 2,6 sampai 3,0 persen,” terangnya.

Dari sisi internal, dia menyebut, komoditas ekspor seperti batu bara juga sulit berharap pada pasar domestik. Salah satunya, tak lain karena harga jual yang dipatok pemerintah USD 70 per ton, di bawah harga pasaran yang berkisar antara USD 80-100 per ton. Sehingga tak heran, permintaan emas hitam untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) di Kaltim masih relatif rendah.

“Di sisi lain, untuk pertambangan migas, terjadi natural declining (penurunan produksi alami). Itu turut memengaruhi perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan di Kaltim,” tuturnya.

Bergeser ke industri pengolahan, risiko yang nyaris sama juga berlaku. Seperti potensi penurunan permintaan gas alam cair (LNG) dari Jepang, setelah beroperasinya beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir di Negeri Sakura itu.

“Itu dari sisi penawaran. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi Kaltim juga dipengaruhi penurunan ekspor, yang memang berkaitan dengan turunnya output dari lapangan usaha pertambangan,” terangnya. (*/ctr/man2/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 19 Mei 2018 00:14

2019, Ekonomi Ditarget Tumbuh 5,8 Persen

JAKARTA  –  Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi pada 2019 mendatang mencapai…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:09

BI Terbitkan Buku Kajian Stabilitas Keuangan

JAKARTA –  Bank Indonesia (BI) meluncurkan buku Kajian Stabilitas Keuangan No.30, Maret 2018.…

Sabtu, 19 Mei 2018 00:08

BI Terapkan Pengetatan Moneter, Era Bunga Tinggi Dimulai

JAKARTA  –  Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan suku bunga acuan. Kamis (17/5), rapat…

Jumat, 18 Mei 2018 06:27

Asuransi Optimistis Tumbuh 20 Persen

JAKARTA – Industri asuransi tetap optimistis bisa tumbuh 20-30 persen tahun ini. Indonesia dinilai…

Jumat, 18 Mei 2018 06:23

Penambahan Subsidi Solar Belum Final

JAKARTA – Masyarakat harus bersabar. Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)…

Jumat, 18 Mei 2018 06:23

Usaha Ritel di Surabaya Menurun 70 Persen

SURABAYA – Setelah kejadian teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia…

Kamis, 17 Mei 2018 06:59

Pangkas Rantai Tata Niaga, Hindari Lonjakan Harga

SAMARINDA – Panjangnya rantai perdagangan di Kaltim serta kendala dalam proses distribusi diklaim…

Kamis, 17 Mei 2018 06:57

Indikasi Ekonomi Kaltim Terus Tumbuh

BALIKPAPAN - Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Timur (Kalbagtim) kian optimistis…

Kamis, 17 Mei 2018 06:55

2018, Paser Optimistis 100 Persen Rasio Elektrifikasi

TANA PASER - Rasio Elektrifikasi Paser kini mencapai 82 persen. Dari 139 desa di Kabupaten Paser, hampir…

Kamis, 17 Mei 2018 06:52

Pola Konsumsi Masyarakat Membaik

BALIKPAPAN - Pola konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat Kaltim terus membaik. Memasuki triwulan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .