MANAGED BY:
KAMIS
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 17 April 2018 06:45
Dibayangi Penurunan Harga Komoditas

Masih Positif, Laju Sektor Unggulan Diproyeksi Melambat

EFEK EKSTERNAL: Penurunan harga komoditas utama Kaltim, seperti batu bara, tak lepas dari pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor yang diproyeksi lebih lambat. (FUAD MUHAMMAD/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Fluktuasi harga komoditas masih membayangi pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini. Kondisi itu tak lepas dari gejolak di pasar global. Terutama negara-negara tujuan ekspor dari hasil alam utama Benua Etam, seperti batu bara serta minyak dan gas bumi (migas).

Melansir proyeksi Bank Indonesia (BI), indeks harga komoditas ekspor (IHEx) Kaltim akan mengalami kontraksi atau tumbuh minus di kisaran 11,3 persen tahun ini. “Itu sudah lebih baik dibandingkan proyeksi sebelumnya,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Muhamad Nur, dalam analisisnya, belum lama ini.

Dia menyebut, proyeksi itu mengacu pada Commodity Markets Outlook Worldbank periode April dan Oktober tahun lalu. Meski masih di level penurunan, Nur menyebut, prediksi pertumbuhan minus IHEx Kaltim itu sudah lebih baik dari proyeksi sebelumnya.

Nur menjelaskan, perbaikan proyeksi untuk harga komoditas Kaltim mengacu pada revisi outlook ekonomi dunia dari International Monetary Fund (IMF). Sebelum akhirnya memasang proyeksi pertumbuhan 3,9 persen, lembaga tersebut sempat mematok ekonomi global tahun ini bakal tumbuh 3,7 persen, dalam rilisnya Oktober lalu.

Perbaikan revisi pertumbuhan ekonomi juga disematkan untuk negara di kawasan Eropa, dari 1,9 persen menjadi 2,2 persen (yoy). Begitu pula dengan Jepang dan Tiongkok, yang merupakan negara mitra dagang utama Kaltim.

“Koreksi angka pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama menjadi upside risk bagi perekonomian Kaltim tahun ini. Itu juga dikonfirmasi oleh Consensus Forecast dalam proyeksinya pada periode Januari lalu,” katanya.

Consensus Forecast memang mengoreksi proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi India, yang berujung pada penurunan indeks harga komoditas ekspor Kaltim ke negara tersebut. Walaupun, di sisi lain, IMF tidak mengubah angka proyeksinya untuk negara tersebut.

Beragam gejolak dan proyeksi di tingkat global itu, disebut Nur bakal memengaruhi posisi tawar komoditas Kaltim, yang memang didominasi produk ekspor. Deselerasi kinerja lapangan usaha utama, yakni pertambangan dan industri pengolahan, pun sulit dihindari.

“Tahun lalu, ekonomi Kaltim tumbuh 3,13 persen. Tahun ini, dengan proyeksi penurunan IHEx, kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kaltim antara 2,6 sampai 3,0 persen,” terangnya.

Dari sisi internal, dia menyebut, komoditas ekspor seperti batu bara juga sulit berharap pada pasar domestik. Salah satunya, tak lain karena harga jual yang dipatok pemerintah USD 70 per ton, di bawah harga pasaran yang berkisar antara USD 80-100 per ton. Sehingga tak heran, permintaan emas hitam untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) di Kaltim masih relatif rendah.

“Di sisi lain, untuk pertambangan migas, terjadi natural declining (penurunan produksi alami). Itu turut memengaruhi perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan di Kaltim,” tuturnya.

Bergeser ke industri pengolahan, risiko yang nyaris sama juga berlaku. Seperti potensi penurunan permintaan gas alam cair (LNG) dari Jepang, setelah beroperasinya beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir di Negeri Sakura itu.

“Itu dari sisi penawaran. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi Kaltim juga dipengaruhi penurunan ekspor, yang memang berkaitan dengan turunnya output dari lapangan usaha pertambangan,” terangnya. (*/ctr/man2/k18)


BACA JUGA

Rabu, 18 Juli 2018 06:47

Berharap Bantuan Pemprov

SAMARINDA - Pemkot Samarinda berencana memperbaiki jalur logistik yang menghubungkan Terminal Peti Kemas…

Rabu, 18 Juli 2018 06:42
Keuntungan Indonesia Jadi Tuan Rumah IMF-WBG 2018 (1)

Ukir Tinta Emas Sekarang atau Menanti 564 Tahun Lagi

Tidak mudah bagi Indonesia mendapat kepercayaan dunia menggelar Annual Meeting International Monetary…

Rabu, 18 Juli 2018 06:38

YA TUHANKU...!! Bulan Mei, Utang Indonesia Tembus Rp 5.020 T

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir…

Rabu, 18 Juli 2018 06:37

Lindungi Industri Kelapa Sawit

JAKARTA - Industri Kelapa Sawit Indonesia dan India menyepakati pengembangan secara berkelanjutan. Itu…

Rabu, 18 Juli 2018 06:36

1 Agustus, Tindak Kendaraan Logistik Overload

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan, mulai 1 Agustus 2018 penurunan muatan…

Selasa, 17 Juli 2018 07:07

Laba Ditahan dan Warisan Masih Wacana

BALIKPAPAN - Pengusaha di Bumi Etam mendapat angin segar. Usulan pemerintah menjadikan laba ditahan…

Selasa, 17 Juli 2018 07:05

Rupiah Bisa Bertahan di Zona Hijau

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini diperkirakan…

Selasa, 17 Juli 2018 07:03

Juni, Neraca Perdagangan Surplus USD 1,74 Miliar

JAKARTA - Kinerja perekonomian Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat…

Selasa, 17 Juli 2018 07:02

Penduduk Miskin Turun

JAKARTA – Upaya pemerintah menekan angka kemiskinan di Tanah Air mulai menunjukkan hasil membanggakan.…

Selasa, 17 Juli 2018 07:01

Saatnya Investasi Emas

JAKARTA - Harga emas dunia mulai naik pada awal pekan ini akibat dolar Amerika Serikat (AS) yang mulai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .