MANAGED BY:
SELASA
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Selasa, 17 April 2018 06:45
Dibayangi Penurunan Harga Komoditas

Masih Positif, Laju Sektor Unggulan Diproyeksi Melambat

EFEK EKSTERNAL: Penurunan harga komoditas utama Kaltim, seperti batu bara, tak lepas dari pertumbuhan ekonomi di negara tujuan ekspor yang diproyeksi lebih lambat. (FUAD MUHAMMAD/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Fluktuasi harga komoditas masih membayangi pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini. Kondisi itu tak lepas dari gejolak di pasar global. Terutama negara-negara tujuan ekspor dari hasil alam utama Benua Etam, seperti batu bara serta minyak dan gas bumi (migas).

Melansir proyeksi Bank Indonesia (BI), indeks harga komoditas ekspor (IHEx) Kaltim akan mengalami kontraksi atau tumbuh minus di kisaran 11,3 persen tahun ini. “Itu sudah lebih baik dibandingkan proyeksi sebelumnya,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan BI Kaltim Muhamad Nur, dalam analisisnya, belum lama ini.

Dia menyebut, proyeksi itu mengacu pada Commodity Markets Outlook Worldbank periode April dan Oktober tahun lalu. Meski masih di level penurunan, Nur menyebut, prediksi pertumbuhan minus IHEx Kaltim itu sudah lebih baik dari proyeksi sebelumnya.

Nur menjelaskan, perbaikan proyeksi untuk harga komoditas Kaltim mengacu pada revisi outlook ekonomi dunia dari International Monetary Fund (IMF). Sebelum akhirnya memasang proyeksi pertumbuhan 3,9 persen, lembaga tersebut sempat mematok ekonomi global tahun ini bakal tumbuh 3,7 persen, dalam rilisnya Oktober lalu.

Perbaikan revisi pertumbuhan ekonomi juga disematkan untuk negara di kawasan Eropa, dari 1,9 persen menjadi 2,2 persen (yoy). Begitu pula dengan Jepang dan Tiongkok, yang merupakan negara mitra dagang utama Kaltim.

“Koreksi angka pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama menjadi upside risk bagi perekonomian Kaltim tahun ini. Itu juga dikonfirmasi oleh Consensus Forecast dalam proyeksinya pada periode Januari lalu,” katanya.

Consensus Forecast memang mengoreksi proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi India, yang berujung pada penurunan indeks harga komoditas ekspor Kaltim ke negara tersebut. Walaupun, di sisi lain, IMF tidak mengubah angka proyeksinya untuk negara tersebut.

Beragam gejolak dan proyeksi di tingkat global itu, disebut Nur bakal memengaruhi posisi tawar komoditas Kaltim, yang memang didominasi produk ekspor. Deselerasi kinerja lapangan usaha utama, yakni pertambangan dan industri pengolahan, pun sulit dihindari.

“Tahun lalu, ekonomi Kaltim tumbuh 3,13 persen. Tahun ini, dengan proyeksi penurunan IHEx, kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kaltim antara 2,6 sampai 3,0 persen,” terangnya.

Dari sisi internal, dia menyebut, komoditas ekspor seperti batu bara juga sulit berharap pada pasar domestik. Salah satunya, tak lain karena harga jual yang dipatok pemerintah USD 70 per ton, di bawah harga pasaran yang berkisar antara USD 80-100 per ton. Sehingga tak heran, permintaan emas hitam untuk kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) di Kaltim masih relatif rendah.

“Di sisi lain, untuk pertambangan migas, terjadi natural declining (penurunan produksi alami). Itu turut memengaruhi perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan di Kaltim,” tuturnya.

Bergeser ke industri pengolahan, risiko yang nyaris sama juga berlaku. Seperti potensi penurunan permintaan gas alam cair (LNG) dari Jepang, setelah beroperasinya beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir di Negeri Sakura itu.

“Itu dari sisi penawaran. Dari sisi penggunaan, pertumbuhan ekonomi Kaltim juga dipengaruhi penurunan ekspor, yang memang berkaitan dengan turunnya output dari lapangan usaha pertambangan,” terangnya. (*/ctr/man2/k18)


BACA JUGA

Jumat, 15 Februari 2019 11:20

Akhirnya, Garuda Turunkan Harga Tiket

JAKARTA – Keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat mendapat respons…

Rabu, 13 Februari 2019 13:34

Asing Ambil Profit, Rupiah Kembali Melemah

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum reda. Merujuk data Jakarta…

Selasa, 12 Februari 2019 13:34

WOW..!! Tarif Bagasi Lion Air Rp 25 Ribu per Kilogram

Lion Group memutuskan melakukan penyesuaian tarif bagasi atau excess baggage…

Selasa, 12 Februari 2019 10:37

BELUM MEMBAIK..!! Setahun, Rumah Mewah Hanya Terjual Lima Unit

SAMARINDA - Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Kaltim mencatat penjualan…

Senin, 11 Februari 2019 11:42

Obligasi Ritel Bikin Likuiditas Seret

JAKARTA – Gencarnya penerbitan surat berharga negara (SBN) bakal sedikit…

Senin, 11 Februari 2019 11:40

Pacu Ekspor Baja ke Malaysia-Australia

JAKARTA – Tahun ini pelaku usaha baja melihat potensi peningkatan…

Minggu, 10 Februari 2019 09:37

Soal Bagasi Berbayar, Maskapai Penerbangan Diminta Lakukan Ini...

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti minta agar…

Minggu, 10 Februari 2019 09:18

Mulai Hari Ini, Harga Pertamax Turun

PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga BBM atau bahan…

Sabtu, 09 Februari 2019 09:00

Peringati Hari Pers Nasional, Astra Motor Samarinda Hadirkan Mobil Service Kunjung

SAMARINDA - Menyambut Hari Pers Nasional 2019, Main Dealer Astra…

Kamis, 07 Februari 2019 11:09

LUPUT..!! Janji Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, yang Bisa Diraih Hanya 5,17 Persen

JAKARTA- Akhirnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*