MANAGED BY:
RABU
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 16 April 2018 09:06
Merugi karena Minyak
SEDIH !!! Nelayan Nganggur, Kepiting Menghitam

PROKAL.CO, Dari atas landasan helikopter Benua Patra Pertamina, Balikpapan, pemandangan apik tersaji. Pantai kembali berpasir putih. Itu yang tampak di permukaan.

SEMBURAT jingga mentari baru beranjak dari timur. Pagi yang masih sangat muda. Inilah waktu yang tepat bagi Rustam untuk memulai hari sebagai nelayan keramba kepiting. Banyak kegiatan di daftar kerjanya. Mulai mencari bibit. Memperbaiki keramba agar kepiting tak kabur. Memberi pakan. Hingga memisahkan kepiting yang sudah siap ekspor. Namun, semua itu adalah cerita sebelum pipa Pertamina putus dan minyaknya mencemari Teluk Balikpapan.

Tiga pekan terakhir, Rustam lebih banyak bersantai di atas dermaga. Nongkrong bersama rekan-rekannya di Kelompok Usaha Bersama (Kube) Nelayan Sumber Bahagia-1. Berbagi cerita tentang masa depan di belakang rumah Ketua RT 3 Useng, di Kampung Salok, Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat. Sesekali membahas cemaran minyak kapan benar-benar hilang.

Kata dia kepada media ini pekan lalu, terakhir kegiatan Kube pada hari pertama pencemaran, 31 Maret. Saat itu lapisan tipis minyak masuk di keramba mereka. Rustam yang melihat kondisi ini kaget. Apalagi mendengar kabar tumpahan minyak disusul kebakaran di Teluk Balikpapan. Bersama-sama, mereka berusaha menyelamatkan 400 kilogram kepiting di keramba.

“Sayang, yang bisa dipanen hanya 90 kilogram. Itu pun sebenarnya belum layak jual. Tetapi daripada lebih banyak merugi. Terpaksa. Beruntung importir kami dari Tiongkok mau menerima,” ucap Rustam.

Hingga kini, aktivitas keramba masih lumpuh. Sebanyak 40 keramba sebagai media utama budi daya kepiting rusak tergenang bersama minyak. Kepiting pun hanya didiamkan. Lemas bercampur minyak. Bahkan banyak yang mati.

“Selama ini, kami berjuang sendiri. Bagaimana agar kehidupan nelayan kepiting bisa baik lagi. Kami tidak mungkin berharap kepada pemerintah,” tuturnya.  

Minyak digolongkan ekomorfik (ecomorphic pollutants, Williams 1979). Pencemar yang menghasilkan perubahan sifat-sifat fisik lingkungan. Kepiting, misalnya. Fisik hewan ini akan menjadi hitam. Tak hanya di luar, tapi juga di dalam cangkang. Karena itu, tak ada lagi importir yang mau menerima hasil budi daya mereka. Apalagi keluar imbauan dari pemerintah. Masyarakat jangan dulu mengonsumsi hewan laut termasuk kepiting yang tercemar minyak. Artinya, 300 kilogram kepiting yang saat ini masih di keramba tak bakal jadi rupiah. Kube jelas merugi.

“Harga kepiting kami Rp 115 ribu per kilogram jika dijual untuk pasar ekspor. Namun, mau dijual di sini (lokal) saja tak laku,” ungkapnya. Jika sudah sampai di pasar ekspor, kepiting yang terkenal kelezatannya itu bisa jadi sajian mahal di restoran-restoran di Shanghai, Tiongkok, dan Hong Kong. Kepiting hasil budi daya kelompok Rustam memiliki kualitas baik. Sedikitnya, dalam seminggu dua kali melakukan pengiriman. Setiap pengiriman minimal 150 kilogram hewan bersepit itu.

Karena budi daya keramba kepiting menjadi penghasilan utama nelayan, praktis mereka tak lagi   mencari nafkah. Untuk mengisi waktu kosong, nelayan memperbaiki perahu. “Kami kerjakan yang bisa saja dulu dan tidak membutuhkan dana,” katanya.

Kerugian tak datang dari kepiting yang sudah siap dijual. Bibit yang diletakkan di keramba berdaya tampung 1 ton, yang sedang melalui proses perawatan juga terkena dampak. Kini pihaknya hanya bisa menunggu keputusan pemerintah sampai perairan Teluk Balikpapan dinyatakan aman untuk budi daya. “Memang tidak ada lagi minyak di perairan, tapi minyak sudah lengket di mangrove. Padahal, mangrove menjadi habitat kepiting. Pencari bibit pun sudah tidak ada yang bisa beraktivitas,” imbuhnya.  Keinginan saat ini hanya satu. Ganti rugi keramba yang rusak. Perlu dana puluhan juta rupiah.

Kondisi serupa juga dialami nelayan lain. “Pergi melaut juga nelayan tak bisa menjual hasil tangkapannya,” kata Lurah Kariangau Balikpapan M Iskandar, pekan lalu. Kelompok nelayan tersebar di RT 1, RT 2, dan RT 3, Kelurahan Kariangau. Ada beragam nelayan. Nelayan jala, tangkap tenang, atau keramba apung. Kebanyakan nelayan pesisir hanya nelayan kecil. Mengandalkan hasil tangkapan laut untuk kehidupan sehari-hari.

“Ada yang memang mencari ikan untuk konsumsi sendiri atau kalau lebih dijual,” sebut Iskandar. Selain berdampak langsung pada nelayan, kerusakan lingkungan menjadi perhatian utama. Menurut dia, dampak paling besar dari kejadian ini adalah lingkungan. Khususnya ekosistem mangrove seluas 80 hektare. Tersebar di RT 2, RT 3, dan RT 8.

Mangrove ini tempat warga mencari nafkah mengambil biota laut. Nelayan mengharapkan itu,” tuturnya. Kerja bakti jadi solusi. Meski begitu selama dua minggu, dampak tumpahan minyak belum juga hilang. Minyak masih melekat. Baunya membuat warga rentan terganggu kesehatannya. Yang bisa dilakukan hanya menghitung kerugian. “Begitu kejadian, kami buka posko bekerja sama dengan Puskesmas Kariangau, bagian dari proteksi kesehatan. Apalagi bau minyak sangat terasa pada tiga hari pertama,” sebutnya.

PENTINGNYA MANGROVE

Pemerhati mangrove Balikpapan Agus Bei menjelaskan, mangrove yang merupakan tumbuhan dari marga Rhizophora ini sebagian besar tumbuh alami. Ada pula yang tumbuh dari proses penanaman kembali atau restorasi. Kekurangan dari mangrove alami terletak pada akar napas yang rentan dengan persoalan limbah, sedimentasi, dan abrasi. Jadi, mangrove jenis ini lebih rentan mati. Rentan terhadap kondisi, baik gelombang pasang yang cukup kuat hingga mengakibatkan abrasi serta membawa sedimentasi.

“Untuk mangrove usia lima tahun ke atas sudah aman, mampu mengatasi keadaan terburuk. Tetapi mangrove yang usia di bawah itu, tidak akan mampu karena akar belum kuat,” ucap pendiri Mangrove Center Balikpapan itu.

Sementara itu, untuk jenis restorasi, dia menyarankan mengikuti jenis mangrove yang sudah ada di sepanjang pesisir Kota Minyak. Sebagian besar berjenis Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata.“Kalau ingin menambah jenis mangrove lainnya, perlu persemaian dan waktu,” tuturnya.

Agus menyarankan, restorasi sebaiknya dilakukan dengan mangrove jenis Rhizophora mucronata. Alasannya, mangrove jenis inilebih toleran terhadap berbagai kondisi terburuk kecuali petir. “Kalau sudah terkena petir tinggal potong dan tanam lagi. Butuh perhatian besar karena ini harus membutuhkan bantuan manusia untuk menanam,” katanya.

Selain itu, restorasi mangrove dapat memperlihatkan keragaman yang lebih tinggi. Baik dalam perakaran, ukuran pohon, maupun daun. Jika ekosistem mangrove rusak akan menimbulkan pekerjaan berat. Apalagi mangrove merupakan pagar utama tempat berkembang biak biota laut seperti kepiting, udang, dan ikan.

“Di akar-akar mangrove terdapat lumut yang membentuk bahan organik dan jadi makanan biota laut. Tapi sekarang makanan itu terkontaminasi minyak yang menempel di akar mangrove,” tambahnya.

Selain itu, mangrove yang rusak dapat mengancam ekosistem terumbu karang. Tumbuhan bakau ini memiliki peran untuk memfilter sedimen sebelum masuk ke laut. “Kalau tidak ada filter, lumpur beserta sedimen lainnya bisa masuk ke laut dan menutupi terumbu karang,” sebutnya.

Agus mengatakan, kejadian tumpahan minyak sesungguhnya tidak berpengaruh besar terhadap mangrove. Kemungkinan mangrove dapat bertahan dan tak mati. Hanya, kerusakan pada mangrove mengancam ekosistem lainnya seperti biota laut.

“Observasi dampak ini mudah, tinggal lihat saja biota sekitar mangrove masih hidup atau tidak. Kalau lingkungan sudah tercemar, hewan di sekitar mangrove, contohnya ikan tempakul atau nyamuk agas, tidak akan bertahan hidup,” pungkasnya.  

HITUNG-HITUNG KERUGIAN

Secara teori, ganti rugi atau kompensasi tak hanya berupa fisik. Tapi juga nonfisik. Dihitung dan diberikan kepada pihak yang terkena dampak pencemaran. Nilai ekonomi yang hilang dari aktivitas penangkapan ikan di ekosistem terumbu karang, mangrove, dan laut. Dari aktivitas budi daya di darat, payau, dan laut.

Kemudian, nilai ekonomi yang hilang dari aktivitas wisata bahari. Dari kerusakan ekosistem pesisir baik mangrove, terumbu karang, maupun lamun (rumput di dasar laut). Lalu nilai ekonomi yang hilang dari aktivitas pengolahan perikanan, dan terganggunya estetika lingkungan pesisir.

Dari kerusakan alat produksi penangkapan yang dimiliki kapal, alat tangkap, dan alat bantu penangkapan. Dari kerusakan sarana produksi budi daya di keramba, tambak, dan lainnya. Terakhir, nilai ekonomi yang hilang dari kerusakan sarana dan prasarana wisata bahari.

“Berdasarkan UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pada Pasal 88 dijelaskan tanggung jawab mutlak diberikan kepada pemilik limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) atas segala kerugian yang terjadi tanpa perlu pembuktian unsur kesalahan,” ungkap Manager Advokasi, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Kaltim, Topan Wamustofa Hamzah, Selasa (10/4).

Belum ada angka pasti soal ganti rugi. Namun di Indonesia, pendekatan valuasi ekonomi pernah digunakan untuk menghitung kompensasi tumpahan minyak di dekat Pantai Cimiring. Di sekitar Single Point MooringPertamina Refinery Unit(RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, 2015 lalu. Minyak saat itu menutupi perairan bagian selatan Pulau Nusakambangan. Menghitung dampak lingkungan telah dilakukan valuasi ekonomi dengan pendekatan Nilai Ekonomi Total (Mauludiyah, 2016).

Metode yang digunakan secara umum adalah benefit transfer. Yaitu, menggunakan hasil penelitian sebelumnya untuk digunakan pada jenis ekosistem yang terdampak. Hasilnya diketahui bahwa kerugian yang diderita karena tumpahnya 2.500 ton minyak di kawasan Cilacap yang menutupi 21,3 kilometer persegi adalah Rp 1,9 triliun.

Angka itu juga dihitung berdasarkan dampak pencemaran bagi ekosistem hingga masa pemulihannya. Termasuk biaya-biaya satwa khususnya burung di kawasan terdampak. Nilai ekonomi ekosistem muara dan hutan alam yang digunakan pada penelitian sebesar USD 1.592 (Rp 21.566.824 dengan kurs Rp 13.547 per dolar) per kilometer persegi per tahun. Sedangkan nilai ekonomi burung air adalah sebesar EUR 62,5 (Rp 1.054.062 dengan kurs Rp 16.865 per EUR) per burung (Costanza, 2008 dalam Liu & Wirtz, 2009).

Di Teluk Balikpapan, pada hitungan terakhir, data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ada 7 juta liter atau 7.000 ton minyak yang mencemari. Dengan luas area pencemaran 20 ribu hektare atau 200 kilometer persegi (data 5 April 2018). Selain itu, ada lima warga kehilangan nyawa. Seekor pesut mati. Sisanya belum selesai dihitung.

Pada 12 April, hasil evaluasi sementara, tim KLHK RI memperkirakan luas pantai terkontaminasi limbah B3 minyak bumi sebesar 29.733,8 meter persegi. “Perkiraan volume tanah terkontaminasi limbah B3 minyak bumi adalah 12.145,4 m3,” kata Menteri KLHK Siti Nurbaya.

Cermin lain untuk melihat seberapa besar kemungkinan ganti rugi pencemaran minyak adalah dari kasus ladang minyak Montara. Tepatnya pada 29 Agustus 2009. Ledakan pada unit pengeboran di ladang minyak itu mengakibatkan pencemaran hingga wilayah perairan laut Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tumpahan minyak tersebut berlangsung selama 74–75 hari dan baru pada 3 November 2009 kebocoran berhasil diatasi.

Tercatat ada 107 juta liter minyak yang mencemari laut Timor. Dari hasil perhitungan Pemerintah Indonesia, ganti rugi mencapai Rp 27,4 triliun. Terdiri dari tuntutan ganti rugi kerusakan lingkungan sekitar Rp 23 triliun. Sementara biaya perbaikan atau restorasi Rp 4,4 triliun. Total kawasan laut Indonesia yang rusak mencapai sekitar 1.200 hektare. Sementara itu, untuk padang lamun yang rusak mencapai 700 hektare.

“Memang kalau dihitung bisa triliunan. Namun tak mungkin saya menyimpulkan itu saat ini. Kami masih mengumpulkan data,” kata Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Kalimantan, KLHK, Tri Bangun L Sony, saat dimintai pendapatnya soal ganti rugi di Teluk Balikpapan.

Kepala Laboratorium Poleksos, Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, Bernaulus Saragih, menyebut Teluk Balikpapan punya sejarah soal pencemaran minyak. Namun yang terbuka ke publik sangat sedikit. Tumpahan minyak (sludge oil) dari kapal MT Panos G pada 25 Juni 2004 membuat kerusakan ekosistem mangrove seluas 18 hektare. Rusaknya 4 hektare wilayah rehabilitasi mangrove. Rusaknya ekosistem lamun seluas 1 hektare dan tercemarinya pasir pantai Balikpapan sepanjang 5 kilometer.

“Saat itu, pemkot menuntut ganti rugi Rp 10 miliar. Kemudian terjadi kebocoran pipa kilang pada Mei 2017,” ucap Bernaulus di hadapan rombongan dari 11 daerah pengolah migas di Hotel Grand Tjokro, Balikpapan, Kamis (12/4) siang.

Pertamina melalui Direktur Utama Elia Massa Manik selepas kunjungannya di Mapolda Kaltim, Kamis (12/4), menyatakan siap bertanggung jawab penuh terhadap ganti rugi ekosistem. Namun perlu perhitungan ahli. Sementara masih ada kemungkinan kompensasi bukan dari Pertamina.

“Masih ada proses hukum. Masih ada kemungkinan Pertamina juga sebagai korban,” ucap Elia.

BANTUAN RP 2,2 M

Proses investigasi penyebab putusnya pipa Pertamina masih berlangsung. Sembari menunggu hasil penyelidikan, BUMN minyak dan gas bumi (migas) itu mengklaim sudah melakukan penanggulangan dan pemulihan lingkungan. Tak hanya menanggulangi minyak di perairan, Pertamina langsung memetakan wilayah terdampak. Baik dari sisi lingkungan maupun masyarakat.

Proses tersebut sudah berlangsung sejak 10 April. “Pembersihan dan bantuan masyarakat dilakukan dan termonitor setiap hari. Saat ini beberapa wilayah masih proses pembersihan,” ujar Region Manager Communication & CSR Kalimantan Yudy Nugraha dalam siaran persnya yang diterima media ini tadi malam.

Salah satu contohnya pembersihan di zona 5. Terdiri dari beberapa wilayah tambahan di Kecamatan Penajam dan Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang sebelumnya belum masuk daftar verifikasi. Sebelumnya, PPU berada di zona verifikasi 4. Keputusan penambahan zona 5 telah sesuai kesepakatan antara Pemkab PPU dan Pertamina.

Keputusan ini berdasarkan hasil diskusi pembahasan grand strategy penanganan ceceran minyak Teluk Balikpapan. Manager HSE Refinery Pertamina J Prihartanto menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan grand strategy dengan tiga tahapan. Di antaranya, verifikasi kondisi awal, strategi pembersihan, dan verifikasi setelah pembersihan.

Dalam bertugas, tim akan menggunakan score card. Kartu tersebut dapat ditandatangani jika sudah berdasarkan kesepakatan semua anggota tim. “Beberapa aspek yang ditinjau adalah pengamatan secara visual, persentase kebersihan, dan kolom tindak lanjut,” beber Prihartanto.

Sejauh ini, Pertamina telah melakukan rangkaian program bersih-bersih pantai. Tepatnya melalui kerja bakti dan skema padat karya agar lingkungan bisa kembali terjaga. Yudy menyebut, pemulihan lingkungan warga terdampak saat ini menjadi prioritas utama.

Caranya dengan pembersihan serta pemberian bantuan dan manfaat agar warga terdampak bisa beraktivitas normal. Meski penyelidikan masih terus berlangsung, Pertamina menyampaikan telah berupaya menunjukkan kepedulian terhadap korban ceceran minyak Teluk Balikpapan.

Tercatat hingga Sabtu (14/4), Pertamina sudah menyalurkan bantuan dana Rp 2,2 miliar. Terdiri dari bantuan corporate social responsibility (CSR), kompensasi, maupun santunan. Bantuan diberikan sebagai bentuk pemberian manfaat kompensasi terhadap nelayan yang terdampak.

Peristiwa yang terjadi pada 31 Maret tersebut membuat nelayan tak dapat melaut selama beberapa hari. Ada pun bantuan meliputi kapal nelayan yang terbakar, keramba rusak, dan bibit kepiting yang hilang nilai ekonomisnya. “Sementara bantuan berupa peralatan masih terus dilakukan secara bertahap,” ucapnya.

Dia menambahkan, seluruh bantuan yang tersalurkan sudah melalui hasil koordinasi antara pihak Pertamina, kelurahan, dan warga terdampak. Jadi, bantuan tersebut sesuai dengan harapan dan kebutuhan.

Khusus untuk korban yang meninggal, Pertamina memberikan santunan dan bantuan dalam bentuk kesempatan kerja bagi keluarga korban. Sedangkan untuk paket bantuan CSR, Pertamina memberikan asuransi pendidikan dan kesehatan. Terakhir, bantuan dukungan ekonomi dalam bentuk modal kerja. (tim kp)

TIM PELIPUT:

DINA ANGELINA

MUHAMMAD RIDHUAN

PENYUNTING: Faroq Zamzami, Romdani

Editor Bahasa: Almasrifah, Febryan Tri Saputra Ramadhani


BACA JUGA

Selasa, 21 Agustus 2018 13:00

Soal Ini, Isran-Hadi Mulai Melunak

SAMARINDA - Isran Noor dan Hadi Mulyadi memastikan visi dan misinya diakomodasi dalam Rencana Pembangunan…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:26

Fokus Tatap The Falcons

‎JAKARTA – Status tuan rumah benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Timnas Indonesia U-23.…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:09

Perusahaan Bermasalah Belum Dipanggil

SAMARINDA – Kualitas konstruksi Jembatan Mahakam sudah mengkhawatirkan. Pemprov Kaltim berjanji…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:06

Vaksin MR Haram tapi Diperbolehkan

JAKARTA - Setelah menggelar rapat selama dua jam, kemarin (20/8) pukul 22.00 WIB, Majelis Ulama Indonesia…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:04

Tetap Kibarkan Merah Putih meski Tak Diakui Pemerintah

Perayaan kemerdekaan Indonesia juga digelar warga Sendi. Mereka tetap menggelar malam tasyakuran. Hingga…

Senin, 20 Agustus 2018 09:13

Fokus dan Bonus

JAKARTA - Skuat Timnas Indonesia U-23 dijanjikan mendapat bonus jika mampu mengalahkan Hong Kong di…

Senin, 20 Agustus 2018 09:06

Empat Titik Keretakan di Mahakam

BALIKPAPAN - Meski dinyatakan aman, konstruksi Jembatan Mahakam, Samarinda masih sangat rawan. Sebab,…

Senin, 20 Agustus 2018 09:05

Getaran Gempa Susulan Terasa hingga Makassar

JAKARTA - Gempa susulan masih dirasakan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Minggu (19/8), dua gempa…

Senin, 20 Agustus 2018 08:55

Cegah Korban Jiwa, Batu Diledakkan

KECELAKAAN kapal di Sungai Bahau, Long Aran, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau kerap terjadi. Untuk…

Senin, 20 Agustus 2018 08:50

Cita-Cita Menjadi Guru Berubah Gelap

Pada usia yang sangat muda, WA menanggung beban segunung. Dia diperkosa dan dihukum penjara. Keluarganya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .