MANAGED BY:
SABTU
17 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 16 April 2018 08:48
Pulihkan Ekosistem Laut
TERKENA IMBAS: Petani keramba di Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat memperlihatkan kepiting yang mati, akhir pekan lalu. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, SEHARI setelah kejadian pencemaran minyak Pertamina, Sabtu (31/3) lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan bergerak. Bersama tim penanganan tumpahan minyak yang terdiri dari beberapa instansi segera melakukan pengumpulan data. Caranya dengan pemeriksaan lapangan langsung (ground check). Termasuk menghitung jumlah kerusakan lingkungan yang muncul di sekitar Teluk Balikpapan.

Perhitungan dilakukan dari pesisir dan sepanjang garis pantai wilayah Balikpapan hingga Penajam Paser Utara (PPU). Data sementara yang dikumpulkan pada 3 April lalu, tumpahan minyak diperkirakan mengganggu tanaman mangrove seluas 34 hektare. Tersebar di Kelurahan Kariangau RT 01 dan RT 02. Ada 6.000 tanaman mangrove di Kampung Atas Air, Kelurahan Margasari, Balikpapan. Termasuk 2.000 bibit mangrove milik warga. Selain itu, ada penemuan biota laut jenis kepiting yang mati di Pantai Banua Patra.

Kepala DLH Balikpapan Suryanto menjelaskan, sejauh ini pihaknya sudah menjalankan perannya sebagai bagian dari sistem terpadu. Misalnya, di tingkat pusat, terdapat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kemudian di regional Kalimantan dengan Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Kalimantan (P3EK), serta di tingkat provinsi dengan DLH Kaltim.

“Kami secara terpadu mendukung dalam hal data dan informasi yang diperlukan untuk pemulihan. Bahkan, data ini juga digunakan untuk investigasi dan penyelidikan oleh aparat hukum,” katanya.

Adapun tim penanganan tumpahan minyak terdiri dari beberapa perwakilan pihak. Di antaranya, Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Ditjen Penegakan Hukum, P3EK, Balai KSDA Kaltim Unit Balikpapan, dan DLH Balikpapan. Kemudian, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak, serta Satker Balikpapan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Dia menjelaskan, hingga kini, proses pendataan masih terus berlangsung. Selain laporan ground check, data akan melalui kompilasi dengan data pendukung lainnya. “Data yang ada masih bersifat sementara karena akan ditambah dengan data lain,” imbuhnya.

Sementara dalam mengatasi dampak tumpahan minyak, program jangka pendek hanya dengan pembersihan tumpahan minyak terlebih dahulu. “Saya lihat sekarang sudah lumayan, tinggal masih banyak di bawah kolong-kolong perumahan pesisir,” sebutnya.

Sedangkan program jangka panjang tentu mengembalikan ekosistem yang rusak. Namun, ini perlu waktu yang lama dan perencanaan khusus. Pihaknya masih menunggu kabar dan perintah dari pemerintah pusat yakni KLHK.

Adapun berdasarkan rilis dari KLHK, proses pre-delineasi dampak dari tumpahan minyak telah berlangsung, Selasa (10/4). Lokasi survei lapangan mencakup wilayah pantai. Tepatnya sepanjang pantai Teluk Balikpapan, dari Pantai Lamaru sampai Pantai Banua Patra seluas 12,6 kilometer persegi.

Rencananya, KLHK akan melakukan kajian detail di lokasi-lokasi terkait untuk penyusunan rencana pemulihan. Sedangkan untuk lokasi bagian barat Teluk Balikpapan, mulai Pantai Melawai sampai Pulau Balang atau Kawasan Industri Kariangau (KIK).

Meski kejadian ini mengganggu ekosistem di perairan Teluk Balikpapan, pemerintah menyatakan tak memengaruhi produksi hasil laut. Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DPPP) Balikpapan mengklaim, dampak terhadap jumlah hasil laut tidak begitu besar. Walau terhitung ada, namun tidak signifikan.

Sebab, kejadian tumpahan minyak hanya berpengaruh pada nelayan pesisir. Biasanya, wilayah tangkapan nelayan ini berada di tepi pantai dan muara sungai. Termasuk area mangrove yang tercemar minyak. Mereka yang selama ini mata pencahariannya bergantung pada habitat di sekitar mangrove harus bersabar diri.

“Sampai sekarang, ada nelayan pesisir di Kariangau (Balikpapan) yang belum bisa melaut. Sebab, pembersihan belum sampai ke sana, tumpahan minyak masih menyangkut di akar mangrove,” sebut Kepala DPPP Balikpapan Yosmianto.

Dia menambahkan, DPPP masih dalam proses pengumpulan data untuk merekapitulasi kerugian nelayan. Berdasarkan data sementara, nelayan yang terkena dampak berjumlah 161 orang. Angka ini akan terus bertambah karena proses pendataan masih berlangsung dan dalam tahap validasi. Sementara, ada 18 keramba jaring apung, 16 bubu, dan 15 rengge nelayan yang terkena minyak.

Soal ketersediaan ikan di pasar, pihaknya memastikan tak berdampak besar. Meski begitu, dampak akan terasa di Pasar Pandan Sari. Sebab, banyak hasil tangkapan nelayan yang melaut di Teluk Balikpapan dijual ke pasar itu. “Tapi tenang, masih banyak ikan yang dipasok dari luar Balikpapan,” ucapnya.

Sejak awal pencemaran, pihaknya khawatir jika minyak akan mencapai di kawasan timur Balikpapan. Di sana, banyak terdapat tambak dan budi daya rumput laut di Manggar. “Kami berharap, dampaknya tak sampai ke sana,” sambungnya. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .