MANAGED BY:
RABU
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 16 April 2018 08:43
Perlu Komitmen Pemerintah
-

PROKAL.CO, PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan tak lagi urusan lokal. Kasus ini berkembang sebagai isu lingkungan. Menarik perhatian nasional hingga dunia. Beragam lembaga swadaya manusia (LSM) dan organisasi yang fokus di bidang lingkungan ikut menyuarakan pendapat. Terutama soal besarnya dampak pencemaran pada ekosistem.

Ada kemungkinan, tak semua minyak yang mencemari bisa dibersihkan. Bahkan, kenyataannya sangat jarang minyak yang memapar ekosistem bisa terkumpul lagi hingga 20 persen.

Contoh tragedi tumpahan minyak kapal tanker Exxon Valdez di perairan Prince William, Bligh Reef, Alaska pada 24 Maret 1989. Minyak mentah yang tumpah setelah kapal menabrak terumbu karang itu sebanyak 11 juta US galon atau setara 40.700.000 liter. Dalam kejadian itu, pengumpulan minyak hanya mencapai 8 persen.

Selain itu, kebocoran minyak akibat meledaknya kilang minyak dan gas (migas) Deepwater Horizon, milik British Petroleum (BP), perusahaan minyak asal Inggris. Dikutip dari United States Environmental Protection Agency, saat meledak, kilang yang berada di Teluk Meksiko, Amerika Serikat itu mengeluarkan minyak mentah rata-rata per hari sekitar 60.000 barel per hari.

Sementara kebocoran minyak baru bisa dihentikan selama 86 hari. Diperkirakan, total minyak mentah yang terbuang sebanyak 5.160.000 barel atau setara 819.924.000 liter. Adapun minyak yang terbuang hanya 3 persen yang berhasil dikumpulkan. Kasus tumpahan minyak ini tercatat yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Asia Tenggara Ahmad Ashov Birry menjelaskan, ada beragam metode clean up atau pembersihan tumpahan minyak. Di antaranya, burning, mekanis, skimming, hingga dispersant. Dari beberapa jenis clean up, mekanis menjadi metode yang paling maksimal.

“Sementara burning dan dispersant hanya menyebar, mengencerkan, dan melarutkan minyak,” ucapnya. Dengan begitu, dampak tumpahan minyak berlaku untuk jangka waktu yang lama. Sebab, polutan dalam minyak atau chemical dalam dispersant larut bersama air.

Kondisi ini berbahaya, minyak akan lebih mudah masuk dalam jaringan makhluk hidup, yakni biota laut. Minyak mengandung berbagai bahan berbahaya, contohnya logam berat seperti timbal dan polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH). Semua itu dapat terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup.

“Setelah tersebar dan terakumulasi, bahaya toxic bisa terjadi suatu saat. Bukan tidak mungkin paparan bisa membahayakan manusia lewat jaring makanan,” katanya. Salah satu ancamannya, yakni PAH yang bersifat memicu kanker. Kemudian, bila minyak mengendap di dasar laut, mengganggu ekosistem di sana.

Contoh sederhana dampak bisa terlihat dari polutan minyak yang melengket di akar, batang, sampai daun mangrove. Awalnya, polutan ini akan mengganggu proses respirasi dan fotosintesis. Jadi, tumbuhan sulit bernapas dan membuat makan. Jika keadaan terus dibiarkan, tumbuhan bisa mati.

Apabila ekosistem mangrove mati, akan timbul masalah yang lebih kompleks. Sebab, mangrove merupakan tempat biota laut kecil. Mereka berlindung dan mencari makan sebelum bermigrasi ke laut lepas. Akhirnya, keadaan tersebut mengganggu regenerasi makhluk hidup dan rantai makanan.

Belum lagi mengganggu fungsi lingkungan mangrove sebagai penangkal abrasi. Serta dampak ekonomi lokal yang selama ini bertahan hidup dari keberadaan mangrove. Contohnya nelayan keramba kepiting, cacing, dan rumput laut yang mengalami kerugian besar.

Menurutnya, pengaruh dari kejadian ini cukup besar, bahkan boleh dibilang dampaknya sangat mungkin irreversible atau tidak dapat diubah. “Penyebaran bahan berbahaya ini tidak tahu sampai mana. Berdasarkan kasus-kasus yang pernah ada, tidak mungkin bisa mengumpulkan tumpahan minyak hingga 20 persen,” imbuhnya.

Maka sangat diperlukan perencanaan pemulihan yang komprehensif dari Pertamina maupun pemerintah sehingga program pemulihan ini bisa terkontrol. Kemudian, Pertamina memberikan dana ganti rugi, baik kerugian jangka pendek dan jangka panjang.

Sesuai UU Nomor 32 Tahun 2009, pencemar harus bertanggung jawab mulai pemulihan, ganti rugi, dan tanggung jawab hukum. Selain melakukan pembersihan, bila ada tumbuhan yang rusak, segera dilakukan restorasi atau pemulihan dengan tanam kembali. “Misalnya, lumpur mangrove sudah tercemar, bisa dengan metode remediasi. Sekali kejadian memang butuh dana pemulihan yang sangat besar,” sebutnya.

Namun, dia mengingatkan, hal yang paling penting setelah pemulihan adalah monitoring berkelanjutan. Peran ini mengandalkan dukungan masyarakat, LSM, sampai media. Sebab, pemulihan perlu waktu tahunan dan komitmen dari Pertamina hingga pemerintah. Ashov berpendapat, momen tumpahan minyak ini juga menjadi pelajaran bagi pemerintah.

“Momen ini pelajaran penting, risiko minyak bumi kepada lingkungan, ekonomi, dan sosial sangat besar. Layak jadi pertimbangan pemerintah beralih ke energi terbarukan secepatnya,” pesan dia. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 16 Agustus 2018 08:54

Mewaspadai Sisi Gelap Uang Digital

Oleh: Suharyono Soemarwoto, MM MENGGEMPARKAN! Itulah kata tepat menggambarkan kemajuan mata uang berbasis                                            …

Jumat, 10 Agustus 2018 08:57

Rita Pergi, Siapa Ganti Edi?

Tensi politik Kota Raja memanas. Edi Damansyah makin mulus mengisi kursi bupati yang ditinggalkan Rita…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:54

Kasak-kusuk Golkar, Gerindra, dan PKS

TAK adanya larangan yang terang bagi kader partai politik untuk mengisi kekosongan jabatan wakil bupati…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:33

Kesultanan Berharap Putra Daerah Jabat Bupati

KUTAI Kartanegara (Kukar) mencari pemimpin baru. Setelah putusan hukum Rita Widyasari inkrah, Edi Damansyah…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:32

Parlemen Meminta Pendamping

JALUR perseorangan ternyata tak bebas dari aturan. Jika menang pilkada kemudian salah satunya (kepala…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:27

Kutim Dua Kali Tak Pilih Wakil

KEKOSONGAN jabatan kepala daerah yang terjadi di Kutai Kartanegara (Kukar), sebenarnya sudah terjadi…

Jumat, 10 Agustus 2018 08:24

“Saya Belum Memikirkan”

DALAM hitungan hari setelah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari ditahan KPK dengan…

Rabu, 08 Agustus 2018 12:00

Target Sejuta Anak Divaksin

DINAS Kesehatan (Diskes) Kaltim mengaku tidak ingin berbicara soal halal atau tidaknya vaksin measles…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:14

Label Halal Bikin Galau

Vaksin measles dan rubella (MR) mental. Belum mampu menembus urat nadi jutaan siswa sekolah dasar. Musababnya…

Rabu, 08 Agustus 2018 09:10

Boleh Imunisasi MR, asal…

SELEPAS salat Jumat (3/8), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Kementerian Kesehatan akhirnya bertatap…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .