MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 16 April 2018 08:20
Membela Minoritas

PROKAL.CO, OLEH: ARIFUL AMIN

BILA kita mencermati perkembangan sosial masyarakat baik di media sosial maupun di dalam hubungan kemasyarakatan, ada kecenderungan saling membela dalam satu kelompok dengan kelompok yang lain. Ada persepsi yang berkembang kelompok minoritas dan ada kelompok mayoritas. Baik menyangkut golongan maupun agama, kelompok kelompok tersebut saling mempromosikan diri dan disikapi pembulian oleh kelompok yang berseberangan. Ada keterpihakan terhadap kelompok tertentu dan mengambil jarak pada kelompok yang lain.

Apakah minoritas wajib dibela? Tentu kita sepakat minoritas wajib di bela bila pada posisi benar. Sebaliknya mayoritas juga boleh dikecam apabila memang dalam posisi salah. Namun yang berkembang saat ini pembelaan tidak lagi atas suatu nilai kebenaran, akan tetapi lebih pada keterpihakan kelompok. Minoritas walau sebenarnya pada posisi salah bila dalam kelompoknya maka akan dibela mati-matian. Contoh dalam hal ujaran kebencian dan penistaan terhadap agama, seakan-akan mempunyai nilai sendiri untuk membela kelompok yang  melakukan hate speech dan penistaan agama.

Kebencian dan menista adalah sesuatu perilaku yang mempunyai ukuran universal. Saat seseorang membenci sesuatu rasa benci dapat dirasakan pula oleh orang lain walau tidak ada keterkaitan. Sebab rasa benci akan terlihat pada tindak tanduk, perbuatan dan ucapan. Begitu pula menista akan dirasakan oleh orang lain atau kelompok yang dinista dikarenakan menista adalah perilaku dari akumulasi kebencian.

Karena rasa itu bersifat universal maka membela seharusnya mempunyai nilai yang sama.

Membela disebabkan kesamaan kelompok sejatinya mendegradasi diri sendiri. Apalagi yang dibela pada posisi yang salah. Sering kali membela perbuatan salah dikarenakan yang dibela minoritas, mengakibatkan pembelaan yang tidak logis, cenderung membela dengan menyerang lawan secara personal. Ada pula pembelaan disebabkan pada posisi pendukung pemerintahan.

Pemerintah ditempatkan pada posisi yang tidak mungkin salah, walau pemerintah juga diisi oleh manusia yang berarti juga bisa salah dalam membuat keputusan.

Bagaimana agar membela sesuatu dikarenakan nilai kebenaran? Seseorang harus berani melepaskan keterpihakan dan mencari informasi sebanyak mungkin. Keterpihakan akan membuat seseorang cenderung mencari informasi sepihak pada kelompoknya saja. Selain keterpihakan adalah kepentingan yang sama juga menjadikan kebenaran hanya mutlak milik kelompoknya saja. Yang terakhir adalah mencari informasi dari sumbernya ataupun tabayun.

Keterpihakan adalah sesuatu yang sangat penting namun keterpihakan bukan atas dasar minoritas atau mayoritas. Keterpihakan untuk membela benar-benar sebelumnya telah yakin bahwa yang dibela pada posisi benar dan layak untuk dibela. Pembelaan dikarenakan faktor minoritas membuat pihak minoritas tidak menemukan kesadaran bahwa apa yang diperbuat telah menabrak nilai-nilai kebenaran.

Hubungan antara mayoritas dan minoritas akan terjaga apabila sesuatu didudukkan pada porsi yang tepat.

Pembelaan terhadap minoritas pada porsi yang tidak tepat justru menyuburkan bibit-bibit permusuhan yang lebih besar. Ibarat memberi minum air mineral yang berlebih bukan lagi mendinginkan yang minum tapi juga bisa berefek kematian. Pembelaan terhadap minoritas sebagai bentuk perlindungan, namun bila melakukan kesalahan seperti ujaran kebencian dan penistaan agama lain, sepatutnya tidak dibela tapi diserahkan ke pihak penegak hukum.

Penegak hukum juga sepatutnya melakukan sesuai dengan rasa keadilan, selain sebagai efek jera juga untuk menjaga trust. Trust bila tidak jaga akan menimbulkan mencari pelampiasan sendiri dengan melakukan ujaran kebencian sebagai balasan. Semoga semua menyadari kebenaran bukan ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kelompok. Bukan disebabkan mayoritas atau minoritas, tapi kebenaran jauh bersemayam di hati nurani dengan kepekaan rasa. (*/one/k18)


BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2019 10:54

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Ismail MPdI, Guru Fiqih MAN IC  SALAH satu indikator ketakwaan…

Jumat, 17 Mei 2019 10:53

Melihat Pahala

PEMANDANGAN biasa yang terjadi setelah sepuluh hari Ramadan ke atas…

Kamis, 16 Mei 2019 15:49

Dahsyatnya Pengaruh Perkataan

Oleh: Afriani Nur Fitri Masyarakat Kutai Timur   HAI sobat…

Kamis, 16 Mei 2019 15:48

Pelecehan Seksual di Kampus: Jalan Damai Apakah Cukup?

Oleh: Andi Wahyu Irawan  Dosen Bimbingan Konseling Universitas Mulawarman SEJUMLAH…

Rabu, 08 Mei 2019 20:08

Mengenal (sedikit) Tentang Plagiarism

Menulis itu gampang gampang susah atau susah susah gampang. Sebagai…

Sabtu, 27 April 2019 10:05

Tepis HOAX Dan Kecurangan, Publikasikan Form C1!

Oleh Herdiansyah Hamzah Pengamat Politik Beberapa hari terakhir ini publik…

Senin, 22 April 2019 10:36

Perlambatan Ekonomi Indonesia dan Peningkatan Kompetensi ASN

 Oleh : Dewi Sartika, SE, MM Peneliti Pusat Pelatihan dan…

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*