MANAGED BY:
KAMIS
18 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 16 April 2018 08:20
Membela Minoritas

PROKAL.CO, OLEH: ARIFUL AMIN

BILA kita mencermati perkembangan sosial masyarakat baik di media sosial maupun di dalam hubungan kemasyarakatan, ada kecenderungan saling membela dalam satu kelompok dengan kelompok yang lain. Ada persepsi yang berkembang kelompok minoritas dan ada kelompok mayoritas. Baik menyangkut golongan maupun agama, kelompok kelompok tersebut saling mempromosikan diri dan disikapi pembulian oleh kelompok yang berseberangan. Ada keterpihakan terhadap kelompok tertentu dan mengambil jarak pada kelompok yang lain.

Apakah minoritas wajib dibela? Tentu kita sepakat minoritas wajib di bela bila pada posisi benar. Sebaliknya mayoritas juga boleh dikecam apabila memang dalam posisi salah. Namun yang berkembang saat ini pembelaan tidak lagi atas suatu nilai kebenaran, akan tetapi lebih pada keterpihakan kelompok. Minoritas walau sebenarnya pada posisi salah bila dalam kelompoknya maka akan dibela mati-matian. Contoh dalam hal ujaran kebencian dan penistaan terhadap agama, seakan-akan mempunyai nilai sendiri untuk membela kelompok yang  melakukan hate speech dan penistaan agama.

Kebencian dan menista adalah sesuatu perilaku yang mempunyai ukuran universal. Saat seseorang membenci sesuatu rasa benci dapat dirasakan pula oleh orang lain walau tidak ada keterkaitan. Sebab rasa benci akan terlihat pada tindak tanduk, perbuatan dan ucapan. Begitu pula menista akan dirasakan oleh orang lain atau kelompok yang dinista dikarenakan menista adalah perilaku dari akumulasi kebencian.

Karena rasa itu bersifat universal maka membela seharusnya mempunyai nilai yang sama.

Membela disebabkan kesamaan kelompok sejatinya mendegradasi diri sendiri. Apalagi yang dibela pada posisi yang salah. Sering kali membela perbuatan salah dikarenakan yang dibela minoritas, mengakibatkan pembelaan yang tidak logis, cenderung membela dengan menyerang lawan secara personal. Ada pula pembelaan disebabkan pada posisi pendukung pemerintahan.

Pemerintah ditempatkan pada posisi yang tidak mungkin salah, walau pemerintah juga diisi oleh manusia yang berarti juga bisa salah dalam membuat keputusan.

Bagaimana agar membela sesuatu dikarenakan nilai kebenaran? Seseorang harus berani melepaskan keterpihakan dan mencari informasi sebanyak mungkin. Keterpihakan akan membuat seseorang cenderung mencari informasi sepihak pada kelompoknya saja. Selain keterpihakan adalah kepentingan yang sama juga menjadikan kebenaran hanya mutlak milik kelompoknya saja. Yang terakhir adalah mencari informasi dari sumbernya ataupun tabayun.

Keterpihakan adalah sesuatu yang sangat penting namun keterpihakan bukan atas dasar minoritas atau mayoritas. Keterpihakan untuk membela benar-benar sebelumnya telah yakin bahwa yang dibela pada posisi benar dan layak untuk dibela. Pembelaan dikarenakan faktor minoritas membuat pihak minoritas tidak menemukan kesadaran bahwa apa yang diperbuat telah menabrak nilai-nilai kebenaran.

Hubungan antara mayoritas dan minoritas akan terjaga apabila sesuatu didudukkan pada porsi yang tepat.

Pembelaan terhadap minoritas pada porsi yang tidak tepat justru menyuburkan bibit-bibit permusuhan yang lebih besar. Ibarat memberi minum air mineral yang berlebih bukan lagi mendinginkan yang minum tapi juga bisa berefek kematian. Pembelaan terhadap minoritas sebagai bentuk perlindungan, namun bila melakukan kesalahan seperti ujaran kebencian dan penistaan agama lain, sepatutnya tidak dibela tapi diserahkan ke pihak penegak hukum.

Penegak hukum juga sepatutnya melakukan sesuai dengan rasa keadilan, selain sebagai efek jera juga untuk menjaga trust. Trust bila tidak jaga akan menimbulkan mencari pelampiasan sendiri dengan melakukan ujaran kebencian sebagai balasan. Semoga semua menyadari kebenaran bukan ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kelompok. Bukan disebabkan mayoritas atau minoritas, tapi kebenaran jauh bersemayam di hati nurani dengan kepekaan rasa. (*/one/k18)


BACA JUGA

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03

Pentingnya Bangun Ketahanan Mental sejak Dini

Oleh: dr Mariati Herlina Sitinjak Sp KJ(Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Samarinda…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:00

Menaruh Harapan pada Isran–Hadi untuk Kaltim Berdaulat

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…

Selasa, 09 Oktober 2018 07:00

Mari Jaga Martabat Peradilan

OLEH: USNUL KHOTIMAH(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Mulawarman) KESADARAN masyarakat untuk mewujudkan…

Selasa, 09 Oktober 2018 06:56

Gempa, Geological Hazard

OLEH: Dr SUNARTO SASTROWARDOJO(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .