MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 16 April 2018 08:20
Membela Minoritas

PROKAL.CO, OLEH: ARIFUL AMIN

BILA kita mencermati perkembangan sosial masyarakat baik di media sosial maupun di dalam hubungan kemasyarakatan, ada kecenderungan saling membela dalam satu kelompok dengan kelompok yang lain. Ada persepsi yang berkembang kelompok minoritas dan ada kelompok mayoritas. Baik menyangkut golongan maupun agama, kelompok kelompok tersebut saling mempromosikan diri dan disikapi pembulian oleh kelompok yang berseberangan. Ada keterpihakan terhadap kelompok tertentu dan mengambil jarak pada kelompok yang lain.

Apakah minoritas wajib dibela? Tentu kita sepakat minoritas wajib di bela bila pada posisi benar. Sebaliknya mayoritas juga boleh dikecam apabila memang dalam posisi salah. Namun yang berkembang saat ini pembelaan tidak lagi atas suatu nilai kebenaran, akan tetapi lebih pada keterpihakan kelompok. Minoritas walau sebenarnya pada posisi salah bila dalam kelompoknya maka akan dibela mati-matian. Contoh dalam hal ujaran kebencian dan penistaan terhadap agama, seakan-akan mempunyai nilai sendiri untuk membela kelompok yang  melakukan hate speech dan penistaan agama.

Kebencian dan menista adalah sesuatu perilaku yang mempunyai ukuran universal. Saat seseorang membenci sesuatu rasa benci dapat dirasakan pula oleh orang lain walau tidak ada keterkaitan. Sebab rasa benci akan terlihat pada tindak tanduk, perbuatan dan ucapan. Begitu pula menista akan dirasakan oleh orang lain atau kelompok yang dinista dikarenakan menista adalah perilaku dari akumulasi kebencian.

Karena rasa itu bersifat universal maka membela seharusnya mempunyai nilai yang sama.

Membela disebabkan kesamaan kelompok sejatinya mendegradasi diri sendiri. Apalagi yang dibela pada posisi yang salah. Sering kali membela perbuatan salah dikarenakan yang dibela minoritas, mengakibatkan pembelaan yang tidak logis, cenderung membela dengan menyerang lawan secara personal. Ada pula pembelaan disebabkan pada posisi pendukung pemerintahan.

Pemerintah ditempatkan pada posisi yang tidak mungkin salah, walau pemerintah juga diisi oleh manusia yang berarti juga bisa salah dalam membuat keputusan.

Bagaimana agar membela sesuatu dikarenakan nilai kebenaran? Seseorang harus berani melepaskan keterpihakan dan mencari informasi sebanyak mungkin. Keterpihakan akan membuat seseorang cenderung mencari informasi sepihak pada kelompoknya saja. Selain keterpihakan adalah kepentingan yang sama juga menjadikan kebenaran hanya mutlak milik kelompoknya saja. Yang terakhir adalah mencari informasi dari sumbernya ataupun tabayun.

Keterpihakan adalah sesuatu yang sangat penting namun keterpihakan bukan atas dasar minoritas atau mayoritas. Keterpihakan untuk membela benar-benar sebelumnya telah yakin bahwa yang dibela pada posisi benar dan layak untuk dibela. Pembelaan dikarenakan faktor minoritas membuat pihak minoritas tidak menemukan kesadaran bahwa apa yang diperbuat telah menabrak nilai-nilai kebenaran.

Hubungan antara mayoritas dan minoritas akan terjaga apabila sesuatu didudukkan pada porsi yang tepat.

Pembelaan terhadap minoritas pada porsi yang tidak tepat justru menyuburkan bibit-bibit permusuhan yang lebih besar. Ibarat memberi minum air mineral yang berlebih bukan lagi mendinginkan yang minum tapi juga bisa berefek kematian. Pembelaan terhadap minoritas sebagai bentuk perlindungan, namun bila melakukan kesalahan seperti ujaran kebencian dan penistaan agama lain, sepatutnya tidak dibela tapi diserahkan ke pihak penegak hukum.

Penegak hukum juga sepatutnya melakukan sesuai dengan rasa keadilan, selain sebagai efek jera juga untuk menjaga trust. Trust bila tidak jaga akan menimbulkan mencari pelampiasan sendiri dengan melakukan ujaran kebencian sebagai balasan. Semoga semua menyadari kebenaran bukan ditentukan oleh banyak atau sedikitnya kelompok. Bukan disebabkan mayoritas atau minoritas, tapi kebenaran jauh bersemayam di hati nurani dengan kepekaan rasa. (*/one/k18)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 08:17

Satu Tahun Menyongsong Pemilu Serentak

OLEH: NOOR THOHA SPD SH(Ketua KPU Kota Balikpapan) SATU tahun menyongsong pemilihan umum legislatif…

Kamis, 12 April 2018 08:20

Konde Versus Cadar, Polemik Puisi Sukmawati

Oleh: Rusdi Abdullah Minda, MSI, Dosen IAIN Samarinda KASUS kontroversi kembali terjadi. Beberapa hari…

Rabu, 11 April 2018 09:25

Isra Mikraj, Tragedi Teluk, dan Banjir

CATATAN: BAMBANG ISWANTO* ADA tiga peristiwa pada Rajab 1439 H, yakni peringatan Isra Mikraj, tragedi…

Rabu, 11 April 2018 08:35

Profesionalisme Kepala Sekolah

OLEH: NOOR AIDAWATI, M.PD.(Guru SMK 1 Samarinda) KEPALA sekolah adalah orang yang diberi wewenang dan…

Rabu, 11 April 2018 07:26

Konsekuensi Revolusi Industri (2-Habis)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) MENANGGAPI revolusi industri…

Selasa, 10 April 2018 08:16

Jika Sungai Mahakam Tanpa Ikan

Oleh: Etik Sulistiowati Ningsih SP MSi(Lecture and Enumerator Unmul Samarinda) MENYUSUR sepanjang Sungai…

Selasa, 10 April 2018 07:05

Konsekuensi Revolusi Industri (1)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) WALAU isunya sudah sedikit…

Minggu, 08 April 2018 07:55

Ketimpangan Akses Informasi Kesehatan

CATATAN: dr DANIAL* BEBERAPA waktu lalu, kesedihan menimpa seorang kerabat penulis. Betapa tidak, sang…

Jumat, 06 April 2018 08:40

Mewaspadai Politisasi Agama dalam Pilgub Kaltim

 OLEH: BAMBANG ISWANTO(Pemerhati Pemilu, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda) PROGRES…

Kamis, 05 April 2018 05:29

Retorika Nyinyir vs Retorika Data

OLEH: SYAMSUL RIJAL(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)SERANGAN memang tidak melulu tentang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .