MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 16 April 2018 07:17
CPOPC: Jangan Sesatkan Konsumen

Dianggap Sudutkan Sawit, Iceland Co Ditantang ke Indonesia

BERANI BUKTIKAN: Dewan negara produsen CPO menantang Iceland Co melihat langsung aktivitas produksi kelapa sawit di Indonesia. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, KAMPANYE hitam produk kelapa sawit kembali terjadi. Baru-baru ini, jaringan supermarket asal Inggris, Iceland Co, menyuarakan penghentian penggunaan minyak nabati dari tanaman tersebut untuk produknya. Dewan Negara Produsen CPO atau Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) menilai, langkah tersebut menyesatkan konsumen global.

Atas dasar itu, CPOPC yang beranggotakan 10 negara memprotes kebijakan Iceland Co, karena dianggap diskriminatif dan mendiskreditkan citra positif kelapa sawit di Eropa. Protes tersebut dilayangkan Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar kepada Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker. Dalam surat protesnya, CPOPC berharap bisa mengundang Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker, untuk berdiskusi dan melihat langsung tata kelola perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Diungkapkan Mahendra, CPOPC menilai kebijakan Iceland Co akan menyesatkan konsumen secara global. Perlu disadari, produktivitas minyak sawit adalah yang paling tinggi dibandingkan minyak nabati yang lain. Di samping terbukti sebagai sumber minyak nabati paling berkelanjutan, tanaman ini juga menjadi faktor kunci melindungi lahan global, meski permintaan minyak nabati terus tumbuh.

Dia menyebut, tanaman penghasil minyak nabati lain rape seed menghasilkan 0,3 ton minyak per hektare (ha), kedelai dan bunga matahari 0,6 ton per ha. Jauh dibanding minyak sawit yang sekarang berproduksi di kisaran 6 ton per ha.

“Karena itu, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit oleh Iceland Co justru akan menyebabkan perubahan penggunaan lahan baru yang lebih besar untuk menggantikan jumlah lahan pertanian kelapa sawit,” kata Mahendra dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (15/4). 

Menurut Mahendra, hal itu merupakan sikap diskriminatif yang justru menyebabkan degradasi tanah yang parah, perusakan flora dan fauna, pencemaran Air Tanah dan lautan, serta peningkatan emisi CO2 dari penggunaan lahan alternatif. Selain faktor-faktor itu, sambungnya, kampanye penghentian penggunaan minyak sawit oleh Iceland Co juga akan memicu konsumsi air yang lebih besar. Sebab, produksi minyak sawit terbukti menghemat lebih banyak air dibanding minyak nabati lain.  

Iceland Co merupakan salah satu jaringan supermarket terbesar di Eropa, dengan jumlah gerai mencapai 857 unit, dan mayoritas di Inggris Raya. Iceland Co juga memproduksi dan menjual makanan beku, termasuk makanan siap saji dan sayuran. Perusahaan ritel ini memiliki sekitar 2,2 persen pangsa pasar makanan di Inggris.

“Kami percaya bahwa CPOPC dan Iceland Co dapat berbagi kepedulian yang sama terhadap lingkungan. Tentu saja, negara-negara penghasil kelapa sawit ingin melindungi warisan alam mereka sendiri selama beberapa generasi yang Anda sebutkan sebagai permata mahkota planet kita,” ucap Mahendra.

Dia menegaskan, upaya yang dilakukan untuk mencapai keberlanjutan dalam minyak sawit cukup besar. Presiden Indonesia Joko Widodo sedang memelopori kampanye penanaman kembali varietas kelapa sawit unggul di lahan pertanian yang ada untuk mendukung petani kecil dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Mahendra mempertanyakan kebijakan Iceland Co yang percaya kepada isu bahwa 85 persen konsumen mereka menentang penggunaan minyak sawit. “Saya tidak terkejut dengan angka ini, mengingat kampanye bersama di Uni Eropa yang memilih untuk membedakan minyak sawit dari minyak nabati lainnya. Namun, CPOPC menganggap bahwa klaim yang dibuat terhadap minyak sawit menyesatkan konsumen,” jelasnya.

TIONGKOK NAIKKAN IMPOR

DAMPAK positifdari konflikdagang Tiongkok dengan Amerika Serikat terhadap Indonesia mulai terlihat. Pemerintah di Negeri Tirai Bambu disebut sepakat meningkatkan volume impor produk kelapa sawit dari Tanah Air, untuk menggantikan pengurangan penggunaan kedelai dari Negeri Paman Sam.

“Kami bilang, kalau butuh sawit, kami tambah lagi. Mereka kelihatannya setuju,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Beijing, melalui Kantor Berita Antara, Minggu (15/4).

Menurut Luhut, penambahan impor sawit merupakan salah satu langkah Indonesia memanfaatkan perang dagang yang tengah berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Dia berharap, rencana penambahan impor sawit dari Indonesia bisa diumumkan secara resmi oleh PM Tiongkok, saat kunjungan ke Indonesia, 6 Mei mendatang.

Nilai impor kelapa sawit Tiongkok dari Indonesia dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan signifikan. Akhir tahun lalu, mencapai 3,73 juta ton, naik dibanding 2016 yang hanya 3,23 juta ton. “Kalau China setuju peningkatan impor sawit, akan banyak membantu 16 juta petani kita,” ujar Luhut.

Kepada para pembuat kebijakan di Tiongkok, jenderal purnawirawan TNI itu menegaskan bahwa posisi Indonesia tetap netral dalam menyikapi perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. “Bicara masalah perdagangan AS dengan China, posisi Indonesia sebagai negara cukup besar. Tidak perlu berpihak kepada salah satu. Jadi kita bisa meletakkan posisi kita dengan cantik,” terangnya. (ant/man2/k18)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 07:07

PHI Andalkan Teknologi Drilling

BALIKPAPAN - Pertamina Hulu Indonesia (PHI) terus melakukan inovasi untuk…

Rabu, 23 Januari 2019 07:06

Tahun Politik, BI Jamin Temuan Uang Palsu Turun

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim bertekad menekan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:03

Pengusaha Mamin Keluhkan Masalah Gula Lokal

JAKARTA - Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:02

Pemerintah Diminta Benahi Masalah dari Hulu

JAKARTA - Pemerintah masih terus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan…

Selasa, 22 Januari 2019 06:53

Kenaikan Harga Diklaim Wajar

BALIKPAPAN - Otoritas bandara berencana mengajukan perubahan tarif batas atas…

Selasa, 22 Januari 2019 06:47

Produksi Udang Windu Dituntut Meningkat

SAMARINDA - Udang windu Kaltim saat ini menjadi andalan Indonesia…

Selasa, 22 Januari 2019 06:45

Perjuangkan Bea Masuk Ekspor Perhiasan 0 Persen

JAKARTA – Industri perhiasan masih menjadi salah satu andalan untuk…

Selasa, 22 Januari 2019 06:41

Inka Ekspor Gerbong ke Bangladesh

SURABAYA – Kebutuhan sarana transportasi kereta di berbagai negara masih…

Selasa, 22 Januari 2019 06:40

2020, Target Kirim 30,3 Juta Ton Batu Bara

PALEMBANG - PT Bukit Asam (BA) Tbk terus meningkatkan pengiriman…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

PGN Optimistis Capai 244.043 Pelanggan

JAKARTA - Setelah resmi mengakuisisi 51 persen saham PT Pertamina…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*