MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 15 April 2018 07:58
Menyelami Terumbu Karang Tanjung Jumlai setelah Pencemaran Minyak (1)
Temukan Trawl Sepanjang 10 Meter di Dasar Laut
TELUSURI KARANG: Penyelam dari POSSI Kaltim dan Lanal Balikpapan menyelami laut di kawasan Pantai Tanjung Jumlai, PPU kemarin. Mereka mencari terumbu karang yang kemungkinan rusak akibat pencemaran minyak. Tampak penyelam memperlihakan trawl di dasar laut.(POSSI KALTIM UNTUK KALTIM POST)

PROKAL.CO, Pencemaran minyak di Teluk Balikpapan membuat ekosistem terumbu karang terancam. Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Kaltim dan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan meneliti dampak tersebut.

M RIDHUAN, Balikpapan

MATA Muchlis terpaku. Di balik kemudi, dia menyaksikan pemandangan mengerikan. Langit Balikpapan dipenuhi asap hitam. Kepulan tampak jelas dari Jalan Soekarno-Hatta, Km 5 Balikpapan. Setelah menerima informasi soal kebakaran akibat minyak di Teluk Balikpapan, hatinya gundah. Teringat soal nasib terumbu karang di Pantai Tanjung Jumlai, Penajam Pasir Utara (PPU). Yang sebulan lalu dia selami.

“Saya dari Samarinda ke Balikpapan ada urusan keluarga,” kata instruktur selam yang bergabung dengan Persatuan Olahraga Selam Indonesia (POSSI) Kaltim itu mengingat kejadian Sabtu (31/3) lalu.

Minyak, kata dia, ibarat racun bagi semua makhluk hidup. Termasuk terumbu karang. Sedikit saja terpapar, binatang itu akan mati karena tak bisa bernapas. Jika hal itu terjadi, dipastikan Balikpapan dan PPU kehilangan ekosistem terdekat satu-satunya di mulut bagian selatan teluk. “Maka POSSI langsung mengadakan rapat dan menjadwalkan untuk memantau dan mengambil data kondisi terumbu karang,” ucap dosen dan peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman itu.

Maka kemarin (14/4), dua pekan setelah tragedi pencemaran minyak, dilakukan penyelaman. Muchlis dan tiga rekannya punya perasaan khawatir. Terumbu karang yang pada 17 Maret lalu mereka selami kini kondisinya tercemar. Tanjung Jumlai jadi tujuan.

Mengingat, jadi kawasan terumbu karang terdekat. Jaraknya 7,5 mil laut dari Pelabuhan Semayang Balikpapan. Menumpang kapal Patkamla Lamaru milik Lanal Balikpapan, rombongan yang dipimpin Lettu Laut (P) Karel Satriawan itu berangkat ke Tanjung Jumlai.

Kapal bertolak pukul 08.30 Wita dari Pelabuhan Semayang. Dikawal dua speedboat. Satu milik Lanal dan dari Polisi Air dan Udara (Polairud) Polda Kaltim. Kecepatan 30 knot membuat perjalanan ke lokasi penyelaman memakan waktu satu jam.

Sepanjang perairan yang dilalui, tak ada tanda-tanda minyak. Kalaupun ada lapisan film minyak, lokasinya di pinggir dermaga. Yang tampak dominan di permukaan air adalah sampah botol plastik. Kontras dengan lambung besi kapal-kapal tanker dan kargo batu bara berbobot puluhan ribu ton.

Sebelum memasuki gusung terumbu karang, Patkamla Lamaru membuang sauh. Jaraknya sekitar 200 meter dari lokasi penyelaman. Semua peralatan selam lantas dipindah ke perahu karet yang sejak awal diikat di buritan kapal. Setelah semua siap, perahu karet ditarik menggunakan speedboat. “Jangkar kapal jadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang,” kata pemilik nama lengkap Muchlis Efendi itu.

Setelah briefing sebentar, diputuskan ada dua tim penyelam. Dibantu anggota Lanal, pengambilan data di bawah air dilakukan di dua gusung dari delapan gusung terumbu karang. Semuanya ditandai di Sistem Pemosisi Global (GPS) dengan angka. Dari gusung nomor 1 hingga nomor 8. Gusung pertama yang didatangi adalah gusung nomor 8. Gusung terluar. “Kami masih mencocokkan informasi nama-nama gusungnya dari nelayan sekitar,” sambungnya.

Dari perahu karet, penyelam terjun dan masuk ke kedalaman empat meter dengan kondisi air surut. Bentangan terumbu karang sudah bisa disajikan di depan mata. Bahkan, bisa disaksikan di atas perahu. Penyelaman dilakukan selama 35 menit. Menyusuri terumbu karang hingga seratus meter. Tak tampak ada tanda-tanda minyak. Kondisi karang sehat. Ikan berbagai jenis tampak memamerkan keindahan warna kulit mereka. “Selama ini yang kami khawatirkan tak terbukti,” katanya.

Begitu pula di titik penyelaman kedua. Di gusung paling dekat dengan Teluk Balikpapan. Tim tak menemukan tanda-tanda kerusakan karang yang terpapar minyak. Termasuk tanda-tanda pencemaran minyak di air. “Massa minyak lebih ringan jadi mengapung di permukaan. Namun, ada potensi apabila kondisi air surut. Dan karang tersentuh permukaan air,” jelasnya.

Minyak tak ditemukan, penyelam mendapati sisa jaring pukat hela (trawl). Menutupi satu bukit karang. Diperkirakan trawl memiliki panjang sekitar 10 meter. Diduga jaring sudah bertahun-tahun menyangkut di karang. Membuat karang yang terkena jaring akhirnya mati. Ini sebabnya penggunaan trawl dilarang karena merusak. “Saat ini ancaman terbesarnya ada di sedimentasi. Kami mendapati banyak karang yang tertutup sedimen. Dan ini alami,” katanya.

Sedimen berasal dari 54 sub daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir ke Teluk Balikpapan. Namun, kondisi ini, disebut Muchlis, justru menguntungkan bagi terumbu karang. Sebab, membawa nutrisi bagi kehidupan. Membantu pembentukan struktur kalsium karbonat (semacam batu kapur). Membuat karang di perairan ini tumbuh subur. “Setahun bisa 2 sentimeter. Ini luar biasa cepatnya,” sebutnya yang telah meneliti terumbu karang di Tanjung Jumlai sejak 2013 lalu.

Lalu, di mana ceceran minyak dari Teluk Balikpapan pergi? Citra satelit yang diperoleh Kaltim Post menunjukkan pergerakan minyak paling jauh separuh dari jarak antara Pelabuhan Semayang dan titik pertama penyelaman. Tepatnya berada di Buoy Nomor 5 saat dilakukan monitoring pekan lalu. Bergerak mengikuti pasang surut air laut.

Ketua POSSI Kaltim M Hatta Zainal bersyukur tak ada terumbu karang yang terpapar minyak. Karena sangat disayangkan ketika Balikpapan dan PPU kehilangan ekosistem pendukung perikanan dua daerah itu. Terumbu karang sebagai kawasan pemijahan ikan laut menentukan nasib nelayan pada masa depan. “Kalau terumbu karang mati, ikan akan menghilang,” tegas Hatta. (rom/k11)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 09:10

Sehari, Dua Kapal Terbalik

JAKARTA – Laut selatan Jawa sedang bergolak. Dalam sehari, ada dua kapal yang terbalik dihempas…

Jumat, 20 Juli 2018 09:01

Penyakit Orang Pintar

Oleh Bambang Iswanto (*) KALA Rasulullah Muhammad Salallahualaihi wasallam masih hidup. Ada seorang…

Kamis, 19 Juli 2018 08:57

Mantap Tatap Macan Kemayoran

TENGGARONG – Mitra Kukar dikejar deadline. Setelah menang telak 3-0 atas tamunya Sriwijaya FC…

Kamis, 19 Juli 2018 08:54
Utang Proyek MYC Rp 220 Miliar Pasti Dibayar

Mau Selesai Sebelum Masa Jabatan Gubernur Habis, Pemprov Genjot Kontraktor

SAMARINDA – Pemprov Kaltim meyakinkan DPRD Kaltim bahwa proyek multiyears contract (MYC) atau…

Kamis, 19 Juli 2018 08:51

KPU Buka Nama-Nama Caleg ke Publik

JAKARTA – Semua partai politik (parpol) peserta pemilu sudah mendaftarkan bakal calon legislatif…

Kamis, 19 Juli 2018 08:50
Lima Calon Sekprov Ikuti Tes Kompetensi

Klaim Tak Intervensi, Pemprov Wajib Transparan

SAMARINDA – Assessment Test (kompetensi) Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Provinsi…

Kamis, 19 Juli 2018 08:47

Perangi Penyelundupan Narkoba, Tambah 12 Pos Perbatasan

Genap berusia 60 tahun, Kodam VI/Mulawarman menjadi bagian dari sejarah Indonesia. Tantangan yang dihadapi…

Rabu, 18 Juli 2018 08:22

Kemenag: ATM Aman kalau Kembalikan Uang

BALIKPAPAN – Kasus antara PT Arafah Tamasya Mulia (ATM) dan ribuan jamaah belum juga ada titik…

Rabu, 18 Juli 2018 08:18

Sudah Sterilisasi SUGBK, Sibuk Jaga Keasaman Air di Palembang

Dari serangkaian persiapan menuju Asian Games, penyelesaian venue menjadi topik utama yang terus diselesaikan…

Selasa, 17 Juli 2018 09:14

Jamaah Terus Dibikin Menggantung

BALIKPAPAN – Ratusan orang berkumpul di Masjid Baitul Aman Mapolres Balikpapan, Senin (16/7).…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .