MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 14 April 2018 05:09
Kabar HET Beras Belum Sampai ke Pedagang
MASIH LEBIH MAHAL: Di Samarinda, sosialisasi HET untuk beras medium belum sampai ke pedagang beras di pasar tradisional. (SAIPUL ANWAR/KP)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Ketentuan harga eceran tertinggi (HET) untuk beras dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah berlaku sejak Jumat (13/4). Namun di Samarinda, para pedagang bahkan belum tahu terkait kebijakan tersebut. Bahan pangan pokok itupun masih dijual sesuai ongkos logistik dan harga beli dari pemasok.

Di wilayah Kalimantan, Kemendag menetapkan HET beras medium Rp 9.850 per kilogram (kg). Sementara untuk jenis premium Rp 13.300. Sedangkan di Pulau Jawa, beras medium maksimal dibanderol Rp 9.450 per kg, dan Rp 12.800 untuk jenis premium.

Berdasarkan pantauan Kaltim Post di beberapa pasar di Samarinda, harga beras medium masih menyentuh Rp 10 hingga 12 ribu per kilogram. Sedangkan yang premium Rp mencapai Rp 13 ribu, bergantung merek dan kualitasnya.

Kaharuddin, salah satu pedagang beras di Pasar Inpres Samarinda Seberang mengaku tidak tahu perihal ketetapan HET beras. “Kami hanya menyesuaikan dari harga beli. Seperti saya, mengambil beras di Sulawesi, jadi hitung biaya ongkos pengiriman dan lainnya. Begitu cara menetapkan harganya. Tidak ada ikut aturan HET,” ungkapnya saat diwawancarai Kaltim Post di pasar yang beralamat di Jalan Sultan Hasanuddin, Samarinda Seberang itu, kemarin.

Meski tak menerima informasi pasti, Kaharuddin mengaku beberapa kali mendengar wacana HET dari pemerintah. Tak hanya beras, namun juga untuk gula pasir dan minyak goreng kemasan sederhana, yang sudah menerapkan acuan harga khusus sejak tahun lalu.

Dia menyebut, sulit bagi pedagang di pasar tradisional untuk mengikuti HET. Apalagi, angkanya relatif jauh di bawah harga pasaran saat ini.

“Itu sulit, karena beberapa jenis harga belinya saja lebih tinggi dari HET. Berarti malah rugi, karena untuk kembali modal saja kurang,” tuturnya.

Senada, pedagang beras di Pasar Segiri, Hendry Has juga mengaku tak mengerti terkait ketentuan HET untuk beras. Penetapan harga, kata dia, hanya berdasarkan merek dan harga beli dari pemasok. Apalagi, dia juga menjual secara eceran, yang umumnya sedikit lebih mahal ketimbang penjualan per karung.

“Di sini, masih banyak pedagang tidak tahu. Sosialisasinya  juga kami belum ada yang tahu,” ujarnya.

Dia menjelaskan, para pedagang di pasar tradisional umumnya tak menjangkau informasi dari media massa. Menurutnya, sosialisasi harusnya dilakukan pemerintah langsung kepada pedagang.

“Harusnya juga ada edaran penerapan HET. Mungkin sudah ada, tapi belum merata. Karena masih banyak pedagang yang bahkan tidak tahu apa itu HET, kegunaannya untuk apa, kami juga kurang paham,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop) Kaltim Fuad Asaddin mengatakan, HET beras medium di wilayah Kalimantan adalah Rp 9.850. Sementara untuk jenis premium Rp 13.300.

Fuad melanjutkan, sampai siang kemarin, pihaknya belum menerima petunjuk teknis terkait perincian penerapan HET tersebut. Sementara ini, kata dia, akan berjalan dalam bentuk imbauan.

“Paling utama yang harus menerapkan adalah pasar ritel modern. Untuk pengecer akan dilihat lagi mata rantai distribusinya. Yang jelas, akan ada penyesuaian harga di pasaran,” katanya saat ditemui Kaltim Post di kantornya Jalan Basuki Rahmat, Samarinda.

Dia menyebut, Kementerian Perdagangan juga belum memastikan sistem pengawasan maupun sanksi, jika ada pedagang yang menjual beras dengan harga tak sesuai HET. “Kami masih harus melihat, mata rantai pembelian beras di pedagang tradisional seperti apa. Tidak bisa langsung ditindak kalau belum sesuai HET. Masih dipantau,” jelasnya.

Fuad menjelaskan, pemberlakuan HET kepada beberapa komoditas pangan, termasuk beras, memang penting dilakukan sebagai upaya mengontrol harga di pasaran. Apalagi, kurang dari dua bulan ke depan, sudah masuk masa Ramadan, yang umumnya diikuti lonjakan konsumsi.

“Selasa (17/4) kami akan melakukan rakor kesiapan HBKN (hari besar keagamaan nasional), kami juga akan menghadirkan pembicara langsung dari Kementerian Perdagangan,” tutup dia. (*/ctr/man/k15)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 07:06

Tahun Politik, BI Jamin Temuan Uang Palsu Turun

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim bertekad menekan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:03

Pengusaha Mamin Keluhkan Masalah Gula Lokal

JAKARTA - Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:02

Pemerintah Diminta Benahi Masalah dari Hulu

JAKARTA - Pemerintah masih terus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan…

Selasa, 22 Januari 2019 06:53

Kenaikan Harga Diklaim Wajar

BALIKPAPAN - Otoritas bandara berencana mengajukan perubahan tarif batas atas…

Selasa, 22 Januari 2019 06:47

Produksi Udang Windu Dituntut Meningkat

SAMARINDA - Udang windu Kaltim saat ini menjadi andalan Indonesia…

Selasa, 22 Januari 2019 06:45

Perjuangkan Bea Masuk Ekspor Perhiasan 0 Persen

JAKARTA – Industri perhiasan masih menjadi salah satu andalan untuk…

Selasa, 22 Januari 2019 06:41

Inka Ekspor Gerbong ke Bangladesh

SURABAYA – Kebutuhan sarana transportasi kereta di berbagai negara masih…

Selasa, 22 Januari 2019 06:40

2020, Target Kirim 30,3 Juta Ton Batu Bara

PALEMBANG - PT Bukit Asam (BA) Tbk terus meningkatkan pengiriman…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

PGN Optimistis Capai 244.043 Pelanggan

JAKARTA - Setelah resmi mengakuisisi 51 persen saham PT Pertamina…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

Maret, VietJet Air Buka Rute Vietnam-RI

JAKARTA - Maskapai penerbangan asal Vietnam, VietJet Air akan membuka…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*