MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Sabtu, 14 April 2018 05:04
Penggunaan Dolar Masih Dominan

LCS dengan Thailand dan Malaysia Belum Optimal

PERLU SOSIALISASI: Sekitar 94 persen transaksi dagang Indonesia dengan Malaysia masih menggunakan dolar AS. (ANGGI PRADITHA/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA - Kesepakatan penggunaan rupiah melalui Local Currency Settlement(LCS) dalam transaksi dagang internasional belum berjalan maksimal. Kegiatan ekspor-impor bersama Thailand dan Malaysia masih didominasi dolar AS.

Bank Indonesia (BI) mencatat, jumlah pembayaran atas transaksi dagang Indonesia dengan kedua negara mitra tersebut mencapai Rp 28,69 miliar sepanjang Januari-April 2018. Jumlah tersebut masih terbilang kecil bila dibandingkan total nilai perdagangan antara Indonesia dengan Malaysia dan Thailand.

Sebagian besar transaksi pembayaran kegiatan dagang Indonesia dengan kedua negara menurut dia, saat ini masih menggunakan dolar Amerika Serikat. Dia menyebut, sekitar 94 persen transaksi dagang antara Indonesia dengan Malaysia masih menggunakan dolar AS.

“Memang transaksinya belum banyak. Tapi, setidaknya empat bank sudah lakukan (membantu penukaran mata uang lokal) dengan eksportir dan importir maupun dengan sesama bank di tiga negara,” ujar Nanang di Kompleks Gedung BI, Jumat (13/4).

Sebelumnya, bank sentral ketiga negara telah menunjuk tujuh bank untuk melakukan transaksi pembayaran dengan mata uang lokal melalui kebijakan LCS, atau yang juga dikenal dengan sebutan Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) bank. Namun dari ketujuh bank tersebut, baru empat yang melayani transaksi tersebut. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai perdagangan ekspor non-migas dari Indonesia ke Malaysia pada Januari-Februari 2018 sebenarnya telah mencapai USD 1,21 miliar. Sedangkan nilai impor Indonesia dari Malaysia mencapai USD 948,5 juta pada periode yang sama.

Sementara dengan Thailand, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 961,9 juta pada periode tersebut. Sementara, nilai impor mencapai USD 1,62 miliar pada periode yang sama.

Ke depan, menurut Nanang, BI akan terus mendorong agar eksportir dan importir mulai beralih menggunakan mata uang rupiah dan mata uang lokal kedua negara. Yaitu ringgit Malaysia dan baht Thailand dalam transaksi perdagangan ekspor impor.

Hal tersebut dilakukan dilakukan dengan gencar melakukan sosialisasi. Dengan begitu, penggunaan dolar AS diharapkan dapat berkurang.

“Sebenarnya, kemarin sudah kami sosialisasikan di Batam, Semarang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Tapi, kami akan terus lakukan sosialisasi ke eksportir dan importir,” imbuhnya.

Di sisi lain, menurut Nanang, penggunaan rupiah dalam transaksi perdagangan dengan kedua negara, sejatinya lebih menguntungkan. Hal ini lantaran beda nilai tukar bila pembayaran transaksi dengan rupiah jauh lebih rendah dibandingkan dengan dolar AS. (man2/k15)


BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 07:20
Operasional Bandara APT Pranoto Samarinda

MANTAP..!! Bisa Topang Kinerja Tiga Sektor Ekonomi

SAMARINDA - Dampak ekonomi dari beroperasinya Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto di Samarinda…

Senin, 23 April 2018 08:28

ADUH !!! Kurang Serius Garap Sektor Perkebunan Sawit

SAMARINDA – Dengan potensi bahan baku yang melimpah, pabrik minyak sawit mentah atau crude palm…

Senin, 23 April 2018 08:26

Tujuh Blok Terminasi Diserahkan ke Pertamina

JAKARTA – Tujuhwilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) yang berakhir masa kontraknya (terminasi…

Senin, 23 April 2018 08:24

Optimalkan Transaksi Nontunai di Bandara APT Pranoto

SAMARINDA – Bandara APT Pranoto Samarinda yang dijadwalkan beroperasi mulai 25 Mei mendatang terus…

Senin, 23 April 2018 08:21

Redam NPL, Laba Bank Danamon Menyusut

JAKARTA – Upaya perbaikan kualitas kredit menekan laba PT Bank Danamon Indonesia Tbk awal tahun…

Senin, 23 April 2018 08:19

Tahun Ini, Titik Kebangkitan Lada Kaltim

SAMARINDA – Puluhan tahun silam, lada menjadi salah satu komoditas ekspor vital Kaltim. Bahkan…

Senin, 23 April 2018 08:16

Empat Bulan, Temukan 72 Entitas Investasi Bodong

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan 72 entitas investasi yang terindikasi bodong…

Sabtu, 21 April 2018 06:26

Kaltim Butuh Lebih Banyak PLB

BALIKPAPAN  -  Kaltim dinilai tak cukup mengandalkan skema direct call untuk memaksimalkan…

Sabtu, 21 April 2018 06:25

GELIAT EKONOMI !!! Setahun, 468 Restoran Baru

SAMARINDA  -  Restoran menjadi salah satu bisnis menjanjikan di Kaltim. Setidaknya, itu tergambar…

Sabtu, 21 April 2018 06:23

Produk Kebutuhan Ramadan Sudah Datang

BERDESAKAN  untuk berbelanja kebutuhan konsumsi selama Ramadan sudah tak perlu dilakukan. Produk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .