MANAGED BY:
RABU
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 13 April 2018 09:02
Kepungan Asing di Surga Maratua
Disewa Murah, Pemilik Lahan Bergejolak

PROKAL.CO, Sanggraloka di pulau-pulau kecil sekitar Maratua, Berau menyedot mata dunia. Keberadaannya tak seindah yang terlihat. Wartawan Kaltim Post menelusuri pulau tersebut akhir bulan lalu.

DATARAN karang membentang sepanjang pulau kecil di ujung selatan-timur Atol Maratua. Di bagian terluar karang, sepasang pulau terhubung jembatan kayu di atas biru laguna.   Dikenal dengan ketergantungan terhadap sumber daya alam sebagai penggerak roda ekonominya, Kaltim menyimpan pesona alam yang sungguh memukau. Di belahan lain provinsi ini, Berau memberi kesejukan lewat keindahan destinasi wisata yang mendunia. Indah, bahkan terlalu indah untuk dimiliki.

Selain Derawan, Maratua, Kakaban, hingga Sangalaki, ada tiga pulau lain di kabupaten ini menjadi favorit para pelancong—khususnya wisatawan asing. Letaknya di kawasan terluar kepulauan Tanah Air di laut Sulawesi. Tercatat, secara administrasi sebagai bagian dari Kecamatan Maratua, konon Pulau Pabahanan, Bakungan Besar, dan Bakungan Kecil dikuasai satu nama asing.

Bagi warga setempat, tiga pulau yang disulap asing menjadi area privat bukan konon lagi. Aktivitasnya bahkan telah berlangsung selama puluhan tahun. Pulau Pabahanan pun disebut-sebut dimiliki investor Jerman.

Pada 2001, berdiri kawasan resor bernama Nabucco Island Resort milik Extra Divers Worldwide yang mengelola seisi pulau. Fasilitas wisata membuat daerah tersebut kian dikenal. Nama Nabucco pun lebih familier ketimbang Pabahanan.

Extra Divers Worldwide merupakan perusahaan pariwisata yang bergerak di bidang penyelaman dan resor serta perhotelan. Dibentuk sekitar 20 tahun lalu, perusahaan ini menjalankan bisnis di Mesir, Australia, Kenya, Maladewa, Malta, Meksiko, Oman, Spanyol, hingga Tobago.

Dulunya, lahan di pulau tersebut milik warga Kampung Teluk Alulu di Maratua, perkampungan yang belum mendapat akses dari tiga kampung lainnya di pulau ini. Pada akhir ‘80-an, lahan Pabahanan dibeli “hanya” dengan nominal Rp 6 juta oleh seorang pengusaha lokal.

Ada yang menyebut pebisnis resor di Derawan, ada pula pengusaha asal Tarakan. Oleh pengusaha tersebut, pulau kemudian dijual sebesar Rp 10 miliar kepada investor Jerman. Begitulah yang diyakini warga Maratua selama ini.

Namun, informasi berkembang, lahan Pulau Pabahanan dimiliki pengusaha bernama Teddy P Adinawan. Menggandeng pemilik lahan, Extra Divers Worldwide bersama seorang pengusaha bernama Nawawi Chandra membentuk PT Nabucco Maratua Interbhuwana pada 2000 untuk menjalankan resor di sana. Tiga tahun berselang, Nawawi melepas seluruh sahamnya. Perusahaan pun berganti nama menjadi PT Nabucco Maratua Resor (NMR).

Berbeda dengan Pabahanan, dua pulau Bakungan yang turut disulap jadi kawasan resor atau sanggraloka dioperasikan dengan sistem sewa. Pemilik lahan diketahui warga Kampung Bohesilian, Maratua.

Sanggraloka berdiri di atas Bakungan Kecil yang terletak di ujung selatan gugusan Pulau Maratua pada 2008. Fasilitas di atas pulau seluas 4 hektare tersebut dinamakan Nunukan Island Resort. Dengan status tanah milik Ra’ja bin Jadi, perusahaan mengontraknya sejak 2005.

Mengelola dua pulau di Maratua, Extra Divers Worldwide melebarkan sayap dengan mengontrak Bakungan Besar. Maka jadilah pulau tak berpenghuni itu sebagai kawasan wisata pada 2015. Dinamai Virgin Cocoa, sanggraloka tersebut hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Bakungan Kecil. Keduanya terhubung jembatan kayu yang membentang di atas hamparan karang.

Perusahaan membentuk PT International Nabucco Resort (penanaman modal asing/PMA) pada 2006 untuk mengelola kedua pulau itu. Sertifikat lahan Bakungan Besar dimiliki warga atas nama Jaji sejak 1958—telah diwariskan kepada sembilan anaknya. Investor menyewa Rp 27,5 juta per tahun kepada keluarga pemilik. Sedangkan Bakungan Kecil dibayar Rp 60 juta per tahun. Masing-masing terikat kontrak selama tiga dekade.

Adapun nilai sewa Bakungan Kecil sebesar Rp 60 juta tak ditetapkan sejak awal. Tarif semula disebut-sebut Rp 18 juta. Baru mendapat revisi pada 2016, seiring kesadaran nilai yang dibayarkan tergolong kecil. “Ada dari keluarga pemilik yang cukup berpendidikan, menyadari kalau nilai tersebut kecil. Maka dari keluarga kemudian meminta perubahan kontrak,” sebut Kepala Desa Bohesilian, Jokson, kepada Kaltim Post, akhir Maret lalu.

Dari rumah kepala kampung desa tertua di Maratua itu, Kaltim Post beranjak ke kediaman keluarga Ra’ja yang hanya terpisah beberapa blok. Sayang, si empunya pulau tak berada di tempat. Beberapa hari terakhir, dia sibuk melaut. Masyarakat Maratua memang didominasi kalangan nelayan. “Kalau sudah melaut, orang sini bisa pergi sampai 10 hari,” timpal Hariono, warga Maratua yang berprofesi sebagai motoris.

Perubahan kontrak menjadi Rp 60 juta per tahun membuat aktivitas sewa-menyewa Bakungan Kecil adem-ayem. Kondusivitas bisnis terjaga. Namun, tidak untuk Bakungan Besar.

Pulau tetangga masih disewa Rp 27,5 juta per tahun. Sebagai pembanding, sebuah pulau privat kecil bernama El Nido di Laut Sulu, Palawan, Filipina, disewakan Rp 5,2 juta per malam, seperti dilansir dari Islands.

Nilai sewa Bakungan Besar sepanjang tahun, setara biaya sewa pulau tersebut untuk lima hari. Pulau Ilha Grande, Brasil, dekat Pantai Angra dos Reis yang berjarak dua jam menumpang speedboat dari Rio de Janeiro, bahkan disewakan Rp 13,3 juta per malam. Nyaris setengah dari biaya sewa setahun Bakungan Besar.

Angka yang dirasa tak ideal itu membuat kondisi bergejolak. Bahkan, beringsut ke meja hijau. Mengemuka gugatan perdata di Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Redeb. Sembilan ahli waris mendiang Jaji mengajukan petisi. Mereka adalah Mardeka, Maidi, Aloha, Maeda, Rosana, Sanusi, Effendi, Aslinda, dan Kasmanto.

Kesembilan ahli waris menyoal tak adanya surat perjanjian kerja sama (SPKS) menindaklanjuti memorandum of understanding (MoU) yang dibuat bersama perusahaan pada 17 Desember 2005. SPKS tak pernah direalisasikan, PT NMR telah mendirikan Virgin Cocoa di Bakungan Besar. Beroperasi medio Agustus 2016, fasilitas yang didirikan, mulai bungalow, kantor, hingga jalan yang sudah disemen.

Padahal, delapan hari berselang selepas nota kesepahaman dibuat, Mardeka yang mewakili keluarga mengusulkan nilai kompensasi dari penggunaan lahan sebesar Rp 154,4 juta per tahun. “Namun, timbul angka sewa Rp 27,5 juta per tahunnya,” sebut Syahrudin, kuasa hukum penggugat (baca: Tuntut Ganti Rugi Rp 122,9 M).

Polemik Bakungan Besar masuk telinga Wakil Bupati Berau Agus Tantomo beberapa bulan lalu. Kepala daerah keturunan Tionghoa itu dimohon memfasilitasi mediasi antara pemilik lahan dengan perusahaan pengelola resor. Namun, dia mengaku tak dapat banyak mencampuri persoalan. Ada kontrak yang mengikat pemilik lahan dan penyewa. “Ini murni persoalan B to B, business to business,” sebut Tantomo ketika menerima kedatangan koran ini di rumah dinasnya, Minggu (8/4).

Bakungan Besar dan Bakungan Kecil semula pulau kecil tak berpenghuni. Tak ada listrik dan air untuk menghidupi. Warga Maratua sebagai pemilik hanya menjadikannya lahan berkebun kelapa. “Tak bisa hidup di pulau itu. Sekarang, begitu sudah terbangun resor, sudah ada listrik, air, investasi besar di sana, baru menuntut,” sesal suami Fika Yuliana, jebolan kontes menyanyi dangdut nasional asal Berau tersebut.

Menjadi magnet rekreasi yang menyedot ribuan wisatawan asing sepanjang tahun, pulau-pulau kecil seperti Pabahanan dan duo Bakungan semula—bahkan sampai sekarang—hanya dataran biasa bagi warga setempat. Bahkan, ada kebingungan di kalangan penduduk: apa menariknya liburan ke Pabahanan, ke Bakungan? “Apa mau dilihat di sana? Lebih indah Maratua,” sebut Hariono.

Duo Bakungan terletak di ujung selatan pulau karang Maratua, tepat di bagian luar karang. Menuju ke sana, tak ada akses selain jalur air untuk ditempuh. Tak ada helipad, lebih-lebih lintasan untuk pesawat kecil mendarat. Pulau ke pulau di kawasan ini hanya terhubung dermaga.

Minggu (1/4) pagi, Kaltim Post bertolak dari dermaga di Teluk Harapan, Maratua, menggunakan speedboat kapasitas maksimal enam orang mesin 1x40 knot. Dua pulau Bakungan jadi tujuan utama. Ketika matahari sedang terik-teriknya, jalur yang ditempuh mesti melebar karena air laut sedang surut. Speedboat harus memutar menjauhi pulau demi terhindar dari karang.

Sebagai pulau karang, Maratua memiliki laut dangkal yang pendek dibanding pulau lain seperti Derawan. Maka, tak mengherankan bila hanya beberapa meter dari speedboat yang melaju, ada nelayan dengan santainya berjalan kaki di atas perairan tipis menyelimuti karang.

Perlu waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke dermaga di sisi timur laut Bakungan Kecil dengan kondisi jalur tersebut dan spesifikasi speedboat yang kami tunggangi. Dermaga dirancang membentang panjang mengarah langsung ke bagian luar karang kepulauan itu. Dari ujung dermaga, tampak bendera Indonesia berkibar di pucuk tiang, tepat di atas bangunan di gerbang pulau.

Di gerbang itu pula, terdapat pemberitahuan tertanda manajemen resor yang dibuat pada Juni 2017. Pesan berisi larangan makan dan mendirikan tenda di kawasan pulau, atau apapun aktivitas yang mengusik ketenangan para penghuninya. Meski terbuka untuk umum, manajemen mewajibkan lapor dan menarik biaya masuk sebesar Rp 50 ribu tiap pengunjung.

Bangunan di sisi timur laut Bakungan Kecil dihubungkan jembatan-jembatan kayu yang berdiri di atas bebatuan karang. Terdapat pusat menyelam dan restoran, termasuk kantor manajemen merangkap toko oleh-oleh di bagian pulau tersebut.

Jalan penghubung dibangun berliku menyesuaikan kondisi pulau. Bebatuan karang di jantung dataran ini masih tampak begitu alami, demikian pula tumbuh-tumbuhannya. Sedangkan di bagian barat pulau, diperuntukkan kawasan bungalow yang totalnya mencapai 22 unit. Bangunan dirancang di atas pasir putih, menghadap langsung ke laguna.

Tuntas berkeliling Bakungan Kecil, melanjutkan ke Bakungan Besar tak perlu kembali ke dermaga dan menyeberang dengan speedboat. Terdapat jembatan kayu yang menghubungkan kedua pulau tersebut di sisi barat daya Bakungan Kecil. Jarak yang mesti ditempuh sekitar 1 kilometer.

Berbeda dengan Nunukan Island Resort yang kawasannya terbagi bebatuan karang, Virgin Cocoa didominasi pasir putih alami dan pohon kelapa yang jumlahnya ratusan. Pohon kelapa itu pula yang mengelilingi fasilitas kolam renang di tengah pulau.

Sebanyak 18 bungalow didirikan di atas private island tersebut. Bermalam di kelas superior, penghuninya disuguhkan pemandangan indah dari pulau tetangga, Bakungan Kecil. “Virgin Cocoa adalah yang termahal (dari ketiga pulau tersebut) karena kami yang terbaru. Kami satu-satunya dengan fasilitas kolam renang. Satu malam di Virgin Cocoa untuk dua orang, dikenakan biaya Rp 5 juta,” ungkap Kurt Gehrig, general manager Virgin Cocoa.

Namun, segala keindahan yang disuguhkan ternyata tak sejernih yang terlihat. Ada persoalan dalam perizinan resor yang rupanya tak lengkap. Keberadaan resor di tiga pulau tersebut belum memiliki izin lokasi, juga hak guna bangunan (HGB).

Resor di duo Bakungan bahkan bermodal analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) dari pendirian sanggraloka di Pabahanan. Dalam laporannya kepada Bupati Berau, PT Nabucco Maratua Resor dan PT International Nabucco Resort mendaftarkan amdal (DELH) 37 Tahun 2011 untuk ketiga pulau yang dioperasikan. Tiga pulau, satu amdal.

“IMB Virgin Cocoa tentu perlu amdal lagi. Tidak bisa menggunakan amdal lama. Lagi pula, membangun di kawasan perairan, amdalnya harus dari provinsi. Kami meminta untuk dilengkapi,” sebut Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Berau Datu Kesuma, Selasa (3/4).

Direktur I PT NMR, I Gede Bagus Made Haryana, menegaskan telah melengkapi segala ketentuan dalam sisi perizinan. Namun, di bagian lain wawancara dengan media ini, diungkapkannya dua kewajiban dalam hal perizinan masih dilengkapi. “Sampai kami bisa membangun semua tentu berarti sudah lengkap. Kami bisa operasional diving juga berarti semua sudah lengkap,” sebutnya, Jumat (6/4).

Omongan awalnya menjadi bertolak belakang ketika dikonfirmasi soal kepemilikan lahan Pulau Pabahanan. Teddy P Adinawan yang diketahui pemilik lahan disebut mengalihkan saham kepadanya dan Yusnadi, duo direktur PT NMR.

Namun, disebutkannya bahwa terdapat kewajiban dari mantan pemilik saham tersebut untuk menyelesaikan izin lokasi dan hak guna bangunan (HGB) di Pabahanan. “Itu yang sampai sekarang belum selesai. Tapi, kalau melepas saham, itu sudah dari dulu,” sebut pria yang juga dipercaya perusahaan menjalankan resor di Mataram tersebut.

Soal kewajiban izin lokasi dan HGB itu turut tertuang dalam laporan PT NMR kepada Bupati Berau Muharram tertanggal 4 April 2018 yang ditandatangani Yusnadi selaku direktur.

Dalam laporan tersebut, dirincikan 10 izin yang telah dikantongi PT NMR seperti IMB, revisi Izin Usaha Tetap Pariwisata, hingga Surat Izin Usaha/Gangguan. Dalam laporan tersebut, perusahaan memohon arahan jika dokumen perizinan yang mereka miliki belum lengkap.

Pasal 11 Ayat 1 Permen Agraria 17/2016 mengatur bahwa pemberian hak atas tanah di pulau-pulau kecil dilakukan sesuai ketentuan undang-undang. Adapun hak atas tanah dimaksud adalah hak sebagaimana diatur dalam Pasal 16 UU 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Negara mengatur bahwa hak-hak atas tanah, di antaranya hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, hingga hak sewa.

Khusus untuk orang atau badan hukum asing, hak atas tanah yang diperkenankan hanyalah hak pakai dan hak sewa. Yang berarti, pulau kecil dilarang dimiliki oleh asing. Sedangkan dalam hal penanaman modal asing, investor mesti terlebih dulu mengantongi izin dari menteri terkait. Tak hanya itu, penanaman modal asing harus mengutamakan kepentingan nasional, sebagaimana tertuang dalam Pasal 26A ayat 2 UU 1/2014.

Ketentuan itu seiring dengan Permen Agraria 17/2016 yang mengatur pemberian hak atas tanah di pulau kecil membatasi penguasaan lahan maksimal 70 persen dari luas pulau. Selebihnya, pulau dikuasai langsung negara, terutama dalam pemanfaatan kawasan lindung, area publik, atau kepentingan umum. (tim kp)

TIM LIPUTAN:

-           BOBBY LOLOWANG

-           ROBAYU

-           MUHAMMAD YODIQ


BACA JUGA

Selasa, 21 Agustus 2018 13:00

Soal Ini, Isran-Hadi Mulai Melunak

SAMARINDA - Isran Noor dan Hadi Mulyadi memastikan visi dan misinya diakomodasi dalam Rencana Pembangunan…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:26

Fokus Tatap The Falcons

‎JAKARTA – Status tuan rumah benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Timnas Indonesia U-23.…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:09

Perusahaan Bermasalah Belum Dipanggil

SAMARINDA – Kualitas konstruksi Jembatan Mahakam sudah mengkhawatirkan. Pemprov Kaltim berjanji…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:06

Vaksin MR Haram tapi Diperbolehkan

JAKARTA - Setelah menggelar rapat selama dua jam, kemarin (20/8) pukul 22.00 WIB, Majelis Ulama Indonesia…

Selasa, 21 Agustus 2018 09:04

Tetap Kibarkan Merah Putih meski Tak Diakui Pemerintah

Perayaan kemerdekaan Indonesia juga digelar warga Sendi. Mereka tetap menggelar malam tasyakuran. Hingga…

Senin, 20 Agustus 2018 09:13

Fokus dan Bonus

JAKARTA - Skuat Timnas Indonesia U-23 dijanjikan mendapat bonus jika mampu mengalahkan Hong Kong di…

Senin, 20 Agustus 2018 09:06

Empat Titik Keretakan di Mahakam

BALIKPAPAN - Meski dinyatakan aman, konstruksi Jembatan Mahakam, Samarinda masih sangat rawan. Sebab,…

Senin, 20 Agustus 2018 09:05

Getaran Gempa Susulan Terasa hingga Makassar

JAKARTA - Gempa susulan masih dirasakan masyarakat Lombok dan sekitarnya. Minggu (19/8), dua gempa…

Senin, 20 Agustus 2018 08:55

Cegah Korban Jiwa, Batu Diledakkan

KECELAKAAN kapal di Sungai Bahau, Long Aran, Kecamatan Pujungan, Kabupaten Malinau kerap terjadi. Untuk…

Senin, 20 Agustus 2018 08:50

Cita-Cita Menjadi Guru Berubah Gelap

Pada usia yang sangat muda, WA menanggung beban segunung. Dia diperkosa dan dihukum penjara. Keluarganya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .