MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 13 April 2018 08:47
Bincang dengan Kurt Gehrig, Pengelola Pulau Bakungan Besar
Pulau Privat Bukan Anti-Lokal
SEMPAT VIRAL: Kurt Gehrig (kedua kanan) dan Iris (kedua kiri) selepas menjamu kedatangan Kaltim Post, Minggu (1/4). (ROBAYU/KP)

PROKAL.CO, ISU kekuasaan asing yang menyulap pulau kecil ini menjadi private island mencuri banyak perhatian. Mengemuka kabar bahwa Pulau Bakungan Besar tak terbuka untuk umum.

Pulau dengan hamparan pasir putih dan pohon kelapa ini memang memesona. Berkeliling laut biru yang terafiliasi pulau karang Maratua, Resort Virgin Cocoa menjadi destinasi dengan daya tarik masif. Hanya akses terbatas membuat kawasan ini jarang dikunjungi. Tapi itulah yang dicari.

Virgin Cocoa menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini setelah kabar pengusiran wisatawan Nusantara oleh sosok asing pengelola resort mencuat. Video yang viral pun menampilkan Kurt Gehrig yang tampak jadi antagonis dalam visual tersebut. Pria berkebangsaan Swiss itu adalah general manager sanggraloka yang pada Oktober mendatang berusia tiga tahun. 

Minggu (1/4) siang, bersama asisten sekaligus kekasihnya, Iris, Kurt melayani wawancara Kaltim Post di teras kantornya yang teduh. Berikut petikan wawancaranya.

Cukup sulit untuk sampai ke sini…

Ya, tapi kini sudah ada pesawat (ke Maratua). Tapi itu hanya bisa dipesan melalui kami karena penerbangan tersebut pesawat carter. Namun sekarang periode high season dimulai. Tak ada ruang untuk tamu lain. Hanya untuk tamu kami.

Jadi saat ini sedang periode ramai?

Ya, sedang dimulai. Tapi saya rasa ini sangat unik. Nunukan Island Resort dan Nabucco Island Resort mereka fully booked untuk saat ini sedangkan kami tidak demikian. Tapi, kami fully book pada akhir September dan Oktober, sedangkan Nabucco dan Nunukan tidak fully booked. Benar-benar berbeda. Di sisi lain, Virgin Cocoa adalah yang termahal.

Mengapa demikian, karena yang terbaru atau…

Ya, termasuk karena yang terbaru. Kami punya ruang paling besar. Dan kami satu-satunya yang dilengkapi kolam renang. Satu malam di Virgin Cocoa dikenakan biaya untuk dua orang sebesar Rp 5 juta.

Tapi apa yang dicari orang-orang di sini?

Sebagian besar pengunjung kami datang untuk menyelam. Namun, kami juga menawarkan yoga gratis untuk tamu kami. Sebagian menggunakannya, sebagian tidak. Dan Anda bisa lihat, 80 persen tamu kami datang dari Eropa.

Bagaimana selebihnya?

Dari Asia Timur, namun sangat sedikit dari Indonesia. Kadang ada dari Jakarta tapi sebagian besar dari kantor-kantor kedutaan di Jakarta. Saat ini kami juga kedatangan tamu dari Hong Kong. Dengan keberadaan pesawat yang kami carter saat ini, memang memberi kemudahan untuk tamu datang. Pesawat carter tiba kemari (Maratua) setiap Sabtu dari Balikpapan.

Berapa banyak kapasitas di pulau ini?

Pulau di sini memiliki 18 bungalo namun di keseluruhan di tiga pulau ini kami memiliki 120 kamar.

Bagaimana dengan pusat penyelaman antara ketiga pulau, apakah berada di lokasi yang sama?

Tidak, cukup berbeda. Nabucco memiliki dive center bernama Big Fish Country. Ada ikan barakuda besar di sana, juga hiu. Kami sebenarnya begitu juga namun tak sampai ke utara selatan Maratua. Terlalu jauh untuk kami. Namun untuk kawasan Muaras, Nabucco terlalu jauh. Bagi kami dan Nunukan Island Resort dekat. Bisa kami katakan, 80 persen kawasan selam kami sama, 20 persen tidak untuk Nabucco.

Berapa usia resort ini?

Bulan Oktober nanti kami tepat tiga tahun.

Bagaimana dengan lahan pulau ini, apa dimiliki oleh perusahaan atau warga lokal?

Kami adalah investor asing dan peraturan di Indonesia tak memungkinkan perusahaan asing memiliki pulau. Namun, kami memiliki kontrak sewa selama 40 tahun. Yang berarti sampai 2058.

Sama dengan dua pulau lainnya?

Tidak begitu, namun semua memiliki kontrak panjang.

Lantas siapa pemilik pulau ini?

Anda harus menanyakannya kepada direktur saya di Berau. Setiap investor asing wajib memiliki direktur asal Indonesia dan direktur kami berasal dari Berau.

Bagaimana dengan manajemen di pulau-pulau lainnya?

Mereka dari Eropa. Kami dari Swiss-Filipina (menunjuk seorang perempuan bernama Iris).

Istri Anda?

Tidak, pacar saya.

Kami juga bertemu Beat Waefler (instruktur selam) dan Susanne Loos (manajer Nunukan Island Resort) di pulau sebelah…

Ya, Beat juga berasal dari Swiss. Seluruh manajemen Extra Divers memang dipercayakan kepada orang Eropa. Kami memiliki jaringan di banyak negara dan semua manajemen berasal dari Eropa. Manajemen di Nabucco adalah pasangan Jerman-Inggris. Boleh saya bertanya, apakah sudah lama Anda merencanakan perjalanan ini?

Ya, kami tiba di Tanjung Redeb sejak Kamis (29/3). Bermalam di sana dan menuju Tanjung Batu pada hari berikutnya. Kemudian ke Derawan dan langsung melanjutkan perjalanan ke Maratua.

Oh, jadi Anda sempat ke Derawan. Saya tak pernah ke sana namun mendengar banyak dari orang-orang jika Derawan tak sebersih dulu.

Saya juga baru pertama kali ke sana dan memang tak seperti yang saya bayangkan. Jadi, Anda belum lama di Indonesia?

Kami tiba di sini Januari tahun lalu. Sebelumnya saya membawahi selama tiga setengah tahun Resort Extra Drivers di Gili Trawangan. Sangat berbeda dengan di sini.

Ya, saya ke sana Agustus tahun lalu dan sangat indah. Tak ada polusi udara dari kendaraan bermotor…

Benar. Di sana juga tak ada polisi. Hanya petugas keamanan pulau. Itu mengapa di Gili banyak obat-obatan terlarang. Sabu-sabu, ganja, dan lainnya. Tak terkendali.

Bagaimana dengan pulau ini?

Tak ada obat terlarang diizinkan di sini.

Bukan, maksud saya tentang keamanan.

Oh, ya. Kami punya seorang petugas keamanan dan memiliki koneksi yang sangat dekat dengan polisi dan tentara di Maratua.

Bagaimana untuk terus terhubung dengan aparat terdekat? Tak ada sinyal provider di sini…

Tidak, jika Anda bergeser sedikit dari sini, Anda akan mendapat sinyal handphone. Memang ada tempat-tempat tertentu agar Anda bisa mendapat sinyal di sini. Dua tahun lalu sinyal bagus di sini, bahkan 4G, namun ketika tower tersambar petir di Maratua, mereka belum menggantinya lagi.

Omong-omong, bagaimana dengan staf di sini, dari mana mereka berasal?

Lebih setengahnya dari Maratua. Ada juga dari Jawa tapi mayoritas Maratua. Selebihnya dari Sulawesi, Sumatra. Masalahnya dengan orang Maratua, sebagian tidak berpendidikan sementara kami memerlukan orang yang fasih berbahasa Inggris. Dalam industri seperti ini, petugas memiliki pekerjaan yang bersinggungan langsung dengan tamu dari Eropa.

Namun, kami cenderung mempekerjakan orang lokal. Orang lokal yang lebih disukai tamu. Demikian pula perlakuannya untuk urusan dapur. Meski tamu kami dari Eropa, menu makanan tetap ciri Indonesia atau Asia. Namun, lokal bukan berarti spesifik ke masakan Jawa atau Sulawesi. Terkadang, makanan Asia seperti Jepang, Filipina disuguhkan.

Tamu dari Eropa bukan ke sini untuk makan masakan Eropa tapi untuk makan masakan lokal. Begitu juga denganmu, jika Anda pergi ke Swiss, pasti Anda mencari makanan khas Swiss, bukannya nasi goreng.

Ha..ha..ha.. Tentu saja. Tapi, apa makanan favoritmu?

Saya pikir, ketika sudah masuk ke dapur, makanan favorit saya adalah nasi padang. Lezat.

Lantas sudah ke mana saja di Indonesia?

Saya hanya tahu Gili, Bali. Saya pernah sehari di Surabaya, beberapa hari di Balikpapan dan Berau. Selebihnya di sini.

Yang mana favoritmu?

Sulit dikatakan. Saya tak suka Bali, terlalu ramai dan terlalu banyak orang Australia. Saya lebih suka yang seperti ini. Lebih rileks dan tak ramai. Nyaman bisa bersantai tanpa ada orang Australia mabuk-mabukan.

Boleh mabuk di pulau ini?

Kami menyediakan alkohol.

Dari mana sumber listrik?

Kami memproduksinya. Kami punya generator besar di sini. Kami juga membuat penyulingan air dari laut.  Seluruhnya kami lakukan sendiri. Di dapur, distribusi bahan makanan datang dua kali seminggu. Sekali seminggu juga ada kiriman dari pasar di Berau dan ketika Sabtu tak ada penerbangan, kami melakukan pengiriman dari Balikpapan.

Omong-omong, bagaimana dengan pengunjung lokal ke pulau ini?

Kami mengizinkan wisatawan lokal memasuki pulau ini, bahkan tak menarik retribusi. Namun, kami punya peraturan. Misalnya, area kolam renang yang ditutup untuk jalan-jalan. Juga bungalo. Jika ada yang tinggal di sana tentu mereka tak suka melihat orang mendudukinya.

Orang Indonesia tak masalah datang ke pulau ini dan tak harus membayar. Namun, mereka harus mematuhi aturan kami. Di resort ini kami tak memperkenankan puntung rokok dibuang sembarangan, tak diperkenankan meninggalkan sampah plastik. Kalau orang-orang mematuhi aturan ini, kami tak melakukan apa-apa. Berita yang muncul di televisi itu adalah kebohongan. Kita sangat tahu bagaimana reputasi televisi tersebut.

Kami tahu bahwa pemerintah sangat terbuka dengan investasi asing di negeri ini. Sebagai media, kami menyadari pentingnya menjaga kondusivitas bisnis…

Indonesia tanpa investasi asing akan sangat sulit. Tak perlu bicara Indonesia dalam skala yang lebih besar. Level yang lebih kecil di Maratua, airport ada di sini karena kami selalu mendesaknya hingga kemudian terbangun bandara. Begitu sudah jadi, kami merasa perlu membawa penerbangan ke sini. Maka kami mencarter pesawat dan itu tak murah.

Kami sebagai orang asing tentu harus beradaptasi dengan budaya Indonesia, dengan tradisinya. Tapi, di sisi lain, Indonesia harus memaklumi jika kami menjalankan bisnis dengan gaya Eropa karena tamu-tamu kami juga berasal dari Eropa.

Memang sulit bagi (Presiden) Jokowi (Joko Widodo). Indonesia memiliki 17 ribu pulau dan harus membawa infrastruktur ke pulau-pulau ini, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan itu semua perlu uang.

Dari sektor pariwisata, bagaimana Anda melihatnya?

Kita punya masalah lain di Indonesia. Bahwa 90 persen anggaran untuk pariwisata dari pemerintah, lari ke Bali. Bali, Bali, dan Bali. Bali tak lagi perlu investasi. Kita harus tumbuh ke kawasan lain. Itulah masalah nasional dan perlu waktu lama untuk membenahinya. (tim kp)


BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 11:26

Terancam Izinnya Dicabut, 50 Perusahaan di Kariangau Dievaluasi

SAMARINDA - Pemerintah Provinsi Kaltim berencana evaluasi sekitar 50 izin…

Minggu, 16 Desember 2018 08:26

Daftar Pemilih Tetap Naik 5,7 Juta

BUTUH 101 hari bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bolak-balik…

Sabtu, 15 Desember 2018 18:05

Bisakah Tol Balikpapan-Samarinda Dipakai Fungsional Saat Natal?

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda saat ini tengah dalam proses pengerjaan. Tol…

Sabtu, 15 Desember 2018 17:20

DPK Kaltim dan Kaltara di Bank Terkumpul Rp 98,82 Triliun

SAMARINDA - Hasil penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di…

Sabtu, 15 Desember 2018 10:41

ALHAMDULILLAH..!! Proyek Jalan Menuju Jembatan Pulau Balang Boleh Dilanjutkan

SETELAH mencapai kesepakatan dengan pemilik lahan, Panitia Pengadaan Lahan Pulau…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:30

Tiket Pesawat via APT Pranoto Lebih Mahal

SAMARINDA  –  Harga tiket pesawat lewat Bandara APT Pranoto Samarinda…

Sabtu, 15 Desember 2018 06:09

Kinerja Industri Non-migas Membaik

SAMARINDA  -   Kinerja industri pengolahan non-migas mulai menunjukkan perbaikan.…

Jumat, 14 Desember 2018 22:17

Pendirian Pabrik Semen di Kutai Timur Berlanjut

SAMARINDA - Tidak lama lagi, pabrik semen yang pertama di…

Jumat, 14 Desember 2018 22:14

Gubernur Tanya Isu Sawit ke Dubes Belgia, Begini Jawabannya...

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor melakukan pertemuan dengan Dubes…

Jumat, 14 Desember 2018 09:57

Bos Bank Indonesia Bilang, Harga Tiket Pesawat 2,1 Juta Masih Wajar

SAMARINDA - Gubernur Kaltim Isran Noor rapat bersama dengan Tim…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .