MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 12 April 2018 08:20
Konde Versus Cadar, Polemik Puisi Sukmawati

PROKAL.CO, Oleh: Rusdi Abdullah Minda, MSI, Dosen IAIN Samarinda

KASUS kontroversi kembali terjadi. Beberapa hari ini, kita disuguhi pemberitaan hangat tentang puisi Ibu Sukmawati, putri Sang Proklamator RI yang diberi judul IBU INDONESIA. Oleh sebagian kalangan, puisi ini dianggap hal yang biasa karena merupakan karya sastra yang menjadi ruang seseorang mengekspresikan pikiran, jiwa, perasaan. Perpaduan antara pikiran dan rasa ini dituangkan dalam untaian bait-bait puisi yang penuh makna. Rangkaian kata dan kalimat yang indah ini lahir dari sebuah ekspresi mendalam melalui proses renungan dan imajinasi sehingga melahirkan karya yang patut diapresiasi.   

Di sisi lain, pilihan kata yang digunakan dalam sebuah puisi, bisa saja memiliki kandungan makna yang beragam, apalagi jika puisi telah menembus ruang-ruang pembaca dan berkelindan dengan situasi psikologis yang dialami oleh pembacanya. Di sinilah, terjadi interpretasi isi puisi yang menilai puisi ini mengandung unsur SARA, karena telah menyinggung umat melalui simbol agama dan memberikan pilihan kata yang mendiskreditkan cadar dan azan dengan sari konde dan kidung.

Konde dan kidung adalah simbol budaya bangsa. Sementara cadar dan azan adalah simbol agama Islam. Jika dinilai cadar tidak lebih indah daripada konde, maka bisa saja orang menilai telah melakukan penghinaan terhadap Islam, karena cadar adalah salah satu terjemahan dari perintah menutup aurat sebagaimana dijelaskan 4 imam di dalam mazhab Islam. Demikian pula, jika azan tidak lebih baik daripada kidung, maka orang mempersepsikan telah terjadi penistaan agama, karena azan merupakan panggilan mulia untuk salat berjamaah di masjid, suatu panggilan yang sangat disakralkan oleh umat Islam.

Penulis puisi mungkin saja tidak bermaksud menyinggung perasaan umat Islam, tetapi jauh lahir dari situasi kejiwaan sang pemilik puisi yang melihat nilai-nilai kebangsaan mulai pudar. Saat ini, terindikasi munculnya paham-paham yang anti-kebangsaan. Geliat penyebaran paham yang dianggap antitoleran bisa saja menjadi pemicu lahirnya puisi ini. Kekhawatiran terhadap isu arabisasi budaya Indonesia, barangkali juga yang mendasari lahirnya puisi ini. Fobia terhadap Islam dari ideologi-ideologi gerakan Islam, mungkin bisa saja yang menyebabkan puisi ini dibuat. Mungkin juga beberapa alasan lainnya.

Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan, karena Islam sendiri tidak berbenturan dengan persoalan kebangsaan. Suatu hal penting adalah Indonesia tidak boleh dipolarisasi dengan agama, terutama agama Islam, karena Islam sendiri berkonstribusi terhadap berdirinya Negara Indonesia. Ungkapan ‘atas berkat Rahmat Allah ‘ dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945 cukuplah menjadi bukti bahwa negara ini dibangun di atas nilai-nilai fondasi agama. Negara pun secara formal memberi ruang yang luas untuk ekspresi keagamaan dalam berbagai bentuknya.  

Konde adalah fakta ragam budaya Indonesia yang tidak pernah digugat oleh orang Islam mana pun, perempuan yang mengenakannya terlihat cantik dan anggun. Tetapi bagi Islam, kecantikan dan keanggunan memilih cara untuk membalutnya dalam jilbab maupun cadar. Dengan demikian, konde tidak perlu dipertentangkan dengan cadar, karena satu pihak merupakan penjelmaan budaya bangsa, pihak lain sebagai budaya agama. Pemakai konde menjunjung tinggi budaya bangsanya, pemakai cadar meyakininya sebagai bagian dari perintah Illahi yang terekspresi dalam budaya Islam. Kidung pun tidak perlu dinilai lebih merdu daripada azan, karena azan adalah panggilan ritual yang sangat sakral dan mulia. Sentimen agama menyebabkan umat Islam merasa terusik manakala ada upaya menegasi sakralitas azan sebagai bagian dari keyakinannya.

Dengan demikian, perlu dikedepankan sikap yang bijak dalam mengekspresikan pikiran dan rasa agar tidak membangkitkan sikap apriori dan sentimen keagamaan. Jika belum mampu memilih sikap meninggikan Islam, paling tidak kita tidak merendahkannya dan tidak memosisikan pada level inferior dari yang lain, karena Islam merupakan sumber dari segala sumber kebenaran yang sangat dijunjung tinggi oleh pengikutnya. Mari instrospeksi diri agar hidup lebih berkesan, tidak saling menyalahkan yang akhirnya membuahkan perpecahan. (*/one/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:11

Berebut Suara Milenial di Pilpres 2019

PADA 20 September, KPU RI sudah menetapkan dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:10

Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kaltim

SETIAP 16 Oktober, dilakukan perayaan Hari Pangan Sedunia, termasuk Indonesia yang diselenggarakan di…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14

Bekal untuk Para Caleg 2019

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Tenggarong) KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07

Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

Oleh: Siti Subaidah(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .