MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 11 April 2018 09:25
Isra Mikraj, Tragedi Teluk, dan Banjir

PROKAL.CO, CATATAN: BAMBANG ISWANTO*

ADA tiga peristiwa pada Rajab 1439 H, yakni peringatan Isra Mikraj, tragedi Teluk Balikpapan, dan banjir yang melanda di sebagian daerah Kalimantan Timur. Satu peristiwa diselenggarakan hampir di seluruh dunia, dua lainnya dalam skala lokal.

Bagi umat muslim, peristiwa Isra dan Mikraj adalah peristiwa penting dalam sejarah perkembangan Islam. Dalam "Understanding the Islamic Experience" menyebut bahwa Isra Mikraj adalah satu dari tiga peristiwa monumental pengembangan Islam selain peristiwa hijrah dan haji wada (John Renard, 2002:124).

Menurutnya, Isra Mikraj merupakan titik balik syiar Islam. Peristiwa itu didahului embargo kafir Quraisy terhadap umat Islam di lembah Bani Hasyim. Embargo ekonomi-politik menyebabkan kondisi ekonomi umat Islam berada pada titik nadir serta menyebabkan syiar dan dakwah stagnan.

Muhammad SAW dan umat keluar dari embargo setelah dicabutnya penetapan embargo oleh kafir Quraisy. Lepas dari embargo, Nabi Muhammad kehilangan dua orang terdekat yang paling setia mendampingi berdakwah, yakni Siti Khadijah (istri) dan Abu Thalib (paman). Tahun wafatnya kedua tokoh kunci awal dakwah Islam dalam literatur sejarah Islam disebut 'Aamu al-Hazn' (tahun kesedihan).

Tidak lama setelah tahun kesedihan inilah Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa. Nabi menjumpai Allah di Sidratul Muntaha pada malam yang sama. Sepulang dari perjalanan spiritual luar biasa tersebut, Nabi Muhammad mendapat spirit baru dan kembali bersemangat menyiarkan Islam.

Peristiwa Rajab 1439 H lainnya adalah tragedi Teluk Balikpapan. Tragedi diawali dengan bocornya pipa milik Pertamina. Dari peristiwa ini terjadi kebakaran di area teluk dengan memakan korban kapal tanker. Kerugian material sangat kecil dibandingkan dengan korban jiwa sebagai dampak tragedi tersebut. Sampai ditutupnya pencarian oleh tim SAR, ditemukan lima korban jiwa. Harga lima jiwa yang meninggal tidak akan pernah bisa ditakar.

Sama halnya dengan korban jiwa, dampak lain yang sangat merugikan dan tidak ternilai harganya adalah kerusakan lingkungan. Area laut yang tercemar sampai terlihat jelas di citra satelit. Tidak kurang dari 12 ribu hektare wilayah teluk tampak menghitam karena tumpahan minyak (Kaltim Post, 6 April 2018). Cairan minyak yang tumpah ke laut juga mengakibatkan mati dan terancamnya ekosistem di sekitar teluk. 

Biota laut yang sudah langka dan menjadi ikon Kaltim seperti pesut dan lumba-lumba mulut botol juga turut menjadi korban pencemaran. Masih banyak biota laut yang menjadi bagian dari ekosistem teluk yang rusak bahkan mati. Bukan hanya laut yang tercemar, udara sekitar Balikpapan juga terpapar polusi.

Satu peristiwa lain di Rajab 1439 Hijriah adalah banjir besar di Kaltim. Sebenarnya banjir di Bumi Etam bukan peristiwa pertama. Sudah berkali-kali melanda, namun banjir di pengujung Maret adalah puncak prestasi banjir Kaltim.

Radius daerah bencana sangat luas. Di beberapa kabupaten, genangan air mencapai atap rumah. Samarinda sebagai ibu kota provinsi menjadi langganan banjir. Sebagian masyarakat sudah menganggap banjir Kota Tepian bukan sebagai kejadian luar biasa lagi.

Beberapa wilayah sudah menjadi langganan banjir, seperti kawasan Jalan Antasari, simpang empat Mal Lembuswana, Jalan DI Pandjaitan dan Mugirejo, serta kawasan banjir baru lainnya seperti simpang empat depan kampus 2 IAIN Samarinda. Ini bahkan sempat viral di medsos karena tidak pernah terjadi banjir serupa sebelumnya.

Saat banjir melanda, suasana Samarinda seperti lumpuh. Jalur-jalur simpul menuju pusat perkantoran, sekolah, dan sentra ekonomi terputus. Masyarakat seperti disajikan pemandangan pelebaran kawasan Sungai Mahakam.

Tiga peristiwa di atas bukanlah peristiwa yang asimetris, melainkan peristiwa yang saling terkait jika ditelaah secara mendalam. Satu sisi peristiwa Isra Mikraj di dalamnya terkandung hikmah yang sangat besar, termasuk bagaimana manusia diperintahkan oleh pemilik alam semesta untuk memelihara titipan alam sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab sebagai wakil Tuhan di muka bumi (khalifatullah fil ardh). Pengkhianatan terhadap amanah merupakan perbuatan keji dan munkar (al-fahsya' wal munkar).

MISI BESAR ISRA MIKRAJ

Informasi tentang Isra Mikraj ditemukan secara valid dalam teks keagamaan Alquran dan sunah. Banyak versi cerita yang bervariasi hasil dari interpretasi dua teks keagamaan tersebut. Seluruh mufasir dan pemberi informasi lainnya dari kalangan ulama bersepakat bahwa salah satu misi terbesar Isra Mikraj adalah tersebarnya hikmah salat bagi umat Nabi Muhammad.

Perintah mendirikan salat lima waktu bagi umat Islam diterima langsung oleh Nabi Muhammad dari Allah tanpa perantara sebagaimana perintah agama lainnya. Inilah yang menjadikan salat sebagai ibadah terpenting dalam Islam. Ibadah ini tidak tergantikan dan harus dilaksanakan selama seorang muslim masih bernapas. Tidak seperti ibadah lain yang masih boleh tidak dilaksanakan jika seorang muslim terkena beban hukum berhalangan.

Orang yang tidak tahan berpuasa wajib Ramadan karena alasan sakit menahun atau tua, misalnya, ada cara untuk menggantikan ibadahnya. Yakni dengan memberi makan orang yang tidak mampu (fidyah). Tapi, tidak demikian dengan salat. Sesakit apapun, setua dan sesusah apapun, tetap wajib didirikan. Namun, Allah selaku pembuat syariat memberikan dispensasi (rukhshah) bagi orang yang kesulitan mendirikan salat. Orang yang tidak kuat berdiri diizinkan duduk, yang tidak kuat duduk diringankan boleh berbaring, yang tidak bisa menggerakkan anggota badan diperkenankan salat dengan isyarat tubuh, bahkan hatinya.

Keistimewaan salat tidak hanya diukur dari metode penerimaan perintahnya, melainkan juga menjadi instrumen utama dan pertama pada evaluasi amal (hisab) pada hari perhitungan kelak. Dalam sebuah hadis disebutkan indikator pertama yang dikalkulasi adalah salat seorang muslim. (lihat Sahih An-Nasa’i hadis nomor 3991).

Diperintahkannya salat dengan cara istimewa tentu memiliki maksud dan tujuan khusus pula. Terdapat beberapa petunjuk maksud dan tujuan salat dalam Alquran. Di antaranya, pertama, salat didirikan agar manusia selalu ingat kepada Allah, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku” (lihat Q.S. 20: 14).

Ingat, yang dimaksud adalah selalu ingat kepada Zat, sifat-sifat, kenikmatan dan kebesaran, ancaman dan siksaan, hukum-hukum dan aturan yang telah ditetapkan Allah. Dengan mengingat (zikir), manusia menjadi tahu diri bahwa dia hanyalah hamba yang harus melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Zikir ini yang akan bisa mengantarkan hamba untuk senantiasa termotivasi mengabdikan dirinya kepada Allah.

Ketika salat dilaksanakan sesuai tuntunan, akan mengantarkan orang yang mendirikan salat mencapai tujuan salat yang kedua yaitu sebagai media yang membantu hamba berkomunikasi dengan Sang Khalik, dan membantunya menyelesaikan problematika kehidupan. Allah berfirman, yang terjemahannya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (lihat Q.S. 2:153).

Al-Qushairi dalam Kitab “al-Miraj” menyebut, salat sebagai mikrajnya umat Islam. Beliau ingin menganalogikan mikraj yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dapat dilaksanakan oleh umatnya dengan bentuk lain yaitu salat yang merupakan hakikat Isra Mikraj. Dengan salat, seorang hamba bisa berkomunikasi dengan Allah. Komunikasi vertikal transendental seperti ini sangat membantu seorang hamba menyelesaikan segala problematika hidup dan menjalani hidupnya dengan tenang.

Tujuan ketiga, perintah salat adalah mencegah perbuatan keji dan munkar, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar” (lihat Q.S. 29:45). Tujuan ini berkorelasi dengan tujuan kedua salat (mengingat Allah). Orang yang mendirikan salat akan takut berbuat hal-hal yang keji dan bertentangan dengan larangan Allah.

FAKTOR HUMAN ERROR

Bencana dan tragedi bisa terjadi karena dua faktor, yaitu alam dan kesalahan manusia. Ada yang murni karena faktor alam, murni karena faktor kesalahan manusia, dan ada pula kombinasi antara faktor alam dan manusia.

Menunjuk tragedi Teluk Balikpapan, hampir semua pengamat menyebutkan sebagai murni faktor human error. Ada kelalaian perawatan dan pengecekan pipa besar yang melintas di bawah laut. Proyek besar dan mengandung risiko besar seharusnya menerapkan tata kelola dan manajemen risiko tinggi.

Outcome dari minyak yang dihasilkan harus memperhatikan kaidah keselamatan ekstraketat. Jika tidak mampu menjamin keselamatan jiwa, keselamatan lingkungan dan ekosistem, lebih baik ditiadakan daripada mengorbankan keselamatan semuanya. Nilai ekonomis outcome dari produksi minyak sangat tidak sebanding dengan korban jiwa dan lingkungan.

Sedikit berbeda dari aspek faktor penyebab, banjir Kaltim merupakan gabungan antara peristiwa alam dengan faktor human error. Hujan peristiwa alam biasa. Kejadian alam biasa akan berubah menjadi bencana ketika hujan turun di daerah yang rusak keseimbangannya.

Peristiwa banjir bukanlah ahistoris. Sejarah panjang Kaltim ketika alamnya masih terjaga dengan baik, hutannya masih luas, daratan dan datarannya berfungsi sebagai penyangga air, tidak pernah terjadi bencana banjir seperti sekarang. Ketika seluruh penangkal bencana banjir dimusnahkan, maka keseimbangan alam hilang dan mendatangkan bencana banjir. Hujan yang semula adalah anugerah berubah menjadi bencana yang ditanggung oleh semuanya.

Pembalakan hutan secara masif, pembukaan kawasan tambang batu bara secara membabi buta dengan menggunduli hutan dan mengupas bukit menjadi lembah, pengalihfungsian kawasan resapan air menjadi kawasan permukiman, semuanya kontributor yang signifikan bagi hancurnya kawasan yang Tuhan sudah tata secara seimbang.

Akibat keserakahan ekonomi yang tidak mengindahkan nilai-nilai luhur agama menjadikan manusia sendiri yang menanggung akibatnya. Bencana merupakan konsekuensi logis yang sudah difirmankan oleh Allah, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (Q.S. 30:41)

BIJAKLAH KEPADA ALAM

Tragedi Teluk Balikpapan dan banjir Kaltim merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Kealfaan mengingat Allah sekaligus ketidakmampuan mencegah perbuatan yang menentang Allah sebagaimana yang diinginkan Allah dalam tujuan salat sebagai hakikat Isra Mikraj. Makna dan hakikat Isra Mikraj ditenggelamkan dalam genangan minyak tragedi teluk dan banjir.

Satu-satunya jalan untuk menghindari bencana yang lebih besar adalah kembali bertobat ke jalan Allah dengan benar-benar mendirikan salat. Orang yang mendirikan salat pasti akan arif dalam berinteraksi dengan alam.

Tidak ada istilah terlambat untuk memperbaiki keadaan. Jangan tunggu langit runtuh! (***/dwi/k8)

*) Penulis adalah dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 08:17

Satu Tahun Menyongsong Pemilu Serentak

OLEH: NOOR THOHA SPD SH(Ketua KPU Kota Balikpapan) SATU tahun menyongsong pemilihan umum legislatif…

Rabu, 11 April 2018 07:26

Konsekuensi Revolusi Industri (2-Habis)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) MENANGGAPI revolusi industri…

Selasa, 10 April 2018 08:16

Jika Sungai Mahakam Tanpa Ikan

Oleh: Etik Sulistiowati Ningsih SP MSi(Lecture and Enumerator Unmul Samarinda) MENYUSUR sepanjang Sungai…

Selasa, 10 April 2018 07:05

Konsekuensi Revolusi Industri (1)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) WALAU isunya sudah sedikit…

Minggu, 08 April 2018 07:55

Ketimpangan Akses Informasi Kesehatan

CATATAN: dr DANIAL* BEBERAPA waktu lalu, kesedihan menimpa seorang kerabat penulis. Betapa tidak, sang…

Jumat, 06 April 2018 08:40

Mewaspadai Politisasi Agama dalam Pilgub Kaltim

 OLEH: BAMBANG ISWANTO(Pemerhati Pemilu, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda) PROGRES…

Kamis, 05 April 2018 05:29

Retorika Nyinyir vs Retorika Data

OLEH: SYAMSUL RIJAL(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)SERANGAN memang tidak melulu tentang…

Selasa, 03 April 2018 07:46

Menyambut Mal Pelayanan Publik di Kaltim

OLEH: RUSTAN AMARULLAH(Peneliti Birokrasi & Manajemen Pelayanan Publik-PKP2A III LAN) SETIAP kita…

Senin, 02 April 2018 08:57

Jadi Korban Skimming adalah Salah Kita Semua

OLEH: FIRDA Z. ABRAHAM(warga Samarinda yang menjadi peneliti di Kementerian Komunikasi dan Informatika…

Senin, 02 April 2018 07:21

100 Hari Blok Mahakam

CATATAN: SUHARYONO SOEMARWOTO TANCAP Gas. Itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan 100 hari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .