MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 10 April 2018 08:46
Minyak di Bawah Laut

PROKAL.CO, Oleh: M Ibrahim, wartawan Kaltim Post

DARI catatan Kaltim Post, kasus berskala internasional pernah diungkap jajaran Polda Kaltim dan Bareskrim Mabes Polri pada Oktober 2005 lalu. Yakni pencurian dan penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) hingga negara rugi triliunan rupiah.

Salah satu modusnya adalah menyedot minyak Pertamina melalui pipa bawah laut sepanjang kurang lebih 18 kilometer dari kilang Balikpapan Pertamina RU V menuju Centralized Crude Terminal (CCT) Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara (PPU).

Dikabarkan, pipa tersebut putus di kedalaman 20-25 meter ini diperkirakan, tumpahan minyak puluhan ribu ton mencemari Teluk Balikpapan, hingga lima nelayan tewas akibat terjebak api yang berkobar pada 1 April 2018 lalu.

Pipa berusia 20 tahunan berdiameter kurang lebih 20 inci, ketebalan 12 mm, berbahan baja ini bergeser 100 meter. Pipa ini sangat bermanfaat untuk mengaliri ribuan ton minyak melalui bawah laut.

Kala pengungkapan kasus tadi, minyak itu dialirkan ke kapal-kapal tanker, kemudian dijual ke luar negeri. BBM diselundupkan ke tanker melalui pipa bawah laut.

Para kapten kapal tanker itu, kebanyakan mantan kapten tanker milik Pertamina. Dengan begitu, mereka bisa tahu persis jadwal dan unsur bongkar muat minyak lepas pantai. Mereka menggunakan pompa berkekuatan sangat besar.

Menyedot 3.000 ton BBM hanya butuh waktu dua jam. Semua aksi dilakukan pada tengah malam. Dari penyidikan kala itu, kapal MV Tioman diketahui, pengisapan minyak lewat pipa bawah laut sudah terjadi sejak 2004.

Awalnya, penangkapan kapal MV Tioman di perairan Pulau Bintan, Batam, 27 Agustus 2005. Kemudian dikembangkan, kapal MT Rejoice juga menyedot 2.500 ton.

Desember 2004, kapal tersebut kembali menyelundupkan 2.600 ton. Selanjutnya, Maret 2005, MT Sun Rise membawa 2.300 ton. Juni 2005, lagi-lagi, MT Sun Rise mengangkut 2.400 ton.

Dari gelar perkara, polisi menetapkan 14 tersangka. Mereka adalah Sumardiono (pengawas jaga Terminal Lawe-Lawe), Abdul Fattah (staf operasi tangki), Junaidi (staf operasi utilisasi), Selamet Ramdhani (staf operasi utilisasi), Ratumbanua (staf operasi utilisasi), Silalahi M (nakhoda tug boat Leo Mariner), Suparno (kepala kamar mesin Tanjung II).

Lima lainnya, pekerja kontrak dan langsung dipecat. Mereka adalah Kasman (juru mudi), Mulyanto (juru masak), Akalim O L (juru mudi), Musani (masinis), Abdullah T (juru minyak).

Dari penelusuran Kaltim Post, kejahatan itu berawal dari permintaan Mr Lie asal Singapura yang menelepon Fredy dan Sumardiono. Fredy sebagai broker. Disepakati, harga pembelian minyak mentah USD 35 per barel.

Kesepakatan melalui telepon itu berlanjut dengan pertemuan langsung. Pertama di Jakarta pada Juni, berlanjut Juli di Balikpapan. Setelah sepakat, Mr Lie memberikan dana operasional awal Rp 150 juta. Kemudian, ditambah Rp 200 juta.

Modusnya, tersangka utama melibatkan operator terminal atau orang ahli yang tahu soal teknis pendistribusian minyak dari tangki ke tanker. Keuntungan yang diperoleh, tentu sangat besar.

Sebab, minyak yang diselundupkan tersebut tergolong BBM bersubsidi.
Kala itu, total 18 pegawai Pertamina ditahan dalam kasus penyelundupan BBM. Mereka adalah 12 orang tersangka di Polda Kaltim, 2 orang di Mabes Polri, dan 4 orang di Polda Jawa Tengah.

Jumlah tersebut merupakan bagian dari 58 tersangka yang ditangani polri. Mereka tersebar di beberapa polda. Antara lain, Polda Sulsel 11 orang, Polda Jatim 12 orang, Polda Kepri 12 orang, dan Polda Kaltim 12 orang.

Dari rekonstruksi dilakukan penyidik, minyak mentah dari tanker masuk lewat single buoy mooring (SBM) ada di tengah laut. Keran di bagian pangkal pipa itu ditutup, sehingga minyak mentah tidak bisa mengalir ke Terminal Lawe-lawe. Dalam kondisi keran ditutup, volume minyak mentah dalam pipa itu ada 92.000 ton.

Apakah dugaan aktivitas 2004-2005 itu terulang di 2018? Hingga terjadi salah prosedur kemudian diduga pipa pecah dan putus? Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kaltim Kombes Pol Yustan Alpiani enggan menyimpulkan.

“Kami masih lakukan penyelidikan. Dugaan tersebut tentu didukung bukti. Apa penyebab putusnya, sedang didalami,” jelas Yustan. (aim/one/k15)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .