MANAGED BY:
RABU
22 AGUSTUS
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 10 April 2018 08:16
Jika Sungai Mahakam Tanpa Ikan

PROKAL.CO, Oleh: Etik Sulistiowati Ningsih SP MSi
(Lecture and Enumerator Unmul Samarinda)

MENYUSUR sepanjang Sungai Mahakam yang membentang melalui lima wilayah administratif menggugah kesadaran bahwa kekayaan sumber daya alam Kaltim sangat luar biasa, namun sayangnya belum terkelola dengan baik. Kekayaan SDA yang menjadi semacam kutukan karena tak mampu memberikan kesejahteraan bagi warga yang tinggal di pinggirannya.

Ironi, sungai sepanjang hampir 1 juta kilometer dengan lebar sekitar 30 meter kini bahkan tidak mampu lagi menjadi sumber mata pencarian utama. Bahkan, warga beberapa kampung harus pindah ke aliran sungai utama karena danau yang dulu mereka diami dari generasi ke generasi, kini tercemar akibat pembukaan perkebunan kelapa sawit berskala besar di area pinggiran sungai. Namun, lagi-lagi, di daerah baru ketika mereka mencoba membudidayakan ikan di dalam keramba, mereka mengalami kebangkrutan karena ikan-ikan mereka mati akibat sedimentasi yang terlalu masif. Kandungan lumpur yang berlebihan menghalangi insang untuk menyaring udara di dalam air.

Cerita demi cerita tentang ikan yang tidak lagi banyak ditemukan mengalir dari mulut nelayan dan keluarganya. Lalu, masihkah Sungai Mahakam mampu menopang kehidupan mereka di masa mendatang? Apa alternatif mata pencarian setelah perikanan tak mampu lagi menjadi mata pencarian utama? 

Kini warga pinggiran sungai tampak mulai memanfaatkan lahan-lahan hutan di pinggiran sungai. Mereka memanfaatkannya sebagai lahan pertanian. Dengan latar belakang sebagai nelayan, cara bertani mereka tampak masih sederhana. Sebagian besar menanam jagung tetapi ada juga yang menanam singkong, labu, semangka, pisang, dan tanaman sayur-sayuran. Selain bertani, sektor usaha rakyat yang tampak tumbuh dengan pesat adalah sarang burung walet.

Ditimbang dari strategi adaptasi nelayan terhadap fenomena menurunnya populasi ikan, pergantian dari mata pencarian berbasis perikanan menjadi berbasis pertanian bernilai positif secara ekonomis dalam mempertahankan ketahanan ekonomi keluarga. Namun, di sisi lain, pergantian tersebut tampaknya akan mengancam keberlanjutan sistem perikanan itu sendiri. Ancamannya berupa meningkatnya laju abrasi, sedimentasi dan pencemaran akibat penggunaan bahan-bahan kimia pertanian.

Sedimentasi terjadi melalui proses yang panjang. Diawali dengan pembukaan vegetasi alami di pinggiran sungai yang mampu menahan laju abrasi, seperti pohon-pohon berakar tunggang, pohon bambu, dan pohon galam. Penebangan pohon tersebut secara perlahan mengikis bibir sungai. Tanah yang terbawa arus sungai menabrak tempat ikan memijah yang biasanya terletak di pinggir sungai. Sedimen yang terbawa arus ke pinggir sungai, juga mengancam ikan-ikan yang dibudidayakan di dalam keramba. Kadar tanah yang sangat tinggi di dalam air menyebabkan ikan sulit bernapas, hingga akhirnya mengalami kematian.

Tidak hanya mengganggu kehidupan ikan di sungai, sedimen yang terbawa arus hingga muara, menyebabkan pendangkalan-pendangkalan di muara dan pesisir laut. Sebagaimana yang terjadi di sungai, sedimen yang terbawa ke pesisir dan laut juga merusak habitat ikan dan bahkan terumbu karang.

Oleh karenanya, strategi adaptasi mata pencarian nelayan Sungai Mahakam dari yang semula berbasis perikanan menjadi berbasis pertanian perlu dipertimbangkan lagi karena ia mempunyai efek domino bagi keberlanjutan sistem perikanan. Dan, bahkan dalam jangka panjang ia juga berdampak pada sistem perairan terbuka yang sangat penting bagi siklus hidrologi.

Pesut sebagai indikator berkurangnya jumlah ikan

Ikan-ikan kecil merupakan sumber makanan bagi pesut. Berkurangnya jumlah pesut di Sungai Mahakam bisa menjadi indikator berkurangnya populasi dan jenis ikan-ikan kecil. Ikan botia, beunteur, bilih, depik, genggehek, hampal, kencere, koan, dan lalawak sudah menghilang dari perairan Sungai Mahakam sejak sebelum tahun 2007. Sementara itu, ikan siluk mulai menghilang sejak 2009. Jelawat cenderung berkurang di semua daerah kecuali di Kutai Kartanegara. Sementara itu lalang, mas, nilem, parang, paray, rapang, tawes, sili, gurame, tempe, lempuk dan sumpit hanya ada di daerah tertentu saja.

Akar penyebab berkurangnya ikan

Berdasarkan data statistik perikanan tahun 2007 hingga tahun 2015 jumlah rumah tangga nelayan (RTP), nelayan, alat tangkap dan trip penangkapan cenderung turun. Sebaliknya, jumlah produksi hasil tangkapan ikan di perairan umum menunjukkan kecenderungan semakin naik. Secara statistik, berkurangnya jumlah nelayan yang beroperasi di perairan umum di Sungai Mahakam konsisten dengan apa yang terjadi di wilayah perairan darat maupun laut secara lokal, nasional maupun internasional. Secara lokal, komunitas nelayan Sungai Mahakam menyatakan, bahwa semakin tahun jumlah ikan semakin berkurang. Sementara, peningkatan hasil tangkapan nelayan tidak berarti bahwa populasi ikan semakin bertambah, tetapi hal tersebut disebabkan oleh jumlah nelayan yang semakin berkurang. Oleh karena jumlah nelayan berkurang, maka hasil tangkapannya meningkat.

Adapun penyebab dari berkurang dan menghilangnya banyak jenis ikan bisa dikategorikan sebagai penyebab internal dan eksternal. Penyebab internal, berasal dari penangkapan ikan secara tidak bijaksana dengan menggunakan alat-alat tangkap ilegal seperti bom ikan dan setrum. Perdebatan tentang manakah yang menjadi penyebab tidak menjustifikasi perilaku nelayan dalam mengebom dan menyetrum ikan –sebab ikan berkurang maka bom ikan dan setrum menjadi marak. Ataukah sebab bom ikan dan setrum marak maka ikan berkurang?– secara ekologis, penggunaan kedua alat tangkap ilegal tersebut sangat mengganggu populasi ikan.

Secara eksternal, berkurangnya ikan dirasakan oleh masyarakat sejak beroperasinya perusahaan tambang batu bara di banyak daerah aliran sungai. Dampaknya tidak dirasakan secara langsung, namun bisa diurai dari: Pertama, partikel-partikel kimia yang terbawa aliran air hujan perlahan tapi pasti mengalir ke Sungai Mahakam. Kedua, pengangkutan batu bara melalui sungai meniscayakan tumpahnya pecahan batu bara ke dalam sungai.

Selain itu, berkurangnya ikan sangat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di Desa Ohong terlebih setelah beroperasinya perkebunan kelapa sawit yang dibuka di atas lahan gambut. Pembukaan lahan tersebut menyebabkan air dari lahan gambut yang bersifat sangat masam masuk secara berlebih, ke aliran sungai sehingga menyebabkan kematian ikan.

Sampah sungai

Faktor eksternal yang juga ditengarai menyebabkan menurunnya jumlah ikan adalah meningkatnya jumlah sampah di dalam aliran sungai. Berdasarkan data dari Badan Wilayah Sungai (BWS) III area Kalimantan, terdapat ribuan desa yang secara definitif terdapat di pinggiran Sungai Mahakam. Dengan perilaku masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di rakit, yang membuang sampahnya secara langsung ke dalam sungai, maka bisa dibayangkan berapa ton sampah yang masuk setiap hari ke dalam aliran sungai. Dan kemudian sungai menjadi tempat sampah raksasa.

Tumpang-tindih kewenangan

Secara intrinsik, sungai sebagai common resources mempunyai potensi konflik kepentingan. Nelayan ingin mendapatkan ikan, pengusaha batu bara ingin memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi, masyarakat pinggiran sungai ingin menggunakan air sungai untuk air minum dan MCK, warga kota menginginkan keindahan sungai untuk melepas penat dan lain-lain. Tanpa manajemen pengelolaan yang memadai, sumber daya milik bersama pasti mengarah pada satu titik, yaitu kerusakan, bahkan kehancuran karena setiap orang berpikir untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Namun, kaidah ekologis mengatakan, bahwa bila pembangunan ekonomi melewati batas-batas ekologis, maka tidak ada yang akan didapatkan.

Sebanyak kepentingan individual terhadap Sungai Mahakam, sebanyak itu pula kelembagaan yang berwenang dalam mengelola Sungai Mahakam. Ikan yang hidup di sungai berada dalam kewenangan KKP, air yang mengalir di sungai, berada dalam kewenangan ESDM, pohon yang tumbuh di sepanjang sungai, ada dalam kewenangan dinas kehutanan, transportasi di sungai ada dalam kewenangan dinas perhubungan, izin pembukaan perkebunan di DAS ada dalam kewenangan dinas perkebunan, izin pembukaan tambang batu bara melalui dinas pertambangan, biodiversitas sungai berada dalam kewenangan BKSDA, dll.

Banyaknya kelembagaan yang mempunyai kewenangan atas objek yang berbeda, namun saling terkait, berdampak pada adanya semacam penelantaran atas objek. Kewenangan yang dimiliki menjadi semacam kewenangan semu diakibatkan oleh adanya beban tanggung jawab yang dibayang-bayangi oleh ketidakberdayaan yang akhirnya menyebabkan penelantaran atas objek.

Solusi

Berangkat dari beragam krisis permasalahan di atas dan dari peran penting Sungai Mahakam bagi perekonomian nasional, pemerintah pusat mengusung slogan one river one management yang dimotori oleh BWS Kalimantan III menginisiasi koordinasi semua kelembagaan yang kewenangannya berkaitan dengan sungai. Perkembangan sudah lebih baik, namun pengakuan atas hak masyarakat untuk mengelola sumber daya alam tampaknya belum terakomodasi dalam pendekatan yang dilakukan oleh BWS. Hal tersebut tampak dari kurangnya keterlibatan masyarakat pelaku perikanan dalam pengambilan keputusan atas rehabilitasi ekosistem sungai.

Namun, dengan caranya sendiri, nelayan dan pelaku perikanan mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah berkurangnya ikan. Terbukti secara statistik, jumlah rumah tangga pembudi daya ikan, pembudi daya ikan dan produksi budidaya ikan semakin meningkat sejak tahun 2007 hingga 2015. Selain beralih ke sistem pertanian, mereka juga beralih dari perikanan tangkap ke perikanan budi daya.

Tentang apakah mata pencarian alternatif ini mendukung keberlanjutan sistem perikanan atau tidak, sepertinya pengelolaan Sungai Mahakam secara kolaboratif antara kelembagaan pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, LSM dan swasta memang harus dilakukan. (*/one/k15)


BACA JUGA

Selasa, 21 Agustus 2018 08:11

Demokrasi ala Rasul

Oleh: Alias Candra(Dosen IAIN Samarinda) MEMINJAM istilah almarhum Sutan Bhatoegana, Pemilu 2014 dan…

Sabtu, 18 Agustus 2018 06:21

Memaknai 17 Agustus bagi Indonesia

Tanggal  17 Agustus 2018 masyarakat Indonesia merayakan hari kemerdekaan yang ke-73 tahun dan sudah…

Jumat, 17 Agustus 2018 07:18

Memaknai Kemerdekaan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO MM(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S-3–Doktor…

Rabu, 15 Agustus 2018 07:17

Karena Ayahku Seorang Veteran RI

OLEH: MUTHI' MASFU'AH(Koordinator Literasi DPW Kaltim dan Devisi Pengembangan Wilayah Literasi DPP Jakarta)…

Selasa, 14 Agustus 2018 07:14

Nilai Religius Membantu Kemajuan Peradaban

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM  tulisan saya yang dimuat…

Senin, 13 Agustus 2018 08:39

Membangun Safety Leadership di Dunia Pendidikan

OLEH: HENDRAJATI, S.Pd  (Pendiri dan Ketua Umum HSE Indonesi) KENAPA perlu? Pernahkah terpikir…

Senin, 13 Agustus 2018 08:36

Tips Memilih Ternak Kurban yang Baik dan Sehat

Oleh: drh Dwi Suryadi (Dokter Hewan Balai Karantina Pertanian Kelas I Balikpapan) IDULADHA merupakan…

Sabtu, 11 Agustus 2018 00:23

Mewujudkan Hemeroteca Nacional de Mexicodi Kaltim, Kenapa Tidak?

CONRADO SOL masuk ke sebuah gedung bangunan bergaya modern dengan nuansa warna cokelat kayu yang dominan.…

Kamis, 09 Agustus 2018 07:19

Jalan Spiritual Menuju Semangat Proklamasi

OLEH: RP YOHANES ANTONIUS LELAONA, SVD (Rohaniwan Warga Tenggarong)MENGAWALI tulisan ini, izinkan saya…

Selasa, 07 Agustus 2018 07:56

Kartesianisme

Oleh: Dr. Ir. Sunarto Sastrowardojo, M. Arch(Dosen Pascasarjana Perencanaan Wilayah, Unmul) KARTESIUS…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .