MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 10 April 2018 07:05
Konsekuensi Revolusi Industri (1)

PROKAL.CO, OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO
(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan)

WALAU isunya sudah sedikit kabur, implementasi sistem perdagangan terbuka dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak 2015 terus berprogres hingga kini. Jika diakumulasi, dampaknya dapat dikatakan kurang menguntungkan bagi struktur ketenagakerjaan Indonesia. Tak lain karena daya saing sumber daya manusia (SDM) kita masih belum kompetitif.

Jika menilik data nasional maupun daerah terkait komposisi tenaga kerja, posturnya masih didominasi pekerja berpendidikan sekolah dasar. Itu jelas tantangan terberat, terlebih dukungan anggaran maupun program pemerintah untuk mengubah kondisi tersebut, belum cukup memadai. Belum selesai antisipasi dampak kurang menguntungkan dari MEA, kini datang ”serangan” bernama Revolusi Industri 4.0.

Melansir data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah pengangguran nasional saat ini mencapai 5,5 persen, atau setara 7,04 juta orang per Agustus tahun lalu. Maraknya kemajuan sektor informatika dan aktivitas daring kerap dituding memiliki andil besar dalam memperbesar rasio pengangguran tersebut.

Namun belakangan, kita juga harus mengakui bahwa perkembangan teknologi menghadirkan peluang baru. Salah satu contohnya berbasis aplikasi daring, yang kini marak di berbagai wilayah di Indonesia. Di sisi lain, usaha kreatif dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dilaporkan terus tumbuh dan menyerap tenaga kerja.

Tren positif itu tentu patut kita jaga. Misalnya, dari sisi regulator, memudahkan mereka dalam permodalan dan pendampingan usaha. Jika berkembang, bukan tak mungkin sektor yang semula dipandang sebelah mata ini akan menjadi sasaran utama investor pada masa mendatang.

Terkait Era Revolusi Industri 4.0 yang disebut mulai pada 2020 nanti, memang menuntut transformasi yang serbadigital dan sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut aksi transformatif, agar tak memakan korban dan memicu residu industrialisasi.

Memang, ada beberapa jenis pekerjaan lama yang hilang, diikuti munculnya pekerjaan baru. Adapun peluang baru itu, tentu hampir semuanya bersentuhan dengan digitalisasi, dan memanfaatkan penggunaan teknologi.

Menurut World Economic Forum (WEF) pada Januari 2016, diperkirakan akan ada sekitar 35 persen keahlian yang kelak tak lagi dianggap penting, karena tergantikan oleh teknologi. Yang lebih berperan adalah kecerdasan buatan dan machine learning. Ada pula pengembangan robotika, transportasi autonomous, advanced materials, bioteknologi dan genomic, yang bakal berperan besar dalam revolusi industri generasi keempat.

Tak hanya kompetensi utama, soft skill harus dipersiapkan. Setidaknya, ada 10 (sepuluh) untuk menjawab tantangan dunia industri dari sudut pandang ini. Yakni, keterampilan menyelesaikan permasalahan yang kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen SDM, koordinasi, kecerdasan emosional, pengambilan keputusan, orientasi pada layanan, negosiasi, dan kelenturan berpikir. Hal-hal tersebut ini akan berdampak negatif terhadap ketenagakerjaan, jika tidak dipersiapkan secara cermat, fokus, terus-menerus, bertingkat, dan sungguh-sungguh.

Hasil studi McKinsey menyebut, 52,6 juta lapangan pekerjaan terancam tergantikan otomatisasi. Jumlah itu setara 52 persen angkatan kerja di Indonesia. Artinya, separuh peluang kerja bisa digantikan otomatisasi.

Misalnya, kasir di gardu tol menganggur karena pengguna jalan tol diwajibkan menggunakan e-money (kartu elektronik). Jika dulu kantor bank dipenuhi antrean nasabah untuk menarik, menyetor, dan mentransfer uang, saat ini nasabah cukup melakukannya di mesin ATM, aplikasi mobile banking, atau internet banking.

Penggunaan robot dalam industri manufaktur akan berdampak sangat signifikan terhadap efisiensi biaya. Selain bisa dioperasikan selama 24 jam tanpa henti, pengusaha juga tak perlu dipusingkan dengan kenaikan biaya upah buruh setiap tahun, yang sering berujung aksi demonstrasi pekerja, dan akhirnya menurunkan produktivitas.

Dampak-dampak kuno di atas, pada akhirnya akan merugikan konsumen. Di sisi lain, pembaruan juga akan menguntungkan kalangan pemakai. Dengan biaya produksi yang semakin efisien, beban harga produk juga akan semakin murah.

Contoh lain, kita juga bisa lihat toko-toko sudah mulai tutup. Tergantikan online shope yang menjamur dengan berbagai platform.

Namun, banyak perusahaan yang tidak serta-merta mengambil reaksi praktis seperti PHK. Perlu diapresiasi, bahwa sebagian dari mereka melakukan upskilling agar kemampuan SDM meningkat dan sesuai kebutuhan serta perkembangan zaman. Hal itu perlu dilakukan agar era Industri 4.0 tak berbuntut goncangan usaha atau business shock. Menurut hemat penulis, adaptasi itu perlu dilakukan semua jenis industri. (***/man/k8/bersambung)

*Penulis adalah pengurus Serikat Pekerja Pertamina Hulu Mahakam (SP-PHM), juga tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti.

loading...

BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 10:51

Istana Galau?

Oleh  :Tony Rosyid Pendaftaran pilpres sekitar 3 bulan lagi. Tim Jokowi intens melobi partai-partai…

Jumat, 20 April 2018 09:25

Jangan Buat Kartini Menangis

CATATAN: BAMBANG ISWANTO (*) MEMBAHAS RA Kartini, biasanya yang terbayang adalah kisah perjuangan emansipasi…

Kamis, 19 April 2018 11:30
Polemik Tanggal HPN

Momentum 9 Februari Tak dapat Tergantikan

POLEMIK  tanggal 9 Februari menjadi  Hari Pers Nasional (HPN) terus muncul tiap tahunnya oleh …

Kamis, 19 April 2018 08:26

Stop Kekerasan terhadap Anak

OLEH: NURHALIFAH(Pengajar Taman Pendidikan Alquran di Sangatta) SEJATINYA, pesantren merupakan sekolah…

Rabu, 18 April 2018 08:14

Masyarakat Cerdas Wujudkan Pemilu Berkualitas

OLEH: IVEN HARTIYASA PRIMA(Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mulawarman) SEMENJAK ditetapkannya…

Selasa, 17 April 2018 07:41

Menggali Potensi Wisata Desa Kedang Ipil

OLEH: YOHANES ANTONIUS LELAONA SVD(Rohaniwan Pencinta Budaya) DESA wisata Kedang Ipil berjarak kurang…

Senin, 16 April 2018 08:20

Membela Minoritas

OLEH: ARIFUL AMIN BILA kita mencermati perkembangan sosial masyarakat baik di media sosial maupun di…

Sabtu, 14 April 2018 06:00

Menjamin Perlindungan Perempuan dan Anak di Kaltim, Siapa Berani?

OLEH: SUWARDI SAGAMA SH MH(Ketua Program Studi Hukum Tata Negara/Siyasah)IAIN Samarinda PERHELATAN pilkada…

Kamis, 12 April 2018 08:20

Konde Versus Cadar, Polemik Puisi Sukmawati

Oleh: Rusdi Abdullah Minda, MSI, Dosen IAIN Samarinda KASUS kontroversi kembali terjadi. Beberapa hari…

Rabu, 11 April 2018 09:25

Isra Mikraj, Tragedi Teluk, dan Banjir

CATATAN: BAMBANG ISWANTO* ADA tiga peristiwa pada Rajab 1439 H, yakni peringatan Isra Mikraj, tragedi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .