MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 10 April 2018 07:05
Konsekuensi Revolusi Industri (1)

PROKAL.CO, OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO
(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan)

WALAU isunya sudah sedikit kabur, implementasi sistem perdagangan terbuka dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN sejak 2015 terus berprogres hingga kini. Jika diakumulasi, dampaknya dapat dikatakan kurang menguntungkan bagi struktur ketenagakerjaan Indonesia. Tak lain karena daya saing sumber daya manusia (SDM) kita masih belum kompetitif.

Jika menilik data nasional maupun daerah terkait komposisi tenaga kerja, posturnya masih didominasi pekerja berpendidikan sekolah dasar. Itu jelas tantangan terberat, terlebih dukungan anggaran maupun program pemerintah untuk mengubah kondisi tersebut, belum cukup memadai. Belum selesai antisipasi dampak kurang menguntungkan dari MEA, kini datang ”serangan” bernama Revolusi Industri 4.0.

Melansir data Kementerian Ketenagakerjaan, jumlah pengangguran nasional saat ini mencapai 5,5 persen, atau setara 7,04 juta orang per Agustus tahun lalu. Maraknya kemajuan sektor informatika dan aktivitas daring kerap dituding memiliki andil besar dalam memperbesar rasio pengangguran tersebut.

Namun belakangan, kita juga harus mengakui bahwa perkembangan teknologi menghadirkan peluang baru. Salah satu contohnya berbasis aplikasi daring, yang kini marak di berbagai wilayah di Indonesia. Di sisi lain, usaha kreatif dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dilaporkan terus tumbuh dan menyerap tenaga kerja.

Tren positif itu tentu patut kita jaga. Misalnya, dari sisi regulator, memudahkan mereka dalam permodalan dan pendampingan usaha. Jika berkembang, bukan tak mungkin sektor yang semula dipandang sebelah mata ini akan menjadi sasaran utama investor pada masa mendatang.

Terkait Era Revolusi Industri 4.0 yang disebut mulai pada 2020 nanti, memang menuntut transformasi yang serbadigital dan sangat cepat. Kondisi tersebut menuntut aksi transformatif, agar tak memakan korban dan memicu residu industrialisasi.

Memang, ada beberapa jenis pekerjaan lama yang hilang, diikuti munculnya pekerjaan baru. Adapun peluang baru itu, tentu hampir semuanya bersentuhan dengan digitalisasi, dan memanfaatkan penggunaan teknologi.

Menurut World Economic Forum (WEF) pada Januari 2016, diperkirakan akan ada sekitar 35 persen keahlian yang kelak tak lagi dianggap penting, karena tergantikan oleh teknologi. Yang lebih berperan adalah kecerdasan buatan dan machine learning. Ada pula pengembangan robotika, transportasi autonomous, advanced materials, bioteknologi dan genomic, yang bakal berperan besar dalam revolusi industri generasi keempat.

Tak hanya kompetensi utama, soft skill harus dipersiapkan. Setidaknya, ada 10 (sepuluh) untuk menjawab tantangan dunia industri dari sudut pandang ini. Yakni, keterampilan menyelesaikan permasalahan yang kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen SDM, koordinasi, kecerdasan emosional, pengambilan keputusan, orientasi pada layanan, negosiasi, dan kelenturan berpikir. Hal-hal tersebut ini akan berdampak negatif terhadap ketenagakerjaan, jika tidak dipersiapkan secara cermat, fokus, terus-menerus, bertingkat, dan sungguh-sungguh.

Hasil studi McKinsey menyebut, 52,6 juta lapangan pekerjaan terancam tergantikan otomatisasi. Jumlah itu setara 52 persen angkatan kerja di Indonesia. Artinya, separuh peluang kerja bisa digantikan otomatisasi.

Misalnya, kasir di gardu tol menganggur karena pengguna jalan tol diwajibkan menggunakan e-money (kartu elektronik). Jika dulu kantor bank dipenuhi antrean nasabah untuk menarik, menyetor, dan mentransfer uang, saat ini nasabah cukup melakukannya di mesin ATM, aplikasi mobile banking, atau internet banking.

Penggunaan robot dalam industri manufaktur akan berdampak sangat signifikan terhadap efisiensi biaya. Selain bisa dioperasikan selama 24 jam tanpa henti, pengusaha juga tak perlu dipusingkan dengan kenaikan biaya upah buruh setiap tahun, yang sering berujung aksi demonstrasi pekerja, dan akhirnya menurunkan produktivitas.

Dampak-dampak kuno di atas, pada akhirnya akan merugikan konsumen. Di sisi lain, pembaruan juga akan menguntungkan kalangan pemakai. Dengan biaya produksi yang semakin efisien, beban harga produk juga akan semakin murah.

Contoh lain, kita juga bisa lihat toko-toko sudah mulai tutup. Tergantikan online shope yang menjamur dengan berbagai platform.

Namun, banyak perusahaan yang tidak serta-merta mengambil reaksi praktis seperti PHK. Perlu diapresiasi, bahwa sebagian dari mereka melakukan upskilling agar kemampuan SDM meningkat dan sesuai kebutuhan serta perkembangan zaman. Hal itu perlu dilakukan agar era Industri 4.0 tak berbuntut goncangan usaha atau business shock. Menurut hemat penulis, adaptasi itu perlu dilakukan semua jenis industri. (***/man/k8/bersambung)

*Penulis adalah pengurus Serikat Pekerja Pertamina Hulu Mahakam (SP-PHM), juga tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti.

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14

Bekal untuk Para Caleg 2019

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Tenggarong) KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07

Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

Oleh: Siti Subaidah(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:05

Holding Migas dalam Perspektif Geopolitik dan Geostrategi Nasional

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3 Program…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:49

Siapa Bilang Kalimantan Aman Gempa?

Oleh: Sunarto Satrowardojo(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .