MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 09 April 2018 09:05
Memelihara Aset Daerah saat APBD Tumbang

PROKAL.CO, OLEH: AJI SOFYAN EFFENDI
(Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan & Keuangan Daerah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul)

DALAM situasi APBD tumbang alias defisit, apapun menjadi serba-sulit bagi penyelenggara pemerintahan. Semua program pembangunan dibatasi. Program pemangkasan menjadi jimat kepepet yang apa boleh buat harus dilakukan. Tidak sedikit organisasi perangkat daerah (OPD) kalang kabut menyesuaikan anggaran yang serba-minim.

Dalam situasi seperti ini, tidak banyak yang dapat dilakukan OPD selain pasrah. Yang penting, kerjaan rutin dan pelayanan bisa terlaksana.

Lalu, bagaimana nasib aset daerah yang membutuhkan perawatan seperti Hotel Atlit di Stadion Sempaja? Kemudian Stadion Palaran, dan banyak bangunan atau aset lain milik Pemprov Kaltim yang bernasib sama?

Persoalan ini bukan sesuatu yang sederhana. Ini persoalan serius karena menyangkut aset daerah dan aset rakyat Kalimantan Timur yang semestinya dipelihara dengan baik, sehingga bisa memberikan manfaat maksimal kepada pendapatan asli daerah dan pelayanan.

Problema ini bukan sekadar angin lalu yang dibiarkan terus terjadi setiap tahun dan setiap masa, sampai akhirnya kita kaget melihat nasib bangunan ini seperti tidak bertuan. Seram dan suram. Rumput tumbuh di mana-mana. Catnya terkelupas. Lampunya padam. Jangan ditanya airnya, syukur-syukur kalau kerannya masih ada.

Bahkan ada berita ternyata di daerah Stadion Palaran sekarang jadi tempat maksiat “truk bergoyang”. Nasib yang sedikit lebih baik terlihat di Hotel Atlit, walaupun sampai saat ini sempat dinegokan dengan pihak ketiga untuk operasional manajemen perhotelan. Namun, masih belum jelas juntrungnya bagaimana kerja sama tersebut.

Sebagaimana diketahui, ruang lingkup pemeliharaan barang milik daerah meliputi pemeliharaan ringan, pemeliharaan sedang, dan pemeliharaan berat. Pengguna barang dan/atau kuasa pengguna barang bertanggung jawab atas pemeliharaan barang milik negara yang ada di bawah penguasaannya. Pemeliharaan berpedoman pada daftar kebutuhan pemeliharaan barang (DKPB). Biaya pemeliharaan barang milik daerah dibebankan pada APBD.

Kuasa pengguna barang wajib membuat daftar hasil pemeliharaan barang yang berada dalam kewenangannya dan melaporkan/menyampaikan daftar hasil pemeliharaan barang tersebut kepada pengguna barang secara berkala.

Pengguna barang atau pejabat yang ditunjuk, meneliti laporan dan menyusun daftar hasil pemeliharaan barang yang dilakukan dalam satu tahun anggaran sebagai bahan untuk melakukan evaluasi efisiensi pemeliharaan barang milik daerah. Hal ini juga sudah tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006, dan Peraturan Menteri Keuangan RI No 96/PMK.06/2007 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan, Pemanfaatan, Penghapusan, dan pemindahtanganan Barang Milik Negara/Daerah.

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana halnya saat dengan pemeliharaan ringan saja uang APBD tidak ada? Tentu ini akan membuat kepala dinas yang diamanatkan aset tersebut pusing tujuh keliling karena nihilnya dana pemeliharaan. Kita mungkin dapat menelusuri kronologis masalah ini dengan sejarah atau konsep mengapa bangunan ini perlu dibangun. Tanpa memikirkan pemeliharaannya yang sangat membutuhkan biaya besar seperti Stadion Palaran. Sementara event pertandingan sepak bola Kaltim, atmosfernya termasuk lambat. Beberapa event nasional justru mempergunakan Stadion Segiri ketimbang Stadion Palaran yang saat itu diklaim sebagai stadion berkelas internasional, bahkan melebihi Gelora Bung Karno.

Berikut beberapa saran yang dapat dilakukan Pemprov Kaltim dalam menjaga dan memelihara aset daerah saat APBD tumbang:

HOTEL ATLIT SEMPAJA.

Khusus Hotel Atlit, sudah saatnya dikerjasamakan dengan pihak ketiga, sebagaimana rencana beberapa lalu yang sudah dirintis. Terutama dengan pihak swasta nasional yang profesional. Kendala yang jadi penghalang kerja sama ini harus dihilangkan. Apapun bentuknya. Sangat disayangkan kalau nasib Hotel Atlit ini terkatung-katung, “digawi kada kawa, dibiarkan hancur”.

Walaupun Pemprov Kaltim pada tahun-tahun tertentu tidak mendapatkan keuntungan atas kerja sama ini, tapi paling tidak, aset daerah dapat diselamatkan. Tentu kerja sama ini harus mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak dengan berpedoman pada peraturan dan undang-undang yang berlaku.  

Namun, opsi jangka pendek jika Hotel Atlit ini dikelola pihak ketiga, saya yakin nasibnya jauh lebih baik. Skema 5 tahunan bisa menjadi opsi. Misalnya, untuk 5 tahun pertama Pemprov Kaltim hanya mendapatkan kontribusi profit 15 persen. Menurut saya, tidak masalah. Kemudian pada tahun ke-6 dan seterusnya sudah memperoleh persentase yang lebih tinggi seiring semakin membaiknya sarana dan prasarana aset tersebut karena sudah ada “tuannya”.

Selain opsi di atas, tentu masih banyak opsi lainnya, seperti: sewa, pinjam pakai, KSP (kerja sama pemanfaatan), dan KSPI (kerja sama penyediaan infrastruktur). Masing-masing kerja sama ini memiliki plus-minus. Namun, yang terpenting bagi Pemprov Kaltim adalah aset-aset daerah yang membutuhkan perawatan dalam jangka pendek dan menengah ini dapat terselamatkan. Sebab, sifat bisnis hotel adalah spesifik, maka treatment-nya juga harus spesifik, layaknya bisnis di bidang jasa. Pelayanan dan sumber daya manusia hotel juga harus mumpuni. Saya meyakini, untuk urusan seperti ini akan dapat terealisasi dengan gampang manakala “Hotel New Atlit” sudah berjalan sebagaimana mestinya.

STADION PALARAN.

Nasib Stadion Palaran ini, kalau dalam dunia medis, sudah harus masuk ICU. Karena sudah “mati suri”. Tingkat kehidupannya hanya bergantung dari selang oksigen. Apabila selang ini dicabut, maka “innalillahi”.

Menyelamatkan Stadion Palaran harus extraordinary. Harus di luar kewajaran. Harus out of the box. Sifat fisik stadion adalah untuk olahraga, khususnya sepak bola. Nah, persoalannya terletak pada kekhasannya seperti itu. Pertandingan sepak bola, apapun namanya, apakah sepak bola dunia, sepak bola nasional, adalah industri hilir. Sementara stadion adalah industri hulu. Kedua hal ini saling melengkapi dan membutuhkan.

Mengingat industri sepak bola nasional, khususnya di Kaltim, tidak terlalu booming, bergantung dari PSSI. Pertandingan sepak bola insidentil, seperti Piala Gubernur Kaltim pun tingkat pemakaian Stadion Palaran juga sangat minim. Beberapa pertandingan justru memakai Stadion Segiri yang notabene lebih gampang dicapai oleh penonton dengan fasilitas yang masih sangat memadai, termasuk kuliner bagi penonton.

Kondisi seperti itu justru memperparah Stadion Palaran yang saat dibangun dulu memang hanya dipergunakan untuk keperluan PON Kaltim. Pemeliharaan stadion saat ini bergantung dari lintas sektoral. Selain dari OPD pemuda dan olahraga, juga ada KONI. Mungkin ada pihak lain juga. Namun, nasib akhirnya bergantung dari biaya pemeliharaan APBD Kaltim.

Menyerahkan pengelolaan Stadion Palaran kepada pihak ketiga sebenarnya sah-sah saja secara hukum. Namun, secara ekonomis dan finansial bagi pihak ketiga masih mikir seratus kali. Apa keuntungan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjangnya?

Kalaupun stadion mau difungsikan untuk aktivitas selain sepak bola, seperti sewa untuk konser musik, maka mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya. Rumput stadion pasti akan hancur dan fasilitas lain seperti lampu dan lain-lain, berpotensi terganggu, dan kegiatan yang begini juga sifatnya insidentil.

Oleh sebab itulah, suka atau tidak suka, mampu atau tidak mampu, mau atau tidak mau, Stadion Palaran harus ada solusinya. Itu artinya dana pemeliharaan ringan dan sedang tetap harus dialokasikan oleh APBD walau dalam keadaan defisit. Anggaplah ini investasi jangka panjang yang tidak akan berkesudahan, dengan harapan dunia sepak bola Kaltim bisa berbicara di kancah nasional bahkan internasional. Suatu saat kita perlu bermimpi, klub sepak bola Kaltim mampu mengalahkan klub sepak bola seperti Barcelona, karena di-back up oleh stadion yang canggih dan megah. (***)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .