MANAGED BY:
SELASA
19 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 09 April 2018 08:40
Generasi yang Memusingkan

PROKAL.CO, OLEH: CHRISNA ENDRAWIJAYA
(Dirut Kaltim Post)

BARU saja kita bicara generasi Z atau yang lahir 1996-2010, eh sudah muncul satu generasi lagi. Generasi Alpha. Yang lahir mulai 2011 dan diperkirakan hingga 2025. Topik ini sedang hangat-hangatnya dibahas di kelas-kelas marketing. Tak terkecuali di kelas S-3 Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman. Kebetulan saya mahasiswa di sana. Angkatan 17. Sudah dua semester ini.

“Mereka ini pewaris dunia selanjutnya,” kata Dr Sugeng Hariyadi, pengajar jurusan marketing. Penjelasan dosen yang pernah diajar langsung oleh Philip Kotler, guru marketing sejagat itu, terus terngiang. Apalagi calon penguasa dunia ini lahir 2,5 juta anak tiap minggu secara global. Jumlahnya akan mencapai 2 miliar anak pada 2025. Ini menurut Mark McCrindle, peneliti Australia yang terus mempelajari tumbuhnya generasi Alpha.

Ketika mereka lahir, dunia sedang berada pada fase touch-screen. Pada 2010, iPad diperkenalkan pada dunia. Instagram juga. Tak heran McCrindle yakin generasi ini juga akan dijuluki “screen-agers”. Generasi layar.

Tentu dunia bisnis akan berubah sangat ekstrem mengikuti mereka. Untungnya, ada sisi-sisi menarik dari generasi ini yang dipercaya melekat. Jadi, minimal masih bisa diprediksi arah minat mereka. Salah satunya generasi Alpha dipercaya sangat bergantung pada orang terdekat mereka. Influencer justru berasal dari orangtua atau orang-orang yang pernah bersentuhan dalam keseharian mereka. Ini berbeda dengan generasi Z yang selalu menjadikan orang-orang terkenal sebagai trend-setter.

Generasi ini juga dipercaya tak suka dengan kata “share” atau berbagi. Ego mereka tinggi. Mereka lebih suka memiliki sesuatu secara individu. Tentu ini kabar baik bagi marketers: pasar “satu-satu” yang begitu luas, hehehe.

Satu lagi yang menarik, mereka bukan lagi touch-screens, tapi menjadi taste-screens. Sensasi mempelajari sesuatu adalah hal penting bagi mereka. Bahkan, untuk membaca barang “analog” seperti buku. Kalangan marketing bahkan percaya ada 12 senses yang harus diperhatikan demi mendapatkan perhatian generasi Alpha nantinya. Yakni touch, life, movement, equilibrium, smell, taste, vision, warmth, hearing, speech, thinking, dan ego.

Perilaku generasi Alpha ini tak hanya memusingkan dunia bisnis, tapi juga para orangtua. Apalagi di Indonesia. Mengajari anak generasi Z saja susah, apalagi generasi Alpha. Saya masih ingat kata-kata anak saya, saat saya ajak menikmati hujan. Alias mandi hujan. Bukannya lari asyik dan kesenangan seperti zaman generasi saya dulu, dia malah menyuruh saya cepat masuk. “Ayah cepat sini, hujan, nanti basah,” katanya. Saya hanya bisa geleng-geleng. Anak saya ini lahir pada 2011, eh, ternyata generasi Alpha. Hehehe, dunia cepat sekali berubah. (che/penulis mahasiswa S3 Ekonomi di Universitas Mulawarman)

(Penulis saat ini tercatat sebagai mahasiswa S-3 Ekonomi di Universitas Mulawarman)


BACA JUGA

Selasa, 29 Mei 2018 09:08

50 Detik Menuju 350 Meter Pohon Langit

CATATAN: FAROQ ZAMZAMI * WAKTU puasa di Tokyo lebih panjang dibanding Indonesia. Enam belas jam lebih.…

Senin, 28 Mei 2018 09:48

Ngabuburit di Shibuya, Buka Puasanya Shabu-Shabu

 LAPORAN: FAROQ ZAMZAMI * PENYEBERANGAN jalan yang mendunia itu, Kamis (24/5), saya sambangi. Di…

Rabu, 23 Mei 2018 09:14

Terkecoh Masjid yang Diselubungi Kelambu Hitam

LAPORAN DARI TOKYO: FAROQ ZAMZAMI * BANGUNAN itu terselubung kelambu hitam. Besar. Menjuntai dari lantai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .