MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 09 April 2018 07:15
Serap Kalori Rendah, Dipatok USD 20 Per Ton

Gasifikasi Batu Bara Minta Harga Khusus

SPESIFIKASI KHUSUS: Skema penetapan harga batu bara untuk industri gasifikasi disebut tak jauh beda dengan ketentuan harga DMO untuk sektor kelistrikan. (DOK/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mendorong investasi di sektor Petrokimia berbasis gasifikasi batu bara. Untuk memuluskan langkah tersebut, harga khusus bakal berpotensi kembali diterapkan, layaknya ketentuan dalam domestik market obligation (DMO) untuk sektor kelistrikan.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, saat ini pihaknya tengah berdiskusi dengan Kementerian ESDM mengenai penetapan harga khusus batu bara untuk proyek gasifikasi. “Yang jelas teknologi sudah dapat, investornya sudah dapat, tinggal investor lokalnya siapa. Kemudian kebijakan regulasi di batu baranya. Itu butuh satu kriteria, yaitu harga batu bara berapa,” katanya dalam pemaparan di Jakarta, Kamis (5/4) lalu.

Sigit menjelaskan, penetapan harga batu bara untuk gasifikasi ini mirip dengan penetapan harga batu bara DMO yang diterima PLN. Namun, harga yang diusulkan jauh lebih rendah, di kisaran USD 15–20 per ton.

“Harus dijamin pemerintah. Kami sedang bicara dengan Kementerian ESDM untuk low rank (batu bara dengan kandungan kalori) 2.500 dan 3.000 kalori harganya berapa. Itu seperti DMO (untuk kelistrikan),” ujarnya.

Sigit menilai, harga tersebut cukup sesuai. Sebab, kualitas batu bara yang dibutuhkan dalam industri Petrokimia berbasis gasifikasi adalah yang berkualitas rendah.

“Ini kan (batu bara) 2.000 kalori. Siapa yang mau beli 2.000 kalori sekarang? Kan tidak ada. Yang 3.000 kalori saja tidak mau. Untuk 3.000 kalori itu, kalau dibayangkan lebih rendah dari kayu nilai bakarnya. Sudah seperti tanah, tapi bisa diolah dengan teknologi tertentu. Untuk itu, harganya harus dijamin,” beber dia.

Sigit mengharapkan, proses pembahasan dengan kementerian yang dipimpin Ignasius Jonan tersebut dapat segera tuntas. Dia berarap, harga batu bara untuk gasifikasi dapat segera ditetapkan.

“Keputusannya lewat Permen ESDM, sedang kami bicarakan. Semakin cepat lebih baik, karena investor menunggu,” tandas dia.

Kemungkinan penerapan harga khusus batu bara diyakini tak berdampak pada tingkat produksi di Kaltim. Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Batu Bara Samarinda (APBS) menyebut, nyaris semua emas hitam yang digali di Benua Etam berorientasi ekspor.

Ketua APBS Eko Priyatno menyebut, penambang di Kaltim mayoritas menggali batu bara berspesifikasi tinggi. Sebagai gambaran, batu bara dengan tingkat kalori 6.322 kcal per kg GAR untuk PLN saja masih minim peminat. Apalagi untuk 2.500–3.000 kcal per kg.

Eko mengatakan, saat harga sedang anjlok hingga menyentuh kisaran USD 40 per metrik ton, pasar domestik memang menarik, bahkan untuk batu bara berspesifikasi tinggi sekalipun. “Sekarang, harga sedang tinggi, sulit bagi mereka untuk memilih menjual ke dalam negeri. Dari dulu kebanyakan perusahaan di Kaltim memang ekspor. Yang menjual untuk kebutuhan PLN itu sedikit,” tuturnya kepada Kaltim Post, Senin (2/4) lalu.

Berdasar acuan Kementerian ESDM, periode Maret lalu, harga batu bara ada di level USD 101,86 per ton. Sepanjang 2017, lonjakan harga tercatat mencapai 36 persen dibanding tahun lalu.

Menjual ke pasar domestik, sebut Eko, merupakan pilihan terakhir para penambang. Termasuk ketika harga di pasar reguler jatuh.

Menurut dia, ketentuan menyisihkan pasokan batu bara untuk kebutuhan listrik PLN sulit terealisasi. Selain faktor selisih harga, hingga kini aturan yang mengaturnya juga belum cukup kuat. Nyaris tak ada pengikat yang bisa mendorong penambang memasok produksinya untuk kebutuhan domestik.

“Lagi pula di Kaltim, produksi banyak dari perusahaan besar. Yang kecil sudah banyak gulung tikar. Perusahaan besar kebanyakan memasok juga untuk ekspor,” bebernya. (man2/k16)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 07:07

PHI Andalkan Teknologi Drilling

BALIKPAPAN - Pertamina Hulu Indonesia (PHI) terus melakukan inovasi untuk…

Rabu, 23 Januari 2019 07:06

Tahun Politik, BI Jamin Temuan Uang Palsu Turun

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim bertekad menekan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:03

Pengusaha Mamin Keluhkan Masalah Gula Lokal

JAKARTA - Penggunaan gula rafinasi impor untuk industri makanan dan…

Rabu, 23 Januari 2019 07:02

Pemerintah Diminta Benahi Masalah dari Hulu

JAKARTA - Pemerintah masih terus melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan…

Selasa, 22 Januari 2019 06:53

Kenaikan Harga Diklaim Wajar

BALIKPAPAN - Otoritas bandara berencana mengajukan perubahan tarif batas atas…

Selasa, 22 Januari 2019 06:47

Produksi Udang Windu Dituntut Meningkat

SAMARINDA - Udang windu Kaltim saat ini menjadi andalan Indonesia…

Selasa, 22 Januari 2019 06:45

Perjuangkan Bea Masuk Ekspor Perhiasan 0 Persen

JAKARTA – Industri perhiasan masih menjadi salah satu andalan untuk…

Selasa, 22 Januari 2019 06:41

Inka Ekspor Gerbong ke Bangladesh

SURABAYA – Kebutuhan sarana transportasi kereta di berbagai negara masih…

Selasa, 22 Januari 2019 06:40

2020, Target Kirim 30,3 Juta Ton Batu Bara

PALEMBANG - PT Bukit Asam (BA) Tbk terus meningkatkan pengiriman…

Selasa, 22 Januari 2019 06:39

PGN Optimistis Capai 244.043 Pelanggan

JAKARTA - Setelah resmi mengakuisisi 51 persen saham PT Pertamina…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*