MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Senin, 09 April 2018 07:15
Serap Kalori Rendah, Dipatok USD 20 Per Ton

Gasifikasi Batu Bara Minta Harga Khusus

SPESIFIKASI KHUSUS: Skema penetapan harga batu bara untuk industri gasifikasi disebut tak jauh beda dengan ketentuan harga DMO untuk sektor kelistrikan. (DOK/KP)

PROKAL.CO, JAKARTA - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah mendorong investasi di sektor Petrokimia berbasis gasifikasi batu bara. Untuk memuluskan langkah tersebut, harga khusus bakal berpotensi kembali diterapkan, layaknya ketentuan dalam domestik market obligation (DMO) untuk sektor kelistrikan.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin, Achmad Sigit Dwiwahjono mengatakan, saat ini pihaknya tengah berdiskusi dengan Kementerian ESDM mengenai penetapan harga khusus batu bara untuk proyek gasifikasi. “Yang jelas teknologi sudah dapat, investornya sudah dapat, tinggal investor lokalnya siapa. Kemudian kebijakan regulasi di batu baranya. Itu butuh satu kriteria, yaitu harga batu bara berapa,” katanya dalam pemaparan di Jakarta, Kamis (5/4) lalu.

Sigit menjelaskan, penetapan harga batu bara untuk gasifikasi ini mirip dengan penetapan harga batu bara DMO yang diterima PLN. Namun, harga yang diusulkan jauh lebih rendah, di kisaran USD 15–20 per ton.

“Harus dijamin pemerintah. Kami sedang bicara dengan Kementerian ESDM untuk low rank (batu bara dengan kandungan kalori) 2.500 dan 3.000 kalori harganya berapa. Itu seperti DMO (untuk kelistrikan),” ujarnya.

Sigit menilai, harga tersebut cukup sesuai. Sebab, kualitas batu bara yang dibutuhkan dalam industri Petrokimia berbasis gasifikasi adalah yang berkualitas rendah.

“Ini kan (batu bara) 2.000 kalori. Siapa yang mau beli 2.000 kalori sekarang? Kan tidak ada. Yang 3.000 kalori saja tidak mau. Untuk 3.000 kalori itu, kalau dibayangkan lebih rendah dari kayu nilai bakarnya. Sudah seperti tanah, tapi bisa diolah dengan teknologi tertentu. Untuk itu, harganya harus dijamin,” beber dia.

Sigit mengharapkan, proses pembahasan dengan kementerian yang dipimpin Ignasius Jonan tersebut dapat segera tuntas. Dia berarap, harga batu bara untuk gasifikasi dapat segera ditetapkan.

“Keputusannya lewat Permen ESDM, sedang kami bicarakan. Semakin cepat lebih baik, karena investor menunggu,” tandas dia.

Kemungkinan penerapan harga khusus batu bara diyakini tak berdampak pada tingkat produksi di Kaltim. Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Batu Bara Samarinda (APBS) menyebut, nyaris semua emas hitam yang digali di Benua Etam berorientasi ekspor.

Ketua APBS Eko Priyatno menyebut, penambang di Kaltim mayoritas menggali batu bara berspesifikasi tinggi. Sebagai gambaran, batu bara dengan tingkat kalori 6.322 kcal per kg GAR untuk PLN saja masih minim peminat. Apalagi untuk 2.500–3.000 kcal per kg.

Eko mengatakan, saat harga sedang anjlok hingga menyentuh kisaran USD 40 per metrik ton, pasar domestik memang menarik, bahkan untuk batu bara berspesifikasi tinggi sekalipun. “Sekarang, harga sedang tinggi, sulit bagi mereka untuk memilih menjual ke dalam negeri. Dari dulu kebanyakan perusahaan di Kaltim memang ekspor. Yang menjual untuk kebutuhan PLN itu sedikit,” tuturnya kepada Kaltim Post, Senin (2/4) lalu.

Berdasar acuan Kementerian ESDM, periode Maret lalu, harga batu bara ada di level USD 101,86 per ton. Sepanjang 2017, lonjakan harga tercatat mencapai 36 persen dibanding tahun lalu.

Menjual ke pasar domestik, sebut Eko, merupakan pilihan terakhir para penambang. Termasuk ketika harga di pasar reguler jatuh.

Menurut dia, ketentuan menyisihkan pasokan batu bara untuk kebutuhan listrik PLN sulit terealisasi. Selain faktor selisih harga, hingga kini aturan yang mengaturnya juga belum cukup kuat. Nyaris tak ada pengikat yang bisa mendorong penambang memasok produksinya untuk kebutuhan domestik.

“Lagi pula di Kaltim, produksi banyak dari perusahaan besar. Yang kecil sudah banyak gulung tikar. Perusahaan besar kebanyakan memasok juga untuk ekspor,” bebernya. (man2/k16)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 07:20

TUH..!! Tak Ada Penerbangan Malam di APT Pranoto

SAMARINDA - Beroperasinya Bandara Aji PangeranTumenggung (APT) Pranoto di Samarinda ternyata belum menyeluruh.…

Selasa, 24 April 2018 12:30

WARNING..!! Rupiah Terus Melemah, Ini yang Dilakukan BI

Nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan yang cukup dalam…

Selasa, 24 April 2018 07:18

Penjualan Daihatsu Tumbuh 10 Persen

JAKARTA – Daihatsu mencatatkan pertumbuhan penjualannya di Indonesia, sepanjang kuartal pertama…

Selasa, 24 April 2018 07:12

Penuhi Hasrat Pencinta Modifikasi Retro

MESKI tak sebesar segmen matik ataupun sport, pangsa pasar motor retro tetap memiliki peminat. Tak terkecuali…

Selasa, 24 April 2018 07:08

Genjot Potensi Ekspor ke Bangladesh

JAKARTA - Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kementerian Perdagangan memperkuat…

Selasa, 24 April 2018 07:07

Konsumsi Alas Kaki Makin Tinggi

JAKARTA - Industri alas kaki diproyeksi menggeliat tahun ini, seiring pertumbuhan penduduk dan…

Selasa, 24 April 2018 07:07

BUMN Ditarget Raup Rp 2.200 Triliun

JAKARTA - Para direksi dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampaknya harus bekerja lebih keras tahun…

Selasa, 24 April 2018 07:06

Penggunaan Biodiesel Akan Diperluas

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana mencampur seluruh jenis solar…

Selasa, 24 April 2018 07:05

Syarat Penerima Tax Holiday Diusulkan Turun

JAKARTA - Upaya mendorong investasi di Tanah Air terus dilakukan pemerintah. Salah satunya, dengan mempertimbangkan…

Senin, 23 April 2018 08:26

Tujuh Blok Terminasi Diserahkan ke Pertamina

JAKARTA – Tujuhwilayah kerja minyak dan gas bumi (migas) yang berakhir masa kontraknya (terminasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .