MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SAMARINDA

Minggu, 08 April 2018 12:00
Gelisah Melihat Aktivitas Tambang dan Perkebunan
Bukit Soeharto Mesti Tiru Objek Wisata Tangkahan
KENANG-KENANGAN: Wiratno (kiri) menyerahkan buku yang ditulisnya kepada Masjaya.

PROKAL.CO, Kegiatan penambangan batu bara dan kayu ilegal di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Bukit Soeharto makin meningkat. Juga ada kelapa sawit yang ditanam warga di area Tahura Bukit Soeharto.

 

KEADAAN Tahura Bukit Soeharto itu membuat Kepala Pusat Studi Reboisasi Hutan Tropis Sukartiningsih gelisah. Dia pun berkeluh kesah di depan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, saat workshop Pengelolaan Kawasan Konservasi KHDTK Tahura Bukit Soeharto, Sabtu (7/4).

Acara tersebut berlangsung di Gedung UPT LSHK Pusrehut Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda.

Kepada Kaltim Post, Sukartiningsih juga menjelaskan, pihaknya memiliki data dan peta terbaru kondisi terkini Tahura Bukit Soeharto. Berdasarkan peta terbaru tersebut, terlihat aktivitas penambangan batu bara semakin meningkat tanpa pengawasan dari berbagai pihak terkait.

Bahkan dari penelusuran LSHK Pusrehut Unmul ada warga yang menanam sawit di areal yang sedianya akan dihijaukan melalui program reboisasi. Luas pastinya areal tersebut masih dihitung. “Kami baru merencanakan penghijauan kembali, ternyata ketika pengecekan kembali lahan tersebut berubah kolam batu bara, bahkan areal perkebunan,” ucap perempuan yang akrab disapa Bu Ning tersebut.

Luas KHDTK Tahura Bukit Soeharto mencapai 20.271 ha. Keberadaan Tahura Bukit Soeharto yang tergerus aktivitas masyarakat membuat Rektor Unmul Masjaya siap mengerahkan bantuan tenaga. “Saya bisa mendatangkan 5 ribu mahasiswa Unmul untuk gerakan membantu penghijauan kembali Bukit Soeharto. Tapi silakan pemerintah yang menyiapkan bibit dan peralatan yang dibutuhkan. Kami membantu dari sisi tenaga saja,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Wiratno menyatakan, Bukit Soeharto bisa belajar dari bagaimana pemerintah membuat dua desa di kawasan wisata Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Memang perlu waktu lama. Proses penyadaran mencapai 18 tahun, sejak 2000.

“Warga yang dulunya menebang kayu kami ajak mengelola hutan untuk kepentingan wisata. Akhirnya, kawasan tersebut menjadi kunjungan wisata yang menyenangkan bagi turis luar negeri,” tutur pria kelahiran Tulungagung tersebut.

Dia minta, Pemprov Kaltim, LSHK Pusrehut Unmul, hingga kepolisian duduk bersama membahas penanganan Bukit Soeharto. Ditjen KSDAE dalam waktu akan ikut memfasilitasi pertemuan tersebut.

“Saya sudah mendengar berbagai persoalan pengelolaan Bukit Soeharto. Mungkin untuk mengatasi kondisi yang ada bisa dimulai dari hal yang kecil. Mari membuat warga sekitar merasa memiliki Bukit Soeharto,” jelasnya.

Menurut dia, aktivitas warga menguasai lahan Bukit Soeharto juga terjadi karena tidak ada pemerintah di sana. Karena sudah telanjur, harus pakai cara persuasi untuk pengelolaan kawasan tersebut. Jadikan kawasan wisata dan olahraga yang menarik di sana.

“Ajak semua pihak untuk terlibat dalam mengembalikan Bukit Soeharto. Meski butuh waktu panjang, tapi kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi bisa mengubah wajah kawasan tersebut,” ungkapnya.

Wiratno bahkan minta jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertugas menjaga Bukit Soeharto harus turun ke lapangan. Jangan hanya di belakang meja. Harus kerja dan kerja. “Saya pastikan akan mengucurkan dana untuk penyediaan bibit untuk keperluan penghijauan kembali Bukit Soeharto,” ujarnya.

Apalagi, kata dia, selama ini program tersebut sudah rutin kami lakukan. Tinggal pihak terkait duduk bersama membahas masalah itu dengan serius. Kalau Gunung Merapi punya 150 personel yang menjaga aktivitas yang merusak hutan, mungkin personel yang ditambah dulu untuk memastikan hutan di Bukit Soeharto semakin menciut karena aktivitas pertanian, perkebunan, dan pertambangan. (waz/kri/k8)

 


BACA JUGA

Kamis, 24 Januari 2019 10:13

Presiden Tunjuk Sani Jabat Sekda Kaltim

SAMARINDA - Kementerian Dalam Negeri menunjuk Abdullah Sani sebagai Sekretaris…

Selasa, 22 Januari 2019 09:13

MENGECEWAKAN..!! Pusat Hanya Menganggarkan Duit Segini untuk Normalisasi SKM

SAMARINDA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui…

Senin, 21 Januari 2019 11:06

Mulai Investigasi Pelaku Illegal Fishing

Memancing jadi perwujudan hobi banyak kalangan. Sebagian menjadikannya mata pencarian.…

Senin, 21 Januari 2019 11:04

Bahan Racun Terlalu Mudah Ditemukan

DAUD mengayun joran. Kail berumpan terayun menjauh dari tepian Sungai…

Senin, 21 Januari 2019 10:54

Masyarakat Ikut Mengawasi

PENGGUNAAN bahan kimia dan racun, atau setrum untuk menangkap ikan…

Senin, 21 Januari 2019 08:21

Gerindra Optimistis Menang di Mahulu

LONG BAGUN – Sorak serempak menghujani ruang rumah lamin Long…

Minggu, 20 Januari 2019 11:07

Oknum ASN Beli Sabu di "Kampung Bandar"

SAMARINDA - Teriakan polisi berpakaian sipil sembari mengacungkan tangan dan…

Minggu, 20 Januari 2019 11:06

"Saya Bukan Pembunuh"

WAJAH pucat, bibir sedikit mengelupas, dan matanya sayu. Langkahnya pelan,…

Minggu, 20 Januari 2019 11:06

Agendakan Konser Musik Jaz dan Klasik

Setelah mengadakan berbagai kegiatan di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi, kini…

Minggu, 20 Januari 2019 11:05

Hanya Pemberhentian, Tanpa PAW

SAMARINDA–Pemprov Kaltim memberi penjelasan terkait polemik pemberhentian lima legislator di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*