MANAGED BY:
RABU
19 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Minggu, 08 April 2018 07:59
Saat Warga Tiongkok Ramai-Ramai Kepincut Perempuan Konawe
Terkendala Bahasa, Komunikasi Andalkan Google Translate
HIDUP BAHAGIA: Filla Fauziah Kasim (kanan) bersama ayahnya, M Kasim (kiri), dan ibunya, Siti Nur Asiah Abbas, menggendong M Farzan Seif. (AGUS DWI PRASETYO/JAWA POS)

PROKAL.CO, Pesona Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) ibarat magnet bagi warga negara Tiongkok. Buktinya, bukan hanya “jatuh hati” pada potensi ekonomi di sana, para pendatang itu juga klepek-klepek dengan keramahan penduduk setempat. Perkawinan warga Tiongkok dengan perempuan lokal kian jamak terjadi.

AGUS DWI PRASETYO, Konawe

LYU ZHIQIANG tampak tergopoh-gopoh menurunkan satu per satu barang belanjaan yang baru saja dia beli dari Kota Kendari, Sultra. Meski begitu, dia tetap menyapa Jawa Pos yang duduk di salah satu meja tidak jauh dari pintu masuk Filla Garden Restoran, rumah makan milik Lyu.

Bahasa Indonesia yang dia gunakan belepotan. Tapi, masih bisa dimengerti. “Mau apa, makan?” ujarnya dengan aksen kental Tiongkok. Meski sadar struktur bahasa yang disampaikan berantakan, dia tetap memaksa berkomunikasi. “Saya kurang bagus pakai bahasa,” tutur Lyu kepada Jawa Pos yang berkunjung ke kedai di Desa Purui, Konawe, tersebut pada Rabu (4/4).

Mengelola restoran makanan Tiongkok di kawasan industri pengolahan nikel Morosi merupakan aktivitas Lyu saat ini. Tidak jauh dari rumah makan Lyu, terdapat smelter (tungku pengolah hasil tambang) nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI). Banyak pekerja asing asal Tiongkok yang bekerja di perusahaan tersebut.

Dua tahun sebelumnya, pria 36 tahun itu merupakan pemburu batu cincin (akik). Konawe menjadi salah satu destinasi perburuan batu tersebut. “Saya ketemu istri main-main (saat jalan-jalan) ke pantai,” ungkap pria kelahiran Provinsi Jilin, Tiongkok itu. Nah, di sela-sela aktivitasnya menggali batu kala itu, Lyu kepincut dengan gadis setempat.

Adalah Filla Fauziah Kasim yang membuat Lyu betah menetap di Konawe sampai saat ini. Pada 12 Desember 2016, Lyu mempersunting pujaan hatinya itu. Jalinan cinta keduanya pun dikaruniai seorang putra pada akhir 2017 lalu. Dari pihak keluarga Filla, anak tersebut diberi nama M Farzan Seif. Sedangkan Lyu memberi nama Lyu Cen Lin.

Lantaran terkendala bahasa, Lyu akhirnya meminta Jawa Pos berkomunikasi lebih jauh dengan Filla yang saat itu berada di rumah orangtuanya di Desa Bumi Indah, Lalonggasumeeto, Konawe. Jarak Morosi-Lalonggasumeeto cukup jauh. Sekitar satu jam perjalanan darat. “Sampai saat ini, dia (Lyu) masih berstatus warga negara asing,” kata M Kasim, ayah Filla, saat ditemui di rumahnya.

Kasim masih ingat betul saat awal Filla menjalin hubungan dengan Lyu. Hubungan intensif itu terjalin setelah Ramadan pada 2016 lalu. Kala itu, anak ketiganya tersebut baru saja pulang setelah menginap di rumah ibu kandungnya di Desa/Kecamatan Motui, Konawe Utara. ”Selesai puasa itu, dia sering berkunjung ke rumah, kadang satu minggu itu tiga kali,” ingatnya.

Lama-kelamaan, Lyu akhirnya menyampaikan keinginannya meminang Filla yang kala itu baru saja lulus SMK. “Dia sampaikan secara jantan, saya mau menikah dengan anaknya bapak,” tutur Kasim menirukan pinangan Lyu saat itu. Mendengar anaknya dipinang warga asing, Kasim pun kaget. “Saya tidak menggubris, saya agama Islam, saya tidak tahu agama dia (Lyu),” ungkapnya.

Namun, usaha Lyu mendapatkan jawaban ayah Filla tidak berhenti begitu saja. Setiap kali berkunjung ke rumah Filla, Lyu menyampaikan keinginannya masuk Islam. Upaya itu berlangsung hampir selama tiga bulan. “Saya tidak enak ketika tidak memberikan jawaban. Tapi, ketika saya bilang oke masuk Islam, otomatis finisnya akan menikah,” terang kepala SD 1 Nii, Lalonggasumeeto itu.

Situasi itu pun membuat keluarga Kasim dilema. Sebab, berat menolak permintaan seseorang yang ingin masuk Islam. Namun, bila Lyu menjadi seorang muslim, itu artinya pihak keluarga menyetujui hubungan tersebut. “Saya pikir berkali-kali. Okelah saya bilang begitu. Saya sudah bulat, barang kali ini skenario Allah bahwa saya punya anak akan kawin dengan orang Tiongkok,” ucap Kasim.

Setelah mendapat restu, persiapan Lyu masuk Islam pun dilakukan. Kasim mengundang kepala desa, imam desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama desa setempat. Tepat tanggal 11 November 2016, Lyu mengucap kalimat syahadat dan seketika menjadi seorang mualaf dengan nama M Allif. Nama itu kebalikan dari kata Filla.

Selang satu bulan setelah menjadi muslim, lamaran yang sempat tertunda akhirnya terealisasi. Pernikahan digelar pada 12 Desember 2016. Pesta perkawinan dilakukan secara adat suku Tolaki. Allif memberi uang Rp 30 juta kepada keluarga Kasim untuk tambahan biaya pesta perkawinan tersebut. “Ternyata itu masih ada sisa biaya, selebihnya sekitar Rp 5 juta, nah ambil saya bilang (ke Allif).”

Di balik cerita bahagia itu, ada liku-liku yang mewarnai hubungan Filla dan Allif. Misalnya soal bahasa. Sampai saat ini, komunikasi lisan antara pihak keluarga Filla dan Allif belum bisa lancar. Bahkan, di awal-awal berpacaran, Filla dan Allif harus menggunakan fasilitas Google Translate untuk menyampaikan pesan singkat berbahasa Inggris. “Enam bulan saya pakai Google Translate waktu pacaran,” kata Filla dengan malu-malu.

Begitu juga dengan Kasim, kendala bahasa menjadi salah satu persoalan komunikasi dengan menantunya tersebut. Tidak jarang mereka menggunakan isyarat tangan sebagai media penyampai pesan saat bertatap muka. “Saya bicara banyak, tapi dia (Allif) hanya iya-iya, setuju-setuju begitu,” ujar suami Siti Nur Asiah Abbas itu lantas tertawa.

Bukan hanya kendala bahasa, pernikahan Filla dan Allif pun sempat dipertanyakan warga dan otoritas keamanan wilayah setempat. Mereka mempertanyakan tentang legalitas pernikahan beda kewarganegaraan tersebut. “Saya beri pemahaman bahwa saya tidak tinggal diam, saya sudah tanyakan ke Kantor Imigrasi dan mereka bilang tidak dilarang,” ungkapnya.

Pun Kasim dan keluarga besarnya berharap, Allif segera mendapat status warga negara Indonesia (WNI). Di mata keluarga, Allif dikenal sebagai sosok pekerja keras dan dermawan. Allif juga mudah bersosial dan selalu bersikap sopan ketika bertemu dengan warga setempat. “Saya suka karena orangnya sopan, baik, dan cepat bersahabat,” kata Filla menimpali sang ayah.

Bukan hanya itu, Allif juga terbuka tentang latar belakang keluarga besarnya di Tiongkok. Meskipun belum pernah berkunjung ke Konawe, keluarga Allif cukup perhatian. Bahkan, beberapa waktu lalu, ibu Allif mengirim pakaian-pakaian bayi untuk Farzan. ”Saya bingung tiba-tiba datang pakaian anak kecil dari Cina, luar biasa,” tambah Kasim.

Berbeda dengan keluarga Kasim, keluarga Yati (50) saat ini harap-harap cemas dengan nasib anak perempuannya, Jumiatun (30). Itu setelah seorang warga Tiongkok yang dikenal dengan nama Li memboyong Jumiatun ke Tiongkok sejak tahun lalu. “Sempat menetap tiga bulan setelah menikah, setelah itu ke Tiongkok,” ungkap Juminah (23), adik Jumiatun.

Parahnya lagi, pihak keluarga yang tinggal di Desa Purui tersebut sama sekali tidak tahu latar belakang Li di Tiongkok. Setahu mereka, Li awalnya merupakan tukang las di PT VDNI Morosi. Karena kerap bertemu dengan Jumiatun, Li pun kepincut dan menawarkan pinangan ke pihak orangtua Jumiatun. “Waktu itu saya pasrahkan ke Pak Nurdin (warga setempat), yang penting anakku diurus,” ujar Yati.

Tahun lalu, Jumiatun juga bekerja di PT VDNI sebagai juru masak. Namun, pekerjaan itu tidak lama ditekuni. Jumiatun lantas berjualan sayur dan bekerja serabutan di sekitar smelter PT VDNI. Saat itulah, Li kerap menyambangi Jumiatun. “Kalau sudah jodohnya, saya pasrah. Saya bilang yang penting bagus,” ujar perempuan kelahiran Ciamis, Jawa Barat itu.

Meski demikian, Yati mengaku sesekali berkomunikasi via aplikasi WeChat dengan Jumiatun dan keluarga Li di Tiongkok. Itu pun ketika Yati memiliki pulsa untuk membayar paket data internet. “Sering video call setiap ada pulsa,” kata Yati lirih. Menurut Yati, saat ini Jumiatun sudah memiliki anak dari hasil pernikahan itu. ”Katanya menunggu anaknya usia tiga tahun baru pulang ke sini (Konawe).”

Selain keluarga Kasim dan Yati, kabar tentang pernikahan penduduk lokal dengan warga negara Tiongkok sebenarnya jamak di Konawe. Menurut warga setempat, total lebih dari enam pernikahan serupa di Konawe. Namun, beberapa pasangan yang ditemui Jawa Pos tidak mau terbuka. (rom/k11)


BACA JUGA

Rabu, 19 September 2018 13:00

Ini Dia Motif Motif Pembunuhan Pasangan Suami Istri di Balikpapan Itu...

BALIKPAPAN - Perkara utang diduga menjadi penyebab tersangka menghabisi nyawa pasangan suami istri (pasutri)…

Rabu, 19 September 2018 12:00

Ngga Jelas, Ternyata Kilang Bontang Masih Tunggu Investor

BONTANG – Pembangunan kilang minyak di Bontang belum ada kejelasan. Pemerintah belum memutuskan…

Selasa, 18 September 2018 12:00

KEJI..!! Bapak-Anak Habisi Bos Sendiri

BALIKPAPAN – Aksi kejahatan yang masih mewarnai Balikpapan membuat kota ini tak lagi aman. Setelah…

Selasa, 18 September 2018 12:00

Kaltim Masih Diuntungkan dari Ekspor yang Tinggi

SAMARINDA – Mata uang negeri ini masih terpuruk. Hingga kemarin (17/9), nilai tukar rupiah berada…

Selasa, 18 September 2018 08:51

Menang setelah Lima Tahun

TENGGARONG – Mitra Kukar berhasil mematahkan kutukan tak pernah menang dari Persipura Jayapura…

Selasa, 18 September 2018 08:47

DPRD Kaltim Ngotot Bentuk Pansus

SAMARINDA - Upaya DPRD Kaltim membentuk panitia khusus (pansus) proyek multiyears contract (MYC) tidak…

Selasa, 18 September 2018 08:44

Edy Sinergi dengan Program Gubernur

DUKUNGAN untuk para kandidat anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan (dapil) Kaltim…

Senin, 17 September 2018 09:24

PPU Buka Jalur Alternatif

PENAJAM – Bentang utama atau tengah Jembatan Pulau Balang terus berprogres. Namun, persoalan baru…

Senin, 17 September 2018 09:21

Edy Nyaman di Puncak, Ferdian Membuntuti

PERSAINGAN dan dukungan kepada kandidat calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI di polling garapan…

Minggu, 16 September 2018 12:00

Waswas Jadi Jembatan “Abunawas”

SAMARINDA – Pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan dan Penajam Paser…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .