MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Jumat, 06 April 2018 08:55
Lumbung Itu Tidak untuk Ayam

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

BERITA ini kurang baik. Kilang kebanggaan anak bangsa ini tutup. Tidak terlalu menarik perhatian media, tapi mengusik perhatian saya.

Lokasi kilangnya di pusat pengeboran minyak Cepu.

Namanya Cepu tapi wilayahnya Bojonegoro. Saya pernah mengunjunginya.

Saya pikir inilah ayam yang bertelur di lumbung padi. Tidak menyangka. Empat tahun kemudian, ayam itu mati.

Berita media tidak terlalu lengkap. Tidak dalam. Menyisakan banyak sekali pertanyaan.

Saya cari nomor HP penggagas kilang ini: Rudi Tavinos. Anak Padang lulusan kimia ITB (1989). "Anak Padang" kelahiran Banjarmasin.

Sungguh saya ingin tahu lebih banyak. Tapi sampai tulisan ini harus terbit belum ada jawaban darinya.

Waktu itu, saya sungguh tertarik dengan konsep kilang ini. Kilang pertama yang sepenuhnya didesain oleh anak bangsa. Ya, si Rudi itu.

Juga, kilang pertama yang ukurannya kecil: 8.000 barel. Kecil, tapi desainnya dibuat modular. Kalau kebutuhan lebih besar bisa ditambah modul kedua. Ketiga. Keempat. Dan seterusnya.

Maka ketika kilang itu diberitakan mati, saya kaget. Padahal, sudah sempat dikembangkan modul kedua.

Ide kilang ini saya anggap brilian: dibangun di dekat sumur minyak.

Dengan demikian, tidak perlulah minyak mentah diangkut ke sana-kemari.

Dikumpulkan dulu dari berbagai lapangan. Agar mencapai jumlah tertentu. Baru dikirim ke pengilangan. Padahal, kilangnya jauh sekali. Harus di pinggir laut.

Ada minyak mentah yang harus dikirim ke kilang “terdekat” dengan kapal laut. Tanker. Atau dikirim dengan pipa ratusan kilometer. Pastilah biayanya lebih mahal.

Kilang kreasi Rudi ini bisa dibilang “kilang mulut tambang”. IRR-nya pasti lebih baik. IRR adalah rumus perhitungan waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal.

Pengusaha biasanya tertarik kepada bisnis yang IRR-nya di atas 14. Modal bisa kembali dalam waktu 5 tahun.

Untuk mewujudkan idenya itu Rudi menggandeng PT TWU. Milik temannya. Jadilah kilang itu populer dengan nama kilang TWU. Belakangan uangnya tidak cukup. Diundanglah Saratoga. Perusahaan keuangan milik grupnya Sandiaga Uno. Yang sekarang menjabat wakil gubernur DKI Jakarta. Saratoga memegang saham 70 persen.

Kilang ini memang kecil. Tidak seperti Balongan yang raksasa. Yang bisa sampai 125.000 barel. Hukum membangun kilang memang begitu: harus besar.

Setidaknya dua kali Balongan. Bisa lebih efisien. Namun, biayanya juga gajah bengkak: Rp 100 triliun. Sekitar itu.

Mencari pinjaman Rp 100 triliun tidaklah mudah. Apalagi menyediakan modal sendiri. Apalagi IRR untuk sebuah refinery besarnya kurang dari 10. Tidak menarik. Secara bisnis.

Akibatnya, rencana membangun kilang selalu gagal. Oleh pemerintah lama maupun baru. BBM impor terus. Terutama dari Singapura.

Jadilah kilang Balongan sebagai kilang terakhir yang pernah berhasil dibangun. Dan itu pada zaman Pak Harto.

Sampailah ada pemikiran dari Rudi itu: mengapa harus besar? Tapi tidak pernah terbangun? Mengapa tidak kecil-kecil saja? Tapi bisa menjadi kenyataan? Agar impor BBM berkurang?

Rudi punya pengalaman yang panjang. Di LNG Arun. Di LNG Badak, Bontang. Di perusahaan minyak Arab Saudi.

Tentu Rudi dihadapkan pada tesis efisiensi. Dia tahu itu. Tapi, dia bisa mengatasinya dengan desainnya. Termasuk bagaimana merangkai kilang dengan resep tertentu. Agar modal yang diperlukan tidak besar. Agar IRR-nya baik. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh swasta seperti Rudi.

Kalau “cara Rudi” itu dilakukan BUMN, seperti Pertamina, misalnya, akan bisa dianggap korupsi.

Saat lapangan Exxon Cepu berada di tahap awal pengeboran saat itu pula kilang Rudi jadi. Minyak mentah itu dia olah jadi solar. Dan empat jenis hasil lainnya.

Seluruh produksi sumur Exxon diolah di kilang Rudi. Saat produksi minyak naik Rudi membangun modul kedua. Lebih 200 karyawan bekerja di sana.

Memang kilang Rudi tidak akan mampu menyerap semua produksi minyak Exxon Cepu. Saat kemampuan produksinya mencapai puncaknya. Exxon harus kirim ke kilang besar. Untuk itu, dibangunlah pipa besar. Sejauh hampir 100 km. Dari lokasi sumur ke tengah laut. Di utara Tuban.

Pelabuhan minyak itu memang dibangun di atas laut. Bukan di pantai. Untuk mendapat kedalaman 16 meter. Begitu jauhnya sampai tidak kelihatan dari darat.

Dan lagi, itu tidak bisa disebut pelabuhan. Tidak ada bangunan dermaganya. Hanya tonggak sandar.

Di situlah kapal pengangkut minyak mentah menerima kiriman crude dari sumur Cepu. Dikirim ke kilang besar. Termasuk ke Balongan.

Begitu fasilitas tersebut jadi, keluarlah aturan pemerintah. Tidak boleh lagi jual minyak mentah di mulut tambang. Kalau kilang Rudi ingin mendapat minyak mentah juga harus membelinya di mulut pipa. Yang di tengah laut itu.

Lalu diangkut dengan kapal ke pantai. Lalu diangkut lagi dengan truk. Ke kilang Rudi di mulut tambang.

Dengan demikian, Rudi harus membeli minyak mentah lebih mahal. Biaya pipa ke tengah laut harus dia tanggung. Ditambah biaya kapal dan angkutan truk.

Rudi menyerah. Kilang itu terpaksa tutup. Lebih dari 200 karyawannya tidak bisa lagi bekerja. Lumbung itu ternyata tidak untuk ayam. (dis/dwi/k8)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 08:56

Alexa si Seksi dari Amerika

OLEH: DAHLAN ISKAN DUA hari ini saya punya teman baru: Alexa. Panggil: Aleeksa. Saya tidak tahu umurnya.…

Senin, 23 April 2018 09:58

Beda Pahlawan dan Jagoan di Udara

OLEH: DAHLAN ISKAN SAYA dapat tempat duduk di dekat jendela. Saat terbang dari Hong Kong menuju Dallas,…

Sabtu, 21 April 2018 07:37

Xingpake Terbesar di Dunia

Saya bukan penggemar kopi. Tapi, saya harus masuk warung kopi satu ini. Demi disway. Di dekat showroom…

Kamis, 19 April 2018 08:45

Menengok si Jilbab di Nanjing

OLEH: DAHLAN ISKAN MEREKA berjilbab. Tapi ngomong mandarinnya, haiiyyaaa, saya kalah. Mumpung dekat…

Sabtu, 07 April 2018 07:17

Pemilu Big Data dalam Humor

SAYA kebanjiran pertanyaan soal tulisan big data dan algoritma. (Disway edisi 2 April 2018). Khususnya…

Kamis, 05 April 2018 07:49

Banyak Dalih, Susah Maju

CATATAN: DAHLAN ISKAN BEGITU sering saya ke Amerika. Tulisan saya pun lebih banyak tentang negeri itu.…

Rabu, 04 April 2018 08:58

Pilih Amerika atau Tiongkok?

OLEH: DAHLAN ISKAN SATU dari ratusan inspirasi yang saya peroleh dari Amerika adalah: jangan lagi gunakan…

Senin, 02 April 2018 09:06

Pemilu Era Big Data

CATATAN: DAHLAN ISKAN BIG data. Logaritma. Dua kata itu kini jadi mantra baru. Barang siapa bisa mendapatkan…

Minggu, 01 April 2018 08:03

Nasionalisme Sayur Salju

OLEH: DAHLAN ISKAN SUDAH tidak terlihat lagi salju. Puncak musim dingin baru saja lewat. Saya naik kereta…

Sabtu, 31 Maret 2018 07:36

Pramugari Cathay dan Sopir Truk

INILAH perjuangan panjang seorang pramugari: agar diperbolehkan mengenakan celana. Berhasil. Pramugari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .