MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Kamis, 05 April 2018 07:49
Banyak Dalih, Susah Maju

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

BEGITU sering saya ke Amerika. Tulisan saya pun lebih banyak tentang negeri itu. Mirip sekarang yang lebih banyak tentang Tiongkok. Bahkan, hal kecil pun saya tulis. Misalnya soal keheranan orang Amerika atas sepak bola. Waktu Piala Dunia dilaksanakan di sana.

Mengapa di lapangan begitu luas, wasitnya hanya satu. Padahal di basket yang lapangannya lebih kecil dan pemainnya hanya lima wasitnya dua. Belum lagi mengapa skor akhirnya begitu miskin. Hanya 1-2 atau bahkan 0-0. Mengapa ketika terjadi gol teriakannya begitu panjang dan seru dan ternyata hanya untuk satu gol. Bukan sebuah three point. Mengapa satu babak, katanya 45 menit tapi sampai menit ke-48 belum dinyatakan selesai.

Tentu lebih banyak lagi yang serius. Tentang kehebatan Amerika. Maksud saya: agar kita bisa meniru. Setidaknya terinspirasi. Agar Indonesia juga maju. Ternyata respons kita tidak begitu. Reaksi kita pada umumnya justru negatif: Amerika kan sudah 200 tahun merdeka. Kita kan (waktu itu) belum 50 tahun. Mana bisa dibanding-bandingkan.

Pemerintah cenderung selalu punya dalih untuk tidak bisa membuat negara maju. Waktu itu. Ternyata itu benar-benar hanya dalih. Terbukti saat saya sering menulis tentang kemajuan Singapura respons kita juga dalih. Padahal Singapura lebih belakangan merdeka. Juga miskin sekali.

Tapi dalih selalu tersedia: Singapura kan negara kecil. Hanya satu pulau mini. Penduduknya hanya 2 juta (saat itu). Pantas saja kalau lebih maju. Membangunnya gampang. Kita tidak usah iri. Apalagi menirunya. Kalau Singapura rewel terhadap kita gampang saja. Tidak perlu perang. Cukup kita semua ramai-ramai kencing bersama di sana. Singapura sudah tenggelam.

Tahun 1990-an saya diajak teman-teman pengusaha Surabaya ke Nanjing. Ibu kota Tiongkok pada zaman lama. Untuk ikut kongres pengusaha Tionghoa sedunia. Sayalah satu-satunya yang berkulit cokelat di lautan orang kaya sedunia itu. Belum bisa bahasa mandarin pula. Saya tidak mengerti apapun yang dibicarakan.

Saya kaget. Tiongkok sudah sangat berbeda dengan yang pernah saya lihat. Hanya berselang empat tahun. Kemiskinan masih terlihat di mana-mana. Tapi pembangunan juga mewabah di segala area.

Gedung pencakar langit, jalan yang diperluas, kampung yang digusur terlihat tidak habisnya. Mobil sudah begitu banyak. Toko sudah penuh dengan pajangan. Memang masih banyak perempuan muda cuci rambut dengan air baskom di pinggir-pinggir jalan. Yang air samponya dibuang begitu saja di parit. Itulah salon kecantikan kelas kaki lima. Di mana-mana. Tapi salon yang benaran juga sudah mulai ada.

Kesadaran untuk tampil cantik muncul seperti tiba-tiba. Seperti juga kesadaran untuk mulai membuka usaha. Benar-benar seperti kuda yang sudah lama dikekang. Dulu perempuan hanya boleh bercelana panjang dan berbaju Mao. Kainnya satu warna: abu-abu. Rambutnya hanya boleh dikepang. Dulu, semua usaha milik negara.

Toko kelontong pun milik negara. Warung jualan bakpao pun milik negara. Maka begitu Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong semua berubah. Rakyat boleh berusaha. Boleh jualan. Perempuan boleh bersolek. Boleh pakai baju apapun.

Deng Xiaoping dikenal dengan dua fatwanya: 1) Menjadi kaya itu satu kemuliaan. 2) Tidak peduli kucing itu hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus. Tahun-tahun berikutnya adalah tahun sejarah: mengalahkan Indonesia, mengalahkan Italia, mengalahkan Inggris, mengalahkan Jerman, dan akhirnya mengalahkan Jepang.

Tinggal Amerika yang belum. Mungkin tak lama lagi. Dulu ekonomi Tiongkok hanya sebesar satu negara bagian Amerika. Kini ekonomi satu Kota Shenzhen saja sudah lebih besar dari negara Filipina.

Selamat tinggal kemiskinan. Selamat tinggal riuhnya ting-tong bel sepeda. Selamat tinggal baskom di tepi jalan. Sejak itu saya jatuh hati pada Tiongkok. Terutama pada semangatnya untuk maju. Pada caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu.

Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju. Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidakmajuan kita? Akankah kita mau kencing bersama di sana? Itulah jawaban atas pertanyaan mahasiswa S-3 Universitas Padjajaran Bandung itu.

Saya harus banyak menulis tentang Tiongkok. Saya bisa 12 kali setahun ke sana. Paling tidak tiga kali setahun. Ke kota besarnya. Ke kota kecilnya. Ke pelosok-pelosok desanya. Ke pojok seperti Xishuangbanna. Di perbatasan Myanmar. Ke Dandong di perbatasan Korea Utara. Ke Heihe di perbatasan Rusia. Ke Xinjiang yang mayoritas muslim. Ke Ningxia dan Qinghai yang bergurun dan penuh masjid.

Untuk melihat negeri itu secara keseluruhan. Untuk berbelanja semangat. Agar setidaknya diri saya sendiri tidak malas. Dan tidak mudah berdalih. Semua itu atas biaya sendiri. Bukan dari Pemerintah Amerika, eh Tiongkok. Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis. Yaaa, sudahlah. Kalau begitu. (dis/rom/k8)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .