MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 05 April 2018 05:29
Retorika Nyinyir vs Retorika Data

PROKAL.CO, OLEH: SYAMSUL RIJAL
(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)

SERANGAN memang tidak melulu tentang perang fisik. Serangan kadang-kadang lebih ampuh jika menggunakan kata-kata. Apalagi jika yang diserang adalah manusia, tentu efeknya jauh lebih dalam. Karena hal itu, muncullah istilah tudingan, kritik, nyindir, dan nyinyir. Entah bentuk mana yang tepat dari keempat istilah di atas, atau memang keempatnya merupakan istilah yang berbeda. Akan tetapi, semuanya telah bersatu padu dalam dialektika politik di Indonesia saat ini.

Tudingan, kritikan, nyindir, atau nyinyir sering mendapat tangkisan dengan berbagai bentuk retorika pembelaan. Yang menarik dalam model pembelaan atas tudingan tersebut, saat ini muncul “retorika data” dari pihak yang dikritik. Artinya, segala tundingan atau kritikan selalu dilawan balik dengan permintaan data.

Pihak yang mengkritik dikatakan tidak memiliki dasar karena tidak memiliki data yang akurat atas tudingan tersebut. Akhirnya, pengkritik dianggap cuma menyinyir. Oleh karena itu, muncul pula “retorika nyinyir” yang ramai di media sosial, khususnya di Twitter. Bahkan, telah terjadi perang nyinyir karena nyinyiran dilawan nyinyir.

Sebelum terlalu jauh, kata nyinyir dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebenarnya bermakna ‘mengulang-ulang perintah atau permintaan’; nyenyeh; cerewet’. Kalau kata nyinyir bermakna seperti di atas, lantas apa hubungan antara kritik dan nyinyir. Atau, mungkin yang dimaksud nyinyir adalah nyindir (sindir). Namun jika ditarik benang merah, salah satu makna kata nyinyir, yakni cerewet, bisa berkaitan dengan dengan kritikan yang tak berdasar.

Kata cerewet dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dsb.)’. Mungkin makna suka mencela atau mengata-ngatai inilah yang dilekatkan pada orang-orang yang suka mengkritik tapi kritikannya tidak membangun. Jadi, retorika nyinyir maksudnya retorika yang digunakan untuk menyerang lawan dengan mencela atau mengata-ngatai tanpa memperhatikan benar atau salah yang dikatakan.

Akhir-akhir ini, muncul bentuk perlawanan untuk menangkis retorika nyinyir tersebut dengan mencoba meminta data yang akurat atas apa yang telah dikatakan oleh lawan. Karena hal-hal yang dikritikkan tidak memiliki dasar, permintaan untuk menunjukkan datalah yang ampuh melumpuhkan kritikan tersebut. Inilah kemudian disebut sebagai retorika data. Retorika data ini diasumsikan akan terus dipelihara pihak tertentu untuk mempertahankan kedudukan dan kemenangan sampai pada masa kemenangan kembali tiba.

Perkembangan retorika semakin pesat saat ini. Apalagi menjelang tahun pilpres di Indonesia, berbagai bentuk usaha dilakukan oleh para politisi, baik yang berkuasa maupun yang ingin berkuasa. Termasuk cara retorika nyinyir dan retorika data. Jika diperhatikan, setiap momen menjelang pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden, selalu menjadi lahan pemroduksian retorika baru. Artinya, produk-produk retorika itu biasanya muncul menjelang pelaksanaan pesta demokrasi.

Para pesilat lidah biasanya didaulat tampil beretorika di setiap panggung demokrasi. Dengan memanfaatkan segala potensi bahasa, kemampuan retorika terus memproduksi istilah-istilah baru yang tujuannya cuma satu, yakni untuk “menang”. Persoalan istilah itu dipahami oleh publik atau tidak, hanya urusan belakang karena pada akhirnya juga, publiklah yang akan mengikuti retorika politisi itu.

Kritikan saat ini mulai diterjemahkan secara sempit oleh penguasa sebagai bentuk protes yang konstruktif. Padahal, kata kritik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga bermakna ‘mengecam’, di luar ada atau tidak adanya data. Selain itu, dalam dunia perpolitikan, hampir bisa dipastikan bahwa tidak ada lawan politik yang mau memberikan kritikan yang konstruktif kepada saingannya. Hampir semua kritikan yang dilancarkan dimaksudkan untuk menjatuhkan lawan. Oleh karena itu, kritikan yang tidak berdasar pada data-data, tetap akan terus dikatakan sebagai nyinyir.

Perlu diketahui bahwa yang mengkritik adalah pihak yang berada di luar pemerintahan yang memang tidak memiliki data lengkap tentang hasil pemerintahan. Jika pihak yang mengkritik dimintai data tentang hal yang dikritiknya, tentu si pengkritik hanya berbalik meminta data yang sebenarnya dari pihak yang dikritik.

Padahal mungkin memang itulah tujuan si pengkritik, yakni ingin memancing pihak yang dikritik untuk membeberkan data-data yang lengkap sebagai senjata untuk kepentingan yang lebih besar lagi. Jadi, retorika pemerintah yang sedang berkembang saat ini adalah retorika data, yang bisa pula menjadi “boomerang” bagi dirinya sendiri. Artinya, untuk mendapatkan data yang lebih akurat, digunakan retorika nyinyir atau kritik yang memaksa pihak lawan untuk berdialektika secara data. Pada akhirnya, pihak yang nyinyir akan mendapatkan data dari yang dinyinyir.

Lantas, hal-hal apakah sebenarnya yang pantas disebut kritik(?). Apakah yang murni konstruktif atau nyinyir memang juga bagian dari kritik. Dalam politik, sepertinya susah ditemukan kritikan yang murni bertujuan konstruktif. Karena bagaimana pun juga, kritik dan  nyinyir merupakan bagian dari strategi untuk “menang”.

Selain itu, kritik yang setengah-setengah tetapi sebagian benar, kadang-kadang disebut nyindir. Dalam dialektika politik, tentu nyindir ini masih bagian dari retorika. Sekali lagi, dialektika dan retorika politik tidak “mengharamkan” yang namanya nyindir. Meskipun pada akhirnya, nyindir kadang-kadang hanya dibantah dengan pelaporan atas tudingan pencemaran nama baik. Atau, sindiran itu dibalas lagi dengan nyinyiran yang lebih dahsyat.  

Saat ini, kita susah lagi membedakan antara kritik, nyindir, dan nyinyir. Ketiganya sudah “halal” dalam konteks retorika politik. Kadang-kadang sindiran disebut kritik, kritik disebut nyinyir, atau nyinyir disebut kritik dan nyindir disebut nyinyir.

Lalu, yang mana di antaranya yang lebih tepat. Sekali lagi, dalam dialektika perpolitikan, semuanya bisa tepat dan keduanya bisa keliru. Semuanya bergantung pada kondisi dan waktu yang tepat. Retorika nyinyir kadang-kadang diperlukan sebagai pendombrak pintu pertahanan lawan. Sementara, retorika data diperlukan untuk melumpuhkan kritikan dari lawan. (*/one/k18)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14

Bekal untuk Para Caleg 2019

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan di Tenggarong) KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07

Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

Oleh: Siti Subaidah(Pemerhati Lingkungan dan Generasi) KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi…

Rabu, 17 Oktober 2018 06:54

Persyaratan Bahasa Inggris bagi Pejabat Pemerintah: Yay or Nay?

Oleh: Veronika Hanna Naibaho[Widyaiswara di Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga…

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51

Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

Oleh: Muhammad Dahlan Balfas(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:11

Mana Tanah Rakyat? Refleksi Hari Tani Nasional

HARI Tani Nasional (HTN) yang diperingati setiap 24 September merupakan hari lahirnya Undang-Undang…

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10

Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13

Teknologi Bisa Mengubah Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD(Rohaniwan Warga Tenggarong) DALAM bulan September lalu, perusahaan…

Kamis, 11 Oktober 2018 07:11

"Enggak Perlu Pakai Helm"

Oleh: Hendrajati(Pendiri HSE Indonesia & Mahasiswa S-2 MP UAD Jogjakarta.) Enggak perlu pakai helm,…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03

Pentingnya Bangun Ketahanan Mental sejak Dini

Oleh: dr Mariati Herlina Sitinjak Sp KJ(Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Samarinda…

Rabu, 10 Oktober 2018 07:00

Menaruh Harapan pada Isran–Hadi untuk Kaltim Berdaulat

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3-Doktor…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .