MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 02 April 2018 09:06
Pemilu Era Big Data

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

BIG data. Logaritma. Dua kata itu kini jadi mantra baru. Barang siapa bisa mendapatkan big data dan mampu mengolahnya melalui logaritma, dialah jagonya. Jago apa saja: bisnis, politik, intelijen, pengelolaan kesehatan, sampai ke menjual bra dan celana dalam.

Logaritma bisa menguraikan onggokan data seruwet dan secampur aduk apapun menjadi informasi nyata. Big data adalah onggokan data ruwet yang jumlahnya mencapai exabytes. Satu exabytes adalah 1.000 petabytes. Satu petabytes adalah 1.000 terabytes.

Bayangkan gunungan data bertriliun megabyte itu bisa diurai oleh logaritma: bisa dipilah-pilah mana emas, perak, tembaga, mangan, bijih besi, pasir, tahi ayam, dan sperma masing-masing suku, ras, agama, sampai pengikut Setya Novanto.

Pertanyaannya: apakah di Pemilu 2019 nanti dua mantra itu sudah akan memainkan peran utama? Donald Trump sudah menggunakannya. Lewat Facebook. Menang. Padahal semua pooling menyatakan Hillary Clinton-lah yang unggul.

Belakangan, ketika penggunaan big data ini terungkap, harga saham Facebook jatuh pingsan. Tapi, Hillary toh sudah telanjur kalah. Dalam waktu dekat, Malaysia juga segera menggelar pemilu. Partai petahana (Barisan Nasional, UMNO) dan Pakatan Harapan bersaing frontal. Kampanye meningkat kian panas.

Padahal kapan pemilunya belum ditetapkan. Suka-suka yang lagi berkuasa. Hanya disebutkan: tahun ini. Bulan apa belum jelas. Hanya disebutkan: kemungkinan April ini. Tanggal berapa belum disebutkan. Bisa-bisa ditetapkan secara mendadak. Yang lagi berkuasalah yang menetapkan. Tanggalnya akan dicari yang bisa membuat petahana menang.

Big data, di Malaysia sudah menjadi bagian perang. Tiba-tiba saja, pekan lalu parlemen mengagendakan perubahan batas-batas daerah pemilihan (dapil). Oposisi, yang dipimpin Mahathir Mohamad, menuduh itu bagian dari siasat penguasa agar calegnya tidak kalah.

Hasil logaritma big data di sana rupanya mengindikasikan kekalahan di dapil tertentu. Karena itu, batas distrik perlu digeser. Di India yang demokrasinya mirip kita soal big data dan logaritma juga lagi jadi topik politik. Penguasaan informasi teknologi (IT) di India tergolong maju. Big data akan menjadi objek penting dalam pelaksanaan demokrasi di sana.

Di mana-mana anak muda mulai mempelajari lebih gembira fosil matematika: logaritma. Satu operasi matematika yang kebalikan dari eksponen atau pemangkatan. Yang akan bisa memecahkan persamaan dari apapun yang pangkatnya tidak diketahui.

Saya menyerah di sini. Saya murid di era yang belum ada pelajaran matematika. Nilai rapor aljabar saya di madrasah dulu merah. Tapi anak muda sekarang mulai asyik berlogaritma. Sadar nilai rupiah di baliknya.

Di Indonesia, saya mulai mendengar ada partai yang sangat sadar big data. Tanpa biaya besar, tanpa tokoh terkenal, tanpa gembar-gembor partai itu bisa lolos Komisi Pemilihan Umum (KPU). Mengalahkan partai seperti PKPI yang dimotori Hendropriyono. Juga nyaris mempermalukan Partai Bulan Bintang (PBB) dengan mataharinya Yusril Ihza Mahendra: kok tidak lolos.

Untung akhirnya lolos. Meski kartu suara simulasi partai lain telanjur tidak sempat mencantumkan PBB sebagai peserta pemilu. Ilmuwan politik, pejuang demokrasi, dan para mahasiswa sudah harus membicarakan ini. Bagaimana big data akan memengaruhi demokrasi kita. Bagaimana big data akan mereduksi peran ulama, peran istikharah, peran tim sukses, dan bahkan sampai peran politik uang.

Akankah era big data akan menjadi akhir era demokrasi? Zaman smartphone telah membawa konsekuensi bagi kehidupan demokrasi. Big data sudah telanjur ada di tangan pihak ketiga.

Data-data pribadi Anda sudah dikuasai pihak yang ingin memanfaatkannya. Baik untuk kepentingan bisnis, politik, maupun jualan kondom. Big data yang diolah dengan logaritma akan langsung bisa mengerucut pada dapil. Bahkan, pada lingkup tempat pemungutan suara (TPS). Selamat datang pemilu big data! (dis/rom/k11)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .