MANAGED BY:
RABU
14 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 02 April 2018 08:57
Jadi Korban Skimming adalah Salah Kita Semua

PROKAL.CO, OLEH: FIRDA Z. ABRAHAM
(warga Samarinda yang menjadi peneliti di Kementerian Komunikasi dan Informatika RI)

BEBERAPA minggu belakang berita kita, baik cetak, elektronik, maupun digital, hingga ke media sosial, diramaikan oleh pemberitaan mengenai raibnya uang beberapa orang di bank, yang diketahui belakangan itu merupakan ulah sekelompok orang asing yang melakukan kejahatan tersebut. Bank yang dipercaya sebagai penyimpan uang yang aman, seketika berubah menjadi lembaga yang tidak dipercaya. Bagaimana uang dari puluhan hingga ratusan juta rupiah menghilang begitu saja tanpa di ketahui oleh pihak bank. Untungnya reaksi cepat dari pihak bank bersangkutan yang kembali menambah kepercayaan terhadap bank tersebut dapat meredakan keresahan masyarakat.

Siapa yang bersalah ketika pencurian uang dengan metode skimmingitu terjadi? Sebelum dapat menjawab itu, mari kita berdiskusi apa skimming itu. Dalam panduan berjudul “ATM Card Skimming & PIN Capturing:Customer Awareness Guide” yang dirilis salah satu bank asing, skimming merupakan metode yang digunakan pelaku kriminal untuk mengambil data yang terekam dalam magnetic stripe atau pita magnetik yang ada di belakang kartu ATM/Debit/Kredit. Singkatnya skimming seperti fotokopi, tetapi yang diambil adalah data elektronik yang tersimpan dalam kartu. Skimmingtermasuk metode usang tetapi masih dapat digunakan untuk melakukan kejahatan, selain sosial engineering yang juga metode lawas tetapi tetap ampuh.

Untuk bisa mendapatkan mesin skimmingsangat mudah, dapat dibeli dengan mudah di pelbagai marketplace, terlebih marketplace dari luar negeri yang dapat mengirimkan barangnya secara gratis ke seluruh penjuru dunia. Agar aksinya dapat berjalan lancar, pelaku juga menggunakan kamera kecil untuk mengetahui nomor pin, dan data tersebut diakses dengan menggunakan perangkat tanpa kabel, dan semua perangkat tersebut dijual bebas dan berukuran kecil. Intinya, dengan skimming tidak ada kecurigaan dari bank karena ada transaksi mencurigakan.

Sebuah transaksi elektronik akan berpotensi menjadi objek ancaman karena memiliki nilai dan ‘jarak’ antara pihak yang terlibat memungkinkan adanya intervensi pihak lain. Dalam kasus ini kebutuhan masyarakat untuk mengambil uang yang dekat dengan aktivitasnya tetapi jauh dari kantor bank yang mungkin sangat aman menjadi celah yang dapat disusupi oleh pihak lain.

Mengamankan sebuah transaksi elektronik adalah tanggung jawab semua pihak, dan apabila menjadi korban, adalah salah kita semua. Mengapa demikian? Pertama, kita, sebagai pengguna dari sebuah sistem elektronik sering lalai, singkatnya kita tidak bisa mengamankan diri sendiri. Menyimpan nomor PIN di handphone, tidak mengganti PIN secara berkala, atau bahkan menyimpan nomor pin di dalam dompet, adalah sebuah contoh tidak bisa mengamankan diri sendiri.

Selain itu banyak dari kita tidak memanfaatkan fasilitas SMS banking atau internet banking, yang di mana setiap adanya transaksi, bank akan dikirimkan pemberitahuan melalui SMS atau e-mail langsung ke handphone kita yang sudah di daftarkan pada bank. Memang tidak semua bank memiliki fasilitas tersebut, beberapa bank hanya akan mengirimkan notifikasi jika transaksi pada nominal tertentu. Misal transaksi minimal Rp 1 juta, tetapi bank yang menjadi target skimming belakangan ini dapat mengirimkan notifikasi pemberitahuan via e-mail bahkan transaksi hanya puluhan ribu.

Kedua adalah pihak bank. Pihak bank sering tidak menginformasikan apapun kepada nasabah. Misal, informasi pemasangan mesin tambahan anti-skimmingpada mesin ATM, menginformasikannya dengan mengirimkan SMS atau e-mail kepada nasabah, atau memasang pengumuman di bilik ATM. Memang cara terakhir jarang efektif, mengingat kebiasaan masyarakat kita yang malas membaca. Tetapi setidaknya pihak bank sudah menginformasikan bahwa ada atau tidak mesin tambahan pada mesin ATM mereka. Selain itu bisa menggunakan gambar yang sesuai, dan tertera nomor bank yang bersangkutan.

Selain itu, bank harus giat melakukan komunikasi dengan nasabah. Di era revolusi industri 4.0, bank adalah salah satu industri yang terancam dengan adanya sebuah inovasi bernama financial technology. Untuk itu komunikasi nasabah, edukasi kepada nasabah, dan lebih dekat dengan nasabah adalah sebuah keharusan. Misal dari komunikasi tersebut adalah dengan postingan pada sosial media, ChatBot, SMS spam, e-mail, atau lainnya. Mengomunikasikan banyak hal termasuk untuk mendaftarkan e-mail maupun nomor SMS untuk notifikasi transaksi juga sangat penting.

Bank juga perlu menggunakan teknologi bigdata untuk memonitor kebiasaan dari para nasabahnya. Memonitor kebiasaan seperti kebiasaan lokasi transaksi di mana, mengambil uang dalam jumlah berapa, jangka waktu antartransaksi dan transaksi yang sering dilakukan lainnya. Sehingga jika menyalahi kebiasaan tersebut bank perlu curiga dan segera menghubungi nasabah yang bersangkutan.

Memang, kesalahan besar tertuju pada bank selaku institusi terpercaya dalam menyimpan uang, tetapi kita sebagai pengguna juga bersalah karena gagal dalam mengamankan diri sendiri. Untuk itu, kita harus waspada, harus curiga dalam setiap transaksi. Bukan tanpa alasan, tetapi karena dengan adanya sense agar selalu curiga yang dapat menjaga diri sendiri. (*/one/k18)


BACA JUGA

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu…

Sabtu, 10 November 2018 06:06

Fatwa UMKM dan Industri Kreatif Syariah

MAJELIS  Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan berinovasi membuat fatwa UMKM dan…

Jumat, 09 November 2018 06:49

Menjadi Negeri Bebas Impor

OLEH: MELTALIA TUMANDUK (Aktivis Komunitas Muslimah Peduli Umat) INDONESIA, Negeri…

Kamis, 08 November 2018 06:58

Pentingnya Negosiasi dalam Hubungan Industrial

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO (Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Kamis, 08 November 2018 06:56

Menanti Peran Lembaga Pendidikan

OLEH: HANDY ARIBOWO S.T MM (Dosen dan Peneliti STIE IBMT…

Kamis, 08 November 2018 06:54

Politik Luar Negeri Indonesia: Pendekatan Soft Diplomacy Pada 2018

OLEH: RENDY WIRAWAN (Master of International Relations, University of Melbourne)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .