MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Minggu, 01 April 2018 08:03
Nasionalisme Sayur Salju

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

SUDAH tidak terlihat lagi salju. Puncak musim dingin baru saja lewat. Saya naik kereta cepat dari Kota Qingdao ke Tianjin. Kawasan timur Tiongkok. Selama 4 jam. Di sepanjang perjalanan terlihat bangunan green house. Sambung-menyambung. Tidak henti-hentinya.

Saya diskusikan itu. Lautan green house itu. Dengan teman seperjalanan saya. Yang dulu juga amat miskin. Apakah bangunan itu kuat menahan salju? Tidak roboh? Atap plastiknya tidak robek-robek? Apakah waktu dia kecil lahan pertaniannya juga seperti itu? Dan banyak pertanyaan lagi. Sambung-menyambung. Sampai tiba di Tianjin. Masuk rumah sakit di situ.

Teman saya pun bercerita. Robert Lai, yang di sebelah saya, ikut menikmati jawabnya. Robert lahir di Hong Kong. Besar di Singapura. Tidak pernah bersentuhan dengan lahan pertanian.

Pada musim salju, kata teman Tiongkok saya itu, adalah musim penderitaan. Dulu. Tiap hari hanya makan kentang. Tidak ada orang jual sayur. Tidak ada petani yang menanam sayur. Semua wilayah tertutup salju.

Sebelum musim salju tiba memang diusahakan beli sayur banyak-banyak. Tapi hanya ada satu jenis sayur yang bisa disimpan selama tiga bulan: kubis panjang. Tidak busuk. Maklum, udara di dapur lebih dingin dari kulkas.

Selama tiga bulan, makanan di rumah hanya kentang dan kubis panjang. Itu pun harus sedikit-sedikit. Agar cukup untuk tiga bulan. Kini sayur apapun melimpah sepanjang tahun. Dalam musim salju sekali pun. Panen sayur jalan terus. Bangunan green house-nya dilengkapi pengatur suhu. Kisah hanya ada kubis panjang sudah terlupakan.

Maka ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perang dagangnya, Tiongkok bergeming. Hari itu juga membalas: mengenakan bea masuk hasil pertanian Amerika sebesar 25 persen. Tiongkok begitu percaya diri.

Minggu lalu, perwakilan petani di Amerika sangat sibuk. Melalukan rapat-rapat koordinasi. Bagaimana menghadapi perlawanan Tiongkok itu. Sepertiga hasil panen kedelai Amerika dibeli Tiongkok. Untuk susu kedelai. Enak diminum. Panas-panas. Sebagai teman makan. Di sini disebut cakue. Itulah minuman yang lebih wajib di Tiongkok. Bukan kopi.

Kita belum tahu apa hasil perundingan petani di Amerika itu. Sementara ini masih ketutup berita kunjungan Kim Jong-un ke Beijing. Tapi kehilangan pasar sepertiga produk nasional memang mengerikan.

Meningkatkan produksi pertanian memang tidak mudah. Tapi selalu bisa. Selalu ada jalan. Dalam keadaan sesulit apapun. Dalam kasus Tiongkok ini bukan lagi bagaimana meningkatkan. Lebih sulit dari itu: bagaimana menciptakan.

Tetap bisa tanam sayur saat bumi dilapisi salju. Alangkah sulitnya. Tapi bisa. Dan berhasil. Bahkan, berhasil menjadi senjata untuk menegakkan kedaulatan negara. Melawan adi kuasa sekali pun. (dis/rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Oktober 2012 10:30

PKL Eks Citra Niaga “Digantung”

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*