MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 30 Maret 2018 08:54
Denyut Lemah Sineas Lokal

PROKAL.CO, Berbioskop jamak dan berpenonton banyak, industri perfilman lokal di tanah Kaltim belum bergairah. Minim perhatian dan minat adalah refleksi peringatan Hari Film Nasional yang jatuh hari ini.

JOGJAKARTA adalah kota di luar Jakarta dengan atmosfer perfilman yang menawan. Di Kota Pelajar, pemerintah memberi apresiasi tinggi kepada pekerja seni. Kompetisi Pendanaan Pembuatan Film rutin diadakan tahunan. Para pembuat film lokal pun berlomba-lomba mendapatkannya.

Dery Prananda, filmmaker kelahiran Samarinda yang berkecimpung di Jogjakarta, mengatakan bahwa kompetisi itu berhadiah Rp 200 juta. Dinas Kebudayaan setempat, klaim dia, memahami benar posisi film sebagai produk budaya.

Di Jogjakarta, sinema lokal telah berjejaring dengan Jakarta. Kesempatan untuk terjun di dunia perfilman terbuka lebar. Dery pun demikian. Dia serius dan menyelami lebih dalam hingga lupa pulang. Lagi pula, sangat sedikit daerah yang memberi apresiasi tinggi bagi pekerja di dunia perfilman termasuk di Kaltim.

Dery adalah sineas yang berprestasi. Pada 2017, dia memenangi tiga penghargaan sekaligus. Film besutannya berjudul Arohuai meraih best collaboration, best film, dan best documentary di ReelOzInd, kompetisi film pendek Australia-Indonesia. Arohuai mengisahkan tentang hidup, perjuangan, dan kerinduan.

Memang pernah ada film berlatar Kaltim yang pernah diangkat. Dery mengatakan, seorang sutradara film kelahiran Jawa Barat bernama Loeloe Hendra mengangkat film berjudul Onomastika. Latar film berdurasi 15 menit itu adalah Kutai Kartanegara. Film itu meraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2014. Onomastika juga ditayangkan di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2015.

"Inilah bukti bahwa banyak isu kearifan lokal Kaltim yang bisa diangkat," urainya. Informasi terbaru, Loeloe tengah bersiap dengan karya yang mengambil latar di pedalaman hulu Sungai Mahakam. “Banyak sekali ide cerita di Kaltim,” terang Dery yang juga dosen Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Jogja. Dia berharap, sineas muda Kaltim tidak merasa terbatasi.

“Buat saja dulu. Tema film terserah saja. Saya percaya, proses tidak mengkhianati hasil. Dukungan pemerintah memang perlu. Tapi, kalau terus menunggu, tidak akan berkembang, kan?” kata pria 37 tahun tersebut.

Kesadaran menghargai karya sineas lokal tidak hanya diperlukan dari pemerintah. Dukungan masyarakat lewat kultur menonton mesti dibangun. Apresiasi akan lahir karena berbagai pasang mata jadi saksi. Dery menilai, komunitas pemutaran film di Kaltim yang konsisten dan masif adalah sebuah langkah baik. Memutar sekaligus mengenalkan film-film alternatif membuat tontonan tidak sekadar hiburan seperti bioskop pada umumnya.

Komunitas film pertama yang bergerak di Samarinda adalah Sindikat Sinema. Robby Ocktavian, satu dari lima pencetus Sindikat Sinema, menggambarkan latar belakang di balik pendirian komunitas. Selama ini, nilai Robby, film minim makna lebih dilirik masyarakat. Efek yang ditimbulkan sebatas kepuasan. Penonton keluar dari bioskop tanpa mendapat pemahaman baru. Tontonan akan hilang jejak di mata, tak berbekas di kepala.

"Saya dulu kurang puas dengan film di bioskop. Penonton perlu film yang benar-benar berisi,” jelasnya. Dalam kenyataan, beberapa film bermutu yang ditunggu terkadang tidak tayang di Samarinda.

Sindikat Sinema lantas membangun gerakan menayangkan film di celah-celah Samarinda yang dimulai pada 2011. Ketika membangun Sindikat Sinema, Robby bergabung dalam Forum Lenteng, organisasi nirlaba di Jakarta yang mengembangkan studi sosial budaya. Beranggotakan seniman, mahasiswa, peneliti, hingga jurnalis, Forum Lenteng bergerak dalam pengembangan audio visual.

Dari sanalah, pria kelahiran 1990 itu mendapat film-film yang dinilai layak tonton. Sindikat Sinema akhirnya rutin menggelar layar. Sebagian besar film panjang yang ditayangkan diperoleh dari Forum Lenteng. Film lain yang diputar berasal dari sutradara film yang sebelumnya telah dihubungi.

“Kami tidak memungut biaya. Memang diniatkan untuk menyebarkan film dan memberi pemahaman baru atau kesan berbeda setelah menonton,” papar Robby.

Memperingati Hari Film Nasional yang jatuh hari ini (30/3), komunitas mengadakan Naladeva Film Festival. Mereka menayangkan 46 film selama 9 hari sejak 23 Maret dengan tiga lokasi penayangan. Film berbagai genre disajikan.

Robby menjelaskan, ada banyak isu mengenai kearifan lokal. Namun, kemampuan menangkap dan mengolahnya menjadi gambar hidup, masih minim. Selain itu, Samarinda tidak masuk peta budaya sinema di Indonesia.

“Kami ingin sekali Samarinda masuk peta budaya. Komunitas ini jadi ruang diskusi,” lanjut Robby. Mereka lalu mengakomodasi sineas lokal yang mengembangkan karya. Dari hasil diskusi, didapat beberapa kendala seperti kurang memahami teknis pengambilan gambar sehingga eksekusi lapangan tak sesuai harapan.

Maulana Yudhistira, pengurus Sindikat Sinema, mengatakan antusiasme penikmat film yang menantikan jadwal pemutaran cukup besar di Samarinda. Sekali pemutaran, puluhan pasang mata menatap layar yang dipasang.

“Kendalanya adalah sulit mendapat tempat yang kondusif,” kata dia. Sindikat Sinema akhirnya bermusafir menayangkan film. Mereka pergi dari satu kafe ke kafe yang lain untuk pemutaran film.

Sindikat Sinema tidak sendiri. Ada Layar Mahakama, komunitas yang terbentuk sejak awal 2017. Nama komunitas mengacu kepada bioskop pertama sekaligus yang diklaim termewah pada zamannya di Samarinda yakni Studio atau Bioskop Mahakama di Jalan Yos Sudarso.

Layar Mahakama menayangkan film pendek karya sineas Kaltim. Menurut ketuanya, Masitah Fitria Ningrum, komunitas memiliki empat kegiatan. Selain membuka layar atau screening, diadakan special screening yakni pemutaran film dengan tema tertentu dengan mengundang pembuat film. Perempuan dengan nama pendek Macit itu melanjutkan, Layar Mahakama berlayar ke sekolah untuk mengedukasi dan memancing kreativitas serta pola pikir kritis terhadap film.

Kegiatan terakhir adalah program kerja sama. Sebagai sineas dari Samarinda, Macit menyadari masyarakat masih awam terhadap film. Demikian halnya perhatian pemerintah. Lokasi screening akhirnya sering menjadi kendala, sama halnya dengan yang dihadapi Sindikat Sinema. Lokasi yang sesuai untuk pemutaran film sangat sedikit.

“Dulu ada Bioskop Mini Gedung Dekranasda Samarinda. Sekarang sudah tidak bisa dipakai lagi,” terang Macit.

Perhelatan Festival Film Samarinda 2016 yang dibuka dengan penayangan film Siti adalah pemutaran film pertama dan terakhir di Bioskop Mini Gedung Dekranasda Samarinda. Film Terbaik 2015 dalam perhelatan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2015 itu sanggup menarik perhatian penikmat film di Kota Tepian. Dari kapasitas sekitar 50 kursi, beberapa penonton harus berdiri atau duduk di ruang kontrol bioskop di Jalan S Parman, Samarinda Ulu.

Bioskop mini itu diresmikan Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang pada Oktober 2015. Peresmian bersamaan dengan launching hotspot free di enam taman kota di Samarinda. Misi mewujudkan Samarinda sebagai cyber city adalah alasan utama bioskop mini dibangun.

Saat ini, bioskop mini di bawah pengelolaan Dinas Pariwisata, Komunikasi, dan Informasi (Disparkominfo) Samarinda. “Kami terus melengkapi fasilitas hingga mempunyai peralatan yang cukup untuk pelatihan dan pembinaan,” ucap kepala Disparkominfo Samarinda saat itu, HM Faisal. Hasil akhir yang diinginkan pemkot adalah terciptanya ekonomi kreatif di bidang teknologi, informasi, dan komunikasi.

Namun, di mata Macit, bioskop mini yang diimpikan para sineas lokal sudah melenceng dari rencana semula. “Nyatanya, kami tidak diizinkan sewaktu ke sana. Kata mereka (pengelola), sudah tidak bisa dipakai,” tutup dia. (tim kp)

TIM PELIPUT
- RADEN RORO MIRA BUDIASIH
- FACHRIZAL MULIAWAN
- MUHAMMAD RIFQI HIDAYATULLAH


BACA JUGA

Jumat, 20 April 2018 09:32

BERJUDI DI PUSARAN RADIASI

Nuklir menjadi paradoks. Ia menimbulkan fobia, namun pada saat yang sama menumbuhkan asa. Bencana karena…

Jumat, 20 April 2018 09:26

Pasien Dibatasi Berinteraksi

PASIEN di hadapan Habusari Hapkido memandang heran. “Saya mau diapain, Dok? Kok namanya nuklir?”…

Jumat, 20 April 2018 09:16

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir untuk Kesehatan

TEKNOLOGI nuklir terbukti memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Salah satunya di bidang kesehatan.…

Jumat, 20 April 2018 09:12

Anisa, Penyintas Kanker sejak Bocah

WIWIK Sulistyo sedikit gemetar saat membuka wadah timah yang diberikan dokter dan petugas Instalasi…

Jumat, 20 April 2018 09:10

Perlu Edukasi dan Dukungan

KANKER masih menjadi misteri. Penyakit satu ini menyerang tanpa disadari pengidapnya. Belum lagi…

Jumat, 20 April 2018 08:58

Pasien BPJS Mesti Lebih Bersabar

INSTALASI Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda yang beroperasi Januari lalu…

Jumat, 20 April 2018 08:51

Nuklir untuk Kehidupan

OLEH: KADEK SUBAGIADA, M.Si(Dosen Program Studi Fisika di FMIPA Unmul, Samarinda) KETIKA mendengar kata…

Senin, 16 April 2018 08:56

Rangkul OPD PPU, Pertamina Bentuk Satgas

Pertamina menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ceceran minyak. Pertemuan demi pertemuan dilakukan…

Senin, 16 April 2018 08:48

Pulihkan Ekosistem Laut

SEHARI setelah kejadian pencemaran minyak Pertamina, Sabtu (31/3) lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH)…

Senin, 16 April 2018 08:43

Perlu Komitmen Pemerintah

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan tak lagi urusan lokal. Kasus ini berkembang sebagai isu lingkungan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .