MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 30 Maret 2018 08:48
Tapak Tilas Bioskop di Kaltim
TAK DIPAKAI LAGI: Bioskop Mini Gedung Dekranasda di Jalan Ruhui Rahayu Samarinda kini tak difungsikan lagi. Padahal kursi, layar, dan perangkat audio terlihat dalam kondisi baik.(fuad muhammad/kp)

PROKAL.CO, RASA penasaranlah yang membuat seorang anak lelaki berusia 12 tahun mengintip dari celah dinding papan gedung bioskop di Jalan Pangeran Diponegoro, Samarinda. Selain karena belum cukup umur, anak itu tidak memiliki uang untuk membeli tiket. Dari curi lihat pada suatu sore era 1970-an, dia menuntaskan sebuah film laga Mandarin beradegan keras.

Kaltim Post menemui anak yang menonton film beraktor Jimmy Wang Yu itu. Di ruang kerjanya, Rabu (28/3), anak itu sekarang adalah kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Syafruddin Pernyata.

"Gedung bioskop pertama di Samarinda berdiri di kawasan Jalan Pelabuhan, Jalan Dermaga, atau sekitarnya. Namanya Glory Theater," terang lelaki dengan nama pena Espe tersebut. Bioskop diperkirakan mulai dibuka pada 1954. "Ayah saya sempat menonton di Glory Theater," sambungnya.

Setelah Glory Theater, bioskop yang lain bermunculan. Sampai era 90-an, Samarinda memiliki sekitar sepuluh bioskop. Syafruddin mengingat empat nama, yaitu Mahakama Theater, Bioskop Parahyangan, Bioskop Garuda, dan Bioskop Wisma Citra.

“Cerita saya mengintip, itu di Bioskop Garuda,” kenangnya seraya tertawa.

Glory Theater, bioskop tertua di Kota Tepian, dimiliki pengusaha bernama Go Lie Tjai. Glory Theater terbakar menjelang dekade 1960-an lalu pindah ke Jalan Pangeran Diponegoro. “Sekarang menjadi kantor Bank Permata,” terangnya.

Berbicara bioskop lawas di Samarinda haruslah menyebut Mahakama Theater. Sebelumnya, bioskop itu bernama Luxor dan Kutai Theater. Gedung Mahakama Theater masih berdiri sekarang di Jalan Yos Sudarso. Ketika masih bernama Kutai Theater, bioskop itu paling mewah. Promo yang paling Syafruddin ingat adalah Film ABRI. Setiap Sabtu, anggota keluarga Angkatan Bersenjata Republik Indonesia gratis menonton.

“Saat itu, saya sering berandai-andai ayah saya adalah tentara sehingga setiap Sabtu nonton koboi,” ujarnya.

Setiap bioskop punya ciri khas. Bioskop Garuda, misalnya, spesialis kerap menayangkan film Mandarin dan film India. Belum ada istilah Bollywood saat itu. Sementara Mahakama gemar memutar film bertema koboi atau film dari Negeri Paman Sam.

Syafruddin ingat cerita yang sangat terkenal ketika usianya 18 tahun. Saat itu, dia sudah menyisihkan pendapatannya dari menjual es mambo untuk menonton film di Bioskop Wisma Citra. Bioskop itu berdiri di pusat perbelanjaan Wisma Citra dan diresmikan pada 1976 oleh Wali Kota Kadrie Oening. Nama bioskop sama dengan pusat perbelanjaan di Jalan Rajawali, sekarang Jalan KH Samanhudi.

“Konsep Bioskop Wisma Citra adalah misbar alias gerimis bubar,” selorohnya. Gedung teater memang berdinding namun tak beratap. Ketika pemutaran film lalu turun hujan, penonton pun bubar. "Harga tiketnya murah, hanya seratus rupiah,” ujarnya.

Di belakang studio, ruang proyektor ditangkupi seng. Penonton biasanya berteduh di situ sambil menonton film Raja Dangdut Rhoma Irama. Konsep itulah yang kemudian menjamur ke kabupaten/kota lain di Kaltim.

Bioskop Parahyangan adalah yang berikutnya. Parahyangan dulu berdiri di tengah kota, sekarang dekat pusat perbelanjaan Plaza Mulia di Jalan Bhayangkara. Tiket masuk Parahyangan pada awal 2000-an adalah Rp 7.500.

Masa keemasan bioskop di Samarinda mulai redup saat harga pesawat televisi kian murah. Ditambah lagi, stasiun televisi swasta masuk ke Kaltim. Stasiun televisi menayangkan banyak film sehingga menurunkan minat penonton ke bioskop. Belum lagi menjamurnya penyewaan laser disc, video compact disc, hingga DVD. Satu demi satu gedung teater akhirnya gulung layar.

Perfilman nasional baru bangkit pada awal 2000-an lewat film Ada Apa dengan Cinta. Jaringan bioskop nasional yang mulai merambah daerah membawa para penikmat film kembali ke studio. “Konsekuensinya dibayar mahal oleh pengusaha lokal. Mereka tak bisa bersaing dengan bioskop jaringan nasional dengan film yang lebih update," tutup Syafruddin. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 20 April 2018 09:32

BERJUDI DI PUSARAN RADIASI

Nuklir menjadi paradoks. Ia menimbulkan fobia, namun pada saat yang sama menumbuhkan asa. Bencana karena…

Jumat, 20 April 2018 09:26

Pasien Dibatasi Berinteraksi

PASIEN di hadapan Habusari Hapkido memandang heran. “Saya mau diapain, Dok? Kok namanya nuklir?”…

Jumat, 20 April 2018 09:16

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir untuk Kesehatan

TEKNOLOGI nuklir terbukti memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Salah satunya di bidang kesehatan.…

Jumat, 20 April 2018 09:12

Anisa, Penyintas Kanker sejak Bocah

WIWIK Sulistyo sedikit gemetar saat membuka wadah timah yang diberikan dokter dan petugas Instalasi…

Jumat, 20 April 2018 09:10

Perlu Edukasi dan Dukungan

KANKER masih menjadi misteri. Penyakit satu ini menyerang tanpa disadari pengidapnya. Belum lagi…

Jumat, 20 April 2018 08:58

Pasien BPJS Mesti Lebih Bersabar

INSTALASI Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda yang beroperasi Januari lalu…

Jumat, 20 April 2018 08:51

Nuklir untuk Kehidupan

OLEH: KADEK SUBAGIADA, M.Si(Dosen Program Studi Fisika di FMIPA Unmul, Samarinda) KETIKA mendengar kata…

Senin, 16 April 2018 08:56

Rangkul OPD PPU, Pertamina Bentuk Satgas

Pertamina menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ceceran minyak. Pertemuan demi pertemuan dilakukan…

Senin, 16 April 2018 08:48

Pulihkan Ekosistem Laut

SEHARI setelah kejadian pencemaran minyak Pertamina, Sabtu (31/3) lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH)…

Senin, 16 April 2018 08:43

Perlu Komitmen Pemerintah

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan tak lagi urusan lokal. Kasus ini berkembang sebagai isu lingkungan.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .