MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 30 Maret 2018 08:26
Bersaing hingga Amerika
SINEAS MUDA: Muhammad Al Fayed (berkacamata) dalam proses syuting film Yuwana Mati Lena.

PROKAL.CO, “KESELAMATAN kita, tidak ada hubungannya dengan sesajen-sesajen itu!” ujar Lantip kepada kedua orangtuanya. Nadanya mengandung amarah, namun tertahan. Anak kepala desa itu tak habis pikir. Dia menentang warga desa termasuk keluarganya yang percaya mitos.

Manusia harus berpasrah pada Tuhan.

Pemahaman itu yang ingin Lantip tanamkan. Bukan mulus didapat, tindakan pria 20 tahun itu dianggap warga setempat mengundang bencana.

Kisah tersebut adalah cuplikan karya berjudul Yuwana Mati Lena. Berlatar kebudayaan Jawa. Berdurasi 19 menit dan mengantarkan Muhammad Al Fayed sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Islami Lampung 2017. Dianugerahi Film Terbaik pula pada festival serupa.

Sineas asal Samarinda itu kini memasuki semester 6 di Insititut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim. Kecintaannya pada dunia gambar bergerak sejak 2014 melahirkan empat film fiksi dan dua film dokumenter, dia sebagai sutradara.

“Sampai saat ini sudah terlibat sekitar 30-an karya film pendek dan program televisi,” ujar Fayed. Dirinya juga pernah membuat dokumenter Telingaan Aruu: Telinga Panjang Suku Dayak Pampang, 2017 lalu.

Dua film fiksinya menyabet sederet penghargaan. Selain Yuwana Mati Lena, film pendek berjudul Satu Jam pernah masuk seleksi Chennai International Short Film Festival 2017 di India dan YIPS Film Festival 2017 di Seattle, Amerika Serikat.

Bukti bahwa film karya anak muda Samarinda bisa bersaing antarbenua. Industri kreatif Kota Tepian semakin berkembang, namun di bidang perfilman masih minim. Kemauan membuat film hingga menonton masih rendah. Dijelaskan Fayed, dukungan pemerintah masih jauh dari kata cukup. Khususnya kepada komunitas pembuat atau penikmat film. “Dukungan pemerintah yang minim memengaruhi pergerakan komunitas,” jelas alumnus SMK 7 Samarinda tersebut.

Itulah latar belakang pria berkacamata tersebut mendirikan Layar Mahakama. Komunitas menonton dan apresiasi film pendek Samarinda. Dia ingin komunitas menjadi jembatan agar perfilman Kaltim tak kalah bersaing dengan pulau seberang. Padahal, ada banyak yang bisa disalurkan lewat film. Pesan moral dengan mengangkat fenomena sosial. Hingga memperkenalkan kebudayaan daerah.

Kelahiran sineas muda tak sebatas pada mereka yang mengambil jenjang pendidikan linier. Misal berkuliah di jurusan film. Di SMA 2 Tenggarong, terdapat ekstrakurikuler film bernama Frame (Frame Smanda). Berdiri sejak 2010 dan kian tahun banyak diminati. Mereka menggarap berbagai genre film.

“Sering dikasih tugas untuk melatih kami. Ide cerita apa yang menarik, apa sih pesan yang ingin disampaikan,” terang Reza Hermawan, ketua Frame Smanda. Isu yang diangkat beragam, beberapa kali bercerita tentang kearifan lokal.

Misal tentang puhunan, ujaran agar menghargai dan tidak menolak pemberian atau tawaran orang. Istilah tersebut lekat dalam kehidupan masyarakat Tenggarong dan sekitarnya. Dimasukkan pula bahasa Kutai dalam dialog.

Cerita lain datang dari Fathurrahman atau akrab disapa Fathur. Pria kelahiran 1996 tersebut belajar film secara autodidak. Menyukai genre thriller dan eksperimental. Meski arah filmnya komersial, dikatakan jika peran pemerintah sangat penting.

Mewadahi pekerja seni sehingga tumbuh semangat. Merasa tidak sendiri dan mampu berkolaborasi. Memberi ruang pada sineas lokal menampilkan karya.

“Ruang pemutaran film untuk merangsang filmmaker (sineas),” ungkap Fathur. Baik Fayed, Reza, maupun Fathur, angan mereka besar terhadap dunia perfilman Benua Etam. Mereka tidak bisa bergerak masing-masing. Butuh dorongan dan dukungan agar semangat tetap terjaga. (timkp)


BACA JUGA

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .