MANAGED BY:
SELASA
24 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 30 Maret 2018 08:22
Ajang Festival dan Etalase Film Minim
MENAMPAR PEMANGKU KEBIJAKAN: Proses syuting film Anak Sungai yang diarsiteki Febri, sineas asal Desa Jonggon Jaya, Kukar.

PROKAL.CO, LANTUNAN suara musik dari layar film non-permanen di Gedung Putri Karang Melenu (PKM) di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kukar, membuat para penonton terenyak. Di antaranya, Sekkab Kukar Marli dan Sekprov Kaltim Meiliana. Mereka tampak menikmati sebuah film bertajuk Anak Sungai. Film yang berlatar belakang Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman.

Film dokumenter Anak Sungai dibuat putra asli Kutai Kartanegara asal Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu. Namanya Febri. Alumnus Ikatan Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim. Febri mencuri perhatian lewat film Anak Sungai. Untuk pertama kalinya film tersebut diputar di hadapan sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim dan Pemkab Kukar, saat penerimaan mahasiswa baru ISBI akhir tahun lalu.

Ratusan pasang mata yang menonton pun tampak terentak. Sebagian terkejut saat mengetahui kondisi nyata masyarakat di Desa Sabintulung. Warga menderita karena aktivitas perusahaan sawit. Sungai tercemar ditambah semakin berkurangnya hasil sawah. Film tersebut seolah menampar pemangku kepentingan lewat perjuangan masyarakat setempat bertahan hidup di tengah gempuran industri yang diberikan pemerintah.

“Kaltim ini begitu banyak yang bisa dijadikan objek film. Bahkan, banyak sineas serta akademisi film, menyebut jika Kaltim ini adalah surganya objek film. Tapi sayangnya tidak dimanfaatkan bahkan cenderung ditinggalkan,” ujar Febri.

Pria yang juga kreator film itu pun mengatakan, selama ini aliran dunia perfilman beragam. Tak hanya melulu merujuk pada cerita drama serta komedi, tapi ada juga aliran pembuatan film dokumenter yang sebenarnya bisa menjadi propaganda dalam tujuan tertentu.

Biasanya, jelas dia, aliran yang satu ini bertujuan mengupas sejumlah persoalan sosial di tengah masyarakat. “Kalau pada film kebanyakan mungkin diukur dengan pendapatan hasil komersial untuk menentukan suksesnya sebuah film. Untuk film dokumenter, diharapkan adanya perubahan kebijakan atau hal-hal yang dikritik tersebut,” katanya lagi. Hal yang patut disayangkan kata dia, di Kaltim masih minim etalase atau wadah para sineas muda untuk menampilkan hasil karyanya.

Tak jarang hasil karya tersebut hanya disimpan sebagai dokumen pribadi di komputer. Padahal, di Pulau Jawa, seniman di bidang televisi dan film tak sedikit saling bersaing.

“Untuk mengenalkan Kaltim atau mungkin untuk mempropagandakan sesuatu, dengan film sangat efektif sebenarnya. Tapi sayang ide para seniman tak banyak bisa tercurahkan jika tidak ada saling dukung dari pemerintah,” imbuhnya.

Ironisnya, apresiasi perfilman oleh para profesional justru terkadang kalah dengan para pembuat film komersial. “Bahkan kadang apresiasinya kalah dengan film pre-wedding buatan anak-anak SMA,” ujarnya. Akademisi bidang film Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim Morsed mengatakan, saat ini kreativitas para sineas atau para pembuat film sangat terlihat jelas. Misalnya, untuk menambah nilai karya sebuah film, tak sedikit disinggung terkait sejumlah persoalan sosial, lingkungan hingga tentang budaya.

“Dulu mungkin yang diminati seputar cerita romantis dan semacamnya. Saat ini semakin berkembang dengan cerita sosial,” katanya.

Secara luas, dukungan terhadap dunia film memang sudah mulai bermunculan. Misalnya, sejumlah ajang perfilman yang digelar oleh stasiun televisi swasta sudah mulai ramai.

“Dulu mungkin alat-alat perfilman disebut mahal. Tapi saat ini, banyak kamera dengan harga yang murah namun kualitasnya sudah cukup memadai untuk film. Bahkan ada yang bisa dari ponsel mengambil gambarnya,” tambah dia.

Persoalannya, kata dia, memacu kreativitas serta dukungan dari pemerintah serta swasta juga penikmat film. Khususnya untuk mengapresiasi serta mendukung perkembangan film di Kaltim. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 20 April 2018 09:10

Perlu Edukasi dan Dukungan

KANKER masih menjadi misteri. Penyakit satu ini menyerang tanpa disadari pengidapnya. Belum lagi…

Jumat, 20 April 2018 08:58

Pasien BPJS Mesti Lebih Bersabar

INSTALASI Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda yang beroperasi Januari lalu…

Jumat, 20 April 2018 08:51

Nuklir untuk Kehidupan

OLEH: KADEK SUBAGIADA, M.Si(Dosen Program Studi Fisika di FMIPA Unmul, Samarinda) KETIKA mendengar kata…

Senin, 16 April 2018 08:56

Rangkul OPD PPU, Pertamina Bentuk Satgas

Pertamina menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ceceran minyak. Pertemuan demi pertemuan dilakukan…

Senin, 16 April 2018 08:48

Pulihkan Ekosistem Laut

SEHARI setelah kejadian pencemaran minyak Pertamina, Sabtu (31/3) lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH)…

Senin, 16 April 2018 08:43

Perlu Komitmen Pemerintah

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan tak lagi urusan lokal. Kasus ini berkembang sebagai isu lingkungan.…

Senin, 16 April 2018 08:43

Efek Kerusakan Jangka Panjang

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan mengundang reaksi. Terlepas siapa yang bersalah memutus pipa milik…

Senin, 16 April 2018 08:39

Wajib Susun Bersama Pemulihan Lingkungan

CATATAN:NIEL MAKINUDDIN(Pemerhati Sosial dan Lingkungan Kaltim) KEJADIAN dahsyat di perairan Teluk Balikpapan…

Jumat, 13 April 2018 08:58

Tuntut Ganti Rugi Rp 122,9 M

YUSNADI sigap mengambil seluler yang tersimpan di tasnya ketika sidang ditunda sejenak dan kembali digelar…

Jumat, 13 April 2018 08:40

MANGROVE DAN KAMPUNG ATAS AIR

KONDISI mangrove Kampung Atas AirMargasari setelah hampir dua minggu kejadian tumpahan minyak di Teluk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .