MANAGED BY:
MINGGU
22 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 30 Maret 2018 08:22
Ajang Festival dan Etalase Film Minim
MENAMPAR PEMANGKU KEBIJAKAN: Proses syuting film Anak Sungai yang diarsiteki Febri, sineas asal Desa Jonggon Jaya, Kukar.

PROKAL.CO, LANTUNAN suara musik dari layar film non-permanen di Gedung Putri Karang Melenu (PKM) di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kukar, membuat para penonton terenyak. Di antaranya, Sekkab Kukar Marli dan Sekprov Kaltim Meiliana. Mereka tampak menikmati sebuah film bertajuk Anak Sungai. Film yang berlatar belakang Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman.

Film dokumenter Anak Sungai dibuat putra asli Kutai Kartanegara asal Desa Jonggon Jaya, Kecamatan Loa Kulu. Namanya Febri. Alumnus Ikatan Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim. Febri mencuri perhatian lewat film Anak Sungai. Untuk pertama kalinya film tersebut diputar di hadapan sejumlah pejabat di lingkungan Pemprov Kaltim dan Pemkab Kukar, saat penerimaan mahasiswa baru ISBI akhir tahun lalu.

Ratusan pasang mata yang menonton pun tampak terentak. Sebagian terkejut saat mengetahui kondisi nyata masyarakat di Desa Sabintulung. Warga menderita karena aktivitas perusahaan sawit. Sungai tercemar ditambah semakin berkurangnya hasil sawah. Film tersebut seolah menampar pemangku kepentingan lewat perjuangan masyarakat setempat bertahan hidup di tengah gempuran industri yang diberikan pemerintah.

“Kaltim ini begitu banyak yang bisa dijadikan objek film. Bahkan, banyak sineas serta akademisi film, menyebut jika Kaltim ini adalah surganya objek film. Tapi sayangnya tidak dimanfaatkan bahkan cenderung ditinggalkan,” ujar Febri.

Pria yang juga kreator film itu pun mengatakan, selama ini aliran dunia perfilman beragam. Tak hanya melulu merujuk pada cerita drama serta komedi, tapi ada juga aliran pembuatan film dokumenter yang sebenarnya bisa menjadi propaganda dalam tujuan tertentu.

Biasanya, jelas dia, aliran yang satu ini bertujuan mengupas sejumlah persoalan sosial di tengah masyarakat. “Kalau pada film kebanyakan mungkin diukur dengan pendapatan hasil komersial untuk menentukan suksesnya sebuah film. Untuk film dokumenter, diharapkan adanya perubahan kebijakan atau hal-hal yang dikritik tersebut,” katanya lagi. Hal yang patut disayangkan kata dia, di Kaltim masih minim etalase atau wadah para sineas muda untuk menampilkan hasil karyanya.

Tak jarang hasil karya tersebut hanya disimpan sebagai dokumen pribadi di komputer. Padahal, di Pulau Jawa, seniman di bidang televisi dan film tak sedikit saling bersaing.

“Untuk mengenalkan Kaltim atau mungkin untuk mempropagandakan sesuatu, dengan film sangat efektif sebenarnya. Tapi sayang ide para seniman tak banyak bisa tercurahkan jika tidak ada saling dukung dari pemerintah,” imbuhnya.

Ironisnya, apresiasi perfilman oleh para profesional justru terkadang kalah dengan para pembuat film komersial. “Bahkan kadang apresiasinya kalah dengan film pre-wedding buatan anak-anak SMA,” ujarnya. Akademisi bidang film Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kaltim Morsed mengatakan, saat ini kreativitas para sineas atau para pembuat film sangat terlihat jelas. Misalnya, untuk menambah nilai karya sebuah film, tak sedikit disinggung terkait sejumlah persoalan sosial, lingkungan hingga tentang budaya.

“Dulu mungkin yang diminati seputar cerita romantis dan semacamnya. Saat ini semakin berkembang dengan cerita sosial,” katanya.

Secara luas, dukungan terhadap dunia film memang sudah mulai bermunculan. Misalnya, sejumlah ajang perfilman yang digelar oleh stasiun televisi swasta sudah mulai ramai.

“Dulu mungkin alat-alat perfilman disebut mahal. Tapi saat ini, banyak kamera dengan harga yang murah namun kualitasnya sudah cukup memadai untuk film. Bahkan ada yang bisa dari ponsel mengambil gambarnya,” tambah dia.

Persoalannya, kata dia, memacu kreativitas serta dukungan dari pemerintah serta swasta juga penikmat film. Khususnya untuk mengapresiasi serta mendukung perkembangan film di Kaltim. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 20 Juli 2018 09:12
Telisik Komoditas Kelapa Sawit

Abaikan Eropa, Fokus ke Tiongkok dan India

SERANGAN Parlemen Uni Eropa kian intens. Industri kelapa sawit dituding menjadi penyebab utama deforestasi.…

Rabu, 18 Juli 2018 08:24
Bansos yang Kerap Dikorupsi

Klaim Akal-akalan Oknum

HUMAS Pengadilan Tipikor AF Joko Sutrisno menyebut, meski di meja hijau para terdakwa membeber adanya…

Rabu, 18 Juli 2018 08:06
Bansos yang Kerap Dikorupsi

Rugi Triliunan, Desak Moratorium

RENTANNYA penyelewengan dana bantuan sosial (bansos) mesti mendorong perbaikan oleh pemerintah.…

Jumat, 13 Juli 2018 08:59

Terusir Gara-Gara Zonasi

Masalah klasik menggandoli rencana pemerataan kualitas pendidikan. Ada jurang kualitas dan fasilitas.…

Jumat, 13 Juli 2018 08:56

Lahirkan Tantangan Baru

BERJALAN di antara pro dan kontra, sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) diakui tak terlalu…

Jumat, 13 Juli 2018 08:36
Sengkarut PPDB Online di Kaltim

Tambah Rombel Bukan Solusi

KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan Muhaimin mengatakan, pelaksanaan PPDB…

Jumat, 13 Juli 2018 08:30

Wajar Kurang karena Pertama Kali

OMBUDSMAN Republik Indonesia (ORI) perwakilan Kaltim ikut memantau pelaksanaan penerimaan siswa baru…

Rabu, 11 Juli 2018 09:15
Ongkos Pernikahan ala Milenial

Terjal Menuju Halal

Selain kelahiran dan kematian, menikah adalah momen penting, bahkan terpenting. Sebab, bisa direncanakan…

Rabu, 11 Juli 2018 09:01

Pilah-Pilih Sesuai Budget

PERNIKAHAN dipersiapkan matang-matang. Mengingat, tak hanya cinta, pernikahan juga perlu persiapan finansial.…

Rabu, 11 Juli 2018 08:33

Bukan Perkara Adu Mewah

MINGGU (8/7), pasangan Nabila Said Amin Ar Rasyidi dan Sammy Saleh Alhuraiby baru saja melangsungkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .