MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Kamis, 29 Maret 2018 09:17
Tinggalkan Sawah demi Ingin Dekat dengan Tuhan

Melihat Aktivitas Suluk yang Mampu Mencuci Hati

CARI JALAN MENUJU KESEMPURNAAN: Dahlan Iskan (ketiga kiri, depan) bersama Mohammad Nizam As-Shofa (kelima kanan).(bayu putra)

PROKAL.CO, Tulisan hari ini tidak usah Anda baca. Tidak ada gunanya. Ini bukan soal kondom. Juga bukan soal Bulog Desa. Ini “hanya” soal pedalaman. Pedalamannya seorang manusia. Mungkin jauh dari yang Anda perlukan.

RATUSAN orang, pekan lalu menjalani suluk. Semacam retreat. Sepuluh hari. Tidak pulang. Puasa, ibadah, zikir, dan salat. Hampir sepanjang hari dan malam. Begitulah penganut tarekat sering melakukan. Setahun satu atau dua kali.

Seseorang, sebelum menganut tarekat, biasanya belajar dulu tasawuf. Untuk mengetahui makna hidup yang sebenarnya: hakikat hidup. Untuk apa makan. Untuk apa minum. Untuk apa tidur. Untuk apa hidup. Untuk apa berdoa. Untuk apa sembahyang. Untuk apa perlu dekat dengan Tuhan.

Setelah tahu semua itu barulah: bagaimana caranya bisa dekat dengan Tuhan, di manakah jalan itu, dan lewat jalan yang mana. Kalau sudah tertarik dengan semua itu barulah menjalaninya. Lewat jalan yang ditunjukkan si penunjuk jalan: sang mursyid. Beliau itulah yang menjadi panutan. Tiap satu aliran tarekat selalu ada satu mursyid.

Tarekat artinya jalan. Jalan menuju Tuhan. Jalan yang mereka anggap benar. Yang pasti sampai tujuan. Bukan jalan yang kelihatannya lurus dan lapang, tapi jalan itu ternyata menuju pabrik kondom.

Selama 10 hari, penganut tarekat yang lagi menjalani suluk itu terputus dari dunia. Tidak ingat sawah, ladang, toko, kantor, dan apalagi utang. Tidak boleh ingat pesaing, musuh, juragan yang kejam, tetangga yang bawel dan apalagi ketua partai. Sepi, lapar, dan menerima apa adanya yang ada.

Dan hilanglah rasa kemrungsung dari dalam hati. Kemrungsung adalah rasa selalu ingin ini dan ingin itu dan keinginan itu harus dicapai secepatnya. Godaan suluk tentu banyak. Itulah cara Tuhan menyeleksi umatnya. Apalagi pada zaman ini. Ketika handphone tetap di saku. Ketika semuanya dibeli dengan cara kredit. Semuanya.

Akibat rasa kemrungsung yang tak terkendali. Semua ingin cari uang. Untuk membayar cicilan. Tekanan pekerjaan luar biasa. Untuk dapat uang bayar cicilan itu. Lalu berkembang ke rasa takut. Siang malam dirundung rasa takut. Cemas.

Takut tidak bisa bayar cicilan. Takut barangnya disita. Malu dengan tetangga. Dan kerabat. Rasa takut dan cemas itu kadang ditutupi dengan ini: pergi ke karaoke. Teks lagu yang keluar di layar karaoke bisa terbaca lain: akeh utange.... angel bayare (banyak utangnya, susah bayarnya).

Dengan suluk setidaknya ada jeda. Ternyata tetap hidup. Baik-baik saja. Pulang ke rumah, rumahnya masih ada. Semuanya masih ada. Hidup itu ternyata sederhana. Simpel. Tapi utang juga tetap tidak hilang. Cicilan tetap harus dibayar.

Saat saya diminta mengisi salah satu acara di suluk itu, saya ingat saat suluk dulu. Itulah cara untuk mencuci hati. Kita tahu kalau baju kita kotor kita cuci dengan detergen. Kalau badan kita kotor kita cuci dengan sabun.

Tapi bagaimana cara mencuci hati yang kotor? Pasti tidak dengan detergen atau sabun. Padahal hati kita bisa jadi lebih kotor dari baju kita. Tapi pertanyaan bertubi-tubi dari peserta suluk yang harus saya jawab hari itu bukan soal teknik cuci hati. Melainkan bagaimana agar penganut tarekat tetap bisa kaya. Satu sifat yang kelihatannya bertentangan.

Maka forum tarekat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Kholidiyah pimpinan KH Mohammad Nizam As-Shofa di pelosok Sidoarjo itu ramai dengan pertentangan antara zuhud dan duit. Nizam yang menjadi moderatornya. Beliau adalah alumnus Universitas Al Azhar Mesir.

Dia inilah yang menciptakan nada selawat Astaghfirullah yang terkenal itu. Yang menjadi lebih terkenal karena banyak orang mengira itu suaranya Gus Dur. Ah, sudahlah. Sampai di sini saja dulu. Kalau tulisan ini diteruskan bisa jadi orang akan takut mencari uang. (dis/rom/k11)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .