MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Rabu, 28 Maret 2018 09:38
Bulog Desa Penebus Dosa

PROKAL.CO, Oleh: Dahlan Iskan

BISAKAH “peran Bulog” model Irwansyah dari Desa Untoronadi, Magetan, di-scale up? Dikembangkan? Itulah pertanyaan yang membanjir sepanjang hari kemarin. Apalagi yang nge-share tulisan tentang Irwansyah edisi kemarin (Bulog Desa Bikin Bangga) itu ampun-ampun; lebih banyak dari tulisan tentang perang dagang Amerika-Tiongkok. Ramai sekali.

Topik itu pula yang kami diskusikan di pendopo Pesantren Sabilil Muttaqin Takeran, Magetan. Saat puluhan tokoh masyarakat hadir. Di samping topik penting lainnya, kiat memproduksi pakan sapi yang lebih murah dari pakan yang dijual pabrik. Untuk membuat iklim beternak sapi di desa bisa lebih menarik. Topik pakan ternak ini dibahas atas penemuan drh Budi. Berupa ramuan 10 jenis limbah.

Alumnus Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, itu memilih jadi orang Magetan. Karena sang istri dari lereng Gunung Lawu. Irwansyah sendiri, saat dialog tersebut, jelas-jelas menyatakan kemampuan keuangannya terbatas. Hanya cukup untuk 40 petani. Dia mengaku hanyalah seorang pedagang pupuk kelas desa. Bukan kelas kecamatan. Apalagi kabupaten.

Kalau saja di tiap desa bisa ditemukan satu Irwansyah, setidaknya akan ada 30 ribu petani yang tertolong. Di tiap kabupaten. Tanpa pemerintah kehilangan apa-apa. Bahkan tanpa pemerintah tahu apa-apa. Tapi mengharapkan lahirnya satu Irwansyah di satu desa tidaklah realistis. Apalagi menciptakannya.

Hanya seorang bupati yang kharismatik yang bisa meng-copy Irwansyah di tiap desa. Lewat kewibawaan informalnya. Bukan instruksi kedinasannya. Tapi itu juga hil yang mustahal. Lalu, adakah cara yang lebih realistis? Ada. Pemerintah bisa mengaturnya. Bukan melakukannya. Kalau pemerintah yang melakukan justru akan banyak benturan. Benturan birokrasi. Kewenangan. Rebutan anggaran.

Lalu bagaimana? Berkacalah pada Irwansyah. Pada dasarnya, Irwansyah itu seorang integrator. Mungkin dia tidak menyadarinya.  Integrator yang tanpa birokrasi. Irwansyah telah mengintegrasikan Bulog, Bank Indonesia, Bappenas, Kementan, dan BUMN. Sekaligus. Untuk level desa.

Tanpa ada birokrasi. Tanpa ada benturan kewenangan. Dia sendiri yang merencanakan. Dia sendiri yang mengoordinasikan petani. Dia sendiri yang membuat peraturan. Dia sendiri yang mencairkan uang. Dan dia sendiri yang tahu dari mana sumber uang itu; hasil jualan pupuk di kiosnya.

Saya melihat yang bisa menjadi integrator seperti itu hanyalah swasta. Atau setengah swasta. Tapi swasta pasti tidak mau. Labanya kurang banyak. Maka yang setengah swastalah yang bisa melakukannya; BUMN. Lebih konkretnya, pabrik pupuk. Yaitu, PT Pupuk Indonesia.

Irwansyah bisa menjadi Bulog desa karena dia jualan pupuk. Yang mutlak diperlukan petani. Petani bergantung habis pada pupuk. Kalau "pabrik pupuk" kelas desa seperti Irwansyah saja bisa, alangkah dahsyatnya kalau PT Pupuk Indonesia jadi Irwansyah untuk skala nasional.

Agar tidak ada kendala, harus ada satu komando; Bulog diakuisisi Pupuk Indonesia. Biar menjadi satu holding. Satu komando. Pada masa lalu, pabrik-pabrik pupuk urea kita pernah berjasa besar. Pada awal Orde Baru. Idealismenya luar biasa. Meningkatkan produksi beras gila-gilaan. Rakyat saat itu terancam kelaparan massal. Berkat urea yang cukup kebutuhan pangan tercukupi.

Tapi pabrik-pabrik itu kemudian jadi “binatang” bisnis biasa. Cari laba sebesar-besarnya. Bahkan kebablasan, produksi urea kian besar. Kapasitas pabriknya naik terus. Sampai-sampai petani kecanduan urea. Melupakan organik. Akhirnya, tanah pertanian banyak yang mati. Kesuburannya menurun. 

Pupuk Indonesia harus mengakui sisi “dosa” ini. Kaya karena dosa kuranglah berkah. Maka saatnya tiba. Pupuk Indonesia mengembangkan idealisme lagi; menolong petani. Tanpa harus rugi. Memerankan peran Irwansyah di mana-mana. Di seluruh Indonesia. (far/k11)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .