MANAGED BY:
RABU
18 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Selasa, 27 Maret 2018 09:27
Iklan Facebook di Halaman Koran

PROKAL.CO, Catatan: Faroq Zamzami
(Pemred Kaltim Post)

ANDA mungkin sudah mendengar tentang aplikasi kuis buatan seorang peneliti yang membocorkan data pribadi jutaan pengguna Facebook pada 2014. Ini adalah pelanggaran kepercayaan, dan saya minta maaf kami tak berbuat lebih kala itu. Kami sekarang mengambil langkah agar kejadian seperti ini tak terulang lagi”. Susunan kalimat permintaan maaf tersebut datang dari Mark Zuckerberg. Dimuat di sejumlah media cetak mainstream di Amerika Serikat (AS), Minggu (25/3) waktu setempat. Memakan satu halaman. Tak tanggung-tanggung, terbit di New York Times, Wall Street Journal, hingga The Washington Post.

Permintaan maaf itu “buah” dari kesalahan Facebook. Media sosial (medsos) ini mengakui, sekitar 50 juta data pribadi penggunanya dicuri dan disalahgunakan oleh pihak ketiga, yakni firma analisis data Cambridge Analytica. Firma tersebut bekerja untuk kampanye pemenangan Donald Trump pada Pemilihan Presiden (Pilpres) AS 2016 lalu.

Pekan lalu, Mark yang merupakan CEO Facebook itu sudah berbicara terkait skandal tersebut melalui akun pribadinya. Lewat akun Facebook-nya, Mark juga sudah meminta maaf dan berjanji bakal memperbaiki sistem keamanan untuk melindungi privasi pengguna.

Lantas, jika sudah berbicara Facebook, mengapa masih mengontrak satu halaman koran media-media ternama, untuk melakukan hal sama; meminta maaf? Yang mana untuk itu, dia harus merogoh kocek untuk memasang iklan-iklan tersebut.  

Ada analisis sederhana mengapa Mark merasa wajib menyampaikan permohonan maafnya melalui koran. Walaupun medsos miliknya sebegitu perkasanya di dunia. Awal tahun ini saja disebutkan, pengguna aktif bulanan jejaring sosial tersebut ada 1,2 miliar!  Nyaris tak ada kids zaman now yang tak memiliki akun Facebook. Tak hanya kids, yang sudah punya cucu pun tak sedikit yang terdaftar di medsos yang diluncurkan Februari 2004 itu. Dengan segala kemewahan medsos yang dimiliki, agaknya Mark merasa belum cukup jika menyampaikan maafnya hanya di Facebook.

Analisis sederhana itu muncul dari statement simpel bahkan terdengar melucu, dari salah seorang anggota di sebuah grup WhatsApp (WA) jurnalis yang saya bergabung di dalamnya, kemarin siang. Saat itu, sedang dibahas sepintas selalu tentang permohonan maaf Mark tersebut. Lengkap dengan posting-an foto halaman The Washington Post yang memuat permintaan maaf berupa pernyataan sebanyak lima paragraf. Tak ketinggalan posting-an link-link media online yang memberitakan tentang fenomena tersebut.

Statement anggota grup WA itu begini, “Koran memang kuat seperti mantan. Sulit dikalahkan dan dihilangkan dari kenangan”. Apakah ini sebuah kalimat “nasionalis” dari pekerja koran? Tentu tidak. Dari kalimat senapas itu, ada analisis-analisis full data yang mendasari. Analisis full data yang menjadi pegangan para pekerja koran. Merujuk pada dua lembaga peneliti media dunia; Roy Morgan dan Nielsen.  

Roy Morgan adalah perusahaan asal Australia yang bergerak di bidang market research secara independen. Sudah menggeluti bidang ini lebih 70 tahun. Kemampuan mereka menilai sebuah produk ataupun jasa melalui customer satisfaction. Begitu juga Nielsen. Perusahaan research media berlabel internasional. Kredibilitasnya diakui.

Kedua lembaga itu secara reguler merilis hasil analisis mereka. Biasa tiap kuartal. Hasil analisis dua lembaga itu yang dijadikan salah satu rujukan nyaris semua media besar di Indonesia untuk menentukan strategis bisnis.

Analisis kedua lembaga itu, salah satu kekuatan media cetak saat ini adalah kepercayaan. Survei Nielsen kuartal ketiga tahun lalu, dalam salah satu kategori, yakni mengapa orang membaca koran, jawaban teratas adalah karena beritanya terpercaya. Di posisi kedua jawaban untuk kategori itu, orang membaca koran karena berita utama yang menarik. Kemudian, karena berita olahraga, dan jawaban selanjutnya karena ulasan kekinian yang lengkap.

Kepercayaan atas informasi di medsos jadi barang asing sekarang. Terutama di tengah gempuran berita-berita dusta. Tiap kota bahkan sampai harus membuat gerakan yang melibatkan multisektor untuk melawan hoax. Di Balikpapan, misalnya. Beberapa waktu lalu, sejumlah unsur, ada kepolisian, pemerintah daerah, hingga organisasi kemasyarakatan mendeklarasikan gerakan melawan berita bohong. Hoax sudah sangat akut, sehingga diperlukan gerakan nyata antihoax. Hoax memang jadi anak tiri medsos. Semakin menggurita medsos, hoax semakin tak terbendung.  

Bisa jadi, kalau permintaan maaf Facebook seperti di koran itu disebar luas di semua medsos, Facebook, Instagram, Twitter, Line, WA, dan lainnya, tak serta-merta langsung dipercaya. Bisa dikira hoax juga. Editan. Pengumuman itu bakal viral, iya. Tapi, paling viral karena perdebatan, benar tidak itu statement resmi. Atau viralnya paling karena para komentator sibuk berdebat masalah lain. Saling serang statement. Bahkan saling hujat.  Sesuatu yang awam di medsos. Kadang saya suka melihat sesuatu yang viral di medsos itu hanya ingin membaca kolom komentarnya. Banyak yang enggak nyambung. Kadang lucu-lucu juga.

Saudara kembar hoax adalah akun palsu. Banyak pengguna medsos memakai akun palsu. Bukan identitas sebenarnya. Lewat akun palsu inilah hoax berkembang biak. Ada juga akun yang kerjaannya memproduksi isu pemecah belah warga. Atau akun spesialis menghujat. Akun spesialis menebar kontroversi. Sampai akun spesialisasi pembuat kebohongan. Kondisi inilah yang membuat kepercayaan jadi barang mewah di medsos.  

Di lini lain, tingkat kepercayaan tinggi jadi senjata utama koran. Media cetak jelas wujudnya. Jika membuat kekeliruan, jelas yang dituju. Ada alamat kantor. Alamat email. Juga nomor telepon. Keberatan publik atas suatu pemberitaan yang dimuat koran, jelas tujuannya ke mana. Bahkan, Kaltim Post, sudah sejak lama punya lembaga ombudsman. Sebelum negeri ini punya Ombudsman RI (ORI). Ombudsman Kaltim Post bisa jadi tempat mengadu pembaca yang keberatan. Bakal ditangani secara objektif. Sebab, empat dari lima anggota ombudsman media ini adalah akademisi dan praktisi hukum.  Instrumen itu dibuat agar wartawan tidak offside dan bekerja sesuai kode etik jurnalistik. Muaranya, menjaga kepercayaan pembaca. 

Mark pun tahu, untuk mengembalikan kepercayaan pengguna Facebook, dia harus menyampaikannya di media yang terpercaya; koran. (*)


BACA JUGA

Rabu, 27 Juni 2018 07:02

Maaf, Saya Golput Karena Keadaan

CATATAN: ENDRO S. EFENDI(Anggota Dewan Redaksi Kaltim Post) HARI ini, tepatnya 27 Juni 2018, digelar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .