MANAGED BY:
SELASA
23 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Selasa, 27 Maret 2018 09:24
Bulog Desa Bikin Bangga

PROKAL.CO, CATATAN: DAHLAN ISKAN

KEMARIN (26/3), saya tengok kampung: di Magetan. Tepatnya ke Desa Tegalarum. Masih 16 kilometer dari Kota Magetan. Tiba-tiba saya ingin ke makam ibu. Di desa tetangga, yang sudah masuk wilayah Kabupaten Madiun.

Rumput liar menguasai makam itu. Sampai bisa untuk alas duduk saat tahlil di dekat pusara. Meski rumah di tempat kelahiran sudah tidak ada, tapi masih banyak keluarga di desa itu. Kami pun ngobrol tentang masa lalu. Terutama tentang ibu saya. Yang meninggal saat saya berumur 11 atau 12 tahun.

Tiba-tiba pula saya ingin ini: apakah mungkin masih ada orang yang menyimpan batik karya ibu saya. Maka orang-orang tua di desa kami sibuk mengingat-ingat: siapa yang dulu pernah meminta ibu untuk membikinkan batiknya.

Kesimpulannya: mereka minta waktu. Akan bertanya ke tetangga yang lebih jauh. Kami sendiri tidak menyimpan batik bikinan ibu. Tidak mungkin. Ibu hanyalah orang yang baru membatik kalau ada orang yang order. Itu pun yang memesan itu harus membawa kain putih sendiri. Umumnya kain mori.

Ibu juga tidak mampu beli malam, bahan yang kalau dipanaskan mencair, bahan utama batik. Ibu selalu minta sebagian upah dibayar di depan. Untuk beli malam. Dan soga; pewarna utama batik.

Ibu tidak pernah kekurangan order. Sepanjang hari duduk di pembatikan. Saya, yang masih kecil, sering bermain di antara kain yang sedang dibatik. Kadang, dari balik kain, jari saya mengikuti garis yang baru dilewati canting berisi malam cair. Ibu pernah bilang, sering juga menyusui saya sambil terus membatik.

Semua yang pernah memesan batik pada ibu sudah meninggal. Kami harus menelusuri lewat keturunan mereka. Terakhir ibu membatik kira-kira tahun 1962. Sebelum sakit. Perutnya membesar. Berisi air. Tetangga bilang ibu saya kena santet. Dibawa ke dukun. Opname di rumah dukun. Akhirnya meninggal.

Saya belum mengerti apa-apa. Ternyata, seandainya pengetahuan saya saat itu seperti sekarang sakitnya ibu itu sepele sekali. Apalagi biayanya. Dokter Puskesmas pun bisa mengatasi.

Mengapa ibu tidak punya warisan batik karyanya sendiri? Biar pun selembar? Ibu tiap hari memang mengenakan batik. Tanpa celana dalam. Begitulah di kampung saat itu. Tidak ada perempuan beli celana dalam.

Tapi, batik yang dipakai ibu selalu batik rombeng. Yang dibeli dari pasar loak. Jangan dianggap ongkos membatik itu cukup untuk hidup. Selalu saja ketika batiknya belum selesai ongkosnya sudah habis.

Saya, sebagai anak kecil, juga selalu pakai sarung batik. Untuk ke masjid. Tapi juga selalu batik rombeng. Pernah saya sangat gembira mendapat sarung batik baru. Katanya, batik Lasem. Tapi begitu dicuci bolong-bolong. Rupanya itu batik rombeng yang dibatik ulang. Tentu setelah bolong-bolongnya dilem. Maka gagal lah pakai sarung baru pada Lebaran hari itu.

Pulang kampung kali ini saya juga ketemu banyak petani. Tentu mereka berkeluh kesah. Tapi, saya hanya mendengarkan. Tidak bisa menjanjikan perbaikan apa-apa. Yang hebat adalah ini: ada di antara penduduk desa di Kecamatan Nguntoronadi yang bisa ikut mengatasi salah satu kesulitan petani itu. Saya dengarkan ceritanya dengan detail.

Saya anggap dia itu telah mau memerankan diri menjadi Bulog di desanya. Sekaligus menjadi bank tani yang diimpikan itu. Bahkan sekaligus menjadi dewa. Namanya Irwansyah. Umurnya 53 tahun.

Cara yang dia tempuh: saat panen tiba, dia bersedia membeli gabah petani yang harganya lagi anjlok. Tapi tidak beli putus. Masih ada hak petani di gabah yang dibelinya itu. Saat harga gabah sudah naik lagi, Irwansyah baru menjualnya.

Hasil jualan itu diperhitungkan begini: dipotong dulu uang sudah pernah diterima, dipotong pula biaya pengeringan. Kelebihannya dikembalikan ke petani. Luar biasa. Bulog-nya negara saja tidak bisa melakukan itu. Praktik yang dilakukan Irwansyah itulah yang oleh dunia modern disebut konsep resi gudang.

Konsepnya hebat. Tapi, tidak ada yang menjalankannya. Irwansyah, orang Nguntoronadi itu, telah mengalahkan Bulog. “Tapi, saya hanya mampu membeli terbatas. Uang saya tidak banyak,” ujar Irwansyah. “Saya hanya mampu menolong 40 petani di desa saya saja,” tambahnya. Dalam bahasa Jawa yang medok.

Di mana Irwansyah bisa dapat bisnis? Ternyata otaknya jalan: dia adalah penjual pupuk. Dan keperluan tani lainnya di desanya. Dia tahu persis petani itu selalu ingin agar panennya segera menjadi uang. Tidak bisa menunggu harga baik. Tapi, kalau dijual saat harga anjlok, hasilnya tidak memadai.

Itulah problem hampir semua petani. Problem lama yang tidak pernah ada jalan keluar. Apakah motif di balik ke-Bulog-an Irwansyah itu? Dia hanya ingin konsumennya loyal. Dia  ingin petani yang ditolongnya itu akan selalu beli pupuk dari kiosnya. Itu saja.

Semacam membuat ikatan batin dengan konsumen. Ternyata Irwansyah ini orang Aceh. Ibunya Padang. Bapak-ibunya sudah meninggal saat dia masih kecil. Lalu ikut neneknya. Buruh menguliti kelapa.

Irwansyah ikut membantu pekerjaan neneknya itu. Sambil jualan gorengan keliling kampung. Lulus SD, Irwansyah pamit ke neneknya untuk ke Jakarta. Naik kapal. Info yang dia dengar: di Jakarta itu mudah cari uang. Terutama di Tanah Abang. Upahnya menguliti kelapa cukup untuk beli tiket kapal Pelni.

Di Tanah Abang, Irwansyah ditolong seorang Tionghoa. Boleh tidur di rumahnya pada hari pertama di Jakarta itu. Asal mau bantu pekerjaan rumah. Tiap hari dia ikut ke Tanah Abang. Lalu punya kenalan-kenalan.

Bisa ikut jualan buku. Mulai punya uang. Bisa bayar kontrakan. Irwansyah jualan apa saja yang lagi laku. Sambil tetap sekolah di SMP. Lalu SMK. Di dekat kontrakannya itu ada gadis yang juga mengontrak ruangan. Buruh di pabrik tekstil di Cimanggis.

Sering ada lelaki yang mengetuk pintu kontrakan gadis itu. Tapi, enggak pernah dibukakan pintu. Dia tahu lelaki itu tidak disukai sang gadis. Suatu kali Irwansyah mencegat lelaki itu. Mengaku sebagai pacar sang gadis meski sebenarnya belum kenal.

Singkat cerita, Irwansyah berkenalan. Lalu minta sang gadis pulang ke kampungnya. Untuk minta izin bolehkan jadi istrinya. Boleh. Irwan pun menikahinya. Di kampung sang gadis: Nguntoronadi, Magetan. “Begitu susah saya mencari Nguntoronadi itu di mana. Saya belum pernah keluar dari Jakarta,” katanya.

Begitulah Irwansyah jadi penduduk Nguntoronadi. Melihat peluang jualan pupuk. Tapi dagang pupuk perlu modal besar. Dia putuskan cari modal: pergi ke Australia. Mau kerja apa saja. Dalam dua tahun harus bisa kumpulkan uang. Cukup untuk dagang pupuk di Nguntoronadi.

Itulah kisah sukses Irwansyah. Dari zero to hero benaran. Latihan berjualan sejak kecil ternyata membuatnya bisa hidup sebatang kara di Jakarta. Bahkan kelak, pada 2018, bisa menjadi Bulog di desanya. (dis/rom/k11)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 08:07

Bayar Renminbi, Kembalian Dolar

OLEH: DAHLAN ISKAN INI makan malam pertama saya di Korea Utara (Korut): bayar pakai renminbi. Kembaliannya…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:43

Wajah Baru Jalan Thamrinku

JANGAN  lupa memuji wajah baru Jalan Thamrin, Jakarta. Atau jangan lupa memberi masukan. Mumpung…

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36

Fan Bingbing

OLEH: DAHLAN ISKAN FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .