MANAGED BY:
KAMIS
26 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 24 Maret 2018 07:55
Sudah Tepatkah Menghadapinya?

CATATAN Farid Nurrahman

Farid Nurrahman

PROKAL.CO, KERESAHAN  warga Samarinda atas bencana banjir yang terjadi beberapa hari terakhir cukup menjadi perhatian berbagai media. Munculnya titik-titik banjir baru semakin membuat masyarakat bertanya-tanya mengapa masalah banjir selalu menghantui.

Berkaca dari indikasi program Pemkot Samarinda 2016–2021, prioritas optimalisasi pengendalian banjir berada di urutan nomor 1. Pada proses penjabarannya, target lima tahun kerja pemerintah kota adalah untuk terlaksananya pengendalian banjir dan relokasi tepi Sungai Karang Mumus (SKM).

Pertanyaannya adalah apa benar relokasi kawasan kumuh tepi SKM dapat mengurangi titik banjir secara signifikan. Faktanya belum ada pembuktian lanjut yang secara nyata menyebutkan perencanaan tersebut akan berdampak positif.

Belum selesai tugas pertama, kini muncul titik-titik baru yang bahkan belum pernah terkena bencana banjir sebelumnya. Jika kita melihat dari sejarah kota, tercatat adanya indikasi banjir 10 tahunan, dimulai 1998, dilanjutkan 2008 dan kini memasuki era 2018.

Persoalan penyebabnya pun berbeda. Mulai aliran tampungan drainase, kurangnya daerah resapan, hingga eksploitasi lingkungan secara besar-besaran. Tercatat pada prioritas program pengendalian banjir Samarinda, ditarget berkurangnya 40 titik lokasi banjir selama lima tahun. Dengan munculnya titik baru, artinya harus ada kajian ulang terhadap perencanaan tersebut.

Pada dasarnya, terdapat tiga siklus penanganan banjir yaitu pencegahan (prevention), penanganan (intervention), dan pemulihan (recovery). Sehingga program prioritas pengendalian banjir yang bersifat berkelanjutan harus mencakup poin pokok tersebut.

Tiga poin penting dalam program prioritas pengendalian banjir yaitu relokasi enam segmen kawasan kumuh SKM, berkurangnya 40 titik lokasi banjir, dan pengamanan jalur hijau bantaran sungai.

Berkaca pada program tersebut, dapat diambil hipotesis, bahwa penanggulangan banjir Samarinda masih berada pada tataran preventif/pencegahan, dan belum memasukan unsur penanganan dan pemulihan.

Pada tahapan penanganan, program yang bisa dijalankan untuk permasalahan ini adalah membuat sistem informasi peringatan dini tentang prakiraan bencana serta titik-titik baru yang akan menjadi lokasi banjir berikutnya.

Jadi, masyarakat terdampak bisa bersiap untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan terburuk. Program lainnya yang bisa dikerjakan pemerintah bersama masyarakat yaitu reaksi cepat dan bantuan penanganan darurat seperti penyiapan pompa yang dapat disebarkan ke titik-titik yang memerlukan penanganan ekstra.

Tahap terakhir yaitu pemulihan. Di mana program-program yang dijalankan berkaitan dengan kegiatan sosial seperti memberikan keperluan hidup sehari-hari disertai perbaikan sarana dasar, pembersihan kawasan, rekonstruksi setelah banjir, rehabilitasi, dan pemulihan kondisi fisik/nonfisik.

Dapat dilanjutkan dengan penilaian kerusakan/kerugian setelah banjir. Kemudian melakukan kajian kembali terhadap penyebab terjadinya banjir yang akan dijadikan dasar dan patokan dalam proses perencanaan selanjutnya.

Berkaca pada pengalaman menghadapi banjir selama lebih 20 tahun, masyarakat Samarinda sudah bisa dikatakan memiliki mental baja. Yakni, tahan terhadap bencana, memiliki toleransi tinggi, tidak terlalu banyak protes, dan selalu menerima keadaan pemerintahannya. Harapannya, itu bukan berarti selalu menjadi korban karena ketidaktepatan perencanaan. (rom/k8)


BACA JUGA

Rabu, 25 April 2018 08:17

Satu Tahun Menyongsong Pemilu Serentak

OLEH: NOOR THOHA SPD SH(Ketua KPU Kota Balikpapan) SATU tahun menyongsong pemilihan umum legislatif…

Rabu, 11 April 2018 08:35

Profesionalisme Kepala Sekolah

OLEH: NOOR AIDAWATI, M.PD.(Guru SMK 1 Samarinda) KEPALA sekolah adalah orang yang diberi wewenang dan…

Rabu, 11 April 2018 07:26

Konsekuensi Revolusi Industri (2-Habis)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) MENANGGAPI revolusi industri…

Selasa, 10 April 2018 08:16

Jika Sungai Mahakam Tanpa Ikan

Oleh: Etik Sulistiowati Ningsih SP MSi(Lecture and Enumerator Unmul Samarinda) MENYUSUR sepanjang Sungai…

Selasa, 10 April 2018 07:05

Konsekuensi Revolusi Industri (1)

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO(Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan) WALAU isunya sudah sedikit…

Minggu, 08 April 2018 07:55

Ketimpangan Akses Informasi Kesehatan

CATATAN: dr DANIAL* BEBERAPA waktu lalu, kesedihan menimpa seorang kerabat penulis. Betapa tidak, sang…

Jumat, 06 April 2018 08:40

Mewaspadai Politisasi Agama dalam Pilgub Kaltim

 OLEH: BAMBANG ISWANTO(Pemerhati Pemilu, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda) PROGRES…

Kamis, 05 April 2018 05:29

Retorika Nyinyir vs Retorika Data

OLEH: SYAMSUL RIJAL(Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman)SERANGAN memang tidak melulu tentang…

Selasa, 03 April 2018 07:46

Menyambut Mal Pelayanan Publik di Kaltim

OLEH: RUSTAN AMARULLAH(Peneliti Birokrasi & Manajemen Pelayanan Publik-PKP2A III LAN) SETIAP kita…

Senin, 02 April 2018 08:57

Jadi Korban Skimming adalah Salah Kita Semua

OLEH: FIRDA Z. ABRAHAM(warga Samarinda yang menjadi peneliti di Kementerian Komunikasi dan Informatika…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .