MANAGED BY:
KAMIS
13 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Sabtu, 17 Maret 2018 05:59
Ni no Kuni Tanpa Ghibli

PROKAL.CO, PADA 2010, Level-5 merilis game berjudul Ni no Kuni untuk mesin portabel Nintendo DS. Yang membuat game ini istimewa adalah terlibatnya Studio Ghibli dalam pembuatannya. Para pemerhati anime tentu mengenal studio tersebut lewat karya-karya legendaris, misalnya Tenkuu no Shiro Laputa, Tonari no Totoro, dan Mononoke-hime.

Ghibli bukan hanya membuatkan segmen FMV (full-motion video) anime bagi Ni no Kuni. Nuansa grafis game tersebut juga didesain serupa dengan film-film Ghibli. Dan komposer andalan Ghibli, Joe Hisaishi, membuatkan aneka musiknya. Meski performa grafisnya dibatasi oleh teknologi Nintendo DS, Ni no Kuni sukses besar di pasaran dan di penilaian para kritikus.

Setahun kemudian, Level-5 merilis Ni no Kuni versi PlayStation3—mesin tercanggih saat itu. Antara versi portabel dan versi home system, praktis yang sama hanya jalan ceritanya. Kualitas grafis versi PlayStation3 bagaikan anime yang bisa dimainkan. Sistem permainannya mengalami perubahan signifikan. Versi ini juga sangat laris, karena penggemar game bisa lebih merasakan nuansa khas Studio Ghibli.

Konsep satu cerita dua versi game ini nantinya ditiru oleh Square Enix, ketika menggarap Dragon Quest XI. Ada versi Nintendo 3DS yang portabel, dan ada pula versi PlayStation4 yang bergrafis canggih. Beda dengan Ni no Kuni, Square Enix merilis kedua versi tersebut bersamaan.

Beberapa tahun berselang, akhirnya Level-5 mengumumkan sekuel Ni no Kuni. Ceritanya berkisar ratusan tahun setelah seri pertama. Dalam seri pertama, tokoh protagonis sempat mengunjungi sebuah negeri yang diperintah oleh ras manusia kucing. Negeri itulah yang jadi sentral bagi sekuelnya.

Diceritakan bahwa tahta kerajaan manusia kucing dikudeta oleh ras manusia tikus. Pangeran Evan yang tersingkir berusaha menyusun kekuatan untuk merebut kembali tahta. Ia dibantu oleh Roulan, pemuda yang merupakan presiden negeri di dimensi lain, dan Sharti, puteri pemimpin tertinggi bajak udara. Makhluk imajinn, semacam jin mungil, yang banyak muncul di seri pertama kali ini absen. Gantinya adalah funya, semacam hantu-hantu kecil.

Ni no Kuni II: Revenant Kingdom—judul sekuel ini—dibuat untuk mesin PlayStation4. Tak heran, kualitas grafisnya sangat tinggi. Teknologi yang lebih canggih juga memungkinkan penjelajahan dunia terbuka secara leluasa. Sistem pertempurannya berubah jadi real time, di mana karakter bisa bergerak ke manapun ketika menghadapi musuh.

Karena bertema membangkitkan kembali kerajaan, ada dua unsur permainan baru. Pertama, Pangeran Evan bisa membangun berbagai hal di wilayah yang berhasil direbutnya. Kira-kira seperti genre simulasi membangun kota. Unsur kedua adalah pertempuran RTS (real time strategy). Yang ini mirip DotA, di mana pemain menggerakkan unit-unit kecil untuk memerangi pasukan musuh. Kedua unsur ini mengingatkan kepada serial legendaris Gensou Suikoden.

Masalahnya, kali ini Studio Ghibli tidak terlibat. Level-5 berusaha meyakinkan bahwa kualitas Ni no Kuni II takkan menurun dari pendahulunya. Apalagi, komposer Joe Hisaishi masih ikut membantu. Bagaimana kualitas game ini? Sanggupkah meneruskan kejayaan Ni no Kuni? Kita masih harus menunggu setelah rilis pekan depan. (ray)

Sensasi Seri Pertama

Ketika Level-5 merintis proyek Ni no Kuni, Studio Ghibli baru saja merilis film Ponyo. Kebetulan belum ada proyek lain setelah film tersebut. Karena itulah mereka tertarik tawaran Level-5. Apalagi, cerita yang disiapkan oleh Level-5 senada dengan cerita yang biasa dibawakan oleh Studio Ghibli.

Ni no Kuni seri pertama berkisah tentang bocah bernama Oliver yang kehilangan ibunya. Air mata sedihnya memunculkan sesosok makhluk, yang membuatnya paham keberadaan dimensi lain. Berharap bisa menghidupkan kembali ibunya, Oliver pun memulai petualangan ke dimensi lain tersebut.

Dunia asal Oliver serupa dengan latar serial detektif Professor Layton milik Level-5. Sedangkan dimensi lainnya menggunakan tangan dingin Studio Ghibli, yang biasa menciptakan dunia yang surealis. Keseluruhan cerita Ni no Kuni tak terlalu kompleks, tapi disampaikan dengan sangat menyentuh.

Sistem permainannya pun menyimpan sejumlah keunikan. Dalam versi Nintendo DS terdapat fitur menggores simbol dengan stylus di layar sentuh, yang sangat berguna dalam permainan. Fitur ini terpaksa absen dalam versi PlayStation3. Beda utama lainnya, pemain bisa menukar data koleksi imajinn-nya dengan milik pemain lain, dengan cara menghubungkan dua mesin Nintendo DS secara nirkabel. Dalam versi PlayStation3, fitur ini diganti dengan DLC (downloadable content).

Lalu, kenapa Studio Ghibli absen dalam Ni no Kuni II? Sepertinya studio tersebut sedang sibuk restrukturisasi, berkaitan dengan rencana pensiun sutradara andalan mereka, Hayao Miyazaki. Itu juga sebabnya sudah cukup lama mereka tidak merilis film bioskop baru. (ray)

Reputasi Gemilang Level-5

Awal kiprah Level-5 adalah kontrak dengan Sony untuk menggarap salah satu game pembuka bagi mesin PlayStation2. Proyek Dark Cloud tersebut rilis beberapa bulan lebih lambat. Tapi, kualitasnya dipuji dan angka penjualannya memuaskan. Dengan genre RPG, Dark Cloud menampilkan fitur membangun kota, yang kelak dikembangkan dalam Ni no Kuni II.

Sekuel Dark Cloud, yang berjudul Dark Chronicle, jadi salah satu game PlayStation2 paling dikenang. Performa Dark Chronicle membuat Level-5 terima tiga kontrak besar sekaligus. Pertama, Rogue Galaxy, kerjasama selanjutnya dengan Sony. Kedua, True Fantasy Live Online, MMORPG ambisius milik Microsoft. Dan ketiga, Dragon Quest VIII, seri RPG legendaris yang untuk pertama kalinya menampilkan grafis berteknologi tinggi.

Proyek bersama Microsoft ternyata gagal. Tapi, dua proyek lainnya memberikan pemasukan melimpah. Level-5 jadi mampu merilis game-nya sendiri, tanpa harus bergantung perusahaan besar. Maka, lahirlah serial Professor Layton yang bergenre detektif, serta serial Inazuma Eleven yang memadukan RPG dengan sepakbola. Masih ada sejumlah proyek lain, misalnya Dragon Quest IX, tapi kedua serial itulah yang paling menghasilkan bagi Level-5.

Ni no Kuni jadi harapan baru. Tapi, situasi internal Studio Ghibli memaksa Level-5 menangani sekuelnya sendirian. Sebenarnya, ada satu hal yang membuat para penggemar game boleh optimis. Dark Chronicle dulu banyak menampilkan nuansa serupa film-film Ghibli. Jadi, sebenarnya gaya Ghibli sudah merasuki para personel Level-5 jauh sebelum Ni no Kuni seri pertama. (ray)


BACA JUGA

Rabu, 12 Desember 2018 07:42

RUTINITAS PADAT BIKIN PENAT

RUTINITAS itu-itu aja bikin semangat atau ’’api’’ kita menghilang. Alhasil,…

Rabu, 12 Desember 2018 07:39

Mengenal Burnout, si Nakal Penghilang Semangat

BANGUN pagi, sarapan, sekolah, istirahat makan bekal, pulang, lanjut les,…

Rabu, 12 Desember 2018 07:37

Ubah Plastik Jadi Bahan Bakar ala SMPN 44 Surabaya

HAYO, ngaku deh! Di antara kita pasti risih kalau melihat…

Selasa, 11 Desember 2018 06:57

Dear Human, Let Us Alive!

AKHIR-AKHIR ini, media sosial dipenuhi berita miris yang bakal bikin…

Selasa, 11 Desember 2018 06:56

Sama-Sama Melindungi yuk!

UNTUK menjaga kelestarian alam dan satwa yang ada, kita emang…

Selasa, 11 Desember 2018 06:54

Atur Barisan Bersama Paspen SMPN 19 Surabaya

PERNAH nggak melihat pasukan pengibar bendera sedang baris-berbaris? Keselarasan gerak…

Senin, 10 Desember 2018 07:08

Kearifan Lokal Jadi Modal

SULIT rasanya membayangkan mainan atau action figure asli buatan Indonesia.…

Senin, 10 Desember 2018 07:02

Serba-serbi Mainan Lokal

MASIH ragu-ragu menjadikan action figure produksi lokal sebagai salah satu…

Senin, 10 Desember 2018 07:01

Meet The Collectors

MESKI belum sepopuler produk-produk impor kenamaan, action figure produksi lokal…

Minggu, 09 Desember 2018 06:35

Si Mini Aktif Beraksi

OTAK kreatif harga mati. Buat terus hidup dan menginspirasi, inovasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .