MANAGED BY:
MINGGU
21 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 16 Maret 2018 09:33
Bocah-Bocah yang Diserang Penyakit Seksual

PROKAL.CO, Infeksi menular seksual telah menjalar hingga anak-anak. Penyakit yang seharusnya tidak hinggap pada masa bahagia mereka.

SINTA, bukan nama sebenarnya, adalah gadis kecil berusia 7 tahun yang tak berhenti menangis dalam perjalanan dari rumah menuju klinik. Ratapannya makin keras meskipun kedua orangtuanya berkali-kali membujuk dan mengusap pipi anak bungsu berkulit sawo matang itu. Tubuh mungil Sinta rupanya demam tinggi.

Di sebuah klinik di Penajam Paser Utara (PPU) awal Februari lalu, Sinta akhirnya diperiksa seorang bidan setelah mengantre selama beberapa menit. Sinta yang sedang diperiksa tiba-tiba memegangi alat vitalnya. Bidan yang menaruh curiga segera bertanya, “Kenapa ini, Nak? Ibu periksa dulu, ya?”

Betapa kaget sang bidan ketika melihat cairan seperti nanah keluar dari alat vital Sinta. Air seninya berwarna biru kecokelatan serta berbau tidak sedap. Dugaan Sinta menderita infeksi menular seksual yang berujung demam tinggi semakin kuat. Di tengah kecurigaan itu, Sinta yang terus menangis meminta pemeriksaan dihentikan.

Petugas kesehatan klinik segera meminta agar Sinta dirujuk ke dokter spesialis kulit dan kelamin di Balikpapan. “Harus segera diperiksa agar tidak semakin parah. Kasihan anaknya,” kata bidan kepada orangtua Sinta, seperti diceritakan ulang kepada Kaltim Post, pekan lalu.

Orangtua Sinta yang mendengar penjelasan bidan terheran-heran. Bagaimana bisa Sinta yang baru berusia 7 tahun terkena penyakit menular seksual yang biasanya diidap orang dewasa yang telah berhubungan intim? Jika Sinta pernah menjadi korban pelecehan, siapa pelakunya?

Keanehan itu akhirnya didengar Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Samarinda. Tim gabungan KPAI bersama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) PPU, kepolisian, serta tokoh masyarakat, menemui orangtua Sinta.

Keluarga itu tinggal di lingkungan yang sunyi, sekitar 5 kilometer dari jalan utama, yakni Trans Kalimantan PPU-Paser. Rumah Sinta adalah sebuah bangunan semipermanen dari kayu dan batu. Di dalam rumah, Sinta yang hanya mengenakan pakaian dalam sedang duduk di pangkuan ibunya.

Setelah beberapa kali pendekatan, tim akhirnya mendapat izin orangtua Sinta untuk mengobservasi. Seorang petugas KPAI kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepada anak perempuan itu. “Nak, kamu kenapa? Lagi sakit, ya? Om beri es krim, ya, kalau mau cerita-cerita,” ujar petugas.

Sinta sempat diam beberapa saat hingga akhirnya bercerita dengan jelas. Sejak enam bulan belakangan, Sinta mengaku, alat vitalnya berkali-kali dimasuki jari bocah lain. Pengakuan Sinta berikutnya lebih mengagetkan. Pelaku yang berbuat tak senonoh itu adalah anak tetangga yang masih berusia 9 tahun, sebut saja Radit. Jari yang kotor diduga menjadi sumber penyebab penyakit yang diderita Sinta.

Kejadian itu biasanya berlaku ketika keduanya asyik bermain. Sinta dan Radit sering bermain di luar rumah. Namun, tak jarang pula mereka mandi bersama di rumah Radit. “Rumah Radit sering kosong dan hanya ada neneknya,” tutur seorang sumber kepada Kaltim Post di lokasi kejadian.

Menurut sumber yang sama, perbuatan Radit diduga dilatarbelakangi kebiasaan ibunya yang kerap berganti-ganti pasangan dalam berhubungan intim. Radit diduga pernah melihat ibunya berhubungan badan. Tim gabungan akhirnya merehabilitasi Radit. Sementara Sinta, yang sampai hari ini menderita penyakit kelamin, masih menjalani pengobatan.

Di Samarinda, tiga anak perempuan diketahui menderita infeksi menular seksual. Devi, bukan nama sebenarnya, adalah pelajar SMP yang mengidap sifilis. Mulanya, Devi diketahui berhari-hari tidak pulang. Orangtua Devi kemudian melapor kepada polisi.

Setelah dicari, Devi rupanya sedang di sebuah lokalisasi liar di Kutai Kartanegara (Kukar). Padahal, Devi berasal dari keluarga berada. Orangtuanya adalah pedagang sukses. Kepada polisi, Devi mengaku menjajakan tubuhnya karena ikut-ikutan. Belakangan diketahui bahwa Devi mengidap sifilis karena perbuatannya.

Anak perempuan lain yang menderita sifilis adalah bocah berusia 10 tahun berinisial DL. Anak berkebutuhan khusus itu hidup diasuh pamannya berinisial AG yang berusia 41 tahun. DL diketahui disetubuhi pamannya, yang parahnya, menyiarkan langsung rekaman persetubuhan itu ke jaringan pedofilia lintas negara. AG juga diketahui menyetubuhi putri kandungnya yang berusia 17 tahun selama lima tahun. DL dan putrinya terjangkit sifilis.

***

Sifilis adalah penyakit kuno yang sudah diidap manusia sejak ribuan tahun. Namun, para ahli kuno masih kebingungan mengklasifikasikan sifilis sehingga bercampur dengan penyakit seksual yang lain. Banyak catatan, akhirnya memuat bias dan kesalahan mengenai penyebab dan gejala sifilis.

Rekam catatan sifilis yang paling bisa diandalkan adalah pada abad ke-15 di Eropa seperti ditulis Brian Shmaefsky dan rekan dalam Syphilis: Deadly Diseases and Epidemics (2003). Dari sekian banyak debat mengenai asal-muasal sifilis, kisah petualang tenar Christopher Columbus adalah yang paling sering digunakan.

Bermula dari kepulangan penjelajah Italia itu mengarungi Samudera Atlantik, sifilis muncul di Napoli, Italia, pada 1495. Orang-orang kemudian ramai memberi nama untuk "penyakit yang tercela" itu sebagai Penyakit Napoli. Sebagian lain memanggil sifilis dengan sebutan Penyakit Venesia, wilayah yang juga terpapar.

Panggilan demikian membuat orang Italia tidak nyaman. Lagi pula, penyakit itu lekat dengan hubungan seksual yang dipandang hal tabu. Masih dalam tulisan Brian Shmaefsky, banyak orang Italia menyanggah sekaligus menuding Columbus. Penyakit itu, kata mereka, dibawa Columbus dari dunia baru. Orang Italia lantas mengganti nama sifilis dengan sebutan Penyakit Spanyol, atas fakta bahwa seorang kru Columbus asal Spanyol yang menderita sifilis.

Penulis dan revolusioner Jerman bernama Ulrich von Hutten yang hidup masa itu turut mencatat sifilis. Penyakit itu sudah tersebar luas di daratan Eropa. Masyarakat Benua Biru akhirnya menyalahkan sebuah wilayah bernama Gauls, sekarang Prancis, yang menyebarkan sifilis besar-besaran. Penduduk Eropa percaya, prajurit Raja Charles VII dari Prancis yang dibayar dari berbagai daerah menjadi medium penyebaran. Sejak saat itu, sifilis disebut Penyakit Prancis.

Nama sifilis baru dikenal 30 tahun kemudian atau pada 1530. Seorang dokter Italia bernama Girolamo Fracastoro menulis sajak dengan karakter fiksi bernama Sifilis, penggembala romantis yang diklaim sebagai pembawa penyakit menakutkan itu. Sejak itulah, sifilis menjadi istilah slang untuk menyebutkan penyakit kelamin tadi.

Ketika Eropa memasuki era kegelapan, sifilis dianggap sebagai penyakit yang dikirim Tuhan. Para pendeta menyebut bahwa sifilis adalah ganjaran dari dosa manusia yang gemar berganti-ganti pasangan. Keadaan itu diperparah karena penjelasan secara ilmiah tidak juga memadai hingga era 1800-an.

Hari ini, sifilis dikenal sebagai penyakit yang disebabkan bakteri Treponema pallidum. Di bawah lensa mikroskop, bakteri itu berbentuk cacing yang bergoyang sangat lincah. Manusia dapat tertular bakteri itu melalui bagian tubuh yang mengandung mukosa seperti mulut dan alat kelamin. Rasa sakit yang diderita karena sifilis mirip dengan penyakit mag (Penyakit Menular di Sekitar Anda, 2015).

Gejala sifilis dibagi dalam empat fase. Pada fase primer, sifilis membentuk luka di alat kelamin atau mulut dan tidak menimbulkan rasa sakit. Penderita yang memasuki fase sekunder akan mengalami ruam di kulit selama 6-12 pekan. Di fase laten, sifilis tidak menunjukkan gejala apapun. Barulah di fase tersier, 3-15 tahun sejak infeksi awal, luka-luka mengerikan muncul di selangkangan dan mulut. Perempuan yang menderita sifilis bisa menderita keputihan dan pertumbuhan mirip kutil di genital. Tahap akhir sifilis adalah kerusakan otak, saraf, mata, atau jantung.

***

Dua tahun lalu, seorang gadis 14 tahun datang bersama ibunya ke RSUD Abdul Wahab Sjahranie di Samarinda. Sakit di area kelamin yang membawa gadis belia itu ke ruangan dr Daulat Sinambela, dokter spesialis kulit dan kelamin. Daulat menyimpulkan, pasiennya terserang human papillomavirus (HPV) atau tumbuhnya kutil.

Kepada ibu pasien, Daulat menguraikan penyebab penyakit yang disebabkan hubungan seksual. Awalnya, orangtua gadis tidak percaya sampai sang anak akhirnya mengaku. "Awalnya, ibunya marah kepada saya. Setelah ketahuan, anaknya yang dimarahi,” tutur Daulat kepada Kaltim Post ketika ditemui di Klinik Kellyn Medika, Jalan Danau Toba, Samarinda, pekan lalu.

Daulat mengatakan, infeksi menular seksual biasanya diderita orang-orang berusia produktif. Namun sekarang, usia penderita mulai bergeser. Pada seks usia dini, terang dia, tidak jarang dilakukan lewat oral atau dengan bantuan jari. Walaupun tidak berhubungan badan, potensi infeksi seksual tetap tinggi. Perempuan hamil yang mengidap IMS akibat virus juga kemungkinan menularkan penyakitnya kepada calon bayi ketika persalinan normal (tempat terinfeksi). Oleh sebab itu, lanjut Daulat, bedah caesar disarankan.

Mengenai semakin dininya infeksi menular seksual diderita manusia, lemahnya pengawasan orangtua terhadap anak jadi faktor internal. Pendidikan seks yang tidak diperoleh dari madrasah pertama, yakni keluarga, turut menambah potensi. “Perbincangan seputar seks masih dianggap tabu,” kata Daulat. Dari beberapa kasus yang ditanganinya, mayoritas orangtua pasien tidak percaya. Mereka menganggap anak yang berusia di bawah 17 tahun tidak mungkin berhubungan badan. (tim kp)


BACA JUGA

Minggu, 21 Oktober 2018 11:19

Penyelundupan Narkotika Didominasi Melalui Malaysia

JAKARTA— Kasus narkotika seakan tiada hentinya. Dari awal Oktober hingga pertengahan Oktober kasus…

Minggu, 21 Oktober 2018 07:16

Garansi Polder Tak Ada Buaya

SANGATTA – Kian dekat dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kaltim 2018 di Kutai…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:05

Ekspor CPO Bantu Selamatkan Rupiah

SAMARINDA  -   Kinerja ekspor Kaltim pada Agustus mengalami penurunan 14,03 persen dibandingkan…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:00

Dorong Pendapatan Petani, Gubernur Mau Petani Jual Karet Langsung ke Perusahaan

SAMARINDA - Petani karet diimbau tidak menjual hasil perkebunannya kepada tengkulak alias langsung ke…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:51

Minta Perda Baca Tulis Alquran Disahkan

TANA PASER – Sebanyak 768 santri Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan…

Jumat, 19 Oktober 2018 09:35

Kaltim Peringkat Nasional Kepemilikan Akta Kelahiran

SAMARINDA – Provinsi kaltim menempati urutan ke dua dalam peringkat nasional untuk kepemilikan…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:39

Beruntung Dibimbing Langsung Pencetusnya di Rusia

Gelar ahli hukum banyak dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Namun, untuk urusan ahli hukum luar…

Jumat, 19 Oktober 2018 08:25
Tiga WNA yang Ditahan di Rudenim Balikpapan

“Kalau Bisa Deportasi Saja Saya”

BALIKPAPAN – Tak mudah bagi warga negara asing (WNA) untuk bekerja di Indonesia. Harus paham hukum.…

Jumat, 19 Oktober 2018 06:52

Ekonomi Lesu, Donatur Zakat Kaltim Meningkat

BALIKPAPAN - Perekonomian Indonesia tercatat pada tiga tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang melesu.…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:15

DUAARR..!! Ledakan di Kampus Tewaskan 18 Orang

MOSKOW – Sebuah ledakan memorak-porandakan kampus Politeknik Kerch di timur Crimea kemarin (17/10).…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .