MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 16 Maret 2018 09:27
Pedagang Pasar Murah dan Keinginan yang Terkabul

Ketika Awak Kaltim Post Berumrah Bareng (2)

PUSAT OLEH-OLEH: Salah satu sudut pusat perbelanjaan di Jeddah yang sebagian besar tokonya menyertakan kata “murah”. Rombongan bus 78 saat mengunjungi Jabal Uhud.(RENDY FAUZAN/KP)

PROKAL.CO, Dalam sejarahnya, bangsa Arab memiliki tradisi berdagang. Bahkan, Rasulullah SAW sebelum menjadi nabi, juga seorang pedagang. Tak heran, jika saat ini pedagang di Tanah Haram begitu banyak jumlahnya. Dan, pandai pula untuk menarik calon pembeli.

LANGKAH pendek namun cepat menerobos iringan manusia yang baru menunaikan salat Asar di Masjid Nabawi. Kibaran kain gamis putih yang dikenakan Ustaz Sarbini berbunyi cukup nyaring terdengar dari jarak lima langkah di belakangnya. Harus sedikit berlari untuk mengejar kaki-kaki lincah itu. “Ustaz, tunggu”. Yang dipanggil lantas menolehkan muka sambil tersenyum. “Ayo, nanti keburu tutup,” katanya.

Ya, sore itu saya bersama rekan jamaah, Ryan Hidayat dan Widia Astuti, diajak berkeliling atau berziarah ke tempat-tempat bersejarah semasa hidupnya Rasulullah dan para sahabat. Sebetulnya, bukan hanya kami bertiga yang diajak, tapi seluruh rombongan bus 78. Jumlahnya ada 20 orang. Paling sedikit ketimbang rombongan jamaah NRA di bus yang lain. Rata-rata jumlah per bus sebanyak 40 orang. Jadi, kami lebih leluasa duduk di kursi bus yang berkapasitas 45 orang itu.

Namun, saat itu hanya kami bertiga yang standby. Ustaz Sarbini tak hanya mengetahui sejarah, tapi juga paham soal riwayat-riwayat hingga soal fikih. Sehingga kami, para jamaah, bisa memahami secara utuh.

Pertama, kami diajak melihat museum Rasulullah dan para sahabat. Lokasinya berada di samping kanan Masjid Nabawi. Di tempat itu, terdapat miniatur rumah Nabi. Namun sayang, museumnya tutup. Dan kami tak tahu kapan jadwal bukanya. Jadi, hanya melihat bangunan dari luar.

Kemudian, kami ziarah ke Masjid Gumamah—tempat Rasulullah menggelar salat Istiska (minta hujan), kemudian rumah Abu Bakar Sidik yang jaraknya berdekatan dan rumah Ali bin Abi Thalib. Rutenya memutar kembali ke depan museum. Kalau sebelumnya di samping kiri museum Nabi, persis berbatasan dengan Masjid Nabawi, kali ini kami berjalan di seberangnya, di sisi sebelah kanan.

Tujuan selanjutnya mengunjungi tempat Sahabat Abu Bakar Sidik dibaiat menjadi khalifah, sebelum balik ke hotel. Nah, persis di perempatan seberang museum itu, ada pasar yang menjajakan aneka barang; makanan hingga pakaian.

“Kalau belanja di sini murah,” kata Ustaz Sarbini sambil terus berjalan.

“Wah, boleh nih, nanti kita ke sini,” ujar Ryan. Kebetulan, teman saya itu sudah punya daftar belanjaan. Maklum, punya banyak kemenakan.

***
Keesokan harinya. Sekitar pukul 14.30 waktu Madinah, saya dan Ryan kembali ke tempat itu. Kami ajak juga sang Ustaz yang saat itu tak padat jadwal. Maklum, besoknya kami harus berangkat ke Makkah.

Ternyata harganya tak semurah yang dibayangkan. Harga pakaian gamis dan daster perempuan jika dikurskan rupiah, ya tak jauh berbeda dengan harga di Tanah Air. Belum lagi jika bicara kualitas.

Harga yang ditawarkan juga kurang fleksibel. Biasanya dengan model pasar kaki lima, tawar-menawar harga sangat lumrah. Berbeda ketimbang beli di toko. Saya sempat diusir bahkan ketika nawar sebuah daster yang tertera 80 riyal. Saya tawar 50 riyal. “No, haram-haram,” kata penjual Arab itu, sambil mengibas-ngibaskan tangannya, tanda mengusir. Aneh memang, baru kali ini lihat ada penjual yang mengusir calon pembeli.

Kami tinggal. Pindah ke pedagang di depannya. Kali ini pedagangnya tampak masih muda. Kisaran 25–30 tahun. Lebih ramah, dan enak diajak ngobrol meski dengan bahasa sebisanya. Untuk daster yang sama, dia menawarkan harga 80 riyal dan diskon 10 riyal.

Lain penjual lain diskon, lain toko juga lain harganya. Tapi, karena di awal sudah diinfokan tempat itu sebagai pasar murah, ya tak masalah. Mungkin di tempat lain harganya bisa lebih mahal.

Malamnya, selepas salat Isya, kami berenam rombongan mencoba keliling menikmati suasana malam Madinah. Cuaca antara 22–24 derajat Celsius. Ketika melewati ruko-ruko, untuk produk yang sama tertulis harganya daster 45 riyal saja. Wow, ternyata ruko-ruko yang awalnya dianggap mahal, bisa lebih murah. Bahkan, ketika teman saya, Hasir, tawar-menawar, harganya bisa dapat 100 riyal untuk 5 helai daster. Apalagi saat ke Masjid Kuba keesokan harinya, harga pakaian diobral 15 riyal saja.

Jadi, jika ingin mendapatkan barang yang murah dan bagus, harus sabar dan pintar-pintar menawar. Beda toko atau tempat, beda harga. Lain orang, lain diskonnya.

Untuk harga kurma, misalnya kurma ajwa atau yang sering disebut kurma nabi. Kisaran dari 70 riyal sampai 50 riyal per kilogramnya. Rata-rata pedagang menawarkan harga banderol dan diskon. Cara berjualannya begitu. Misalnya nawarkan 70 riyal diskon 10 riyal, jadi 60 riyal. Itu dari strategi penjualan.

Belum lagi cara pedagang merayu pembeli agar masuk ke tokonya. Banyak cara. Ada yang kasar, langsung main tarik tangan jamaah. Ada juga yang nyodorin tempat duduk, baru setelah kita nyaman, mereka menawarkan dagangannya. Sebagian melakukan model sebar brosur di depan toko. Sambil memanggil dengan bahasa jamaah yang melintasinya kendati seadanya. Kadang ada yang pakai bahasa Indonesia, Sunda, hingga Bugis.

Di Jeddah malah ada ruko-ruko yang memasang kata “murah” di belakangnya. Hampir sederetan ruko-ruko yang biasa didatangi jamaah Indonesia, bertuliskan murah. Seperti Ali Murah, Sultan Murah, dan murah-murah lainnya. Kata “murah” hanya sebagai strategi penjualan. Mereka tahu, jamaah Indonesia doyan belanja. Jadi, jangan terkecoh dengan nama murah.

KEINGINAN TERKABUL

Salah satu jamaah, Muhammad Fahroedin dari rombongan bus 87, setelah umrah pertama di Masjidilharam, tampak lesu. Wajahnya pucat pasi. Mungkin karena perubahan cuaca dan jadwal yang padat. Setelah tiga hari di Madinah dan satu hari di Makkah, baru terasa badannya drop. Dia hanya menghabiskan waktunya istirahat di kamar. Makanan susah masuk. Untung saja, setelah umrah pertama tidak ada jadwal kegiatan dari NRA.

Ketika jadwal umrah kedua, keesokan harinya, tampak membaik. Pagi harinya sudah terlihat sarapan di restoran hotel. Kendati wajahnya masih tampak pucat. Kedua tangannya lebih sering tampak bersedekap. Berusaha membaluti tubuhnya yang kurus. Meski dalam kondisi greges, kedinginan, Didin—sapaan akrabnya—masih semangat. Dia akan ikut umrah kedua.

Didin sempat berujar kepada teman sekamarnya bahwa dia ingin sekali melihat hujan di Tanah Haram ini. Memang tidak seperti di Tanah Air, hujan hampir hari-hari terjadi. Apalagi awal tahun yang memang sudah musimnya.

Setelah tawaf dan berlanjut sai. Tiba-tiba dari pintu luar Masjidilharam, beberapa orang berlarian masuk. “Ada apa” pikir saya. Ternyata di luar hujan. Tampak beberapa jamaah ada yang sengaja berhujan ria sambil berdoa. Ini persis seperti yang diinginkan teman saya, Didin.

Ini peristiwa yang jarang terjadi. Ustaz Sarbini cerita, selama dia belajar di Makkah, lebih dari 5 tahun. Baru 4 kali melihat hujan. Barakallah terkabul.

Pun begitu dengan ketua rombongan Kaltim Post, H Rusdiyansyah Aras, punya keinginan untuk makan yang berkuah. Bahkan, kadang rada ogah-ogahan makan di restoran. Kadang hanya minta Lucman, teman sekamarnya, membawakan roti gandum ke kamar. Atau, sebelum turun makan di restoran, minta difotokan dulu menunya. Kalau tak tertarik, sama sekali tidak turun makan. “Bapak pengin makan rawon. Atau yang berkuah,” kata Lucman.

Soal menyebut rawon itu, kata Lucman, sudah berkali-kali disampaikan. Lewat obrolan selintas, atau sambil bercanda.

Sampai kami bersama Ustaz merencanakan mencari restoran yang ada menu rawonnya. “Di Damanhuri (tempat restoran itu), sepertinya ada rawon. Tapi, nanti selesai kegiatan saya ajak ke sana,” ujar Ustaz Sarbini.

Namun, belum sempat ke Damanhuri, ternyata restoran hotel menyediakan menu rawon. Rasanya juga lumayan mantap khas cita rasa Indonesia. Tampak Pak Rusdiansyah pun makan lahap siang itu.

Seorang jamaah perempuan, saat berziarah ke rumah Nabi Muhammad di Makkah dan ke Jabal Qubais. Atau gunung tempat Rasulullah SAW diriwayatkan membelah bulan sebagai salah satu mukjizatnya, sempat berceletuk begini, “Ustaz cari bakso di mana?” Meski sambil lalu. Malamnya, setelah pulang dari ziarah. Ternyata hotel tempat menginap menyediakan menu bakso. Barakallah. (dwa/far/k11)


BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 11:00

Dorong Pendapatan Petani, Gubernur Mau Petani Jual Karet Langsung ke Perusahaan

SAMARINDA - Petani karet diimbau tidak menjual hasil perkebunannya kepada tengkulak alias langsung ke…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:51

Minta Perda Baca Tulis Alquran Disahkan

TANA PASER – Sebanyak 768 santri Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan…

Jumat, 19 Oktober 2018 09:35

Kaltim Peringkat Nasional Kepemilikan Akta Kelahiran

SAMARINDA – Provinsi kaltim menempati urutan ke dua dalam peringkat nasional untuk kepemilikan…

Jumat, 19 Oktober 2018 06:52

Ekonomi Lesu, Donatur Zakat Kaltim Meningkat

BALIKPAPAN - Perekonomian Indonesia tercatat pada tiga tahun terakhir ini menunjukkan grafik yang melesu.…

Kamis, 18 Oktober 2018 13:15

DUAARR..!! Ledakan di Kampus Tewaskan 18 Orang

MOSKOW – Sebuah ledakan memorak-porandakan kampus Politeknik Kerch di timur Crimea kemarin (17/10).…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:46

Cerita Perjalanan Sunarman, Napi Palu yang Menyerahkan Diri ke Rutan Solo

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa…

Rabu, 17 Oktober 2018 10:40

Waduh, Utang Luar Negeri Indonesia Naik, Tembus Rp 5.410 Triliun..!!

JAKARTA- Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar USD 360,7 miliar atau Rp 5.410 triliun (kurs…

Selasa, 16 Oktober 2018 11:14

MAAF..!! Tol Balikpapan - Samarinda Molor, Ngga Jadi Diresmikan Jokowi

SAMARINDA- Tol Balikpapan-Samarinda batal diresmikan akhir tahun ini. Padahal mantan Gubernur Kaltim…

Senin, 15 Oktober 2018 11:42
Menelisik Prostitusi Online di Kota Semarang

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota…

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo

Lestarikan Budaya Batak karena Cinta

Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .