MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 16 Maret 2018 09:14
Seks Dini, Kanker Serviks Mengintai
Fernando TT Sitorus

PROKAL.CO, KANKER serviks dan kanker payudara merupakan ancaman menakutkan bagi perempuan. Pelan tapi pasti, kanker serviks merenggut nyawa 20 kaum hawa setiap hari. Seperti diungkapkan dr Fernando TT Sitorus, data menunjukkan kanker serviks paling banyak diderita. Menempati urutan pertama di Indonesia dan kedua di dunia.

Pria berkacamata ini menyebut, kebanyakan kanker serviks disebabkan human papillomavirus (HPV). Ada sekian banyak tipe HPV, namun yang paling umum ditemui adalah HPV tipe 16 dan 18. Fernando menjelaskan, orang yang terinfeksi HPV akan mengalami fase perubahan sel mulai normal, CI, CII, dan CIII. Tahap ini biasa disebut lesi pra-kanker.

“Mulai terjangkit virus hingga berubah menjadi kanker, dibutuhkan waktu sekitar 10–17 tahun. Kondisi tertentu, proses perkembangan sel kanker bisa terjadi lebih cepat,” jelas spesialis kebidanan dan penyakit kandungan dari Rumah Sakit Samarinda Medika Citra (SMC) itu.

Dia memaparkan, kasus kanker serviks biasanya dialami perempuan berusia 30–50 tahun ke atas. Tapi, Fernando mengatakan, kecenderungan saat ini penderita kanker serviks semakin muda. Gaya hidup bebas dan gemar berhubungan intim dengan pasangan berbeda-beda jadi penyebabnya.

Tak hanya itu, melakukan hubungan seks pada usia dini menjadi salah satu faktor risiko penyebab kanker serviks. Celah besar terkena kanker juga dimiliki perempuan perokok, punya anak banyak, dan tak dapat menjaga kebersihan organ reproduksi.

"Melakukan hubungan intim pada usia dini bisa meningkatkan risiko terserang kanker serviks. Batasan minimal hubungan seks adalah 17 tahun. Namun, lebih efektif jika dilakukan ketika sudah menginjak 20 tahun, dan itu pun telah harus ada ikatan pernikahan yang resmi," ujarnya.

Fernando mengatakan, beberapa cara bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker. Yakni, dengan metode screening pap smear dan inspeksi visual asam asetat (IVA).

Perempuan yang pernah melakukan hubungan badan dan masih aktif melakukannya wajib menjalani pemeriksaan ini. Tak hanya sekali, pemeriksaan harus dilakukan secara berkala untuk mengetahui kondisi terkini.

“Masyarakat kalangan bawah agak kesusahan bila ingin melakukan pap smear. Biaya yang dikenakan sekitar Rp 200–300 ribu. Pemeriksaan IVA cenderung lebih mudah, praktis, dan hemat. Tak hanya dokter, tenaga kesehatan lain seperti bidan dan perawat yang terlatih bisa melakukan IVA,” kata Fernando.

Dia menjelaskan, IVA dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat. Setelah leher rahim dioles dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna dalam hitungan menit. Perubahan jaringan epitel ini bisa langsung diamati.

Dikatakan Fernando, serviks yang normal akan berwarna merah. Sedangkan bila terdapat perubahan sel menuju kanker, akan terdapat bercak putih di area leher rahim. Soal pengobatan, dia mengatakan, semakin dini diketahui, maka tingkat kesembuhan akan semakin tinggi.

“Sayang, kebanyakan yang datang kepada kami untuk pengobatan sudah dalam tahap stadium lanjut. Jarang sekali bisa sembuh total. Itu sebabnya, kami berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat,” ucap pria yang aktif di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Samarinda itu. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 20 April 2018 09:26

Pasien Dibatasi Berinteraksi

PASIEN di hadapan Habusari Hapkido memandang heran. “Saya mau diapain, Dok? Kok namanya nuklir?”…

Jumat, 20 April 2018 09:16

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir untuk Kesehatan

TEKNOLOGI nuklir terbukti memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Salah satunya di bidang kesehatan.…

Jumat, 20 April 2018 09:12

Anisa, Penyintas Kanker sejak Bocah

WIWIK Sulistyo sedikit gemetar saat membuka wadah timah yang diberikan dokter dan petugas Instalasi…

Jumat, 20 April 2018 09:10

Perlu Edukasi dan Dukungan

KANKER masih menjadi misteri. Penyakit satu ini menyerang tanpa disadari pengidapnya. Belum lagi…

Jumat, 20 April 2018 08:58

Pasien BPJS Mesti Lebih Bersabar

INSTALASI Kedokteran Nuklir RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda yang beroperasi Januari lalu…

Jumat, 20 April 2018 08:51

Nuklir untuk Kehidupan

OLEH: KADEK SUBAGIADA, M.Si(Dosen Program Studi Fisika di FMIPA Unmul, Samarinda) KETIKA mendengar kata…

Senin, 16 April 2018 08:56

Rangkul OPD PPU, Pertamina Bentuk Satgas

Pertamina menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ceceran minyak. Pertemuan demi pertemuan dilakukan…

Senin, 16 April 2018 08:48

Pulihkan Ekosistem Laut

SEHARI setelah kejadian pencemaran minyak Pertamina, Sabtu (31/3) lalu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH)…

Senin, 16 April 2018 08:43

Perlu Komitmen Pemerintah

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan tak lagi urusan lokal. Kasus ini berkembang sebagai isu lingkungan.…

Senin, 16 April 2018 08:43

Efek Kerusakan Jangka Panjang

PENCEMARAN minyak di Teluk Balikpapan mengundang reaksi. Terlepas siapa yang bersalah memutus pipa milik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .