MANAGED BY:
RABU
24 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 14 Maret 2018 09:26
Pemimpin yang Baik dari Kacamata Irianto Lambrie
Kaki Berada di Antara Surga dan Neraka
MENGINSPIRASI: Irianto Lambrie saat menyampaikan materi dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan V 2018. (YODIQ/KP)

PROKAL.CO, Saat didaulat menjadi pembicara dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan V 2018, Irianto Lambrie menegur seorang peserta yang tertidur. “Kan sayang, negara mengeluarkan banyak uang untuk pelatihan seperti ini,” ujar Gubernur Kaltara itu.

M YODIQ, Samarinda

Irianto Lambrie tampil dengan batik lengan panjang berwarna emas saat menjadi pembicara di Kampus PKP2A III LAN. Panitia memercayakan Gubernur Kaltara itu mengulas tentang reformasi birokrasi dan pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN).

Mantan sekretaris provinsi (sekprov) Kaltim itu mengurai, pemimpin harus berintegritas dan jujur meski diakuinya tidak ada manusia yang jujur seratus persen. “Setidaknya, 70 persen untuk kejujuran. Memang tidak bisa mengukur orang jujur atau tidak. Tapi, kalau mau dipercaya, jangan berbohong,” ujarnya.

Saat ini, kemampuan memimpin bisa dibentuk. Bahkan dipelajari. Irianto berpendapat, tak ada manusia yang terlahir sebagai pemimpin, kecuali Nabi Muhammad SAW. “Pernah ada pemimpin yang membuat orang takut dan tunduk hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, sekarang tidak ada lagi yang seperti itu. Apalagi, mau jadi bupati atau gubernur saja harus mengorbankan kejujuran,” jelas dia. 

Dia mengaku pernah menolak tawaran menjadi pemimpin partai. Padahal, banyak yang menginginkan posisi tersebut. Irianto lebih memilih fokus mengemban amanah menjadi gubernur karena tanggung jawabnya belum tuntas. “Tidak mudah mengatur sebuah organisasi. Apalagi, harus berbagi waktu,” katanya.

Bila ingin menjadi pemimpin, dia meminta agar tidak menjadi pengkhianat. Bahkan, dia mengutip pesan dari Jenderal Sudirman. “Kalau punya 10 peluru, tembakkan sembilan untuk pengkhianat. Satu saja untuk musuh. Sebab, musuh bisa menjadi sahabat. Kalau pengkhianat, tidak bisa. Nabi Muhammad saja menghukum pengkhianat karena bisa menghancurkan satu batalion,” kutip dia. 

Irianto mengaku senang membaca kutipan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Dia adalah sahabat nabi yang terkenal cerdas. Mulai remaja sampai dewasa sudah mengikuti nabi. Jadi, membuatnya disegani.

“Saya ingat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa seorang tidak patut disebut sahabat jika tidak bisa menjaga sahabatnya. Seperti ketika ditimpa bencana, sahabat yang baik mengingatkan yang baik maupun dianggap salah pada pemimpin maupun yang dipimpinnya. Pemimpin memerlukan keberanian. Kalau pengecut, tidak usah jadi pemimpin. Pengecut salah satu kakinya sudah di neraka,” ungkap dia.

Di sela menyampaikan materi, Irianto justru menegur seorang peserta yang sedang tertidur. Menurutnya, di Tiongkok atau di Jepang tidak akan bisa seperti itu. “Kan sayang, negara banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan seperti ini. Saya begini karena sayang negara. Zaman saya, diklat tidak bisa seenaknya. Pengawasan langsung dari militer,” akunya. 

“Pemimpin yang baik masing-masing kakinya ada di surga dan di neraka. Sementara pemimpin harus menjadi kepala keluarga yang baik. Makanya kerja bagus pasti karier cemerlang. Begitu pula ASN, tidak mungkin naik kariernya kalau tidak ada yang mengangkat,” sebut Irianto.

Sumber daya manusia, kata dia, tidak boleh bekerja seenaknya. Negara punya peraturan. Maka, sesehat apapun negara, kalau SDM payah, pasti lemah. “Sekarang semua negara membangun daya saing untuk SDM. Makanya diklat diperlukan. Tapi, tetap harus mengikuti aturan,” imbuh dia.

“Yang penting itu bisa bergerak cepat, daya saing bukan karena kuat dan mengalahkan yang lemah. Sekarang, manusia yang bisa bergerak cepat mengatasi masalah dan bekerja dialah pesaing yang tangguh. Seperti Singapura, kapalnya satu jam saja sudah berlabuh. Kalau Indonesia, kadang dua minggu. Bagaimana mau bersaing. Ini yang patut dicontoh,” terang dia.

Dia pun mengingatkan bahwa lulusan terbaik dalam diklat belum tentu menjadi pemimpin yang ideal. Dia menganggap semua berkaitan dengan pengalaman, karakter, dan kemampuan seseorang. Diklat hanya sarana membangun karier. “Nasihat saya, perbaiki karakter, terutama ketika berkomunikasi. Jika satu tim tahu yang harus dilakukan, satu orang saja bisa mengalahkan sepuluh kompetitor,” ungkap dia.

Memang, keberhasilan 100 persen sangat diperlukan. Jika demikian, inovasi dan kreativitas diharapkannya dapat menyumbang 40 persen, networking 30 persen, dan teknologi 20 persen. Kemudian, 10 persennya disumbang SDM. “Semua saling berkaitan,” katanya.

“Di Tiongkok, untuk dapat maju, mereka memaksimalkan stabilitas politik dan ekonomi. Selain itu, mempercepat pelayanan dengan disiplin tinggi. Bayangkan, pegawai yang terlambat satu menit saja bisa terkena sanksi. Ini yang perlu diterapkan Indonesia,” pungkas Irianto.

Sementara itu, salah seorang peserta diklat, yakni Kabiro Kaltara di Kaltim Mursyid mengatakan, apa yang disampaikan Irianto merupakan motivasi yang baik untuk membangun diri. “Yang dipetik terkait kerja tim dalam satu lembaga yang betul-betul terkoordinasi,” ucapnya.

Selain itu, Musyid menganggap, yang perlu diterapkan adalah gaya pemimpin yang disampaikan Gubernur Kaltara itu. “Memang harus baik dan menjaga silaturahmi. Seperti beliau (Irianto Lambrie), selalu mengajarkan agar menjaga silaturahmi. Kadang di luar jam kerja, beliau membuat sambal kemudian kami diajak makan. Beliau tidak pernah tertutup untuk berkoordinasi. Selalu terbuka setiap waktu, karena tahu kalau bawahannya sedang membutuhkan dia,” katanya. (*/dq/dwi/k11)


BACA JUGA

Selasa, 23 Oktober 2018 08:35

TOP DAH..!! Isran-Hadi Siap Atasi Banjir di Tiga Kota

SAMARINDA – Sudah 23 hari, Isran Noor dan Hadi Mulyadi resmi menjadi gubernur dan wakil gubernur…

Selasa, 23 Oktober 2018 07:51

MENGEJUTKAN..!! Ternyata Kabupaten Ini Potensi Teknologi Nuklir

UJOH BILANG - Bupati Mahakam Ulu (Mahulu) Bonifasius Belawan Geh, Kamis (18/10) menghadiri rapat presentasi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:51

Waspadai Pergerakan Bahan Pokok

BALIKPAPAN - Pemerintah kota maupun Provinsi Kaltim tampaknya harus mewaspadai risiko tingginya inflasi…

Selasa, 23 Oktober 2018 06:49

UMP Harus Punya Klasifikasi

SAMARINDA - Seperti tahun-tahun sebelumnya, upah minimum provinsi (UMP) Kaltim tahun ini bakal mengalami…

Senin, 22 Oktober 2018 06:47

Ribuan Anak Putus Sekolah, Pendidikan Kaltim Jadi Atensi

SAMARINDA – Pemprov Kaltim tampaknya harus bekerja keras dalam meningkatkan kualitas sumber daya…

Minggu, 21 Oktober 2018 11:19

Penyelundupan Narkotika Didominasi Melalui Malaysia

JAKARTA— Kasus narkotika seakan tiada hentinya. Dari awal Oktober hingga pertengahan Oktober kasus…

Minggu, 21 Oktober 2018 07:16

Garansi Polder Tak Ada Buaya

SANGATTA – Kian dekat dengan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Kaltim 2018 di Kutai…

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:05

Ekspor CPO Bantu Selamatkan Rupiah

SAMARINDA  -   Kinerja ekspor Kaltim pada Agustus mengalami penurunan 14,03 persen dibandingkan…

Jumat, 19 Oktober 2018 11:00

Dorong Pendapatan Petani, Gubernur Mau Petani Jual Karet Langsung ke Perusahaan

SAMARINDA - Petani karet diimbau tidak menjual hasil perkebunannya kepada tengkulak alias langsung ke…

Jumat, 19 Oktober 2018 10:51

Minta Perda Baca Tulis Alquran Disahkan

TANA PASER – Sebanyak 768 santri Taman Pendidikan Alquran (TPA) dan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .