MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Rabu, 14 Maret 2018 09:26
Pemimpin yang Baik dari Kacamata Irianto Lambrie
Kaki Berada di Antara Surga dan Neraka
MENGINSPIRASI: Irianto Lambrie saat menyampaikan materi dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan V 2018. (YODIQ/KP)

PROKAL.CO, Saat didaulat menjadi pembicara dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat II Angkatan V 2018, Irianto Lambrie menegur seorang peserta yang tertidur. “Kan sayang, negara mengeluarkan banyak uang untuk pelatihan seperti ini,” ujar Gubernur Kaltara itu.

M YODIQ, Samarinda

Irianto Lambrie tampil dengan batik lengan panjang berwarna emas saat menjadi pembicara di Kampus PKP2A III LAN. Panitia memercayakan Gubernur Kaltara itu mengulas tentang reformasi birokrasi dan pengembangan kompetensi aparatur sipil negara (ASN).

Mantan sekretaris provinsi (sekprov) Kaltim itu mengurai, pemimpin harus berintegritas dan jujur meski diakuinya tidak ada manusia yang jujur seratus persen. “Setidaknya, 70 persen untuk kejujuran. Memang tidak bisa mengukur orang jujur atau tidak. Tapi, kalau mau dipercaya, jangan berbohong,” ujarnya.

Saat ini, kemampuan memimpin bisa dibentuk. Bahkan dipelajari. Irianto berpendapat, tak ada manusia yang terlahir sebagai pemimpin, kecuali Nabi Muhammad SAW. “Pernah ada pemimpin yang membuat orang takut dan tunduk hanya dengan mendengar suaranya. Tapi, sekarang tidak ada lagi yang seperti itu. Apalagi, mau jadi bupati atau gubernur saja harus mengorbankan kejujuran,” jelas dia. 

Dia mengaku pernah menolak tawaran menjadi pemimpin partai. Padahal, banyak yang menginginkan posisi tersebut. Irianto lebih memilih fokus mengemban amanah menjadi gubernur karena tanggung jawabnya belum tuntas. “Tidak mudah mengatur sebuah organisasi. Apalagi, harus berbagi waktu,” katanya.

Bila ingin menjadi pemimpin, dia meminta agar tidak menjadi pengkhianat. Bahkan, dia mengutip pesan dari Jenderal Sudirman. “Kalau punya 10 peluru, tembakkan sembilan untuk pengkhianat. Satu saja untuk musuh. Sebab, musuh bisa menjadi sahabat. Kalau pengkhianat, tidak bisa. Nabi Muhammad saja menghukum pengkhianat karena bisa menghancurkan satu batalion,” kutip dia. 

Irianto mengaku senang membaca kutipan yang disampaikan Ali bin Abi Thalib. Dia adalah sahabat nabi yang terkenal cerdas. Mulai remaja sampai dewasa sudah mengikuti nabi. Jadi, membuatnya disegani.

“Saya ingat Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa seorang tidak patut disebut sahabat jika tidak bisa menjaga sahabatnya. Seperti ketika ditimpa bencana, sahabat yang baik mengingatkan yang baik maupun dianggap salah pada pemimpin maupun yang dipimpinnya. Pemimpin memerlukan keberanian. Kalau pengecut, tidak usah jadi pemimpin. Pengecut salah satu kakinya sudah di neraka,” ungkap dia.

Di sela menyampaikan materi, Irianto justru menegur seorang peserta yang sedang tertidur. Menurutnya, di Tiongkok atau di Jepang tidak akan bisa seperti itu. “Kan sayang, negara banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan seperti ini. Saya begini karena sayang negara. Zaman saya, diklat tidak bisa seenaknya. Pengawasan langsung dari militer,” akunya. 

“Pemimpin yang baik masing-masing kakinya ada di surga dan di neraka. Sementara pemimpin harus menjadi kepala keluarga yang baik. Makanya kerja bagus pasti karier cemerlang. Begitu pula ASN, tidak mungkin naik kariernya kalau tidak ada yang mengangkat,” sebut Irianto.

Sumber daya manusia, kata dia, tidak boleh bekerja seenaknya. Negara punya peraturan. Maka, sesehat apapun negara, kalau SDM payah, pasti lemah. “Sekarang semua negara membangun daya saing untuk SDM. Makanya diklat diperlukan. Tapi, tetap harus mengikuti aturan,” imbuh dia.

“Yang penting itu bisa bergerak cepat, daya saing bukan karena kuat dan mengalahkan yang lemah. Sekarang, manusia yang bisa bergerak cepat mengatasi masalah dan bekerja dialah pesaing yang tangguh. Seperti Singapura, kapalnya satu jam saja sudah berlabuh. Kalau Indonesia, kadang dua minggu. Bagaimana mau bersaing. Ini yang patut dicontoh,” terang dia.

Dia pun mengingatkan bahwa lulusan terbaik dalam diklat belum tentu menjadi pemimpin yang ideal. Dia menganggap semua berkaitan dengan pengalaman, karakter, dan kemampuan seseorang. Diklat hanya sarana membangun karier. “Nasihat saya, perbaiki karakter, terutama ketika berkomunikasi. Jika satu tim tahu yang harus dilakukan, satu orang saja bisa mengalahkan sepuluh kompetitor,” ungkap dia.

Memang, keberhasilan 100 persen sangat diperlukan. Jika demikian, inovasi dan kreativitas diharapkannya dapat menyumbang 40 persen, networking 30 persen, dan teknologi 20 persen. Kemudian, 10 persennya disumbang SDM. “Semua saling berkaitan,” katanya.

“Di Tiongkok, untuk dapat maju, mereka memaksimalkan stabilitas politik dan ekonomi. Selain itu, mempercepat pelayanan dengan disiplin tinggi. Bayangkan, pegawai yang terlambat satu menit saja bisa terkena sanksi. Ini yang perlu diterapkan Indonesia,” pungkas Irianto.

Sementara itu, salah seorang peserta diklat, yakni Kabiro Kaltara di Kaltim Mursyid mengatakan, apa yang disampaikan Irianto merupakan motivasi yang baik untuk membangun diri. “Yang dipetik terkait kerja tim dalam satu lembaga yang betul-betul terkoordinasi,” ucapnya.

Selain itu, Musyid menganggap, yang perlu diterapkan adalah gaya pemimpin yang disampaikan Gubernur Kaltara itu. “Memang harus baik dan menjaga silaturahmi. Seperti beliau (Irianto Lambrie), selalu mengajarkan agar menjaga silaturahmi. Kadang di luar jam kerja, beliau membuat sambal kemudian kami diajak makan. Beliau tidak pernah tertutup untuk berkoordinasi. Selalu terbuka setiap waktu, karena tahu kalau bawahannya sedang membutuhkan dia,” katanya. (*/dq/dwi/k11)


BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 09:31

Sangat Layak Jadi Daerah Otonomi Penuh

TANJUNG SELOR – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menilai, Kalimantan Utara (Kaltara)…

Selasa, 24 April 2018 09:29

“Selamat Jalan sang Petarung, Perjuanganmu Selalu Dikenang”

Mulai hari ini (24/4) sampai Sabtu (28/4) akan dilaksanakan adat Rambu Solo’ pemakaman almarhum…

Senin, 23 April 2018 10:19

Kaltim Tak Khawatir Dosen Asing, INI ALASANNYA....

SAMARINDA – Kebijakan pemerintah pusat membuka keran impor dosen asing memang menuai pro dan kontra.…

Senin, 23 April 2018 10:12
Dua Hari Polisi Olah TKP

Periksa Potongan Pipa Minyak yang Putus di Teluk Balikpapan

BALIKPAPAN – Seluruh potongan pipa minyak milik Pertamina yang menjadi barang bukti akhirnya berhasil…

Senin, 23 April 2018 10:05
Imigran Disarankan Tetap Tinggal di Rudenim

Penolakan Community House Menguat

BALIKPAPAN – Keinginan imigran menjadikan Balikpapan sebagai community house terus mendapat penolakan.…

Senin, 23 April 2018 10:02

Terjadi Gempa Susulan, Warga Waswas

BANJARNEGARA – Gempa-gempa susulan terus mengguncang wilayah Kecamatan Kalibening, Banjarnegara…

Senin, 23 April 2018 10:01
Nabi Tajima, Orang Tertua di Dunia yang Meninggal di Usia 117 Tahun

Diyakini Miliki 160 Keturunan, Cucunya Pun Punya Buyut

Rencana memasukkan Nabi Tajima dalam daftar The Guinness Book of World Records sebagai manusia tertua…

Minggu, 22 April 2018 09:04

Imigran Tuntut Kebebasan

BALIKPAPAN – Aksi pengungsi di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan berlanjut. Pantauan…

Minggu, 22 April 2018 09:00

Dua Pekan Periksa Pipa Pertamina

BALIKPAPAN - Dominasi arah kebijakan pemerintah pada korporasi badan usaha milik negara (BUMN) semakin…

Minggu, 22 April 2018 08:58

214 Perempuan Menyelam, Kibarkan Bendera

SITUBONDO - Hari Kartini kemarin (21/4) menjadi momen bersejarah bagi Pramuka Saka Bahari Lantamal V.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .