MANAGED BY:
RABU
26 SEPTEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 14 Maret 2018 09:20
Bahaya Main Gim Online
Bahaya Mengintai hingga Dewasa

Pengawasan Orangtua dan Pemerintah Lemah

REDUKSI DINI: Anak-anak seharusnya menikmati masa kecilnya dengan baik, bukan menjadi budak gawai dan internet yang mengharuskan mereka terus menunduk menatap layar smartphone. (DOK/KP)

PROKAL.CO, KECANDUAN gim atau gawai punya efek jangka panjang. Apalagi jika dimulai sejak usia dini. Pada masa pertumbuhan, seorang anak akan belajar dan menerapkan apa saja yang diterima. Seperti spons, setiap informasi yang masuk ke otak akan diserap sebagai realitas. Meski informasi itu salah menurut tatanan masyarakat hingga hukum.

“Anak tak bisa disalahkan. Sejak awal konten dalam gim atau gawai yang diakses harus dalam pengawasan orangtua atau lingkungannya,” kata pengamat anak Helga Worotitjan.

Dia tak memungkiri perkembangan teknologi mendorong penggunaan gawai untuk keperluan sehari-hari. Bahkan, orangtua punya peran memperkenalkan teknologi tersebut kepada anak mereka. Banyak sisi positif dari teknologi. Namun, efek negatif cenderung muncul ketika orangtua tidak siap. Baik secara ilmu maupun mental.

“Tren orangtua memberikan gawai kepada anaknya sudah banyak. Dan celakanya, mereka malas dan lalai melakukan pengawasan. Hingga anak yang terpapar teknologi mengakses konten-konten negatif,” ujarnya.

Apalagi layaknya orang dewasa, anak menjadi candu terhadap gim karena memang sengaja diciptakan untuk menarik perhatian dan menimbulkan adiksi. Berbeda dengan orang dewasa yang tahu baik dan buruknya bermain gim berlebihan, anak-anak menganggap permainan adalah hal yang wajib dilakukan. Sehingga melupakan hal lain seperti belajar dan sekolah.

“Mereka tidak sadar ketika berkata kasar atau berbuat kriminal itu hal yang salah. Karena gim atau konten yang mereka mainkan seperti itu,” ungkapnya.

Helga menyebut, orangtua punya peran penting dalam mengembalikan fungsi berpikir dan sosial anak yang candu gim dan gawai. Lumpuhnya pengawasan sebelumnya disebut dapat berdampak jangka panjang. Pendekatan psikologi penting. Jika anak sudah dianggap candu, maka perlu penanganan khusus. Karena bakal berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.

“Dampaknya hingga dewasa. Jadi jangan diabaikan. Masa depan anak bergantung tindakan orangtua saat ini,” katanya.

Orangtua perlu cerdas dalam memberikan pemahaman dan konten luar kepada anak. Dia mencontohkan di mana ada orangtua yang sejak anaknya kecil tak disuguhkan tayangan berbau sinetron dan infotainment. Akhirnya si anak tak akan memiliki ketertarikan terhadap konten atau tayangan tersebut.

“Sendirinya si anak akan menjauhi hal yang sejak awal tak diberikan dan dianggap oleh orangtua buruk baginya,” sebutnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial dari Universitas Mulawarman DB Paranoan menyebut, kemudahan membeli gawai atau mengakses gim di warnet jadi biang kerok meningkatnya kecanduan dunia maya. Orangtua akan memilih membelikan anaknya ponsel pintar daripada harus mendengar tangisan meminta perhatian. Memilih memberikan uang ke warnet daripada terganggu dengan rengekan si anak.

“Kondisi masyarakat berubah seiring berkembangnya teknologi. Namun, banyak dari mereka yang belum siap,” katanya.

Menurut dia, anak hanya jadi korban dari orang dewasa yang belum melek efek negatif gim dan gawai. Jadi, dia tak heran banyak anak melakukan tindakan tercela hingga kriminalitas karena mengikuti yang dilihat di dunia maya. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan di sekitarnya.

“Lingkungan di masyarakat berpengaruh. Bagaimana melihat ada anak bermain di warnet terus dibiarkan saja. Tetapi, lemahnya pengawasan orangtua jadi faktor utama,” tuturnya.

Paranoan juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah. Masih banyak konten di dunia maya yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi masih bisa diakses. Bahkan oleh anak-anak. Banyak gim yang mengandung unsur kekerasan yang bebas dimainkan. Sehingga berpengaruh pada pola pikir anak. “Bebas, mudah, dan murah (diakses),” pungkasnya. (tim kp)


BACA JUGA

Senin, 24 September 2018 09:19

Jalan Berliku Tekan Aborsi

Hingga kini praktik menggugurkan kandungan atau aborsi masih diperdebatkan. Bahkan, di negara maju sekalipun.…

Senin, 24 September 2018 09:09

Obat Lambung Bukan Penggugur Janin

RAGAM obat beredar luas di masyarakat. Sejauh ini, tidak ada obat khusus untuk menggugurkan kandungan.…

Senin, 24 September 2018 09:08

Ada yang Usia 14 Tahun Sudah Berhubungan Seksual

REMAJA akanmenghadapi masalah kompleks, seiring masa transisi yang dialami. Problematika yang menonjol…

Senin, 24 September 2018 09:07

Sanksi Berat Tak Bisa Ditawar

AKSI menggugurkan janin yang dilakukan tanpa ketentuan apalagi bukan kebutuhan mendesak, patut mendapat…

Senin, 24 September 2018 09:06

"Saya Miris, Ada Anak-Anak Sewa Hotel"

PULUHAN kasus kekerasan terhadap anak ditangani Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Samarinda. Mulai…

Kamis, 20 September 2018 10:12

Literasi Keuangan (Jangan) Disepelekan

Literasi keuangan belum menunjukkan angka ideal. Realita yang rawan disalahgunakan oknum jahat, yang…

Kamis, 20 September 2018 09:53

Literasi Minim, Wanprestasi Menghantui

SEMENTARA tingkat penggunaan produk keuangan publik Kaltim mencapai 74,9 persen, level pemahaman terhadap…

Senin, 17 September 2018 09:18

Buku (Bukan Lagi) Jendela Ilmu

Dahulu buku jendela dunia. Namun, perlahan-lahan sang primadona mulai hilang pamor. Era digital disebut-sebut…

Senin, 17 September 2018 09:14

Ideal Baca 6 Jam Sehari

DUA pekan lalu menjadi hari penting bagi pecinta buku. Sebab 8 September ditetapkan sebagai hari literasi…

Senin, 17 September 2018 09:06

Koleksi Perpustakaan Daerah Belum Lengkap

BERBAGAI cara dilakukan untuk berkontribusi menambah literasi dari masyarakat lokal. Sejarawan lokal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .