MANAGED BY:
SELASA
17 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 14 Maret 2018 09:20
Bahaya Main Gim Online
Bahaya Mengintai hingga Dewasa

Pengawasan Orangtua dan Pemerintah Lemah

REDUKSI DINI: Anak-anak seharusnya menikmati masa kecilnya dengan baik, bukan menjadi budak gawai dan internet yang mengharuskan mereka terus menunduk menatap layar smartphone. (DOK/KP)

PROKAL.CO, KECANDUAN gim atau gawai punya efek jangka panjang. Apalagi jika dimulai sejak usia dini. Pada masa pertumbuhan, seorang anak akan belajar dan menerapkan apa saja yang diterima. Seperti spons, setiap informasi yang masuk ke otak akan diserap sebagai realitas. Meski informasi itu salah menurut tatanan masyarakat hingga hukum.

“Anak tak bisa disalahkan. Sejak awal konten dalam gim atau gawai yang diakses harus dalam pengawasan orangtua atau lingkungannya,” kata pengamat anak Helga Worotitjan.

Dia tak memungkiri perkembangan teknologi mendorong penggunaan gawai untuk keperluan sehari-hari. Bahkan, orangtua punya peran memperkenalkan teknologi tersebut kepada anak mereka. Banyak sisi positif dari teknologi. Namun, efek negatif cenderung muncul ketika orangtua tidak siap. Baik secara ilmu maupun mental.

“Tren orangtua memberikan gawai kepada anaknya sudah banyak. Dan celakanya, mereka malas dan lalai melakukan pengawasan. Hingga anak yang terpapar teknologi mengakses konten-konten negatif,” ujarnya.

Apalagi layaknya orang dewasa, anak menjadi candu terhadap gim karena memang sengaja diciptakan untuk menarik perhatian dan menimbulkan adiksi. Berbeda dengan orang dewasa yang tahu baik dan buruknya bermain gim berlebihan, anak-anak menganggap permainan adalah hal yang wajib dilakukan. Sehingga melupakan hal lain seperti belajar dan sekolah.

“Mereka tidak sadar ketika berkata kasar atau berbuat kriminal itu hal yang salah. Karena gim atau konten yang mereka mainkan seperti itu,” ungkapnya.

Helga menyebut, orangtua punya peran penting dalam mengembalikan fungsi berpikir dan sosial anak yang candu gim dan gawai. Lumpuhnya pengawasan sebelumnya disebut dapat berdampak jangka panjang. Pendekatan psikologi penting. Jika anak sudah dianggap candu, maka perlu penanganan khusus. Karena bakal berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.

“Dampaknya hingga dewasa. Jadi jangan diabaikan. Masa depan anak bergantung tindakan orangtua saat ini,” katanya.

Orangtua perlu cerdas dalam memberikan pemahaman dan konten luar kepada anak. Dia mencontohkan di mana ada orangtua yang sejak anaknya kecil tak disuguhkan tayangan berbau sinetron dan infotainment. Akhirnya si anak tak akan memiliki ketertarikan terhadap konten atau tayangan tersebut.

“Sendirinya si anak akan menjauhi hal yang sejak awal tak diberikan dan dianggap oleh orangtua buruk baginya,” sebutnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial dari Universitas Mulawarman DB Paranoan menyebut, kemudahan membeli gawai atau mengakses gim di warnet jadi biang kerok meningkatnya kecanduan dunia maya. Orangtua akan memilih membelikan anaknya ponsel pintar daripada harus mendengar tangisan meminta perhatian. Memilih memberikan uang ke warnet daripada terganggu dengan rengekan si anak.

“Kondisi masyarakat berubah seiring berkembangnya teknologi. Namun, banyak dari mereka yang belum siap,” katanya.

Menurut dia, anak hanya jadi korban dari orang dewasa yang belum melek efek negatif gim dan gawai. Jadi, dia tak heran banyak anak melakukan tindakan tercela hingga kriminalitas karena mengikuti yang dilihat di dunia maya. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan di sekitarnya.

“Lingkungan di masyarakat berpengaruh. Bagaimana melihat ada anak bermain di warnet terus dibiarkan saja. Tetapi, lemahnya pengawasan orangtua jadi faktor utama,” tuturnya.

Paranoan juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah. Masih banyak konten di dunia maya yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi masih bisa diakses. Bahkan oleh anak-anak. Banyak gim yang mengandung unsur kekerasan yang bebas dimainkan. Sehingga berpengaruh pada pola pikir anak. “Bebas, mudah, dan murah (diakses),” pungkasnya. (tim kp)


BACA JUGA

Jumat, 13 Juli 2018 08:59

Terusir Gara-Gara Zonasi

Masalah klasik menggandoli rencana pemerataan kualitas pendidikan. Ada jurang kualitas dan fasilitas.…

Jumat, 13 Juli 2018 08:56

Lahirkan Tantangan Baru

BERJALAN di antara pro dan kontra, sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) diakui tak terlalu…

Jumat, 13 Juli 2018 08:36
Sengkarut PPDB Online di Kaltim

Tambah Rombel Bukan Solusi

KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan Muhaimin mengatakan, pelaksanaan PPDB…

Jumat, 13 Juli 2018 08:30

Wajar Kurang karena Pertama Kali

OMBUDSMAN Republik Indonesia (ORI) perwakilan Kaltim ikut memantau pelaksanaan penerimaan siswa baru…

Rabu, 11 Juli 2018 09:15
Ongkos Pernikahan ala Milenial

Terjal Menuju Halal

Selain kelahiran dan kematian, menikah adalah momen penting, bahkan terpenting. Sebab, bisa direncanakan…

Rabu, 11 Juli 2018 09:01

Pilah-Pilih Sesuai Budget

PERNIKAHAN dipersiapkan matang-matang. Mengingat, tak hanya cinta, pernikahan juga perlu persiapan finansial.…

Rabu, 11 Juli 2018 08:33

Bukan Perkara Adu Mewah

MINGGU (8/7), pasangan Nabila Said Amin Ar Rasyidi dan Sammy Saleh Alhuraiby baru saja melangsungkan…

Rabu, 11 Juli 2018 08:29

Janji Suci Jangan Terbelenggu Materi

MENGIKAT dua insan dalam satu bahtera rumah tangga menjadi salah satu yang dianjurkan. Gunanya, agar…

Rabu, 11 Juli 2018 08:28

Tiga Kecamatan, Satu Penghulu

DI BALIK suksesnya hajatan pernikahan, ada penghulu dan imam yang berjuang melawan keterbatasan untuk…

Selasa, 10 Juli 2018 11:12

Tak Semua Eks Napi Dilarang

TEPAT pada 4 Juli lalu, pendaftaran caleg melalui masing-masing parpol dibuka. Terlihat ruangan KPU…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .