MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 14 Maret 2018 09:20
Bahaya Main Gim Online
Bahaya Mengintai hingga Dewasa

Pengawasan Orangtua dan Pemerintah Lemah

REDUKSI DINI: Anak-anak seharusnya menikmati masa kecilnya dengan baik, bukan menjadi budak gawai dan internet yang mengharuskan mereka terus menunduk menatap layar smartphone. (DOK/KP)

PROKAL.CO, KECANDUAN gim atau gawai punya efek jangka panjang. Apalagi jika dimulai sejak usia dini. Pada masa pertumbuhan, seorang anak akan belajar dan menerapkan apa saja yang diterima. Seperti spons, setiap informasi yang masuk ke otak akan diserap sebagai realitas. Meski informasi itu salah menurut tatanan masyarakat hingga hukum.

“Anak tak bisa disalahkan. Sejak awal konten dalam gim atau gawai yang diakses harus dalam pengawasan orangtua atau lingkungannya,” kata pengamat anak Helga Worotitjan.

Dia tak memungkiri perkembangan teknologi mendorong penggunaan gawai untuk keperluan sehari-hari. Bahkan, orangtua punya peran memperkenalkan teknologi tersebut kepada anak mereka. Banyak sisi positif dari teknologi. Namun, efek negatif cenderung muncul ketika orangtua tidak siap. Baik secara ilmu maupun mental.

“Tren orangtua memberikan gawai kepada anaknya sudah banyak. Dan celakanya, mereka malas dan lalai melakukan pengawasan. Hingga anak yang terpapar teknologi mengakses konten-konten negatif,” ujarnya.

Apalagi layaknya orang dewasa, anak menjadi candu terhadap gim karena memang sengaja diciptakan untuk menarik perhatian dan menimbulkan adiksi. Berbeda dengan orang dewasa yang tahu baik dan buruknya bermain gim berlebihan, anak-anak menganggap permainan adalah hal yang wajib dilakukan. Sehingga melupakan hal lain seperti belajar dan sekolah.

“Mereka tidak sadar ketika berkata kasar atau berbuat kriminal itu hal yang salah. Karena gim atau konten yang mereka mainkan seperti itu,” ungkapnya.

Helga menyebut, orangtua punya peran penting dalam mengembalikan fungsi berpikir dan sosial anak yang candu gim dan gawai. Lumpuhnya pengawasan sebelumnya disebut dapat berdampak jangka panjang. Pendekatan psikologi penting. Jika anak sudah dianggap candu, maka perlu penanganan khusus. Karena bakal berpengaruh pada kehidupan anak hingga dewasa.

“Dampaknya hingga dewasa. Jadi jangan diabaikan. Masa depan anak bergantung tindakan orangtua saat ini,” katanya.

Orangtua perlu cerdas dalam memberikan pemahaman dan konten luar kepada anak. Dia mencontohkan di mana ada orangtua yang sejak anaknya kecil tak disuguhkan tayangan berbau sinetron dan infotainment. Akhirnya si anak tak akan memiliki ketertarikan terhadap konten atau tayangan tersebut.

“Sendirinya si anak akan menjauhi hal yang sejak awal tak diberikan dan dianggap oleh orangtua buruk baginya,” sebutnya.

Sementara itu, Pengamat Sosial dari Universitas Mulawarman DB Paranoan menyebut, kemudahan membeli gawai atau mengakses gim di warnet jadi biang kerok meningkatnya kecanduan dunia maya. Orangtua akan memilih membelikan anaknya ponsel pintar daripada harus mendengar tangisan meminta perhatian. Memilih memberikan uang ke warnet daripada terganggu dengan rengekan si anak.

“Kondisi masyarakat berubah seiring berkembangnya teknologi. Namun, banyak dari mereka yang belum siap,” katanya.

Menurut dia, anak hanya jadi korban dari orang dewasa yang belum melek efek negatif gim dan gawai. Jadi, dia tak heran banyak anak melakukan tindakan tercela hingga kriminalitas karena mengikuti yang dilihat di dunia maya. Kondisi ini diperparah dengan lingkungan di sekitarnya.

“Lingkungan di masyarakat berpengaruh. Bagaimana melihat ada anak bermain di warnet terus dibiarkan saja. Tetapi, lemahnya pengawasan orangtua jadi faktor utama,” tuturnya.

Paranoan juga menyoroti lemahnya pengawasan pemerintah. Masih banyak konten di dunia maya yang mengandung unsur kekerasan dan pornografi masih bisa diakses. Bahkan oleh anak-anak. Banyak gim yang mengandung unsur kekerasan yang bebas dimainkan. Sehingga berpengaruh pada pola pikir anak. “Bebas, mudah, dan murah (diakses),” pungkasnya. (tim kp)


BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 09:37

Huru-hara Huliwa

Sebuah pertaruhan terjadi di Huliwa. Pertaruhan mengenai masa depan ekosistem, ekonomi, dan degradasi…

Selasa, 24 April 2018 09:33

Memelihara Keanekaragaman

KALTIM memiliki satwa khas, orangutan (Pongopygmaeusmorio),yang punya keunikan dibanding tempat lain.…

Selasa, 24 April 2018 09:24

Rimba Adat yang Sakral

HUTAN Lindung Wehea yang dikelola secara adat oleh kelompok suku Dayak Wehea membuat kelangsungannya…

Selasa, 24 April 2018 09:22

Hitam dan Basah di Lom Plai

WEHEA tak hanya magis dengan hamparan hutannya yang hijau dan terjaga. Tradisi suku tertua di Wahau…

Selasa, 24 April 2018 09:18

Rayuan Insentif dan Potong Pajak

KAWASAN Ekosistem Esensial Bentang Alam Wehea-Kelay dirancang memiliki luas wilayah 520 ribu hektare.…

Selasa, 24 April 2018 09:15

Kemitraan Pengelolaan Habitat Populasi Liar Orangutan

Oleh: Edy Sudiono(Partnership Manager The Nature Conservancy Indonesia) DOKUMEN Strategi dan Rencana…

Jumat, 20 April 2018 09:32

BERJUDI DI PUSARAN RADIASI

Nuklir menjadi paradoks. Ia menimbulkan fobia, namun pada saat yang sama menumbuhkan asa. Bencana karena…

Jumat, 20 April 2018 09:26

Pasien Dibatasi Berinteraksi

PASIEN di hadapan Habusari Hapkido memandang heran. “Saya mau diapain, Dok? Kok namanya nuklir?”…

Jumat, 20 April 2018 09:16

Radiofarmaka, Teknologi Nuklir untuk Kesehatan

TEKNOLOGI nuklir terbukti memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Salah satunya di bidang kesehatan.…

Jumat, 20 April 2018 09:12

Anisa, Penyintas Kanker sejak Bocah

WIWIK Sulistyo sedikit gemetar saat membuka wadah timah yang diberikan dokter dan petugas Instalasi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .