MANAGED BY:
JUMAT
19 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Rabu, 14 Maret 2018 09:17
Picu Beragam Konflik Sosial Anak
-

PROKAL.CO, CANDU online gaming dan gawai pada kalangan anak menjadi tren yang tak bisa dipandang sebelah mata. Meski rasanya wajar anak menyukai hal berbau gim, mengingat pada usia anak memiliki waktu bermain lebih banyak. Namun, apapun hal yang berlebihan, termasuk online gaming, dapat membawa dampak negatif.

Dari sudut pandang ilmu psikologi, ada banyak faktor yang mendukung anak kecanduan online gaming. Pertama, dukungan lingkungan. Sejatinya, anak merupakan peniru ulung. Dia akan meniru orang-orang di sekitarnya yang sebagian besar sibuk dengan gadget. Apalagi penggunaan gadget seperti tak mengenal waktu.

"Ketika dalam masa perkembangan, anak seharusnya bermain bola dan segala jenis permainan anak atau pegang alat tulis, anak malah pegang handphone," kata psikolog klinis Ayunda Ramadhani. 

Alasannya apalagi kalau bukan karena lingkungan yang memberikan dan memperbolehkan anak menggunakan handphone. Sebab, anak tidak mungkin bisa menggunakan handphone tanpa ada yang mengarahkan sebelumnya.

Kedua, orangtua memiliki asumsi yang salah tentang manfaat gadget. Mereka menganggap gadget adalah solusi yang tepat untuk mengatasi rewelnya sang buah hati. Jadi, akses anak untuk bermain gim di gadget semakin mudah karena tak ada batasan dari orangtua. Belum lagi faktor mudahnya anak mendapatkan jaringan wifi, ketersediaan kuota internet, hingga keberadaan warung internet (warnet) yang mudah ditemukan di berbagai penjuru kota. Berbagai akses itu semakin membuat anak mudah terbuai keinginan menyentuh online gaming.

"Akses gim mudah, pemikiran orangtua yang salah, serta lingkungan yang mendukung. Semua itu menjadi cikal bakal anak untuk candu. Tren candu gim terus meningkat untuk anak-anak usia SD, bahkan anak usia di bawah 5 tahun malah sudah diajari menggunakan handphone," bebernya.

Saat anak sudah berhasil mengakses handphone, dia pasti akan mencoba berbagai aplikasi yang ada dalam gadget itu. Mulai online gaming sampai YouTube. Akibatnya, semenjak usia dini, anak sudah tahu manfaat gadget, yaitu rasa senang dan bahagia.

Ayunda menjelaskan, saat bermain gim, otak mendeteksi dan mengeluarkan hormon endorfin atau bahagia. Sehingga, paparan gadget mampu menimbulkan kebahagiaan dan mengurangi kejenuhan anak. Akhirnya, anak terus ketagihan atas sensasi kesenangan tersebut.

"Pola nagihnya ini sama saja dengan narkoba dan pornografi. Sebenarnya anak yang bermain gim cenderung merasa kesepian, tidak ada kegiatan dan mencari perhatian. Lalu mengalihkannya dengan gim dan kebablasan," tuturnya. 

Walhasil, kebiasaan buruk ini mampu mendatangkan beragam dampak bagi anak. Gejalanya dapat terlihat dari penurunan prestasi akademik hingga kurang rasa peka terhadap lingkungan sekitar.

Anak yang candu dengan gim lebih individualistis, sibuk dengan dunia sendiri dan kurang bersosialisasi. Kemudian, mudah marah ketika diganggu. "Kalau kalah bermain, emosi tidak stabil karena otaknya sudah penuh dengan gim. Cenderung egois. Bahkan kalau kepepet, butuh uang untuk bermain online gaming, mereka bisa nekat mencuri," ucapnya.

Merujuk salah satu kasus di Jawa, seorang anak bahkan menjadi gila karena terpapar gadget sampai 24 jam sehari. Kondisi ini membuat anak tak mampu lagi berpikir logis. Anak hanya tahu bermain gim, tak ada rasa empati dengan sekitar. Akhirnya hidup menjadi berantakan, tidak ingat aktivitas lain, telat makan, tidak pulang, dan lain-lain.

Dengan begitu, candu gim dapat menimbulkan konflik anak dengan orangtua, sekolah, teman sebaya, dan sebagainya. Secara tidak langsung, semua dapat memengaruhi masa depan anak. Belum lagi, timbul keluhan fisik dan sakit yang ditimbulkan dari aktivitas gim tersebut.

Misalnya, mata sakit karena terlalu lama menatap layar gadget. Serta tengkuk tangan dan tulang belakang yang sakit karena posisi bermain gim. Parahnya, semakin dini anak mengenal gim, semakin sulit untuk melakukan penanganannya. Sebab, otak anak masih terus berkembang. Bayangkan saja sejak usia dini, anak-anak sudah merasakan dahsyatnya teknologi.

Ayunda menuturkan, setiap kasus memiliki penanganan yang berbeda. Bergantung dari tingkat candunya. Langkah awal, psikolog dapat melakukan intervensi dengan melakukan konseling kepada orangtua dan anak tersebut. Sebelumnya, orangtua harus sadar untuk menjaga serta mengontrol aktivitas anak.

Jangan sampai sang buah hati mudah memegang gadget dan mendapat akses kuota. Orangtua dapat mengganti kegiatan anak dengan permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan olahraga. Apabila kasus tergolong berat akan membutuhkan intervensi lebih panjang dan penanganan khusus dari dokter dan psikolog.

"Ada yang membutuhkan waktu hitungan bulan sampai tahun. Kalau ditemukan gejala mimpi buruk dan cemas, itu sudah parah dan anak butuh psikiater," sebut perempuan yang pernah memiliki pengalaman dalam menangani kasus anak kecanduan gim.

Dia bercerita, pasiennya sampai tidak mau sekolah karena sibuk bermain gim. Sekolah pun sudah pernah mengancam untuk mengeluarkan anak tersebut karena terlalu sering absen.

Jika orangtua berusaha menjauhkannya dengan handphone dan laptop, emosi anak tersebut langsung tak terkendali. Dia mengamuk dan berani membanting barang di sekitarnya. "Itu artinya dia sudah tidak terkontrol dan begitu terobsesi. Bangun tidur sampai tidur lagi ingatnya hanya main gim," ucapnya. Selain dengan orangtua, Ayunda mengatakan juga perlu berkoordinasi dengan pihak sekolah. Dengan begitu, anak mendapat perhatian dan seluruh aktivitasnya di sekolah dapat terkontrol guru. Kasus ini membutuhkan penanganan kurang lebih empat bulan.

Dia menyarankan agar orangtua lebih banyak memberikan aktivitas fisik serta kegiatan positif untuk anak. Jadi, perhatian anak dapat teralihkan dari online gaming. Khususnya kegiatan nyata yang dapat memperkuat hubungan antara anak dan orangtua. Sedangkan bagi remaja yang sudah butuh gadget untuk beraktivitas, orangtua dapat melakukan pendampingan, mengarahkan pada konten yang positif, dan membatasi waktu penggunaan gadget.

"Kita tidak menafikkan datangnya teknologi karena kita bukan manusia batu. Tapi seharusnya orangtua bisa lebih bijak. Sama seperti menonton TV, harus ada bimbingan atau pengawasan orangtua saat anak menggunakan gadget," terangnya.

GANGGU SARAF TEPI

Ibarat zat adiktif, gim juga mampu membuat penggunanya terus ketagihan alias overdosis. Padahal, jika gim digunakan dengan bijak, jangan salah, bisa mendatangkan manfaat. Tepatnya, gim dapat merangsang fungsi kognitif otak. Maka, ada berbagai gim yang diciptakan khusus untuk orang-orang pikun. Misalnya gim tetris dan catur. Keunggulan lainnya, bermain gim dapat melatih saraf visual dan kemampuan motorik.

Namun tetap saja, sesuatu yang berlebihan akan menimbulkan dampak negatif. Bukan main-main, ancaman candu online gaming bisa mengganggu saraf pusat, yakni otak dan saraf tepi yang berada dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dokter Spesialis Saraf Fajar Qimindra menjelaskan, saraf pusat terfokus pada otak. Jika saraf pusat terganggu, akan memengaruhi fungsi otak. Contoh sederhana, apabila otak terganggu, maka berpengaruh pada emosi, perilaku, dan aktivitas.

Kemudian, waktu permainan yang melebihi batas wajar dapat menimbulkan sakit kepala seperti migrain dan sakit kepala karena otot yang tegang. Selanjutnya, potensi terjadi gangguan keseimbangan atau vertigo. Tak sampai di situ, gangguan juga bisa berkaitan dengan saraf mata, yakni computer vision syndrome.

"Penyebabnya dari bermain gadget dan menatap layar berlebihan, menimbulkan gangguan saraf mata dan saraf pusat. Gejalanya seperti sakit kepala, mata kabur, penglihatan ganda, susah memusatkan perhatian, iritasi mata," ucapnya. Sedangkan potensi gangguan pada saraf tepi lebih besar potensinya.

Keluhan awal yang paling sering muncul yakni keram di ujung tangan dan kaki. Kemudian, penggunaan gadget yang berlebihan menimbulkan penyakit carpal tunnel syndrome. Sebab gadget membuat tangan terutama jemari jempol mengalami iritasi dan bengkak. Akibat dari penggunaan mouse, keyboard, touchscreen, dan sebagainya.

"Ada juga vertical root syndrome, muncul rasa nyeri dari saraf di leher, bahu, sampai lengan bawah. Meski tidak ada mengangkat beban berat, namun posisi leher terus sama dan mengalami gerakan yang berulang menimbulkan rasa nyeri," jelasnya.

Selanjutnya, berkaitan dengan nyeri punggung bawah, posisi duduk yang statis selama berjam-jam menimbulkan nyeri. Semua itu dapat berhubungan dengan otot, akar saraf, bantalan tulang karena posisi duduk.

Qimi menuturkan, dari semua potensi penyakit yang muncul tersebut, kondisi paling sulit jika terjadi gangguan pada saraf pusat. Sebab, saraf ini berhubungan langsung dengan otak. Apabila otak sudah terganggu, maka terjadi gangguan fisik dan psikis sekaligus.

Soal pengobatannya, tentu mengikuti diagnosis. Sebagai dokter saraf, awalnya pasien dapat menjalani rekam otak melalui MRI dan terapi untuk mengukur fungsi otak. Dokter akan mendeteksi posisi kelainan saraf yang telah terganggu. Dari proses rekam otak, dokter dapat melihat aktivitas gelombang otak. 

"Kemudian, melihat bagian otak yang terganggu atau saraf yang sudah terpengaruh candu bisa dengan tes memori seperti tes untuk orang pikun. Jika sudah ditemukan gangguan otak, penanganannya bisa dilakukan dengan terapi fungsi otak sampai penggunaan obat jika diperlukan," tutupnya. (tim kp)


BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:34

Mengharamkan Nikah Siri

Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…

Kamis, 27 September 2018 09:12

Ekonomi Menggiurkan dari Alam

RATANA Lukanawarakul begitu seksama mendengar penjelasan Agus, pemuda Desa Muara Siran, Muara Kaman,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .